Partai Gelora: Partai Masa Depan Anak Muda

Oleh: Ponirin Mika
Sekretaris DPD Partai Gelora Kabupaten Probolinggo

Probolinggo- Perjalanan demokrasi Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran partai politik. Sejak kemerdekaan, partai-partai politik telah menjadi wadah perjuangan aspirasi rakyat. Dari era perjuangan kemerdekaan hingga masa Reformasi, partai politik terus berkembang sesuai dengan dinamika sosial dan politik bangsa.

Namun, dari masa ke masa, masyarakat kerap menunjukkan sikap kritis terhadap partai politik. Banyak yang menilai bahwa partai hanya aktif saat pemilu tiba, kurang memperjuangkan kepentingan rakyat secara konsisten, dan cenderung elitis.
Kepercayaan masyarakat terhadap partai politik mengalami pasang surut. Di era digital seperti saat ini, publik—terutama generasi muda—semakin menuntut transparansi, kejujuran, dan aksi nyata dari para politisi. Sayangnya, masih banyak partai politik yang belum mampu menjawab tantangan tersebut.
Munculnya sikap skeptis dan apatis terhadap dunia politik menjadi indikator bahwa ada yang perlu diubah dalam sistem dan pendekatan politik di Indonesia.

Dibutuhkan partai politik yang mampu menjadi jembatan harapan masyarakat, terutama generasi muda, terhadap masa depan bangsa.
Partai Gelombang Rakyat Indonesia (Gelora) hadir dengan semangat baru untuk menjawab tantangan zaman. Lahir dari gagasan perubahan dan pembaruan, Partai Gelora membawa visi besar: menjadikan Indonesia sebagai kekuatan lima besar dunia. Untuk mewujudkan visi ini, Gelora menekankan pentingnya pembangunan sumber daya manusia, penguatan ekonomi nasional, dan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat.

Partai Gelora tidak hanya menawarkan platform politik, tetapi juga membangun gerakan sosial dan edukatif yang menyentuh lapisan masyarakat bawah hingga atas. Kami percaya bahwa politik bukan hanya soal kekuasaan, tetapi tentang pelayanan dan kontribusi nyata bagi rakyat.
Salah satu kekuatan utama Gelora adalah komitmennya terhadap keterlibatan generasi muda. Anak muda bukan hanya pewaris masa depan, tetapi juga aktor utama perubahan hari ini. Karena itu, Partai Gelora membuka ruang seluas-luasnya bagi kaum muda untuk terlibat, belajar, berinovasi, dan bahkan menjadi pemimpin.

Kami mendorong hadirnya kader muda yang visioner, berintegritas, dan mampu menjawab tantangan zaman dengan pendekatan kreatif serta berbasis solusi. Gelora menjadi rumah besar bagi para pemuda yang ingin berpolitik secara sehat, inklusif, dan membangun.
Di tengah krisis kepercayaan terhadap partai politik, Partai Gelora hadir sebagai alternatif yang segar dan penuh semangat. Kami mengajak seluruh elemen bangsa, khususnya generasi muda, untuk bersama-sama bergelora membawa perubahan positif bagi Indonesia.
Mari kita bangun masa depan Indonesia yang lebih baik. Bersama Gelora, kita gelorakan semangat perubahan!

Ponirin Mika
Sekretaris DPD Partai Gelora Kabupaten Probolinggo

Segala bentuk judul dan isi dari opini merupakan tanggungjawab mutlak penulis.

Bangkit Bersama, Mewujudkan Indonesia Kuat

Oleh Ainur Rofiq

Setiap tahun, tanggal 20 Mei selalu mengingatkan kita pada satu momentum penting: Kebangkitan Nasional. Tahun ini, tepat 117 tahun lalu, lahir semangat Boedi Oetomo yang menandai awal gerakan sadar bangsa untuk membebaskan diri dari belenggu kolonialisme dan Imperialisme. Namun, kebangkitan yang sesungguhnya tak berhenti di sana. Kini, kita diajak bangkit bersama untuk mewujudkan Indonesia yang kuat, merata, dan berkeadilan.
Tema “Bangkit Bersama, Wujudkan Indonesia Kuat” bukan sekadar jargon politik atau slogan di spanduk yang terpasang di tembok, tiang papa reklame instansi, tiang papan jalan protokol. Ini adalah janji dan tugas yang harus kita pegang bersama, khususnya di tengah berbagai program strategis yang tengah dijalankan pemerintah hari ini.
Pendidikan menjadi salah satu kunci utama dalam proses kebangkitan ini. Bayangkan sebuah Sekolah Rakyat, sekolah berasrama yang sepenuhnya gratis dan diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Sekolah ini bukan sekadar memberikan ilmu, tapi juga kesempatan untuk bermimpi dan keluar dari lingkaran kemiskinan yang selama ini mengungkung. Ini adalah investasi besar bagi masa depan bangsa dan jaminan kemajuan serta kesejahteraan kedepan.
Dalam konteks ini, kita tak bisa melepas dari ajaran Ki Hajar Dewantara, sosok yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Ia mengingatkan kita bahwa:
“Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.”
Artinya, pemimpin harus bisa memberi contoh di depan, membangun semangat di tengah, dan memberi dorongan dari belakang. Prinsip ini sangat relevan dalam upaya memperkuat sistem pendidikan yang inklusif dan berkeadilan.
Tak hanya pendidikan, pemerintah juga bergerak di sektor lain yang krusial: kesehatan, perumahan, dan pangan. Akses kesehatan yang gratis dan berkualitas diharapkan bisa menyentuh seluruh lapisan masyarakat tanpa kecuali. Perumahan bersubsidi hadir sebagai jawaban atas kebutuhan hunian layak bagi mereka yang selama ini terpinggirkan, serta memberikan kesempatan yang sama bagi para buruh untuk mendapatkan pemukiman yang layak dan terjangkau dengan upah yang diterima. Sementara itu, ketahanan pangan diperkuat dengan mendorong koperasi Merah Putih dan pelaksanaan Reforma Agraria.
Reforma Agraria bukan hanya soal pembagian tanah dan legalitas asetnya. Akan tetapi kebijakan serta pemaknaan yang lebih luas merupakan upaya membangun kedaulatan petani kecil, memastikan sumber daya dapat dinikmati secara adil, dan menumbuhkan ekonomi rakyat yang mandiri. Ini adalah bagian penting dari kebangkitan yang menghunjam ke akar rumput.
Prof. Arief Rachman, tokoh pendidikan yang juga mantan Ketua Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, menambahkan:
“Kebangkitan sejati bukan hanya soal pembangunan fisik, tapi bagaimana mencerdaskan manusia agar merdeka dalam berpikir dan bertindak.”
Maka, kebangkitan nasional hari ini adalah “gerakan kolektif”. Gerakan yang menuntut kita bersama-sama memperbaiki layanan dasar, menjamin akses pendidikan dan kesehatan yang merata, dan menguatkan ekonomi rakyat. Indonesia kuat bukan hanya sekadar mimpi, tapi sebuah tujuan yang bisa kita capai jika semua pihak pemerintah, masyarakat, dan generasi muda bersatu dalam semangat kebersamaan dan keadilan sosial.
Mari kita satukan langkah dengan penuh semangat dan keyakinan membangun Indonesia yang lebih baik. Sebuah negeri yang berkeadilan sosial, di mana setiap warga memiliki kesempatan yang sama meraih kesejahteraan. Indonesia yang bermartabat bukan hanya mimpi, melainkan tujuan yang harus kita raih bersama. Kebangkitan ini bukan sekadar mengenang masa lalu yang heroik. Melainkan sebuah panggilan untuk memperkuat fondasi masa depan bangsa.
Kebangkitan Nasional bukan pula sekadar peringatan sejarah yang rutin kita rayakan tiap tahun. Ia adalah momentum nyata untuk bertindak dan bergerak bersama membangun kemajuan. Masa depan Indonesia sangat bergantung pada langkah kita hari ini. Oleh karena itu, sudah saatnya kita bangkit bersama, bersatu padu, untuk mewujudkan cita-cita besar bangsa. Demi Indonesia yang kuat, adil, dan berdaulat sepenuhnya.
Wallahu A’lam Bisshowab
Malang 20 Mei 2025

Judul beserta isi dari opini ini merupakan tanggungjawab mutlak penulis.

Kebangkitan Nasional: Hidup tanpa Medsos

oleh: Dr. Ahmad Hudri, ST. ,MAP.,*

Dalam lanskap teknologi yang berkembang pesat saat ini, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Namun, konsep” Kebangkitan Nasional ” atau Kebangkitan Bangsa dapat ditelaah melalui lensa kehidupan tanpa media sosial. Gagasan Kebangkitan Nasional erat kaitannya dengan semangat keterlibatan aktif dalam masalah kemasyarakatan dan kebangsaan. Ketika Indonesia mengalami kebangkitannya di awal abad ke-20 melalui gerakan-gerakan yang mengadvokasi kemerdekaan dari kekuasaan kolonial, peran komunikasi menjadi hal yang mendasar. Surat kabar dan pamflet mengedarkan gagasan dan menumbuhkan rasa persatuan di antara masyarakat. Saat ini, media sosial berfungsi sebagai mitra modern untuk media tradisional ini. Hidup tanpanya menginspirasi refleksi tentang bagaimana keterlibatan dan aktivisme dapat berkembang melalui cara yang lebih pribadi dan langsung, mirip dengan metode mobilisasi historis.

Mempertimbangkan dampak dari kehidupan bebas media sosial, bahwa hal itu dapat mengarah pada interaksi yang lebih bermakna. Tanpa gangguan notifikasi dan sifat dangkal dari interaksi online, individu dapat mengembangkan hubungan yang lebih dalam. Hubungan pribadi yang terjalin melalui percakapan tatap muka memiliki dampak psikologis yang mendalam, meningkatkan empati dan pengertian. Individu seperti R. A. Kartini, yang mengadvokasi hak-hak perempuan di Indonesia pada masanya, sangat bergantung pada korespondensi pribadi dan pertemuan komunitas. Pendekatan ini menumbuhkan rasa tujuan bersama yang tulus yang dapat dicerminkan dalam konteks modern tanpa dunia online.

Selain itu, ketiadaan media sosial menumbuhkan pemikiran kritis. Saat ini, banyaknya informasi yang tersedia di platform media sosial sering kali menciptakan ruang gema, di mana pengguna dihadapkan pada perspektif yang terbatas, memperkuat keyakinan yang ada. Tanpa akses langsung ke beragam pendapat, individu perlu mencari pengetahuan melalui buku, diskusi, dan menganalisis sumber berita secara kritis. Metode ini sejalan dengan cita-cita para pendiri bangsa yang termaktub dalam pembukaan Undang-undang Dasar Tahun 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa yang mengedepankan pendidikan dan integritas moral. Diskusi yang hidup seputar pendidikan di awal tahun 1900-an mendorong proses berpikir dan perspektif kritis yang berkontribusi pada kebangkitan intelektual Indonesia.

Sebaliknya, kurangnya media sosial dapat menghambat aspek advokasi dan kesadaran tertentu. Media sosial telah terbukti menjadi alat yang ampuh untuk memobilisasi kelompok besar dan menyebarkan informasi dengan cepat. Gerakan-gerakan seperti Black Lives Matter dan climate activism telah mendapatkan momentum melalui kemampuan menjangkau khalayak secara global hanya dalam hitungan detik. Tidak adanya platform semacam itu dapat berarti berkurangnya jangkauan dan upaya organisasi yang lebih lambat untuk tujuan sosial. Namun, sejarah menunjukkan bahwa gerakan dapat berkembang bahkan tanpa adanya teknologi, hanya didorong oleh semangat dan komitmen. Gerakan kemerdekaan Indonesia merupakan bukti mobilisasi akar rumput yang efektif tanpa kenyamanan modern.

Selain itu, implikasi hidup tanpa media sosial meluas ke ranah privasi dan kesehatan mental. Maraknya masalah kesehatan mental yang terkait dengan penggunaan media sosial yang berlebihan, seperti kecemasan dan depresi, menyoroti perlunya mundur dari dunia digital. diperlukan adanya ikhtiar secara sistematis untuk membahas solusi tentang dampak media sosial terhadap kesehatan mental. Lingkungan tanpa media sosial dapat mengurangi stres dan kecemasan, mempromosikan gaya hidup yang lebih sehat dan kerangka mental yang lebih jelas, yang didorong sebagai bagian kesadaran sosial yang bermuara pada kebangkitan nasional yang berfokus pada pembangunan karakter mental anak-anak bangsa.

Media tradisional menawarkan pandangan sekilas yang menarik ke dalam dunia media pasca-sosial. Surat kabar, papan buletin komunitas, dan keterlibatan langsung dapat mewakili kembalinya ke bentuk komunikasi yang lebih bijaksana, yang berpotensi menghasilkan konesitas masyarakat sipil yang lebih erat. Diskusi dalam lingkungan sosial yang nyata akan mendorong inklusivitas dan partisipasi. Civil Society dapat mengambil peran yang berbeda dalam lanskap yang sedang berkembang ini, melayani sebagai mentor dan pendidik, bukan hanya pemberi pengaruh media sosial. Pergeseran ini dapat menciptakan babak baru dalam keterlibatan sipil, mengingatkan pada upaya kolektif yang dilakukan selama awal abad ke-20.

Kebangkitan Nasional melalui lensa living without social media membutuhkan perenungan tentang dampak sosial dari era digital saat ini. Keberadaan media sosial tidak dapat disangkal memfasilitasi konektivitas dan kesadaran yang luas, kesejajaran sejarah menekankan potensi interaksi yang bermakna, pemikiran kritis, dan gerakan berbasis komunitas. Dengan paradigma ini akan menguatkan sejarah Indonesia bahwa hubungan yang tulus, wacana yang sehat, dan tindakan yang terinformasi dapat muncul menjadi katalisator dari penyimpangan kebisingan digital media sosial. Pendekatan ini mungkin menandakan gelombang kebangkitan nasional berikutnya, menyelaraskan individu menuju tujuan bersama, memperkaya jalinan komunitas, dan membina masyarakat yang lebih bersatu.

* Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Probolinggo

Judul beserta isi dari opini ini merupakan tanggungjawab mutlak penulis.

Peran FKUB Mengorkestrasi Kerukunan Umat Beragama di Indonesia

Oleh:
Dr. Ahmad Hudri, ST., MAP.
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Probolinggo

Peran Forum Kerukunan Umat Beragama atau FKUB sangat penting dalam mendorong kerukunan umat beragama di Indonesia. Forum ini berperan penting sebagai wadah yang mempertemukan di antara berbagai kelompok agama, mempromosikan toleransi dan hidup berdampingan secara damai. Dalam memainkan perannya FKUB memiliki tujuan, latar belakang sejarah, strategi yang digunakan, dan tantangan yang dihadapi dalam mengarungi kompleksitas masyarakat multi-agama di Indonesia.

FKUB didirikan pada tahun 2006, didorong oleh kebutuhan untuk menjaga dan merawat toleransi dan harmonisasi di antara berbagai komunitas agama di Indonesia. Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar dan banyak agama lain, mewujudkan permadani tradisi keagamaan yang kaya. Namun, keragaman ini juga berpotensi dapat menimbulkan konflik. Dalam konteks ini, FKUB bertujuan untuk menjadi wadah dialog dan koordinasi antar pemeluk agama yang berbeda.

Salah satu tujuan utama FKUB adalah memfasilitasi dialog yang bertujuan untuk meningkatkan hubungan antaragama. Dengan mengumpulkan tokoh-tokoh agama dari berbagai latar belakang, FKUB menciptakan keharmonisan untuk membahas nilai-nilai bersama yang melampaui sistem kepercayaan individu. Pendekatan ini dilakukan sebagai upaya dalam mengurangi kesalahpahaman yang dapat menyebabkan konflik. Acara-acara yang diselenggarakan oleh FKUB, seperti diskusi multi-keyakinan dan proyek pengabdian masyarakat, menunjukkan komitmennya untuk mempromosikan persatuan dan kolaborasi di antara berbagai kelompok agama.

Tokoh-tokoh berpengaruh memainkan peran penting dalam kesuksesan FKUB sebagai komposer orkestra harmoni keragaman . Para pemimpin agama, cendekiawan, dan aktivis  menyumbangkan wawasan dan pengaruh terhadap pentingnya pluralisme dan toleransi dalam memajukan dialog. Kontribusi semacam itu menumbuhkan lingkungan di mana individu didorong untuk menghormati keragaman agama dan bekerja sama untuk kebaikan bersama.

Salah satu aspek penting dari pendekatan FKUB adalah inisiatif untuk melakukan edukasi kepada umat beragama. Inisiatif ini mencakup lokakarya, seminar, dan diskusi publik yang dirancang untuk meningkatkan kesadaran tentang toleransi beragama. Dengan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menghormati perbedaan keyakinan, FKUB tidak hanya menyikapi konflik tetapi juga menyemai benih untuk generasi mendatang. Ketika individu yang lebih muda belajar tentang nilai hidup berdampingan, mereka menjadi pendukung perdamaian, sehingga memastikan bahwa siklus konflik dapat dipatahkan.

FKUB juga perlu proaktif dalam menghadapi tantangan yang muncul dalam lanskap sosial-politik Indonesia. Isu-isu seperti radikalisme dan intoleransi bermunculan, dipicu oleh ideologi ekstremis yang mengancam nilai-nilai demokrasi. Disini FKUB perlu menyesuaikan strateginya untuk melawan tren isu-isu tersebut. FKUB juga perlu mengambil inisiatif untuk menggalang kerja sama dengan lembaga pemerintah dan organisasi masyarakat sipil lainnya dengan bertujuan memerangi ekstremisme. Aliansi ini sangat penting, karena menyatukan berbagai kelompok dalam misi bersama sekaligus memperkuat pemahaman mengenai pentingnya pluralisme agama.

FKUB dapat pula mengambil fasilitasi silaturahmi pada periode-periode hari raya keagamaan. Misalnya, saat Idul Fitri dan Natal, FKUB bisa menyelenggarakan perayaan antaragama untuk menciptakan solidaritas antar umat beragama yang berbeda sehingga tercipta rasa saling menghormati tetapi juga menunjukkan bahwa berbagai kelompok dapat bersatu dalam kegembiraan dan kebersamaan. Inisiatif semacam itu berfungsi sebagai pengingat akan kemanusiaan bersama, memperkuat gagasan bahwa perbedaan tidak menghalangi kolaborasi dan kebersamaan.

Untuk mewujudkan itu, tentunya FKUB akan menghadapi tantangan yang tidak mudah. Lanskap politik Indonesia terkadang memusuhi pluralisme. Politik lokal dan nasional terkadang memperparah sentimen keagamaan, menimbulkan konflik di antara berbagai kelompok. Selain itu, media sosial telah muncul sebagai pedang bermata dua, bertindak sebagai platform untuk mempromosikan dialog dan menyebarkan ujaran kebencian. Dalam menghadapi tantangan tersebut, FKUB harus menerapkan strategi komunikasi yang inovatif untuk menghadapi misinformasi dan mengedepankan narasi yang lebih harmonis.

Di masa depan, peran FKUB akan sangat vital dan krusial. Seiring Indonesia terus bergulat dengan isu-isu identitas kebangsaan, kebebasan beragama, dan kohesi sosial, FKUB harus terus berinovasi dalam strateginya. Kebangkitan komunikasi digital yang berkelanjutan berarti bahwa memperluas jangkauannya melalui media sosial dapat meningkatkan efektivitasnya. Berbagai upaya edukasi bisa dioptimalkan dengan memanfaatkan dan platform digital yang dapat terhubung dengan demografi yang lebih mudah dan intens dalam ruang digital. Dengan memanfaatkan teknologi, FKUB dapat mendorong diskusi yang lebih luas tentang toleransi.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa FKUB memegang peranan penting dalam memajukan kerukunan antar umat beragama di Indonesia. Melalui dialog, pendidikan, dan keterlibatan masyarakat, ini membahas kompleksitas yang melekat dalam masyarakat multikultural. Para pemimpin yang berpengaruh dan strategi inovatif telah mendorong misi FKUB, memungkinkannya untuk terlibat dengan tantangan kontemporer. Namun, organisasi harus terus beradaptasi dengan lanskap interaksi keagamaan yang terus berkembang. Dengan demikian, ini dapat membantu mengamankan masa depan di mana Indonesia tetap menjadi mercusuar keberagaman dan hidup berdampingan secara damai, menginspirasi negara-negara di seluruh dunia untuk sama-sama merangkul pluralitas agama mereka.

ARAH MASA DEPAN SIDRAP: MENUNGGU ATAU MEMBENTUK?

Oleh: Mursalim Nohong
(Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin)

Ditengah gelombang perubahan global yang melanda dunia, seperti perubahan iklim, transformasi digital, krisis energi, dan tekanan sosial ekonomi, muncul satu pertanyaan mendasar.

“Apakah akan menunggu masa depan terjadi ataukah ikut membentuknya?”

Tanya ini makin relevan saat kita bicara tentang daerah-daerah yang punya kekayaan alam dan kultural seperti kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan dan seringkali menjadi sumber keunggulan.

Sidrap tidak hanya dikenal karena sejarah dan keislamannya tetapi juga karena potensinya yang besar dalam sektor pertanian (bahkan menjadi lumbung pangan nasional), energi terbarukan, dan sumber daya manusia yang kuat.

Sidrap bukan hanya sekadar nama administratif. Ia adalah tanah warisan nilai, tanah perjuangan, dan simbol transformasi. Dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional, Sidrap tumbuh dengan identitas agraris yang kuat.

Beberapa dekade terakhir, Sidrap menunjukkan langkah progresif melalui pembangunan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) terbesar di Asia Tenggara. Hal ini menunjukkan bahwa Sidrap tidak hanya menunggu perubahan, tetapi mulai merintis jalan sebagai pelaku dalam transformasi energi nasional.

Pembangunan infrastruktur besar ini belum cukup jika tidak dibarengi dengan pembangunan karakter manusianya. Tapi juga butuh inovasi berbasis kearifan lokal, dan pengelolaan sumber daya secara adil dan lestari.

Namun, ditengah potensi dan keunggulan tersebut, apakah Sidrap akan menjadi penonton dalam kancah perubahan atau mengambil peran dan menjadi aktor utama dalam membentuk masa depannya sendiri yang berkelanjutan?

Menunggu masa depan atau menyusunnya?

Dalam realitas pembangunan daerah, pemerintah dan masyarakat seringkali tampil dengan sikap menunggu. Menunggu instruksi dari pusat, menunggu bantuan dari luar, menunggu investor datang.

Padahal, menunggu tanpa bertindak adalah jalan pelan tapi pasti menuju stagnasi apalagi ditengah issu efisiensi yang seharusnya dijadikan momentum melakukan perubahan.

Dalam konteks ini, Sidrap tidak bisa lagi hanya menunggu. Perubahan iklim sudah merusak siklus pertanian. Anak-anak muda (Gen Z) meninggalkan kampung halaman dan tata nilai yang telah menjadi pondasi peradaban generasi “nene mallomo”.

Ketergantungan pada beras tanpa diversifikasi membuat ekonomi lokal rentan terhadap gejolak harga. Kini saatnya untuk menempatkan Sidrap sebagai subjek perubahan bukan objek pembangunan.

Masa depan bukan sesuatu yang jatuh dari langit ibarat pepatah durian runtuh. Mada depan harus dibangun dengan kesadaran, strategi, dan aksi nyata—mulai dari desa hingga tingkat kabupaten.

Keberlanjutan ditanah kelahiran

Isu keberlanjutan telah berkembang luas sehingga pembicaraan tidak bisa hanya soal lingkungan tetapi lebih luas dari itu. Di Sidrap, keberlanjutan adalah soal:

Pertama, Keberlanjutan lingkungan. Timbul pertanyaan, bagaimana menjaga dan merawat danau Sidenreng dari pencemaran? Bagaimana mencegah banjir akibat alih fungsi lahan? Apakah hutan di wilayah pegunungan tetap lestari, ataukah menjadi korban ekspansi? Masyarakat dan pemerintah secara proporsional mengambil peran bukan menunggu peran.

Kedua , Keberlanjutan sosial. Apakah generasi muda Sidrap masih mewarisi nilai-nilai Nene’ Mallomo yang mengajarkan kejujuran dan tanggung jawab? Apakah budaya lokal masih hidup atau sudah tergeser budaya instan?

Ketiga , Keberlanjutan ekonomi. Bisakah Sidrap bertahan sebagai penghasil pangan ketika sawah mulai tergantikan oleh properti? Bisakah petani mendapatkan nilai tambah dari produksi, bukan hanya sebagai produsen primer?

Riset Yusriah Arief (2022) menemukan bahwa alih fungsi lahan yang terjadi di Sidrap terutama di kecamatan Maritengngae dan Panca Rijang dengan melihat data 2021 terus meningkat disebabkan oleh pertambahan penduduk dan faktor ekonomi yang membuat masyarakat menjual dan mengalihfungsikan lahan yang dimiliki untuk peruntukkan lain.

Keempat, Keberlanjutan energi dan inovasi. Dengan hadirnya PLTB, akankah masyarakat lokal hanya menjadi penonton ataukah juga terlibat sebagai pelaku ekonomi hijau?

Kelima, Keberlanjutan spiritual dan moral. Nilai religius yang tertanam kuat di Sidrap harus menjadi energi moral dalam menghadapi zaman. Tidak cukup hanya membangun fisik, tapi juga membangun jiwa dan akhlak masyarakatnya.

Reorientasi dan reaktualisasi menjadi penting dilakukan sebagai upaya mempertahankan tatanan hidup masyarakat. Keduanya sangat dibutuhkan oleh karena penurunan kualitas moral akibat pengaruh negatif globalisasi, teknologi, dan modernisasi dan masyarakat kehilangan arah dalam menentukan baik-buruk karena adanya relativisme nilai.

Keberhasilan diukur hanya dengan pertimbangan ekonomi padahal dipahami bersama bahwa ekonomi selalu mengalami perubahan seiring dengan perubahan lingkungan.

Agar tidak hanya menunggu, Sidrap perlu strategi transformasi keberlanjutan jangka panjang berbasis empat pilar:
Pilar pertama , pendidikan dan literasi masa depan. Pendidikan di Sidrap harus melampaui kurikulum nasional yang normatif dengan memberikan penguatan pada:Pendidikan lingkungan hidup berbasis lokal (ekosistem danau, pertanian ramah lingkungan), Literasi teknologi untuk generasi muda, Pendidikan karakter berbasis nilai-nilai kearifan lokal seperti pesan-pesan Nene’ Mallomo misalnya dengan memasukkan kedalam bahan ajar di SD hingga SMP.

Pilar kedua , ekonomi hijau dan inovatif. Transformasi ekonomi Sidrap harus menuju:Agroindustri berbasis teknologi yang tidak hanya menjual hasil panen tapi juga produk olahan, Pertanian organik dan sistem tanam ramah iklim, Pengembangan ekowisata dan wisata spiritual di kawasan-kawasan religius yang selama ini belum tergarap maksimal.

Pilar ketiga , Digitalisasi dan kewirausahaan lokal.Generasi muda Sidrap harus digerakkan untuk menjadi:Wirausahawan digital bukan hanya pencari kerja apalagi menggeluti profesi Passobis, Pelopor platform lokal berbasis komunitas untuk memasarkan produk, jasa, dan budaya, Pengembang konten digital yang merepresentasikan Sidrap secara positif ke dunia luar.

Pilar keempat , kepemimpinan transformasional dan partisipatif. Sidrap membutuhkan pemimpin yang:Visioner dan tidak hanya berorientasi pada periode jabatan, Membangun partisipasi masyarakat bukan dominasi elit, Mengedepankan etika publik dan keberanian membuat keputusan strategis meskipun tidak populis seperti tindakan berani kepala daerah terhadap praktik-praktik 4S.

Spirit nene’ Mallomo dan Menyatukan Narasi

Tokoh legendaris Nene’ Mallomo meninggalkan pesan yang sangat dalam “Resopa natemmangingngi namalomo naletei pammase dewata.”

Pesan ini harus dijadikan etos pembangunan keberlanjutan. Artinya, membentuk masa depan bukan hanya tentang teknologi atau infrastruktur. Tumpuannya pada warisan nilai, komitmen, dan integritas. Tinggal bagaimana warisan tersebut dijadikan fondasi untuk membentuk masa depan yang lebih hijau, adil, dan manusiawi.

Membentuk masa depan bukanlah kerja satu orang atau satu lembaga. Ia adalah kerja kolaboratif. Pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, pesantren, tokoh adat, dan masyarakat sipil harus bersatu.

Pembangunan yang hanya berorientasi pada proyek akan cepat lapuk. Tapi pembangunan yang berbasis narasi bersama akan langgeng. Maka perlu disusun “Narasi Besar Sidrap Masa Depan” yang dijadikan acuan lintas sektor yang mengedepankan keadilan generasi, menyatukan tradisi dan inovasi dan menjadikan keberlanjutan sebagai misi utama.

Apa yang terjadi di Sidrap hari ini, adalah cermin dari pilihan kolektif masyarakatnya. Apakah memilih untuk menunggu dan bersikap reaktif, ataukah memilih untuk membentuk dan menjadi pelaku sejarah?

Masa depan tidak datang sebagai hadiah. Ia datang sebagai hasil dari keberanian, kerja keras, dan imajinasi. Sidrap memiliki semua potensi sumber daya alam, modal sosial, nilai religius, dan semangat kearifan lokal.

Tugas bersama adalah memastikan bahwa semuanya diarahkan untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Masa depan Sidrap bukan untuk ditunggu, tapi untuk dibentuk.

Ketika Sidrap memilih membentuk masa depannya sendiri, ia tidak hanya menyelamatkan tanahnya tetapi ikut menyumbangkan bab penting dalam pembangunan Indonesia yang berkelanjutan sekiranya 2045 memang ada. (fj)

Pamit dari Grup WA dan manifestasi Hijrah di Era Digital


Oleh : Ainur Rofiq

Berdampak.net – Dalam suatu notifikasi WhatsApp pagi itu terdengar biasa saja. Tapi ketika dibuka, ada yang berbeda. Seorang rekan kerja menulis: “Mohon izin pamit dari grup ini. Terima kasih atas kebersamaan dan segala dukungannya selama ini. Mohon maaf bila ada salah kata atau perbuatan. Semoga senantiasa dalam rahmat-Nya.”

Tak lama kemudian, balasan demi balasan mengalir. Ucapan terima kasih. Doa-doa terpanjatkan mengiringi waktu yang kian berlalu. Emotikon tangan berdoa dan bunga. Lalu, diam. Beberapa saat kemudian, ikon notifikasi berubah: Anda bukan lagi bagian dari grup ini.

Fenomena ini makin sering terjadi. Di grup kantor, grup alumni, hingga komunitas kerja lintas instansi. Ucapan pamit yang disampaikan dengan hati-hati dan penuh tata krama digital kini menjadi bagian dari dinamika percakapan modern. Meski hanya dalam ruang maya, kehadiran dan kepergian seseorang tetap menyisakan kesan yang tak sedikit.

Lebih dari sekadar sopan santun dalam dunia digital, proses pamit itu merepresentasikan suatu momen penting dalam kehidupan profesional dan personal yaitu: transisi, perpindahan, atau dalam istilah yang lebih bermakna secara spiritual “hijrah”.

Dalam Islam, hijrah bukan hanya berpindah tempat. Ia adalah proses meninggalkan sesuatu untuk menuju sesuatu yang lebih baik. Ia adalah perjalanan niat, langkah perubahan, dan upaya menggapai kehidupan yang lebih bermakna. Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah bukanlah sekadar pelarian dari tekanan, tetapi bagian dari strategi dakwah yang lebih terarah dan kontekstual. Di kota itu, kaum Anshar menyambut kaum Muhajirin dengan kehangatan dan keikhlasan, menciptakan komunitas baru yang berdiri di atas fondasi ukhuwah dan visi peradaban.

Kini, dalam era kerja modern yang serba cepat, bentuk hijrah bisa bermetamorfosis. Tidak selalu harus melibatkan jarak geografis. Ia bisa sesederhana berpindah unit kerja, mutasi jabatan, atau mengakhiri peran dalam satu kelompok lalu memulai peran baru di tempat lain. Bahkan, keluar dari grup WA kantor pun bisa menjadi bagian dari proses itu bila disertai niat untuk menata ulang hidup dengan lebih baik.

Ada seorang pejabat menengah di instansi pemerintah yang merasakan pergolakan batin saat harus menyusun kalimat pamit dari grup WA divisinya setelah dipindah tugaskan ke daerah. Disangka mudah, ternyata sulit. Di grup itu bukan hanya terdapat informasi kerja. Ada kisah kerja keras, canda, konflik, bahkan perjuangan bersama di tengah situasi sulit.

Menulis kalimat pamit bukan hanya soal basa-basi. Itu semacam penutup babak. Sebagaimana tiap babak, ia harus ditutup dengan baik agar bab berikutnya bisa dimulai tanpa beban. Tak heran bila butuh waktu berhari-hari untuk menyusun pesan yang pas penuh hormat, tidak berlebihan, namun cukup menyentuh.

Pamit semacam itu seringkali menjadi momen kontemplatif. Hal ini mengingatkan bahwa dalam kehidupan profesional, perpindahan adalah sesuatu yang pasti. Tidak ada yang menetap selamanya dalam satu posisi, satu ruang, satu lingkaran. Ada masa datang, ada masa pergi dan dalam Islam, waktu adalah sesuatu yang tidak boleh disia-siakan.

Surat Al-‘Asyr mengajarkan: “Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.” Ayat ini menekankan pentingnya waktu sebagai medan ujian. Ia adalah sumber daya yang tak bisa diulang. Maka siapa pun yang bergerak tanpa tujuan, atau melewatkan waktunya tanpa makna, akan merugi karena telah berada dalam keadaan kesiaan.
Perpindahan, dalam bentuk apa pun, seharusnya menjadi upaya untuk memperbaiki diri. Meninggalkan sesuatu yang kurang baik, lalu berjalan menuju yang lebih baik. Sehingga makna hijrah bukan semata meninggalkan, tapi juga mengisi ruang baru dengan niat baru bukan juga pelarian, tapi pencarian.

Namun dalam konteks birokrasi atau kehidupan kantor, tidak semua perpindahan terjadi karena pilihan pribadi. Banyak yang berpindah karena rotasi jabatan, penugasan, bahkan restrukturisasi. Dalam hal ini, bisa muncul perasaan seperti “dipindahkan”, bukan “memilih pindah”. Di sinilah pentingnya memaknai hijrah sebagai bagian dari takdir yang tidak selalu bisa dikendalikan, namun tetap bisa dimaknai dan diikhtiarkan.

Islam mengajarkan dua konsep penting: qodlo dan qodar. Bahwa segala yang terjadi di dunia adalah hasil dari kehendak dan ketetapan Allah SWT. Namun, manusia tetap diberi ruang untuk berniat dan berusaha. Maka, meski tidak semua perpindahan bisa direncanakan, manusia dituntut untuk tetap berikhtiar menjadikan setiap perpindahan sebagai jembatan yang bernilai kebaikan.

Pamit dari grup WA yang barangkali tampak remeh menjadi simbol kecil dari pergerakan hidup yang lebih luas. Ia adalah ruang untuk berpamitan secara baik, meninggalkan jejak kebaikan, dan membawa semangat baru ke tempat yang baru pula. Bahkan, dalam Islam, menjaga adab dalam berpindah tempat adalah bagian dari akhlak. Rasulullah SAW pun memuliakan orang yang berhijrah dengan ikhlas dan istiqamah.

Namun di balik semua itu, ada satu hal yang paling hakiki: perubahan adalah keniscayaan. Karena setiap manusia akan melewatinya dengan caranya masing-masing. Ada yang memilih menuliskannya panjang-panjang. Ada pula yang cukup dengan satu kalimat sederhana: “Terima kasih. Mohon pamit.”

Tapi satu hal yang sama, semuanya sedang bergerak. Meninggalkan satu titik untuk menuju titik lain. Meninggalkan satu ruang digital untuk memasuki ruang kerja baru, ruang sosial baru, bahkan mungkin ruang spiritual yang lebih jernih. Di tengah derasnya arus komunikasi, mungkin inilah bentuk hijrah paling senyap tetapi juga paling bermakna.
Dan siapa tahu, dalam tiap pesan pamit yang muncul di layar ponsel itu, tersembunyi tekad besar seorang manusia untuk menjalani waktu dengan lebih baik, lebih lapang, dan lebih dekat pada makna hidup yang sejati.
Wallahu A’lam Bishowab