Kecerdasan Nabi Yusuf AS. Manajer Logistik dan Pemimpin yang Berempati

Oleh Muhammad Ali Muhsin Rofiey Notonegoro, Ama.Spd.I. Wakil Sekretaris MD KAHMI Kabupaten Pamekasan.

Kebanyakan dari kita saat mendengar kisah Nabi Yusuf A.S hanya pada cerita Nabi yusuf yang dibuang ke sumur oleh saudara-saudara (tiri)-nya, Ketampanan Nabi Yusuf yang mempesona banyak wanita terutama Siti Zulaikha dan Nabi Yusuf yang ahli di dalam menafsirkan mimpi.Tapi ada kisah perjalanan Nabi Yusuf A.S yang menarik namun luput di dalam perhatian kita semua. Terutama kisah bagaimana nabi Yusuf A.S dapat mengelola dan memanajemen Pangan di dalam Negara saat itu di zaman Kerajaan Mesir. Semuanya berawal dari mimpi unik seorang penguasa Mesir.Mimpi itu tersebar dan banyak masyarakat yang bingung dengan mimpi sang Penguasa. Namun salah seorang Pelayan sang Penguasa ingat bahwa dia mengenal Nabi Yusuf A.S yang mampu menafsirkan mimpi saat mereka masih bersama di dalam penjara. Setelah pelayanan itu memberitahukan perihal kemampuan Nabi Yusuf A.S ke Sang Penguasa, maka penguasa tersebut langsung memerintahkan agar Nabi Yusuf A.S dikeluarkan dari penjara agar menemui dan menafsirkan mimpinya.Mesir di era tersebut merupakan masyarakat yang maju di dalam Pearadaban dan Ilmu pengetahuan.. Ilmu Kimia, biolagi, biokimia dan arsitektur sangat berkembang saat itu. Kemampuan ilmu pengetahuan tersebut dikembangkan untuk Teknik Pertanian dan Pengawetan makanan.

Dengan modal perberdayaan masyarakat dengan peradaban yang tinggi tersebut, Nabi Yusuf A.S tidak banyak menemui masalah di dalam teknik dan manajemen pengelolaan Pangan saat pasca panen. Teknik pengawetan makanan, system sirkulasi pangan, Bangunan penyimpanan pangan yang sesuai standar, serta yang terpenting adalah peraturan dan pegaturan mengenai gaya hidup dan kosumsi masyarakat juga diperhatikan.Dalam upayanya menghidupkan produktivitas lahan untuk pertanian mengingatkan pada Kisah Nabi Yusuf atau Joseph di masa silam. Hal ini terjadi berkat manajemen atau pengaturan air pada masa beliau.

Air diatur sedemikian rupa untuk menghidupkan lahan gurun menjadi sangat subur, seperti yang kemudian dikenal sebagai Kota Al-Fayyūm, yang menjadi sentra pertanian.

Al-Fayyūm merupakan daerah di hulu Mesir, yang terletak di depresi besar Gurun Barat di barat daya Kairo.

Air dari Sungai Nil disalurkan ke dalam Danau Qarun (jarak Sungai Nil dengan Danau Qorun sekitar 100 km) melalui Kanal Yusuf (Joseph Canal’s) mengikuti saluran kuno ke Fayyūm yang bercabang-cabang untuk menyediakan air irigasi.

Nabi Yusuf juga membangun kincir air untuk menaikkan air dari danau ke lahan Al-Fayyūm yang posisinya lebih tinggi di hulu Mesir.

Singkatnya, manajemen air melalui teknologi kincir air pada masa tersebut menjadi kunci guna menghidupkan lahan agar berproduksi sepanjang tahun.

Berkat air, selama tujuh tahun Yusuf memanen gandum dan menyimpannya untuk persediaan tujuh tahun paceklik berikutnya.

Dengan cara itu Yusuf membawa Bangsa Mesir selamat dari bencana kekeringan, kelaparan, dan kekacauan akibat krisis pangan.

Strategi Efisiensi

Apabila diamati dari literatur sejarah, maka secara garis besar terdapat strategi kunci dan efisiensi Nabi Yusuf dalam mengatasi kekeringan yang diprediksi bakal melanda.

Pertama , perencanaan selama tahun-tahun kelimpahan. Ketika Nabi Yusuf memahami mimpi tentang tujuh tahun kelimpahan diikuti oleh tujuh tahun kelaparan, beliau segera menyadari pentingnya merencanakan masa depan.

Ia menyarankan kepada Raja Mesir, kala itu, untuk menyimpan sebagian besar hasil pertanian selama tahun-tahun kelimpahan.

Nabi Yusuf mengoptimalkan tujuh tahun kelimpahan dengan memastikan ketersediaan air sepanjang tahun. Ia membangun kincir angin dan kanal-kanal untuk mengambil air dari sumbernya, lalu mengalirkannya ke lahan-lahan subur.

Kedua , penyimpanan makanan. Nabi Yusuf mengatur penyimpanan makanan secara besar-besaran selama tahun-tahun kelimpahan.

Ia membangun gudang-gudang besar alias lumbung pangan di seluruh Mesir untuk menyimpan gandum dan sumber daya pangan lainnya.

Ini memungkinkan Mesir untuk memiliki persediaan makanan yang cukup selama masa kelaparan.

Ketiga , distribusi selama masa kelaparan. Ketika masa kelaparan tiba, Nabi Yusuf bertanggung jawab mendistribusikan sumber daya pangan yang disimpan dengan adil kepada masyarakat Mesir.

Ia melakukan ini dengan bijaksana, memastikan bahwa makanan didistribusikan secara merata dan tidak ada yang kelaparan.

Keempat , kebijaksanaan dalam pengelolaan. Nabi Yusuf menggunakan kebijaksanaan dan keadilan dalam pengelolaan sumber daya.

Nabi Yusuf telah mengatur sistem pengaturan harga atau alokasi sumber daya berdasarkan kebutuhan dan kemampuan masyarakat.

Ini membantu mencegah penimbunan atau penyalahgunaan sumber daya oleh pihak tertentu.

Kelima , pengawasan dan pengelolaan pertanian. Nabi Yusuf juga telah memimpin upaya untuk mengoptimalkan produksi pertanian selama tahun-tahun kelimpahan.

Ini bisa termasuk teknik irigasi yang lebih efisien atau strategi pertanian lainnya untuk meningkatkan hasil tanaman.

Selain itu, selama masa kelaparan, beliau mungkin telah memberikan nasihat kepada petani tentang cara mengelola sumber daya air yang terbatas.

Dengan mengelola pertanian dan persediaan pangan dengan bijaksana selama tahun-tahun kelimpahan dan kelaparan, Nabi Yusuf berhasil mengatasi kekeringan dengan mengurangi dampaknya pada masyarakat Mesir dan memastikan ketersediaan makanan yang cukup untuk semua orang. Kitab suci Al-Qur’an tidak hanya kitab petunjuk spiritual , melainkan juga kitab ekologi , yang memuat strategi keberlanjutan hidup manusia dalam harmoni dengan alam. Salah satu babak penting dalam narasi ekologi transenden kitab suci Al-Qur’an adalah kisah Nabi Yusuf a.s., terutama dalam Surat Yusuf ayat 47, yang menggambarkan strategi mengatasi krisis pangan dan multikrisis lainnya secara lestari dan visioner .

Surat Yusuf Ayat 47

قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدتُّم فَذَرُوهُ فِي سُنبُلِهِ إِلَّا قَلِيلًا مِّمَّا تَأْكُلُونَ

“Yusuf berkata, ‘Kalian bertani selama tujuh tahun seperti biasa. Maka apa yang kalian panen, biarkanlah dalam bulir-bulirnya, kecuali sedikit untuk kalian makan.’”

Ayat ini merupakan argumentasi filosofis dan praktis bagi konsep ekologi transenden, yakni pendekatan ekologis yang mengakar pada ajaran kesadaran spiritual manusia sempurna, Nabi Yusuf as. Memproduksi yang Lestari, tidak untuk di eksploitasi

Yang disampaikan Nabi Yusuf adalah perintah untuk bertani selama tujuh tahun secara konsisten. Ini bukan sekadar strategi pertanian, tetapi sebuah nasihat ekologis. Bertani dalam konteks ekologi transenden berarti melestarikan siklus hayati: menjaga tanah, air, dan benih agar tetap produktif dan berkesinambungan.

Produk hayati adalah produk yang dapat diperbarui secara alamiah. Ia tumbuh melalui waktu, mengalami regenerasi, dan menjawab kebutuhan hidup tanpa menghabiskan sumber daya bumi secara fatal. Inilah prinsip dasar dari keberlanjutan. Dalam konteks modern, ini berarti produksi harus berbasis pada pendekatan hayati ( bio-based ), bukan ekstraktif. Nabi Yusuf tidak menyuruh menambang, menggunduli, atau mengeksploitasi; beliau menyuruh untuk membudidayakan. Dengan kata lain, Nabi Yusuf menyuruh kita untuk melakukan produksi tentang apa saja yang lestari atau berkelanjutan.

Paham dengan Siklus Hidupnya Spesies

Kemudian yang diajarkan Nabi Yusuf adalah agar hasil panen disimpan dalam bulirnya. Di balik perintah ini terdapat kecerdasan ekologis tingkat tinggi. Menyimpan gandum dalam bulirnya adalah bentuk penghormatan terhadap siklus hidup spesies tanaman. Ia tidak dirusak bentuknya, tidak dipecah struktur biologisnya, agar tetap hidup, stabil, dan dapat dikembangkan kembali ketika dibutuhkan.

Secara ekologis, ini adalah pesan bahwa manusia sebagai produsen harus memahami siklus hidup dari setiap organisme yang dimanfaatkan. Tanpa pemahaman ini, manusia akan menjadi perusak. Dengan pemahaman ini, manusia menjadi penjaga. Maka, ekologi transenden mengajarkan bahwa produksi harus dibarengi dengan perlindungan terhadap sifat hidup suatu spesies.

Mengkonsumsi Secukupnya, Menyimpan Lebih Banyak

Nabi Yusuf AS menyarankan kita agar yang dikonsumsi hanya sedikit, sisanya disimpan. Ini bukan hanya strategi menghadapi musim paceklik, melainkan etika pemanfaatan sumber daya. Dalam kerangka ekologi transenden, ini adalah perintah untuk tidak serakah. Kita hanya boleh mengambil dari alam seperlunya, sementara sisanya disimpan, dijaga, dan diperkaya agar berguna di masa depan.

Menkonsumsi secukupnya, tetapi berikan nilai tambah pada hasil hayati itu dengan teknologi. Inilah yang kini disebut sebagai enrichment meningkatkan kualitas gizi dan daya guna produk tanpa perlu memperbesar volume ekstraksi dari alam. Dalam konteks ini, sedikit dari alam, tetapi banyak untuk manusia, menjadi prinsip emas. Itulah sebabnya Nabi Yusuf tidak menganjurkan eksploitasi berlebih, tetapi pengolahan cerdas atas apa yang sudah ada.

Melampaui proyeksi ekonomi, Menuju Etika keseimbangan

Yang diajarkan Nabi Yusuf bukan sekadar ekonomi pangan biasa, tetapi etika ekologis yang melampaui dimensi fisik transenden. Karena bencana ekologis terbesar di dunia hari ini bukanlah kekurangan sumber daya, melainkan keserakahan dalam mengonsumsinya. Setiap banjir, krisis iklim, degradasi hutan, dan krisis air, berpangkal pada kegagalan manusia membatasi diri dan menghormati keseimbangan ekosistem.

Ekologi transenden tidak bisa hanya mengandalkan data dan kebijakan. Ia membutuhkan kesadaran transenden bahwa semua makhluk hidup tumbuhan, hewan, manusia adalah ciptaan Allah yang harus dihargai bukan hanya karena manfaatnya, tapi juga karena keberadaannya. Dan Nabi Yusuf adalah teladan bagaimana strategi pangan berbasis spiritualitas ini mampu menyelamatkan sebuah bangsa dan negara dari kehancuran.

Tanggung Jawab Moral dan Hikmah ekologi transenden

Apa yang diajarkan Nabi Yusuf lebih dari cukup menjadi landasan bagi dunia modern yang sedang menghadapi krisis multidimensi—pangan, iklim, energi, dan moralitas. Jika dunia ingin selamat, maka arahkan kembali strategi pembangunan ke basis ekologi transenden: produksi hayati yang lestari, pemahaman atas siklus hidup, pengolahan yang cerdas, konsumsi yang bijak, dan penghindaran mutlak dari kerakusan. Tidak ada ajaran agama untuk mengandalkan pembangunan ekonomi pada hutang dan tidak ada ajaran untuk mengatasi kelangkaan dengan impor, tetapi dengan manajemen stok.

Keteladanan dari Nabi Yusuf lainnya sebagai ciri pemimpin yang baik di antaranya tata kelola yang baik (good governance), berilmu, bersimpati dan berintegritas. Billahitaufiq Wal Hidayah . Wallahu a’lam Bissowab

Massif Protes di Harbour Bridge: WNI Bergabung dalam “March for Humanity” di Sydney

oleh; Husnul Hotimah Mahasiswa Prodi S1 Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni UNESA

 Minggu, 3 Agustus 2025 pendukung Palestina, termasuk Warga Negara Indonesia (WNI) di Australia, berpartisipasi dalam aksi long march damai di atas Sydney Harbour Bridge, menuntut gencatan senjata dan bantuan kemanusiaan untuk Gaza. Aksi ini digelar sejak pagi hari di tengah guyuran hujan dan penutupan jembatan secara penuh oleh otoritas. Mereka membawa spanduk, bendera Palestina, serta simbol-simbol kelaparan seperti panci dan wajan, sebagai bentuk keprihatinan terhadap krisis kemanusiaan yang terjadi di Gaza.

Tepat setelah pukul 17.00 waktu setempat, Pejabat Wakil Komisaris Polisi NSW, Peter McKenna, menyampaikan bahwa sekitar 90.000 orang hadir dalam aksi tersebut, hal ini jauh melebihi estimasi awal penyelenggara yang hanya 50.000. Menurutnya, ini adalah demonstrasi terbesar yang pernah ia dan Asisten Komisaris Adam Johnson saksikan selama karier kepolisian mereka. Bahkan Johnson menyebutnya sebagai aksi paling berisiko dalam 35 tahun masa tugasnya.

Namun, salah satu penyelenggara utama, Josh Lees, mengatakan bahwa jumlah peserta bisa jadi mendekati 300.000 orang. Ia menyatakan bahwa berbagai pihak telah melakukan analisis mandiri berdasarkan rekaman udara yang tersebar luas di media sosial, dan hasilnya menunjukkan jumlah peserta jauh melampaui perkiraan awal. “Ini lebih besar dari yang pernah saya bayangkan,” ungkap Lees dari titik tengah barisan demonstran.

Beberapa tokoh terkenal turut hadir, seperti pendiri WikiLeaks Julian Assange, mantan Menteri Luar Negeri Bob Carr, Senator Mehreen Faruqi, Senator Greens, serta anggota parlemen seperti Ed Husic. Para peserta membawa panci dan wajan sebagai simbol kelaparan di Gaza dan meneriakkan slogan seperti “We are all Palestine”, “Stop the genocide”, dan menyerukan pengakuan negara Palestina serta sanksi terhadap Israel

Momen ini menekan pemerintah Australia, mendorong diskusi tentang pengakuan negara Palestina dan sanksi terhadap Israel. Menteri Luar Negeri Penny Wong menyebut aksi ini sebagai “luar biasa” dan mencerminkan kegelisahan warga terhadap krisis di Gaza, dengan komunitas internasional semakin menuntut solusi dua negara.

Fenomena Pengibaran Bendera One Piece Jelang 17 Agustus: Sekadar Tren atau Simbol Perlawanan?

oleh; Husnul Hotimah Mahasiswa Prodi S1 Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni UNESA

 Menjelang perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke‑80 Republik Indonesia, publik dikejutkan oleh fenomena pengibaran bendera Jolly Roger yang merupakan simbol bajak laut dari anime One Piece di berbagai daerah. Aksi ini sontak menjadi viral dan memunculkan beragam reaksi dari masyarakat, politisi, dan akademisi. Banyak yang mempertanyakan, apakah ini sekadar tren atau bentuk simbolik dari kekecewaan terhadap kondisi bangsa saat ini?

 Anggota Komisi III DPR RI, Firman Soebagyo, menilai bahwa fenomena ini berbahaya karena dapat memicu konflik politik. “Ini bisa menimbulkan masalah jika tidak ada edukasi mengenai makna bendera dari anime One Piece tersebut. Oleh karena itu, fenomena ini bisa berdampak negatif dan berpotensi menimbulkan konflik politik. Masalah ini harus menjadi perhatian serius bagi aparat penegak hukum,” ujarnya.

 Sementara itu, tanggapan berbeda datang dari Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya. Ia menilai fenomena pengibaran bendera One Piece tidak serta-merta perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Menurutnya, ekspresi semacam ini merupakan bentuk kreativitas masyarakat yang bisa dimaknai sebagai simbol harapan, bukan semata bentuk perlawanan. “Selama tidak ada unsur provokatif atau niat merusak simbol negara, kita perlu menyikapinya dengan bijak. Ini bagian dari ekspresi warga dalam menyuarakan keresahan dan harapan terhadap bangsa,” ungkapnya dalam wawancara dengan media.

Dari sisi akademis, Saipul Bahtiar, dosen Universitas Mulawarman, menyebut pengibaran bendera Jolly Roger sebagai bentuk protes diam yang dilakukan secara simbolik oleh masyarakat. Ia menjelaskan bahwa generasi muda kini cenderung menyuarakan kritik melalui simbol-simbol budaya pop, karena merasa ruang berpendapat secara langsung semakin sempit. “Mereka tidak turun ke jalan, tetapi memilih bentuk ekspresi kreatif untuk menyampaikan keresahan terhadap berbagai kebijakan dan kondisi negara,” ujarnya.

Fenomena ini pun menarik perhatian media internasional. Situs MeriStation yang berbasis di Spanyol menyebut Indonesia sebagai negara di mana bendera bajak laut One Piece dianggap sebagai “ancaman nasional”. Penilaian ini menuai kontroversi, namun di sisi lain menunjukkan betapa kuatnya pengaruh budaya populer dalam membentuk narasi sosial dan politik masa kini.

Pengibaran bendera Jolly Roger menjelang Hari Kemerdekaan RI bukan hanya soal tren viral atau fandom semata. Ia mencerminkan keresahan kolektif, sekaligus membuktikan bahwa simbol-simbol dari dunia fiksi bisa menjadi alat komunikasi politik yang kuat di tengah terbatasnya ruang dialog publik. Alih-alih menindaknya dengan represif, pemerintah dan masyarakat perlu membuka ruang diskusi dan edukasi agar semangat kritis generasi muda bisa disalurkan secara konstruktif dan tetap dalam semangat kebangsaan.

Roblox: Platform Bermain Masa Kini atau Tambang Risiko Digital?

oleh; Husnul Hotimah Mahasiswa Prodi S1 Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni UNESA

Di tengah banyaknya game online, Roblox muncul sebagai plaform game digital yang digemari jutaan anak dan remaja di seluruh dunia. Platform ini tak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga ruang kreasi tanpa batas. Namun di balik dunia penuh warna ini, tersembunyi pula sejumlah risiko, mulai dari konten tidak layak, sistem monetisasi yang bisa mendorong kecanduan, hingga potensi interaksi dengan pengguna yang tidak bertanggung jawab. Maka, wajar jika muncul pertanyaan: apakah Roblox benar-benar aman menjadi ruang tumbuh generasi muda, atau justru menyimpan ancaman tersembunyi di balik layar?

Roblox memiliki banyak manfaat positif, terutama dalam menumbuhkan kreativitas dan keterampilan digital anak-anak. Melalui Roblox Studio, mereka bisa belajar dasar pemrograman dengan bahasa Lua sambil menciptakan game sendiri. Interaksi dengan pemain dari berbagai belahan dunia juga memberi kesempatan untuk belajar bahasa asing secara alami. Tak jarang, anak-anak bahkan mulai memahami konsep bisnis sederhana seperti menjual item virtual, menetapkan harga, atau mempromosikan karya mereka.

Selain itu, pengalaman bermain bersama di Roblox dapat melatih kemampuan berbicara di depan umum dan kepemimpinan. Banyak pemain yang belajar memimpin tim, menyusun strategi, atau mempresentasikan proyek mereka kepada orang lain. Keterampilan semacam ini sering kali tidak diajarkan secara formal di sekolah, sehingga Roblox menjadi media alternatif yang berharga. 

Namun, di balik manfaat tersebut, ada risiko serius yang perlu diwaspadai. Sebagai platform terbuka, Roblox mempertemukan pengguna dari berbagai latar belakang, termasuk mereka yang berperilaku tidak pantas. Anak-anak bisa saja terpapar kata-kata kasar, konten tidak senonoh, atau bahkan manipulasi oleh pengguna jahat. Ruang obrolan dalam game terkadang menjadi tempat peredaran konten dewasa terselubung atau praktik grooming yang membahayakan. 

Masalah lain yang sering muncul adalah kecanduan dan kebiasaan belanja impulsif. Sistem pembelian dalam game menggunakan Robux dapat memicu pola konsumsi tidak sehat, terutama pada anak yang belum paham nilai uang. Tanpa pengawasan, mereka bisa menghabiskan banyak uang hanya untuk membeli skin atau aksesoris virtual. Algoritma Roblox yang dirancang untuk membuat pemain terus menjelajah juga berpotensi mengganggu keseimbangan waktu antara dunia digital dan kehidupan nyata.  Roblox bukanlah platform yang sepenuhnya buruk, tetapi juga tidak bisa dianggap sebagai hiburan yang sepenuhnya aman. Seperti halnya media sosial, ia membutuhkan pengawasan orang tua dan pendidik. Dengan bimbingan yang tepat, Roblox dapat menjadi alat edukasi yang efektif. Namun, tanpa kontrol, ia bisa menjadi gerbang masuk ke risiko-risiko dunia maya yang sulit diantisipasi.

Lebih Produktif dari yang Dikira, Gen Z Bekerja Cerdas Bukan Bekerja Keras

Oleh; Husnul Hotimah (Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Prodi S1 Sastra Indonesia, UNESA, Surabaya)

Gen Z kerap dicap sebagai generasi yang malas dan manja di dunia kerja. Namun, berbagai data menunjukkan bahwa anggapan tersebut keliru. Generasi Z justru terbukti lebih produktif dibandingkan yang sering diasumsikan, meskipun cara mereka bekerja berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka cenderung memilih untuk bekerja secara cerdas daripada sekadar bekerja keras. Menurut Google Workspace, sekitar 88% pekerja Gen Z menggunakan AI untuk mempercepat pekerjaan sehari-hari seperti menulis email dan mencatat rapat. Mereka tidak hanya bekerja lebih cepat, tapi juga mengasah kemampuan komunikasi dan kolaborasi lewat teknologi. Ini mencerminkan transisi paradigma dari kerja keras menuju kerja cerdas.

Stereotip bahwa Gen Z adalah generasi pemalas semakin tidak berdasar ketika melihat pola kerja yang mereka terapkan. Banyak pakar menyebut bahwa Gen Z menjalankan prinsip justified effort management atau pengelolaan tenaga secara rasional agar tidak terjebak dalam budaya kerja yang melelahkan.

Mereka tahu kapan harus produktif, dan kapan harus beristirahat demi menjaga kesehatan mental dan performa jangka panjang. Pendekatan ini berbeda dari generasi sebelumnya yang sering menganggap lembur sebagai simbol komitmen dan dedikasi. Meski begitu, Gen Z tetap menghadapi sejumlah tantangan. Tingkat turnover yang tinggi dan meningkatnya isu kesehatan mental menjadi dua aspek yang cukup menonjol. Menurut Resume.Lab sekitar 71% pekerja Gen Z  akan meninggalkan pekerjaan yang membuat mereka tidak bahagia, baik karena pekerjaan itu sendiri, atasan yang tidak suportif, maupun budaya kerja yang merugikan. Namun, ini bukan berarti mereka tidak memiliki komitmen, melainkan mereka menuntut lingkungan kerja yang sehat, mendukung, dan sejalan dengan nilai hidup mereka. Dalam hal ini, Gen Z menunjukkan keberanian untuk tidak kompromi terhadap kesejahteraan pribadi, tanpa mengorbankan profesionalisme.

Saya Bangga Jadi Anak Himpunan

Hamid Awaludin

Helsinki, Ibukota negara Finlandia di bulan Januari 2025

Kota di tepian laut Baltik ini berselubung
salju. Dinginnya membekukan ujung-ujung jari. Hanya mantel berlapis, kaos tangan, dan teh
panas yang rasanya bisa menawar rasa menggigil dan gigi yang gemeretak oleh dingin.

Tapi, dalam cuaca sebeku itu, saya – yang memimpin
delegasi kecil Pemerintah Indonesia berunding dengan para petinggi Gerakan Aceh Merdeka – tetap merasakan panas yang menggelegak. Bukan saya saja, anggota tim, apatah lagi “lawan” kami di meja perundingan, Malik Mahmud, Zaini Abdullah, dan lain-lain. Semuanya memegang bara yang hendak dipertautkan agar saling mendinginkan di meja perundingan.

Zaini Abdullah adalah tokoh yang angker. Wajahnya dingin, air mukanya tenang, senyumnya jarang, bicaranya diplomatis dan terukur. Malah cenderung irit. Maklum, karena Zaini adalah seorang dokter yang kemudian melanglang buana sebagai Menteri Luar Negeri GAM. Para perunding pemerintah sebelum saya, termasuk Mantan Menlu RI, Hassan Wirajudha memberitahu saya bahwa Zaini Abdullah sangat sulit diajak berunding. Ia mudah marah dan cenderung tak mudah percaya dan mendengar orang lain. Saya mengakrabi Zaini Abdullah lewat sebuah topik yang tak bertaut dengan soal Aceh. Bukan soal Aceh? Di belakang mansion di Vantaa, lokasi perundingan, ada taman nan lapang. Lalu ada kali berair bening yang mengalir dengan setapak kecil di tepiannya. Di saat-saat debat kata menemukan jalan buntu, ke tepian kali inilah saya menyingkir, sembari mengajak dua pemimpin delegasi GAM, Tengku Malik Mahmud dan Zaini Abdullah. Sembari menyusuri tepian kali, kami bertiga hendak berbicara dari hati ke hati, melepas atribut, dan mencari celah kesepakatan tanpa satupun pihak pun kehilangan muka dan martabatnya. Saat itulah, Zaini Abdullah bertanya ke saya; “Pak Hamid dulu aktif di HMI ya?” Pertanyaannya ramah, seperti datang dari kawan lama. “Iya tengku. Saya alumnus HMI?” “Saya juga dari HMI,” kata Zaini Abdullah. Ternyata, semasa menempuh pendidikan dokter di Universitas Sumatera Utara, Zaini Abdullah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam. Ia bahkan pernah menjadi Pengurus Badko HMI Wilayah Sumatera Utara. Jadilah kami yang aktif di HMI pada zaman yang berbeda, saling bernostalgia. Sedikit-sedikit, saya menautkan ihwal HMI ini dengan perundingan yang tengah kami jalankan. Boleh dikata, perundingan antara Pemerintah Indonesia dengan GAM, sesungguhnya adalah reuni antara alumnus HMI. Mengapa? Zaini Abdullah dari pihak GAM, adalah mantan aktivis HMI sementara Hamid Awaludin, Sofyan Djalil, dan Farid Husein dari pihak pemerintah Indonesia, juga adalah mantan aktivis HMI. Jadi, sebenarnya, seperti kata Jusuf Kalla di berbagai kesempatan, “Perundingan damai untuk Aceh adalah dari HMI ke HMI, atau pertemuan sehimpunan.”

    Begitulah. Agenda yang berbeda, yang sama-sama diantar dengan hati yang panas, menjadi dingin dan dipertautkan oleh sekeping masa lalu bernama HMI. Ketika saya menelepon M. Jusuf Kalla (JK), yang saat itu adalah Wakil Presiden RI, 2004- 2009 dan pengambil inisiatif perdamaian Aceh, tentang pengakuan Zaini Abdullah bahwa ia seorang aktivis HMI di masa lalu, JK langsung menimpali: “Hamid, Insya Allah kita bisa damai. Ambil air wudhu segera dan sholat syukur. Ini pintu masuk yang amat baik,” tegas JK. Jelas buat saya, HMI adalah sebuah jejaring sosial yang merambah ke mana-mana. jejaring ini amat efektif ternyata di hari-hari berikutnya. Perjanjian damai Aceh yang menghentikan konflik berdarah selama 30 tahun, bisa dilakukan dengan sapaan antara sesama warga sehimpunan. Satu mewakili pemerintah RI dan yang satunya lagi mewakili kelompok yang menggempur pemerintah RI. HMI ternyata menjadi jembatan yang menghubungkan dua arah yang berlawanan dan melancarkan perjalanan siapa saja di atasnya. HMI jelas jadi sebuah pengikat agar siapa saja tidak bercerai-berai. Sebuah ikatan agar manik-manik tidak berjatuhan dan berceceran entah ke mana. HMI adalah sebuah benda yang bergerak dan lentur. Ia telah melewati rentang waktu dan jarak ruang republik yang begitu panjang. Lantaran itulah, HMI telah berjejak ke belakang. Dan jejak-jejak itulah yang membuatnya kian efektif menjadi jembatan sosial
    dengan fondasi kultural. Dengan gerakan yang lentur membuat HMI menjadi sebuah telaga yang menampung semua aliran air, dari mana saja datangnya.
    la bukan sebuah bendungan yang hanya menampung aliran air dari satu arah. Dari sini pulalah seyogianya kita memandang, mengapa kader-kader HMI, selain berada di mana-mana melting pot society, maka HMI juga bisa dipersepsikan sebagai
    melting pot institution.
    Kelenturan, juga berasal dari mana-mana. Bila Amerika Serikat dikenal juga, membuat para kader HMI tegak tengadah dengan prinsip penghargaan yang tinggi terhadap eloknya
    kemajemukan. Dengan kelenturanlah membuat kader-kader HMI selalu ceria menegakkan pandangan ke arah pelangi yang selain berwarna-warni, juga pertanda kesejukan, setelah badai hujan mengguyur. Saya bangga menjadi kader HMI. Ajaran Kepelangian ini, disempurnakan lagi orientasi sikap kritis yang menjadi nafas pergerakan. Kritis dalam berpikir dan bersikap. Ajaran kritis ini tertanam bagi siapa saja yang pernah bersentuhan dengan himpunan. Dalam perspektif inilah mengapa kita acapkali menyaksikan penampangan para kader HMI, terbiasa keluar dari pakem kejumudan dan bersilangan arah dengan sesuatu yang mapan. Sikap kritis inilah yang melahirkan budaya intelektual dalam HMI. Menyoal ihwal adalah inti pokok ajaran himpunan. Meragukan soal adalah fondasi perkaderan. Gelisah menemukan jawaban dan meragukan realitas adalah prasyarat mutlak untuk melebel diri sebagai warga himpunan. Simpul kata, kegelisahan intelektual
    yang disandingkan dengan ajaran kepelangian adalah pilar himpunan.

    Perjalanan saya di HMI, amat beda dibanding teman-teman lainnya, yang meniti karir dari jenjang satu ke jenjang yang lain. Empat hari setelah saya ikut Basic Training di sebuah rumah di bagian selatan Kota Makassar, saya langsung ikut Kongres HMI yang saat itu dilaksanakan di Makassar. Biasanya, peserta Kongres itu adalah para pimpinan HMI atau kader-kader yang telah “beruban” lantaran kelamaan. Saya sama sekali berbeda. Ceritanya seperti berikut. Guru saya di SMP dan SMA di Parepare, adalah aktivis HMI tulen. Maka, ketika Kongres HMI di Makassar, mereka memasukkan saya menjadi peserta Kongres, mewakili kota saya, Parepare. Suatu loncatan karir di himpunan yang begitu dahsyat.

    Sejak itulah saya tidak pernah mau berhimpit-himpitan menunggu giliran jadi pengurus himpunan karena saya anggap saya telah mencapai karir tinggi, menjadi peserta Kongres. Selain itu, tiba-tiba saja pengurus HMI Cabang Makassar saat itu, amat surplus dalam bilangan tahun pendidikan yang dilewatinya, tetapi defisit dalam neraca kemampuan intelektual. Saya pun amat kecewa karena himpunan telah memberi prinsip utama : harus kritis dan karena itu, harus punya kemampuan intelektual yang prima. Saya, sama sekali tidak tertarik dengan jenjang dan struktur himpunan. Saya menempuh cara saya sendiri dalam mengepakkan sayap misi himpunan, di luar struktur himpunan. Namun, saya tidak pernah meninggalkan himpunan. Masa berganti era, saya pun ke negeri Paman Sam untuk waktu yang cukup lama. Di sanalah saya kian jadi HMI karena saya menemukan sebuah lahan subur untuk pengembangan karir intelektual saya. Di sanalah saya menemukan makna kepelangian dalam praktik hidup, yang ditanamkan oleh HMI jauh sebelumnya. Di sanalah saya menemukan pangkalan pendaratan kebebasan intelektual yang selama ini diajarkan di himpunan, pengembaraan intelektual saya ini, berlangsung tanpa sunyi karena ternyata saya menemukan banyak sekali kader HMI yang mengelana, sama dengan saya. Di hari-hari dan tahun-tahun itulah saya kian bangga menjadi warga himpunan, karena saya menemukan harta karun bangsa yang telah melewati padepokan himpunan. Mereka menyebar dengan berbagai orientasi keilmuan. Mereka
    inilah yang kembali mengisi lembaran-lembaran chapter kehidupan bangsa setelah reformasi. Saya bangga menjadi anak himpunan. Rasa harga diri sebagai anak himpunan ini, kian menebal tatkala di suatu malam, Wapres RI, M. Jusuf Kalla, mengumpulkan kami: Bagir Manan (Ketua Mahkamah Agung RI), Jimly Asshidiqie (Ketua Mahkamah Konstitusi RI), Hamid Awaludin (masih menjabat
    Menteri Hukum dan HAM RI), Abdurrachman Saleh (Jaksa Agung RI). “Anda semua adalah anak-anak himpunan yang menentukan hitam dan putihnya dunia hukum di Republik ini. Bersyukur pada Tuhan karena inilah momen di mana anak-anak himpunan berada dalam perahu yang sama,” kata JK. Kami tertunduk syukur karena itu. Ya, saya bangga jadi anak himpunan. Lalu, saya bertugas jadi Dubes RI di federasi Rusia dan Belarusia. Maka, sekali tempo, di tengah musim dingin yang menusuk dengan salju yang menyelimuti kota Moskow, saya menyaksikan anak-anak muda Rusia yang memprotes ke pemerintah. Mereka mengaum menuntut adanya kebebasan
    bersuara. Mereka mengaum agar kebebasan berbicara dan berserikat tidak diganggu di Rusia. Di saat-saat itulah saya teringat dengan ucapan Voltaire, seorang filsuf Perancis: “Saya amat tidak setuju dengan apa yang sedang kamu suarakan. Namun, saya akan membela hingga saya mati, hak kamu mengucapkan apa yang saya tidak setujui itu”. Jauh sebelum saya membaca dan mengingat ucapan ini, HMI telah membekali saya prinsip kebebasan. Saya bangga menjadi anak Himpunan!

    Hamid Awaluddin, Ph.D., alumni Jurusan Hukum Internasional Fakultas Hukum Unhas. Hamid pernah menjabat sebagai Menteri Hukum dan HAM pada periode Pemerintahan SBY-JK, dan Duta Besar RI di Rusia, pada masa SBY-Budiono.