MUI Kabupaten Probolinggo Bersiap Gelar Musda IV

Probolinggo, Berdampak.net – MUI Kabupaten Probolinggo bakal menggelar Musyawarah Daerah (Musda) IV di penghujung tahun 2025. Musda digelar seiring bakal berakhirnya kepengurusan MUI Kabupaten Probolinggo periode 2020-2025.

Dewan Pimpinan MUI Kabupaten Probolinggo telah membentuk kepanitiaan, dengan ustaz Thohirin sebagai ketua panitia. Surat Keputusan (SK) kepanitian diteken oleh Ketua Umum KH Munir Kholili dan Sekretaris Umum, H. Taufik. SK dengan nomor 35/MUI/K-PROB/XI/2025 tersebut disahkan pada 3 November 2025.

Berdasarkan hasil musyawarah dengan MUI Jawa Timur, Musda IV akan diselenggarakan pada Sabtu, 6 Desember 2025. Momentum lima tahunan ini bakal dihelat di auditorium Madakaripura Kantor Bupati Probolinggo, Kota Kraksaan, Kabupaten Probolinggo.

Saat Musda, nantinya akan dihadiri pengurus MUI Kabupaten Probolinggo, MUI tingkat kecamatan dan delegasi dari MUI Jawa Timur.

Kehadiran pengurus MUI dari tiga tingkatan tersebut memiliki peran penting dalam pelaksanaan Musda. Misalnya, pengurus periode 2020-2025 akan membacakan laporan kegiatan selama lima tahun, dan akan dibacakan oleh Sekretaris Umum H. Taufik.

Begitu pula dengan kehadiran MUI kecamatan sebagai peserta Musda. Mereka jadi poin penting karena memiliki hak suara dalam pemilihan.

Nah, kehadiran perwakilan MUI Jawa Timur tentu memiliki peran vital. MUI Jawa Timur akan menjadi penanggungjawab saat pembentukan tim formatur pemilihan ketua umum periode berikutnya.

Jadi, kehadiran pengurus MUI di tiga tingkatan tersebut sangat dibutuhkan demi lancarnya Musda IV MUI Kabupaten Probolinggo.

Di sisi lain. Musda juga akan dihadiri oleh jajaran Forkopimda dan instansi terkait. Utamanya, instansi yang selama lima tahun terakhir menjadi mitra suksesnya program kegiatan pengurus periode 2020-2025. Seperti, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Probolinggo, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Probolinggo, Universitas Islam Zainul Hasan (Unzah) Kraksaan, MAN 2 Probolinggo serta OPD di lingkungan Pemkab Probolinggo di antaranya Dinas Pertanian.

Hasil Musda IV diharapkan akan melahirkan kepengurusan yang mampu membawa MUI Kabupaten Probolinggo sebagai mitra pemerintah dan pelayan umat di Kabupaten Probolinggo. Hal itu sesuai dengan tema Musda IV, yakni “Meneguhkan Peran Ulama untuk Mewujudkan Probolinggo Sejahtera, Amanah, Religius, Eksis Berdaya Saing”. (don)

Mahasiswa Linguistik UPN Veteran Jatim Teliti Fonologi Jawa di Keraton Yogyakarta

Yogyakarta, Berdampak.net — Sebanyak 55 mahasiswa Program Studi Linguistik Indonesia UPN “Veteran” Jawa Timur Angkatan 2025 melakukan studi lapangan fonologi di Keraton Yogyakarta. Kegiatan dipandu tiga dosen pendamping, yaitu Dr. Endang Sholihatin, S.Pd., M.Pd., Hanum Lintang Siwi Suwignyo, S.Pd., M.A., dan Ambaristi Hersita Milanguni, S.Pd., M.A. (29/11/2025).

Keraton Yogyakarta dipilih sebagai lokasi penelitian karena menjadi ruang hidup ragam tutur Jawa, tingkat bahasa, dan pola intonasi yang terus berkembang. Mahasiswa mengumpulkan data melalui observasi percakapan, sapaan, serta tuturan yang muncul dalam interaksi masyarakat di lingkungan keraton.

Selama kegiatan, mahasiswa mencatat situasi tutur, merekam data dengan izin pihak keraton, serta melakukan transkripsi fonetik. Analisis dilakukan untuk mengidentifikasi fonem, alofon, variasi dialektal, dan fenomena koartikulasi. Temuan awal kemudian dibahas dalam sesi mini clinic bersama dosen pendamping.

Koordinator Program Studi Linguistik Indonesia, Dr. Endang Sholihatin, menyampaikan bahwa studi lapangan tersebut menjadi sarana mahasiswa menerapkan teori fonologi pada data autentik sekaligus melatih ketelitian observasi, kemampuan analisis, dan komunikasi lapangan.

Kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai kerja bunyi bahasa dalam konteks sosial dan budaya, sekaligus menjadi bagian dari penguatan pembelajaran berbasis pengalaman di Program Studi Linguistik Indonesia UPN “Veteran” Jawa Timur. (pm)

Nurul Jadid Gelar Seminar Internasional Rumuskan Nilai Islam Universal untuk Pesantren Inklusif

Probolinggo, Berdampak.net — Pondok Pesantren Nurul Jadid melalui Biro Pendidikan menggelar Seminar Internasional bertema “Universal Islamic Values for a Peaceful and Inclusive Pesantren toward Global Civilization” di Aula I pesantren. Kegiatan ini menghadirkan tokoh nasional dan akademisi internasional untuk merumuskan nilai-nilai Islam universal sebagai respons terhadap meningkatnya kasus perundungan di lembaga pendidikan. Senin (01/12/2025).

Kepala Biro Kepesantrenan, Kiai Ahmad Madarik, dalam sambutannya menyampaikan bahwa maraknya perundungan di sekolah dan pesantren menjadi tantangan serius bagi dunia pendidikan. Ia menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah dan pengelola pendidikan untuk menciptakan lingkungan pesantren yang aman.

“Dunia pendidikan sedang menghadapi peristiwa yang kurang mengenakkan. Kita sering mendengar laporan bullying, entah di sekolah, di pesantren, bahkan kepada pengajar,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa Pesantren Nurul Jadid telah merumuskan aturan anti-perundungan, meski masih ditemukan kasus akibat minimnya pengetahuan dan kesadaran santri.

Dari akademisi internasional, Rowan Gould, Co-Founder dan Co-Director Mosaic Connections Australia, menyoroti relevansi nilai ukhuwah dalam menghadapi tantangan global di era digital. Ia menilai kolaborasi melalui program Australia–Indonesia Muslim Exchange Program (AIMEP) turut memperkuat dialog antarbangsa.

Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur, Ahmad Sruji Bahtiar, menegaskan pentingnya posisi pesantren dalam sejarah bangsa. Ia menilai kontribusi pesantren saat ini belum didukung struktur birokrasi memadai, sehingga perlu dibentuk Direktorat Jenderal Pesantren yang memahami kultur pesantren secara utuh.

Bahtiar juga menyoroti meningkatnya laporan perundungan dan menekankan perlunya pendekatan sistematis berbasis kesadaran individu, SOP, pengawasan, serta pendidikan karakter. “Bahkan mikro-ekspresi kita saja bisa dimaknai kekerasan. Karena itu konstruksi besar untuk meniadakan kekerasan di pesantren sangat diperlukan,” ujarnya.

Seminar internasional ini menjadi ruang dialog global sekaligus momentum memperkuat komitmen pesantren sebagai lembaga pendidikan yang aman, inklusif, dan berkontribusi pada peradaban dunia yang damai. (pm)

Penandatanganan Perjanjian Pinjam Pakai dan Serah Terima Barang Milik Daerah untuk Penguatan Kelembagaan FKUB Kota Probolinggo

Probolinggo, Berdampak.net – Pemerintah Kota Probolinggo melalui Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) secara resmi melaksanakan Penandatanganan Perjanjian Pinjam Pakai Barang Milik Daerah sekaligus Berita Acara Serah Terima Barang Milik Daerah kepada Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Probolinggo, Senin (1/12/2025).

Kegiatan ini berlangsung di Kantor Kesra Kota Probolinggo dan menjadi bagian penting dari upaya penguatan kelembagaan FKUB dalam menjalankan tugas menjaga harmoni dan kerukunan umat beragama di daerah.

Acara dihadiri oleh Kabag Kesra Andri Purwanto dan jajaran pengurus FKUB Kota Probolinggo, yakni Ketua FKUB Dr. Ahmad Hudri, ST., MAP, Sekretaris Achmad Philip, S.Pd., M.Pd., M.Si, serta Bendahara Drs. Agus Maryono. Turut hadir pula perwakilan Pemerintah Kota Probolinggo dari Bagian Kesra yang menjadi fasilitator pelaksanaan penandatanganan dokumen resmi tersebut.

Dalam kesempatan ini, Pemerintah Kota Probolinggo menyerahkan pemanfaatan gedung kantor kepada FKUB untuk dipergunakan sebagai pusat kegiatan operasional. Sarana tersebut diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pelaksanaan program-program FKUB yang berorientasi pada penguatan moderasi beragama, pelayanan publik, serta revitalisasi peran FKUB sebagai rumah bersama bagi seluruh umat beragama.

Gedung yang dipinjamkan akan difungsikan sebagai:

  1. Rumah Pintar Moderasi Beragama, pusat literasi dan edukasi moderasi bagi masyarakat;
  2. Ruang administrasi, tempat pengelolaan tata kelola kelembagaan;
  3. Ruang rapat, sebagai lokasi konsolidasi program dan dialog antaragama;
  4. Ruang layanan masyarakat, dalam rangka fasilitasi isu-isu kerukunan;
  5. Perpustakaan Kerukunan, yang memuat referensi pendidikan toleransi, studi agama, dan perdamaian.

Ketua FKUB Kota Probolinggo, Dr. Ahmad Hudri, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Probolinggo atas dukungan fasilitas ini.

“Sarana ini merupakan wujud nyata komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat peran FKUB sebagai mitra strategis dalam menjaga kerukunan dan membangun masyarakat yang damai dan inklusif. Dengan fasilitas yang memadai, kami semakin siap melaksanakan program-program yang berorientasi pada pelayanan, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat lintas agama,” ujarnya.

Melalui penandatanganan perjanjian pinjam pakai dan serah terima ini, diharapkan sinergi antara Pemerintah Kota Probolinggo dan FKUB semakin kuat dalam mendorong terciptanya kehidupan sosial yang harmonis, toleran, dan kondusif di tengah pluralitas masyarakat Kota Probolinggo. (fiq)

Dr Siti Romlah, Peran Rumah Inovasi Guru sebagai Ruang Kolaboratif dalam Membentuk Kembali Pengajaran sebagai Profesi Kolaboratif

Probolinggo, Berdampak.net – Dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Probolinggo menyampaikan bagaimana Peran Rumah Inovasi Guru sebagai Ruang Kolaboratif dalam Membentuk Kembali Pengajaran sebagai Profesi Kolaboratif. Pemikirian di dorong karena pentingnya metode pembelajaran yang inovatif dan kolaboratif di abad ke-21. Menurut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Probolinggo ini dalam praktiknya, banyak guru masih mengajar secara individual, yang menghambat potensi inovasi dan peningkatan mutu pendidikan. Oleh karena itu, Pemerintah Kota Probolinggo bersama Disdikbud mendirikan Rumah Inovasi Guru sebagai wadah untuk menampung dan mengembangkan inovasi guru.

Rumah Inovasi Guru bertujuan untuk menciptakan lingkungan kolaboratif di mana guru saling berbagi ide, praktik baik, dan berusaha bersama untuk memajukan mutu pendidikan. Dalam makalahnya, Siti Romlah menggarisbawahi empat fokus utama: fungsi dan peran Rumah Inovasi Guru, dukungannya terhadap profesi pengajaran kolaboratif, bentuk-bentuk kolaborasi yang difasilitasi, serta tantangan dan solusi yang diperlukan untuk mengoptimalkannya.
Peran Rumah Inovasi Guru ini diantaranya :

  1. Wadah Berbagi dan Mendokumentasikan Inovasi: Rumah Inovasi Guru menjadi tempat bagi guru untuk menyimpan dan memamerkan metodologi serta strategi belajar inovatif, dengan lebih dari 2.000 karya inovasi ditampilkan.
  2. Fasilitator Kolaborasi: Rumah Inovasi memfasilitasi pertemuan antar guru dari berbagai sekolah, yang memungkinkan kolaborasi lintas disiplin dan pengembangan praktik terbaik.
  3. Mendorong Profesionalisme dan Pembelajaran Mendalam: Salah satu tujuan utama adalah mengedepankan inovasi dalam pembelajaran melalui pendekatan masyarakat belajar yang mendalam dan bermakna.
  4. Mendukung Pendidikan Inklusif: Pendirian Unit Layanan Disabilitas (ULD) menunjukkan komitmen untuk menyediakan pendidikan yang responsif terhadap keragaman kebutuhan siswa.
    Namun Dr Siti Romlah juga menyadari bahwa ada beberapa tantangan yang dihadapi Rumah Inovasi Guru, seperti memastikan kontinuitas pemanfaatan inovasi, komitmen dan partisipasi guru, serta dukungan kebijakan yang memadai. Dalam rekomendasi, disarankan untuk menjadwalkan pertemuan reguler, memberikan insentif bagi kontribusi aktif guru, dan menjalin kemitraan dengan perguruan tinggi serta komunitas untuk memperkaya inovasi.

Siti Romlah menekankan bahwa Rumah Inovasi Guru merupakan inisiatif strategis yang mampu menggeser budaya pengajaran dari individualistik ke kolaboratif dan inklusif. “Melalui kolaborasi, guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pengembang dan pembelajar sepanjang hayat,” ujarnya. Ia juga berharap dapat memperkuat komitmen para pendidik dalam mengadopsi praktik kolaboratif, demi menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih baik dan berkualitas tinggi di Kota Probolinggo. (rh)

Analisis Bibliometrik Tren Riset Inovasi Pembelajaran di Indonesia, Pemikiran Dr Adip Wahyudi dalam Seminar Hari Guru Nasional IKA UM Probolinggo Raya

Probolinggo, Berdampak.net – Pendidikan di Indonesia kini berada dalam fase transformasi yang signifikan. Sebuah penelitian terkini yang dilakukan oleh Adip Wahyudi dkk berjudul “Analisis Bibliometrik Tren Riset Inovasi Pembelajaran di Indonesia” memaparkan gambaran mendalam mengenai perkembangan inovasi di bidang pendidikan melalui pendekatan bibliometrik. Studi ini menganalisis 41 artikel ilmiah yang terindeks di Scopus dan menunjukkan tren pertumbuhan yang menarik dalam inovasi pengajaran, terutama setelah pandemi COVID-19.
Salah satu temuan utama dalam studi ini adalah lonjakan signifikan dalam publikasi yang berkaitan dengan inovasi pengajaran setelah tahun 2020. Penelitian menunjukkan bahwa respons terhadap pandemi telah mendorong banyak institusi pendidikan untuk beradaptasi dengan cepat terhadap metode pengajaran baru. Pasca-pandemi, publikasi terkait E-learning dan strategi pengajaran digital mengalami peningkatan tajam, menegaskan bahwa inovasi kini bukan hanya pilihan, melainkan sebuah keharusan untuk survival pendidikan.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa penggunaan teknologi tercanggih, termasuk Artificial Intelligence (AI) dan E-learning, mendominasi riset inovatif di Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh Santoso et al. (2024) menunjukkan bahwa generative AI telah mulai diadopsi sebagai metode pengajaran di sekolah vokasi. Adopsi teknologi baru ini bukan hanya meningkatkan efisiensi pembelajaran, tetapi juga memberikan siswa keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi dunia industri yang semakin kompetitif.

Meski ada tantangan dalam mengimplementasikan inovasi, penelitian menunjukkan bahwa kesiapan guru dalam melakukan perubahan pedagogis semakin meningkat. Dengan adanya kebutuhan untuk beradaptasi dengan metode pembelajaran jarak jauh, banyak guru mulai berinvestasi dalam keterampilan literasi digital. Hal ini menjadi kunci keberhasilan integrasi teknologi dalam kelas. Susanto (2022) mencatat bahwa ada korelasi positif antara kemampuan literasi digital guru dan efektivitas inovasi pengajaran yang diterapkan.
Menariknya, meskipun banyak riset mengacu pada teknologi Barat, banyak peneliti di Indonesia berupaya mengintegrasikan nilai lokal dalam kurikulum. Huda (2023) menyatakan bahwa inovasi pengajaran dalam Pendidikan Agama Islam tetap relevan dengan konteks budaya dan sosial masyarakat Indonesia. Rahayu (2020) juga menunjukkan bahwa pendekatan etnosains dalam pendidikan kimia dapat menghubungkan konsep ilmiah dengan budaya lokal, yang pada gilirannya memperkaya pengalaman belajar siswa.

Implikasi dari penelitian ini sangat signifikan. Ditemukan bahwa dukungan infrastruktur digital perlu ditingkatkan, terutama di daerah terpencil yang masih mengalami ketimpangan dalam akses teknologi. Mukminin (2020) memperingatkan bahwa tanpa dukungan yang memadai, kesenjangan digital akan semakin lebar. Oleh sebab itu, para peneliti merekomendasikan agar penelitian lebih lanjut dilakukan untuk mengeksplorasi dampak jangka panjang dari inovasi berbasis AI dalam pendidikan, khususnya dalam pengembangan karakter siswa.

Dengan hasil analisis yang menunjukkan kemajuan dan integrasi antara pedagogi dan teknologi, penelitian ini menegaskan bahwa riset inovasi pengajaran di Indonesia telah mencapai tahap kematangan baru. Pendekatan yang berimbang antara teknologi dan nilai lokal tidak hanya memperkaya metode pengajaran tetapi juga menciptakan lingkungan belajar yang inklusif. Dr Adip berharap temuan ini dapat mendorong lebih banyak kolaborasi dan inovasi dalam pendidikan, agar generasi mendatang siap menghadapi tantangan di era digital yang terus berevolusi. Ia juga mengajak semua pemangku kepentingan di bidang pendidikan untuk berpartisipasi dalam transformasi ini agar pendidikan di Indonesia dapat terus berkembang dan bersaing secara global.