KPU Kota Probolinggo Tetapkan DPT untuk Pilkada Serentak 27 November 2024

Probolinggo, Berdampak.net – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Probolinggo secara resmi menetapkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) untuk Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang akan digelar pada 27 November 2024. Penetapan ini dilakukan dalam rapat pleno terbuka yang diselenggarakan di Hotel Bromo View pada Jumat, 20 September 2024 siang. Acara tersebut dihadiri oleh Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Bawaslu, tim sukses pasangan bakal calon Walikota Probolinggo, tim sukses bakal calon Gubernur Jawa Timur, pemantau pemilu, serta Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dan Panitia Pemungutan Suara (PPS).

Jumlah TPS yang disiapkan oleh KPU untuk Pilkada mendatang mencapai 328 TPS, terdiri dari 326 TPS reguler dan 2 TPS Loksus (lokasi khusus). Viki Hamzah, Koordinator Divisi Perencanaan Data dan Informasi KPU Kota Probolinggo, menyebutkan bahwa DPT yang telah ditetapkan berjumlah 179.416 pemilih, dengan rincian 87.980 pemilih laki-laki dan 91.436 pemilih perempuan.

Penambahan TPS Loksus bertujuan untuk memudahkan akses pemilih di wilayah-wilayah yang memerlukan perlakuan khusus, seperti rumah sakit atau lembaga pemasyarakatan. Dengan begitu, KPU memastikan semua warga yang memenuhi syarat dapat menggunakan hak pilihnya pada Pilkada serentak ini.

Viki Hamzah menegaskan bahwa masyarakat dapat mengecek status mereka dalam DPT melalui DPT Online. “Masyarakat bisa menggunakan hak pilihnya sesuai dengan ketentuan Pilkada serentak dengan mengecek di DPT Online,” ujar Viki. KPU berharap dengan fasilitas ini, pemilih dapat mempersiapkan diri dan hadir di TPS pada hari pemungutan suara. (fjr)

KPU Kabupaten Probolinggo Tetapkan 872.218 DPT Pilkada 2024

Probolinggo, Berdampak.net – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Probolinggo telah menetapkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) sebanyak 872.218 pemilih pada Pilkada tahun 2024 mendatang. Jum’at (20/09/2024) petang.

Penetapan DPT tersebut dilakukan pada saat rapat Pleno Penetapan Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang dilaksanakan di kantor KPU Kabupaten Probolinggo, yang dihadiri oleh Bawaslu, LO dari Bakal Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur, serta LO Bakal Calon Bupati dan Wakil Bupati Probolinggo, dan PPK di seluruh Kecamatan di Kabupaten Probolinggo.

Ketua Divisi Perencanaan Data dan Informasi (Rendatin) KPU Kabupaten Probolinggo, Lukman Hakim, mengatakan, jumlah DPT Kabupaten Probolinggo pada pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur, Bupati dan Wakil Bupati Probolinggo berjumlah 872.218 pemilih.

“Dengan rincian pemilih laki-laki berjumlah 425.106, dan pemilih perempuan sebanyak 447.112 pemilih, yang tersebar di 24 Kecamatan, 330 desa dan 1.739 TPS di Kabupaten Probolinggo,” jelasnya.

Ia terus menghimbau kepada semua masyarakat untuk memastikan telah terdaftar sebagai pemilih pada Pilkada yang akan dilaksanakan pada tanggal 27 November 2024 mendatang, dengan cara melakukan pengecekan data pemilih di laman cekdptonline.kpu.go.id.

“Kepada masyarakat Kabupaten Probolinggo, ayo kita bersama-sama untuk datang ke TPS pada tanggal 27 November 2024, untuk menyalurkan hak pilih kita dalam memilih Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur serta Bupati dan Wakil Bupati Probolinggo,” imbaunya.

Ia berharap pelaksanaan Pilkada di Kabupaten Probolinggo bisa berjalan dengan aman dan lancar, sehingga dapat menghasilkan pemimpin yang diharapkan oleh masyarakat Kabulaten Probolinggo. (fiq)

Kembalikan Peran KAHMI

Oleh: Taufiqur Rohim (Alumi HMI Komisariat Teknik STTNJ)

Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) didirikan sebagai wadah bagi para alumni HMI untuk terus berkontribusi dengan menyumbangkan ide-ide serta gagasan dalam pembangunan bangsa. Selain itu KAHMI juga mempunyai peran penting dalam keberlangsungan HMI di kampus-kampus.

KAHMI memiliki peran yang sangat strategis dalam keberlangsungan dan perkembangan perkaderan HMI. Sebagai organisasi alumni, KAHMI memiliki pengalaman dan wawasan yang lebih luas, sehingga dapat memberikan kontribusi signifikan dalam membekali kader-kader HMI dengan bekal yang lebih komprehensif.

Dalam konteks yang lebih luas, KAHMI juga berfungsi sebagai jembatan antara HMI dengan berbagai pihak, seperti pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Hal ini sangat penting untuk memperluas pengaruh dan kontribusi HMI dalam pembangunan bangsa.

Singkatnya, KAHMI memiliki peran yang sangat krusial dalam pengembangan kader HMI. Dengan sinergi yang baik antara HMI dan KAHMI, diharapkan dapat menghasilkan kader-kader yang berkualitas dan mampu membawa perubahan positif bagi bangsa.

Namun seiring berjalannya waktu, banyak bermunculan tuduhan yang menyatakan, tidak sedikit para oknum alumni HMI yang hanya memanfaatkan KAHMI sebagai jembatan untuk memuluskan tujuan pribadi dan kelompoknya saja, sehingga niat suci didirikannya KAHMI jadi ternodai. Tuduhan bahwa KAHMI dijadikan wadah untuk keuntungan pribadi adalah sebuah isu serius yang perlu ditanggapi secara bijaksana. Jika benar terjadi, ini merupakan penyimpangan yang sangat jauh dari tujuan awal pendirian KAHMI sebagai organisasi alumni yang berkomitmen pada nilai-nilai ke-Islaman, ke-Manusiaan dan ke-Indonesiaan.

Beberapa faktor yang mungkin menjadi penyebab munculnya isu ini antara lain, Kompetisi Politik, Korupsi, Kelemahan sistem pengawasan serta bergesernya nilai-nilai KAHMI. Hal ini akan berdampak negatif terhadap keberlangsungan KAHMI. Maka dari itu perlu adanya langkah-langkah komprehensif untuk mengatasi masalah ini, seperti melakukan penguatan sistem pengawasan internal organisasi, Penegakan kode etik anggota, pendidikan nilai KAHMI terhadap semua anggota, hal ini diharapkan bisa me-refresh seluruh anggota untuk kembali mengingat tujuan awal didirikannya KAHMI, serta KAHMI juga dapat melakukan kolaborasi dengan lembaga pengawas independen untuk melakukan audit dan evaluasi secara berkala.

Semoga diusia yang ke 58 tahun ini KAHMI dapat mampu mengembalikan tujuan suci dibentuknya Korps Alumni ini, sehingga dapat mengatasi kemunduran yang terjadi pada HMI, hal itu diperlukan upaya bersama dari seluruh pihak, baik alumni maupun kader, untuk membangun sinergi yang lebih kuat. Dengan demikian, HMI dapat terus melahirkan kader-kader yang berkualitas dan mampu membawa perubahan positif bagi bangsa.

Jika KAHMI ingin tetap relevan dan memberikan kontribusi positif bagi bangsa, maka organisasi ini harus terus berupaya untuk menjaga integritas dan kredibilitasnya. Selamat Milad ke-58 tahun Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam, Yakinkan dengan Iman, Usahakan dengan Ilmu dan Sampaikan dengan Amal, Billahitaufiq wal hidayah.

Andai Saja Air Mata Bisa Berkata

Oleh: Ponirin Mika (Pujangga Pesisir)

Andai saja air mata bisa berkata,
Mungkin ia akan bercerita tentang luka,
Tentang rindu yang lama terpendam,
Tentang malam-malam sunyi yang kelam.

Ia mungkin akan mengalir tanpa suara,
Menyusuri pipi, meretas rasa yang fana,
Mengucapkan apa yang tak sanggup diungkap,
Perasaan yang terperangkap dalam gelap.

Air mata tak butuh bahasa atau kata,
Namun setiap tetesnya menyimpan makna,
Bercerita tentang hati yang tak sempurna,
Tentang cinta yang tak pernah terucap nyata.

Dan jika ia bisa bicara sejenak,
Akan kusuruh ia menyampaikan pesan,
Bahwa meski pedih, meski pilu tak tertahan,
Aku tetap bertahan dalam diam.

17/09/24
PUJANGGA PESISIR

Quo Vadis KAHMI di Usia ke-58?

Oleh: Ponirin Mika (Anggota Dewan Pakar MD-KAHMI Kabupaten Probolinggo)

Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) didirikan sebagai wadah bagi para alumni HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) untuk terus berkontribusi dalam pembangunan bangsa setelah menyelesaikan masa studi di perguruan tinggi. KAHMI berdiri pada 17 September 1966 di Jakarta, atas inisiatif para alumni HMI yang merasa perlunya ruang bagi alumni untuk mengonsolidasikan pikiran dan ide-ide besar demi kepentingan umat dan bangsa Indonesia.

KAHMI didirikan oleh tokoh-tokoh penting HMI yang telah lulus dari perguruan tinggi, beberapa di antaranya adalah Lafran Pane (pendiri HMI), Akbar Tanjung, dan Anwar Sanusi, yang sejak awal sudah aktif dalam organisasi HMI. Mereka melihat pentingnya kesinambungan perjuangan ideologis, politik, dan sosial HMI dalam level yang lebih luas, yaitu melalui para alumninya.

KAHMI didirikan dengan tujuan utama untuk melanjutkan cita-cita perjuangan HMI, yaitu mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT, sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Selain itu, KAHMI bertujuan untuk membentuk dan memfasilitasi para alumninya agar tetap bisa berperan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, baik di pemerintahan, swasta, pendidikan, maupun sosial kemasyarakatan.

Seiring dengan bertambahnya usia, tantangan yang dihadapi KAHMI juga semakin kompleks. Tantangan terbesar yang dihadapi KAHMI saat ini adalah dinamika politik nasional, globalisasi, serta perubahan sosial dan teknologi yang begitu pesat. KAHMI harus dapat beradaptasi dengan perubahan tersebut sambil tetap mempertahankan jati dirinya sebagai organisasi yang memegang teguh nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan demokrasi.

Selain itu, krisis moral, kesenjangan sosial, dan tantangan keberagaman di Indonesia juga menjadi isu-isu penting yang memerlukan perhatian serius dari KAHMI. Tantangan bagi KAHMI adalah bagaimana tetap relevan dalam menjawab persoalan-persoalan tersebut dan memastikan alumninya tetap memiliki peran signifikan dalam menentukan arah kebijakan bangsa.

Di usia ke-58, KAHMI diharapkan bisa tetap menjadi garda terdepan dalam menjaga idealisme perjuangan HMI. Peran strategis alumni HMI yang tersebar di berbagai bidang—politik, ekonomi, akademik, dan sosial—dapat menjadi kekuatan bagi KAHMI untuk memberikan kontribusi nyata dalam menghadapi tantangan kebangsaan. KAHMI juga dapat berfungsi sebagai jembatan antar-generasi, menyatukan pemikiran, dan menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi bangsa ini.

KAHMI juga perlu terus meningkatkan konsolidasi internalnya agar bisa lebih solid dan sinergis dalam menghadapi tantangan global dan nasional. Inovasi, kolaborasi lintas sektor, dan kepemimpinan yang berintegritas adalah jawaban bagi KAHMI agar tetap relevan dan berdaya saing tinggi di masa depan.

Quo vadis KAHMI di usia 58? Jawabannya adalah KAHMI harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, tetap teguh pada prinsip-prinsip perjuangan HMI, serta terus memperkuat kontribusinya dalam membangun Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

Ra Hamid Sang Inspirator dan Pemersatu Umat

Oleh : Ponirin Mika
Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research, Probolinggo.

Adalah Kyai Abdul Hamid Wahid Zaini yang lebih dikenal dengan Ra Hamid adalah putra sulung dari KH. Abdul Wahid Zaini pengasuh pondok pesantren Nurul Jadid ke II. Ra Hamid saat ini merupakan kepala pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, ia termasuk salah satu Kyai muda yang energik dan transformatif dalam menciptakan perubahan. Tentu dengan berbekal pengalaman sebagai akademisi dan organisator, Ra Hamid tidak mengalami hambatan untuk mendesain peradaban.

Sebagai mantan DPRD dan DPR-RI, Ra Hamid memiliki segudang pengetahuan berkait dengan banyak hal, diantaranya yang ia kuasai adalah manajemen organisasi, manajemen keuangan, leadership dan teori komunikasi massa.

Pada tahun 2014 silam, tepatnya di pesantren Nurul Jadid, Ra Hamid menjadi idola mahasiswa dan santri organisator. Mengapa demikian? Ra Hamid tengah aktif di berbagai organisasi baik intra maupun ekstra di sekolahnya kala itu. Pada tahun 2017, saya termasuk orang yang beruntung, yang seringkali mendapat kesempatan berbincang dengannya. Saat itu saya sebagai sekretaris Biro Kepesantrenan dan Ra Hamid sebagai kepala pesantren. Salah satu yang masih diingat oleh saya adalah gagasan yang berkait pengembangan pesantren. Tentu ide-idenya yang segar itu membuat pesantren Nurul Jadid seperti sekarang ini.

Ra Hamid mampu mendobrak kejumudan dalam organisasi “yang’ seakan berjalan di tempat. Ia berani melakukan terobosan-terobosan tanpa menghilangkan nilai-nilai yang telah mengakar di pesantren Nurul Jadid. Saya sejak jadi mahasiswa termasuk orang yang mengidolakannya. Bukan karena Ra Hamid sebagai putra kyai melainkan seorang akademisi yang cerdas dan kutu buku.

Sebagai santri baru di pesantren Nurul Jadid, saya sempat mengikuti pengajian kitab yang diampunya, yaitu kitab adabul alim wal muta’allim karya KH. Hasyim Asy’ari. Ra Hamid memaknai kitab dengan bahasa-bahasa populer (ilmiah) yang pada waktu itu bahasa populer sangat digandrungi kawan-kawan mahasiswa. Sebagai organisator ulung, Ra Hamid mampu menghipnotis para santri-santrinya. Tak sedikit dari santri pesantren Nurul Jadid yang terinspirasi dari sosok Ra Hamid muda.

Kini, Ra Hamid hadir sebagai pengayom umat dengan peran kyai yaitu penjaga moral litas umat dan pencipta transformasi sosial. Kehadirannya untuk menjadi orang nomor wahid di tengah-tengah masyarakat Bondowoso sebagai wujud dari komitmennya bahwa tidak akan pernah lelah untuk berbuat baik demi kemaslahatan semesta. Sebagai seorang putra kyai bukan hal mustahil bila dirinya berdiam di pesantren, dan musti akan dihormati orang banyak. Namun darah seorang pejuang telah mengalir pada dirinya yang datang dari KH. Zaini Mun’im seorang ulama kharismatik yang alim dan pejuang kemerdekaan.

“Tidak berjuang, maksiat” penggalan kalimat ini merupakan ungkapan kyai Zaini Mun’im yang sangat masyhur dikalangan masyarakat pesantren.

Saya berkeyakinan bahwa Ra Hamid adalah manusia yang dikirim oleh Allah untuk menjadi pemersatu umat yang sudah mulai teriris-iris oleh perbedaan politik, nasab maupun ketimpangan sosial.

Bersatunya pesantren besar yang ada di daerah tapal kuda dengan bersedinya Ra Hamid sebagai calon bupati merupakan anugerah yang tak ternilai harganya. Ia juga sudah lama berkecimpung dalam dunia politik. Bahkan Ra Hamid juga dikenal sebagai seorang akademisi yang sangat cerdas dan punya dedikasi tinggi di dunia pendidikan. Sebagai seorang politisi, ia sibuk mengurus pendidikan di Pondok Pesantren Nurul Jadid dan mengembangkan perguruan tinggi.

Dengan sentuhan tangan dinginnya, Universitas Nurul Jadid telah mendapatkan prestasi dan diakui sebagai PT yang terbaik di Jawa Timur.

Kemampuan yang komplit dimiliki oleh Ra Hamid mampu menghipnotis masyarakat Bondowoso sehingga mereka berkeyakinan untuk menitipkan Kabupaten yang dikenal kota tape ini agar menjadi salah satu kabupaten yang maju dan berkembang.

Kelebihan yang ada pada Ra Hamid adalah berbekal pengalaman, kemampuan dan jejaring dan tentu dengan keberanian melakukan terobosan dalam membuat kebijakan menciptakan optimisme masyarakat Bondowoso bermimpi daerahnya menjadi salah satu daerah terbaik di Indonesia. (*)