Jelang May Day, Ketua Pansus Khairul Anam Dorong Raperda Ketenagakerjaan Probolinggo yang Adaptif Hadapi Krisis

Probolinggo, Berdampak.net – Menjelang peringatan Hari Buruh Internasional (May Day), Ketua Panitia Khusus (Pansus) Raperda Ketenagakerjaan Kabupaten Probolinggo, Khairul Anam, menegaskan pentingnya menghadirkan regulasi ketenagakerjaan yang responsif, adaptif, dan berpihak pada pekerja di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian.

Menurutnya, momentum May Day bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi pengingat kolektif bahwa negara—melalui pemerintah daerah—harus hadir memberi kepastian, perlindungan, dan keadilan bagi para pekerja. Terlebih, saat ini masyarakat sedang menghadapi tekanan ekonomi yang meningkat, naiknya kebutuhan hidup sehari-hari, serta dampak konflik geopolitik global yang turut memengaruhi stabilitas dunia kerja di daerah.

“Ancaman penurunan kelas menengah, meningkatnya angka pengangguran, hingga potensi gelombang pemutusan hubungan kerja (layoff) menjadi realitas yang tidak bisa kita abaikan. Karena itu, Raperda Ketenagakerjaan harus disusun dengan perspektif krisis, agar mampu menjadi solusi, bukan sekadar regulasi administratif,” tegasnya.

Dalam proses penyusunan naskah akademik, Pansus telah melakukan belanja masalah dengan melibatkan OPD terkait serta elemen pekerja, di antaranya Sarbumusi, SPSI, dan SBMI. Forum ini menjadi ruang penting untuk menggali persoalan riil yang dihadapi pekerja, mulai dari perlindungan tenaga kerja, kepastian kerja, hingga tantangan daya saing di tengah perubahan global.

Pansus berkomitmen melanjutkan proses belanja masalah pada pekan depan, sekaligus menginisiasi pertemuan daring guna memperluas jangkauan aspirasi masyarakat. Hal ini dilakukan agar setiap suara pekerja dapat terakomodasi secara utuh dalam penyusunan naskah akademik.

“Semangat May Day harus kita terjemahkan dalam kerja-kerja nyata. Kita ingin Raperda ini benar-benar menjadi fondasi kuat bagi perlindungan pekerja, peningkatan kesejahteraan, dan kepastian dunia kerja di Kabupaten Probolinggo,” imbuhnya.

Dengan semangat kolaborasi dan keberpihakan, diharapkan Raperda Ketenagakerjaan ini mampu menjadi jawaban atas kegelisahan masyarakat hari ini, sekaligus memberi arah bagi masa depan ketenagakerjaan yang lebih adil, berdaya, dan berkelanjutan. (fiq)

Dialog Khusus JTV, Dorong Kolaborasi untuk Kemajuan Industri dan Kesejahteraan Pekerja

Surabaya, Berdampak.net – Dalam rangka memperingati Hari Buruh Internasional (May Day), JTV menggelar Dialog Khusus dengan tema Kolaborasi Mewujudkan Kemajuan Industri dan Kesejahteraan Pekerja. Kegiatan ini menghadirkan pemangku kepentingan di bidang ketenagakerjaan dari berbagai unsur, sebagai upaya memperkuat sinergi dalam ekosistem industri di Jawa Timur.

Acara tersebut dihadiri oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Timur, Bapak Sigit Prayetno, serta Wakil Ketua Serikat Pekerja (KSPSI) Jawa Timur, Bapak Dendi dan Wakil Ketua DPP Apindo Jawa Timur Jhonson M Simanjuntak. Melalui forum diskusi tersebut, kedua pihak menyampaikan pandangan terkait pentingnya kolaborasi yang seimbang antara pemerintah, pekerja, dan pengusaha dalam menjaga keberlangsungan industri sekaligus memastikan hak-hak pekerja terpenuhi.

Dialog khusus ini bertujuan untuk mendorong terciptanya kerja sama yang lebih solid dalam mendukung kemajuan sektor industri di Jawa Timur. Selain itu, kegiatan juga menekankan upaya peningkatan kesejahteraan pekerja, agar iklim ketenagakerjaan dapat berjalan lebih kondusif dan berkeadilan.

Dengan semangat May Day sebagai momentum apresiasi terhadap kontribusi pekerja, dialog ini diharapkan menjadi ruang pertukaran gagasan serta penguatan komitmen bersama untuk menghadirkan solusi nyata di bidang ketenagakerjaan ke depan. (rh)

Asah Profesionalisme Pers, Pelatihan Jurnalistik Tekankan Manajemen Risiko dan Etika Informasi

Probolinggo, Berdampak.net — Pelatihan jurnalistik yang di selenggarakan oleh media berdampak sukses menjalankan pelatihan proffesional. Pelatihan ini mengangkat tema manajemen risiko dan etika dasar kembali digelar sebagai upaya meningkatkan profesionalisme insan pers di tengah derasnya arus informasi digital.

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Sekretaris Daerah Kota Probolinggo Bapak Rey, serta diikuti oleh mahasiswa, pegiat media, hingga jurnalis pemula. Peserta mendapatkan pembekalan terkait strategi peliputan yang aman, serta pemahaman tentang risiko hukum dan sosial yang dapat timbul akibat pemberitaan yang tidak akurat.

Bukan hanya sekedar itu kegiatan ini menghadirkan beberapa pemateri professional diantaranya Ali Masduki dari media Jatimnow dan Rahmad Hidayat dari media Sahabat Lensa.

Pak Rey menegaskan, salah satu tantangan terbesar jurnalis saat ini adalah maraknya informasi keliru yang beredar di ruang publik. Dalam kondisi tersebut, jurnalis memiliki peran penting untuk melakukan verifikasi dan memberikan klarifikasi kepada masyarakat.

“Informasi yang salah tidak boleh dibiarkan berkembang. Jurnalis wajib meluruskan dengan data yang valid akurat dan terverifikasi agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat,” tegas Pak Sekda.

Selain itu, peserta juga dibekali pemahaman mengenai etika dasar jurnalistik, seperti prinsip akurasi, keberimbangan, dan independensi. Penekanan diberikan pada pentingnya tanggung jawab moral dalam setiap produk berita yang dipublikasikan.
Pelatihan berlangsung interaktif dengan pembahasan studi kasus, termasuk bagaimana menangani dan mengoreksi informasi yang keliru secara profesional tanpa menimbulkan konflik baru.

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan peserta mampu menjadi jurnalis yang tidak hanya cepat dalam menyampaikan informasi, tetapi juga tegas dalam mengoreksi kesalahan serta menjaga kepercayaan publik terhadap media.

Media Berdampak dan Pemkot Probolinggo Perkuat Sinergi Lewat Pelatihan Jurnalistik

Probolinggo.Berdampak.net – Media online Berdampak.net bekerja sama dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Probolinggo menggelar pelatihan manajemen konflik jurnalistik dan etika dasar kejurnalistikan. Acara ini berlangsung khidmat di Gedung Ayam Wuruk, Kota Probolinggo, pada Selasa (28/04/26).

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas aparatur pemerintah dalam mengelola informasi publik. Fokus utama pelatihan adalah memberikan pemahaman mendalam mengenai cara menghadapi dinamika pemberitaan dan penerapan kode etik jurnalistik.

Ketua Panitia, Fajar Satrio Wibowo, dalam sambutannya menekankan betapa krusialnya pelatihan ini bagi para pengelola informasi. Menurutnya, setiap instansi pemerintah wajib memiliki kemampuan komunikasi yang mumpuni untuk menjembatani pesan kepada publik.

Fajar menyebutkan bahwa bagian humas di setiap instansi merupakan ujung tombak pemerintah dalam menyampaikan program kerja. Oleh karena itu, kemampuan teknis jurnalistik menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar lagi di era keterbukaan informasi.

“Kegiatan Pemerintah Kota Probolinggo selama ini sudah sangat bagus. Hal tersebut perlu didukung dengan penyampaian informasi yang tepat agar sampai dan dipahami oleh masyarakat luas,” tandas Fajar.

Acara dipandu oleh Poinirin Mika yang bertindak sebagai moderator. Dalam pengantarnya, ia menyoroti fenomena membanjirnya informasi di media sosial yang seringkali membingungkan masyarakat terkait kebenaran isinya.

Poinirin mengingatkan bahwa masyarakat sering sulit membedakan antara fakta dan hoaks yang tersebar masif. Hal ini menjadi tantangan besar bagi praktisi komunikasi pemerintah untuk tetap berdiri di atas kebenaran data.

Ia juga menegaskan bahwa tidak semua informasi yang beredar di jagat maya dapat dikategorikan sebagai berita. Sebuah informasi baru bisa disebut berita jika telah memenuhi unsur-unsur jurnalistik yang ketat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sesi materi pertama diisi oleh Ali Mashudi yang membahas mengenai urgensi memahami algoritma informasi. Ia menjelaskan bahwa di era digital, arus berita sangat sulit untuk dibendung sehingga memerlukan respon yang cepat dari pemangku kebijakan.

Ali menekankan agar para pejabat di setiap instansi memiliki kepekaan dan ketangkasan dalam menanggapi sebuah isu. Ketidaksiapan dalam merespons informasi dapat memicu opini negatif yang berkembang liar di masyarakat.

“Wartawan itu membutuhkan kejujuran. Jika para pemimpin yang memiliki masalah kemudian berlarut-larut dalam memberikan klarifikasi, maka masalah tersebut justru akan semakin panjang dan melebar,” tutur Ali.

Selanjutnya, Rahmad Hidayat dari Sahabat Lensa hadir sebagai penyaji kedua dengan materi etika konten digital. Ia mengajak para peserta untuk lebih bijak dan berhati-hati dalam memproduksi konten di media sosial milik instansi.

Rahmad mengingatkan bahwa pembuatan konten tidak boleh hanya didasarkan pada keinginan pribadi atau tren semata. Aspek empati dan penghormatan terhadap hak orang lain harus tetap menjadi prioritas utama.

“Konten yang bijak adalah konten yang tidak menyalahi norma-norma yang berlaku. Kita harus memperhatikan dampak sosial dari setiap unggahan yang kita buat,” tegas Rahmad di hadapan para peserta.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Probolinggo Rey Suwigtyo menutup rangkaian sambutan dengan memberikan apresiasi tinggi kepada Media Berdampak. Ia menilai inisiatif ini sangat membantu pemerintah dalam meningkatkan kualitas pelayanan informasi publik yang lebih profesional dan bermartabat