Mas Fajar Dorong Pajak Hijau untuk Pantai Bentar: Gagasan Solutif Mahasiswa S2 UB

Probolinggo, Berdampak.net – Fajar Bangun Satrio Wibowo, mahasiswa Program Magister Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan dan Pembangunan (PLSP) Universitas Brawijaya, tengah mencuri perhatian lewat gagasan inovatifnya soal pajak pariwisata berbasis lingkungan di kawasan Pantai Bentar, Probolinggo. Pria yang akrab disapa Mas Fajar ini menilai bahwa potensi ekonomi dari wisata alam belum diimbangi dengan pengelolaan fiskal yang memadai dan berkelanjutan. Dalam gagasanya, ia mengusulkan penerapan skema pajak hijau (green tax) sebagai solusi untuk menjaga ekosistem sekaligus meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).

Melalui pendekatan akademis yang tajam dan berbasis data lapangan, Ia menjelaskan bahwa Pantai Bentar memiliki daya dukung lingkungan yang terbatas. Namun, pada musim libur atau momen kunjungan puncak, kawasan ini sering mengalami kelebihan kapasitas ekologis yang berisiko merusak habitat mangrove dan pesisir. Oleh karena itu, pajak pariwisata berbasis dampak lingkungan dinilainya perlu diterapkan sebagai alat kontrol sekaligus pendanaan konservasi. “Wisata yang membawa kerusakan, harus menyisihkan kontribusi untuk pemulihan,” tulisnya dalam dokumen kebijakan tersebut.

Mas Fajar menyoroti bahwa masih minimnya kerangka hukum lokal menjadi hambatan utama dalam penerapan kebijakan fiskal hijau. Dalam studinya, ia merekomendasikan Pemerintah Kabupaten Probolinggo menyusun Peraturan Daerah (Perda) tentang Pajak Pariwisata Berbasis Lingkungan yang secara tegas mengatur tarif, insentif bagi usaha ramah lingkungan, serta mekanisme earmarking dana untuk konservasi. Pendekatan ini, menurutnya, akan menjadikan pajak bukan hanya sebagai alat pungutan, tetapi juga sebagai instrumen keberlanjutan.

Dalam paparannya, Mas Fajar juga mendorong pentingnya integrasi komponen ekologis dalam sistem penganggaran daerah. Menurutnya, pengeluaran pemerintah di sektor pariwisata seharusnya tidak hanya fokus pada promosi atau pembangunan fisik, tetapi juga pada pelestarian lingkungan seperti rehabilitasi mangrove dan edukasi konservasi. “Penganggaran hijau adalah bentuk tanggung jawab antargenerasi,” tegasnya dalam presentasi kepada dosen dan stakeholder lokal yang hadir dalam forum diskusi kampus.

Gagasan yang diajukan ini tidak hanya bersifat konseptual. Ia memadukan analisis akademis dengan solusi aplikatif berbasis realitas lokal, seperti potensi willingness to pay (WTP) wisatawan, serta kajian data kunjungan harian yang menunjukkan kebutuhan regulasi jumlah pengunjung. Ia juga mengusulkan pemanfaatan teknologi digital seperti tiket elektronik dengan komponen pajak lingkungan yang transparan dan mudah dilacak. Dengan model seperti ini, Mas Fajar ingin menunjukkan bahwa fiskal hijau bisa praktis sekaligus berdampak luas.

Melalui gagasan visionernya ini, Mas Fajar membuktikan bahwa mahasiswa pascasarjana UB pun bisa berkontribusi langsung dalam kebijakan pembangunan daerah. Dengan menjadikan Pantai Bentar sebagai studi kasus, ia berharap kawasan ini bisa menjadi percontohan nasional untuk penerapan pajak wisata berbasis ekologi. “Ini bukan hanya tentang ekonomi, tapi tentang masa depan lingkungan dan keadilan generasi,” ujar Mas Fajar. Pemerintah daerah, akademisi, dan komunitas kini menaruh perhatian besar pada gagasan yang lahir dari semangat muda yang berpihak pada keberlanjutan.

Festival Gir Sereng Meriahkan Pantai Permata Pilang: Sajikan Kuliner Lawas dan Nuansa Tempo Dulu

Probolinggo, Berdampak.net – Seribu Event Wali Kota Probolinggo Pantai Permata Pilang kembali menjadi sorotan publik berkat gelaran Festival Gir Sereng, sebuah acara budaya dan kuliner yang membangkitkan nostalgia tempo doeloe. Acara ini menghadirkan lebih dari 20 stan kuliner lawas seperti klepon, lupis, latuk, ongol-ongol, nasi bu’uk, nasi karak, hingga rujak cingur.

Keunikan Festival Gir Sereng tidak hanya terletak pada kelezatan jajanan tradisional, tetapi juga tampilan para penjaja yang mengenakan busana khas masa lalu seperti kerudung klasik, baju lurik, hingga kebaya encim, menciptakan nuansa etnik yang kental.

Dalam semangat “Seribu Event Wali Kota Probolinggo”, festival ini tidak hanya menjadi ruang promosi kuliner lokal, namun juga pelestarian budaya warisan leluhur. Nuansa autentik semakin terasa dengan hadirnya sepeda kumbang, oncŏr sebagai alat penerangan, kendi tanah liat, tumang, hingga burung perkutut dalam sangkar bambu, seolah membawa pengunjung kembali ke masa lampau.

Festival ini menjadi bukti nyata bahwa Probolinggo mampu memadukan wisata, budaya, dan kuliner lokal dalam satu sajian yang menarik, sekaligus menjadi magnet pariwisata baru di wilayah pesisir. (fj)

Ning Dini Dorong CSR Siap Siaga Bencana dari Pelaku Usaha Pariwisata Bromo Tengger

Probolinggo, Berdampak.net– Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Hj. Dini Rahmania, menyoroti pentingnya peran bersama dalam penanggulangan bencana di kawasan Bromo Tengger yang dikenal sebagai wilayah dengan risiko bencana tinggi.

Dalam kunjungannya pada Kamis, 10 April 2024, di Pendopo Agung Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Ning Dini menyapa langsung Tim Siaga Bencana, Kampung Siaga Bencana (KSB), dan Satgas Jaga Baya Tengger. Ia menyerap aspirasi serta memberikan dukungan terhadap kesiapsiagaan bencana di wilayah tersebut.

Sebagai bentuk komitmennya, Ning Dini mengajak seluruh stakeholder, khususnya pelaku usaha di sektor pariwisata seperti hotel dan restoran besar, untuk turut berkontribusi melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) bertema “Siap Siaga Kebencanaan”.

“Kami berharap para pelaku usaha bidang pariwisata seperti hotel dan resto besar agar memberikan CSR Siap Siaga Kebencanaan,” ujarnya kepada media, Senin (14/4/2025).

Politisi yang dikenal dekat dengan masyarakat ini menegaskan bahwa penanggulangan bencana bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menjadi kewajiban bersama, termasuk pihak swasta.

“Jadi ini tanggung jawab bersama,” tegas Ning Dini. (fjr)

Sumber Air Belerang Misgilomi Desa Kaduara Timur Sumenep, Baik Untuk dibuat Mandi

Sumenep, Berdampak.net – Sumber Air Belerang Misgilomi, Desa Kaduara Timur, Pragaan, Kabupaten Sumenep, mengandung belerang dengan kadar 30,43 mg/liter, hal itu ditunjukkan dengan dilakukannya uji sampel yang dilakukan oleh tim Pengabdian Kepada Masyarakat, dengan skema Program Pengembanangan Desa Binaan (PKM skema PPDB) dari Sekolah Pascasarjana Univeristas Airlangga, Tim terdiri dari Ni Made Sukartini (Ketua, Sekolah Pascasarjana dan FEB UNAIR), Jani Purnawanti (Fakultas Hukum UNAIR), Achmad Solihin dan Akhmad Jayadi (FEB UNAIR). Pada Bulan Desember 2024 kemarin.

Dengan demikian, sumber air Belerang Misgilomi aman dan baik untuk dibuat mandi oleh pengunjung, dan semakin memantapkan keyakinan banyak warga sekitar bahwa sumber belerang tersebut dapat menyembuhkan beberapa penyakit kulit.

Mendapati hasil uji sampel tersebut, Direktur Bumdesa Gema Bangsa, Usman Efendi mengatakan, kedepan pihaknya akan menciptakan produk air bersih yang bersumber dari Sumber Air Belerang Misgilomi untuk dibuat mandi oleh masyarakat, yang bernilai ekonomis.

“Nanti InsyaAllah akan diciptakan produk yang bisa dijual pada masyarakat. Misal air galon untuk dibawa pulang untuk mandi di rumah,” ujarnya.

Disamping itu, Kepala Desa Kaduara Timur, Prayitno berharap dengan hasil uji laboratorium ini, wisata Sumber Air Belerangan Misgilomi bisa semakin ramai pengunjung, sehingga bisa berdampak kepada kemajuan masyarakat dan desa.

“Semoga dengan hasil lab ini, orang semakin ramai ke Misgilomi untuk mandi sekaligus penyembuhan berbagai penyakit,” harapnya.

Ni Made Sukartini, tim PKM skema PPDB mengatakan, ini merupakan bentuk kontribusi nyata Universitas Airlangga terhadap masyarakat.

“Ini adalah bentuk kontribusi nyata UNAIR terhadap desa Kaduara Timur sebagai mitra dalam kegiatan Pengmas PPDB. Semoga ke depan UNAIR semakin kontributif pada masyarakat, sesuai dengan selogan UNAIR, excellence with morality,” jelasnya. (fiq)

Potensi Sumber Air Belerang Misgilomi, Desa Kaduara Timur, Pragaan, Sumenep sebagai Wahana Wellness Tourism

Sumenep, Berdampak.net – Tim Pengabdian kepada Masyarakat dengan skema Program Pengembanangan Desa Binaan (PkM skema PPDB) dari Sekolah Pascasarjana Univeristas Airlangga melaksanakan kegiatan pengabdian dengan fokus pengembangan wahana Misgilomi. Tim terdiri dari Ni Made Sukartini (Ketua, Sekolah Pascasarjana dan FEB UNAIR), Jani Purnawanti (Fakultas Hukum UNAIR), Achmad Solihin dan Akhmad Jayadi (FEB UNAIR).

Nama Sumber Air Belerang Misgilomi diambil dari Hari Kamis Legi, Lima Mei. Sumber Air Belerang ini terletak di Desa Kaduara Timur, Pragaan, sekitar 10 meter dari pintu gerbang Kabupaten Sumenep. Wahana Sumber Air Belerang Misgilomi ini terletak sekitar 2 km ke arah Timur dari Pantai Talang Siring, Desa Montok, Kabupaten Pamekasan. Pantai Talang Siring lebih awal dikembangkan dibanding wahana Misgilomi. Wahana ini dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kaduara Timur di bawah pengawasan Pemerintah Desa Kaduara Timur.

Aktivitas dan kunjungan wisata di Pulau Madura meningkat dalam 3 tahun terakhir seiring dengan kondisi perekonomian yang semakin pulih pasca pandemi Covid-19. Wahana Misgilomi mulai ditata sejak tahun 2000an, dan seiring dengan hal ini jumlah pengunjung ke wahana Misgilomi semakin banyak. Potensi wahana Misgilomi sangat besar mengingat hal-hal berikut. Pertama, lokasi wahana yang sangat strategis, terletak di pinggir jalan provinsi.

Kedua, banyak obyek wisata yang sudah terkenal berdekatan dengan wahana Misgilomi. Ini berarti pengunjung potensial dapat memanfaatkan waktu seefisien mungkin menikmati beberapa wahana dalam waktu kunjungan.  Ketiga, peningkatan jumlah pengunjung membawa konsekuensi berikut. Wahana perlu ditata agar mampu menampung jumlah pengunjung yang semakin banyak dan tetap merasakan kenyamanan. Ruang tunggu dalam tatanan gazebo sudah dibangun di sekeliling kolam air belerang. Tanaman kayu peneduh ruang gazebo secara rutin dirapikan.

Tiga ruang toilet dan kamar mandi sudah dibangun untuk pengunjung berbilas setelah berendam di kolam air belerang.  Kondisi Sumber Air Belerang Misgilomi saat ini nampak seperti Gambar di bawah.

Tim PkM skema PPDB UNAIR saat melakukan sesi foto bersama

Air belerang diyakini mempunyai manfaat untuk hal-hal berikut: mengurangi pegal-pegal, menghilangkan gatal-gatal di kulit terkait eksim atau penyakit kulit lainnya. Aktivitas wisata adalah kegiatan konsumsi menikmati waktu luang. Dalam teori ekonomi disebutkan menikmati waktu luang adalah konsumsi barang luxurious. Jika menikmati waktu luang ini juga bermanfaat mengurangi rasa capek dan pegal-pegal di badan, maka berwisata di wahana Misgilomi akan memberikan rasa bahagia sekaligus menbantu menjaga kebugaran badan. Oleh karena itu menikmati wahana wisata di Misgilomi dapat disebut menikmati wahana wellness tourism.

Terdapat banyak wahana wisata di Madura, yang mana kebanyakan berupa wisata religi, wisata budaya (batik dan jamu), serta wisata Pantai. Rata-rata wahana yang sudah dikenal menetapkan tarif masuk antara Rp5.000-Rp10.000. Wahana wisata Misgilomi sampai tim melakukan kunjungan pertama tanggal 07 Juli 2024, belum menetapkan besaran tarif masuk atau karcis. Pengunjung hanya dipungut biaya parkir. Tarif parkir tidak bersifat formal, kurang lebih untuk motor sebesar Rp3.000 dan mobil Rp5.000. Berapapaun jumlah penumpang mobil dan sepeda motor, pengelola hanya memungut tarif parkir.

Kegiatan PkM PPDB Universitas Airlangga Tahun 2024 ini berfokus untuk membantu agar wahana wisata Sumber Air Belerang Misgilomi ditata untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung. Agar kegiatan wisata di wahana Misgilomi berkesinambungan, proses penataan dan maintenance kondisi wahana harus terus dilakukan. Tim PkM berfokus pada upaya promosi wahana wisata dan merencanakan penataan lebih lanjut terkait legalitas pemungutan tarif layanan di wahana Misgilomi. Fokus dari kegiatan PkM pada tahun pertama (2024) adalah pemetaan masalah dan penentuan prioritas pengembangan wisata, melalui upaya promosi dan pemilihan posisi wahana Misgilomi. Tim berupaya mendata wahana lain yang berpotensi menjadi komplemen dan substitusi (pesaing) bagi wahana Misgilomi. Untuk wahana yang menjadi komplemen, upaya promosi hendaknya dioptimalkan, sementara bagi yang berpotensi pesaing, peningkatan daya saing Misgilomi. Rencana kegiatan tahun kedua adalah mendampingi pemerintah desa, pokdarwis, dan management BUMDes untuk menetapkan legalitas pemungutan tarif jasa wisata Misgilomi. (fiq)

Kenaikan Harga Tiket Wisata Ancam Sektor Pariwisata, Trafik Pengunjung Merosot

Malang, berdampak.net – Kenaikan harga tiket masuk ke berbagai destinasi wisata, termasuk taman nasional dan taman hutan raya, menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku industri pariwisata. Kebijakan ini, yang diterapkan mulai dari tingkat kabupaten hingga provinsi, berdampak langsung pada berkurangnya jumlah pengunjung dan melemahkan roda ekonomi lokal.

Sejumlah pengusaha wisata mulai merasakan penurunan drastis dalam jumlah wisatawan. Homestay, restoran, jasa transportasi, hingga pedagang kecil di kawasan wisata mengeluhkan sepinya pelanggan sejak tarif baru diberlakukan. Kondisi ini memperburuk situasi mereka yang baru saja bangkit dari keterpurukan akibat pandemi.

“Sejak harga tiket naik, pengunjung jadi lebih sedikit. Kami yang menggantungkan hidup dari wisata jadi ikut terdampak,” ujar salah satu pemilik usaha penginapan di kawasan wisata pegunungan.

Tak hanya itu, ketidakpastian dalam regulasi juga memperburuk situasi. Kenaikan harga tiket sering kali diumumkan mendadak tanpa ada koordinasi dengan para pelaku usaha maupun sosialisasi kepada masyarakat. Akibatnya, wisatawan merasa terbebani dan memilih untuk mencari alternatif destinasi yang lebih terjangkau.

Dampak ini terasa di berbagai sektor. Pedagang kecil di sekitar kawasan wisata mengeluhkan penurunan pendapatan hingga lebih dari 40%. Penyedia jasa transportasi lokal pun kehilangan banyak pelanggan akibat minimnya jumlah wisatawan yang datang.

Para pelaku usaha berharap ada evaluasi dari pemerintah terkait kebijakan ini. “Kalau tiket mahal, wisatawan pasti mikir dua kali. Kami berharap ada solusi yang tidak memberatkan semua pihak,” ujar seorang pedagang oleh-oleh di lokasi wisata.

Kenaikan harga tiket seharusnya diimbangi dengan peningkatan kualitas layanan dan fasilitas, sehingga wisatawan tetap merasa mendapatkan nilai sepadan. Tanpa langkah cepat dan bijak, kondisi ini dikhawatirkan akan semakin menekan sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah. (fjr)