FKUB Kota Probolinggo Lakukan Monitoring dan Evaluasi (MONEV) ke Sejumlah Gereja, Pasraman dan Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Sumber Naga

Probolinggo, 5 Oktober 2025, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Probolinggo melaksanakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (MONEV) terhadap pelaksanaan pendidikan karakter keagamaan nonformal di sejumlah tempat ibadah pada 3–5 Oktober 2025. Kegiatan ini menyasar Gereja, Pasraman, dan Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Sumber Naga di wilayah Kota Probolinggo.

Kegiatan Monev ini dipimpin langsung oleh Ketua FKUB Kota Probolinggo, Dr. Ahmad Hudri, ST., MAP, yang mengomandani sejumlah tim pengurus FKUB yang terdiri dari 18 tim dimana setiap tim terdiri dari 2 (dua) orang untuk turun ke lapangan meninjau kegiatan pendidikan nonformal yang dilaksanakan di berbagai tempat ibadah. Setiap tim bertugas memantau secara langsung pelaksanaan Sekolah Minggu di Gereja, Pasraman, maupun Kelas Keagamaan Tri Dharma, yang menjadi bagian penting dari penguatan pendidikan karakter keagamaan bagi generasi muda lintas agama.

Dr. Ahmad Hudri menjelaskan bahwa pelaksanaan Monev ini merupakan bagian dari implementasi Peraturan Wali Kota (Perwali) Probolinggo Nomor 82 Tahun 2024 tentang Pedoman Pemberian Insentif Guru Keagamaan Nonformal.
“Pendidikan karakter keagamaan melalui Sekolah Minggu di Gereja, Pasraman, maupun TITD merupakan bagian dari pembinaan moral dan spiritual anak-anak di masing-masing komunitas keagamaan. Karena itu, FKUB memastikan program ini berjalan baik dan transparan, termasuk dalam hal pemberian insentif bagi para guru nonformal,” terang Hudri.

Dalam Perwali tersebut dijelaskan bahwa:
Guru Minggu adalah seseorang yang mengajarkan pelajaran keagamaan Kristen dan Katolik di gereja, Guru Agama Buddha di Vihara, Guru Agama Hindu di Pasraman, dan Guru Agama Khonghucu di TITD atau Klenteng. Khusus untuk Budha dan Konghucu berpusat di TITD Sumber Naga atau Klenteng.

Para guru keagamaan nonformal tersebut berhak menerima insentif bulanan yang disalurkan melalui mekanisme hibah pemerintah kota. FKUB Kota Probolinggo berperan dalam penyaluran dan pembinaan, termasuk memastikan pertanggungjawaban dan pelaporan kegiatan Sekolah Minggu secara periodik.

Secara teknis, FKUB menyalurkan insentif setiap tiga bulan sekali, setelah menerima laporan kegiatan dari masing-masing guru keagamaan nonformal. Monev ini juga menjadi ajang evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan pendidikan keagamaan, termasuk sarana dan metode pembelajaran yang diterapkan di setiap tempat ibadah.

Melalui kegiatan ini, FKUB berharap sinergi antara pemerintah kota, FKUB, dan para tokoh lintas agama dapat semakin memperkuat kerukunan umat beragama di Kota Probolinggo. Pendidikan karakter keagamaan yang berjalan baik di setiap komunitas diyakini menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi yang berakhlak, toleran, dan cinta damai.

“FKUB tidak hanya berperan menjaga kerukunan, tetapi juga membina dan memastikan bahwa pendidikan keagamaan nonformal di tempat ibadah berjalan sesuai regulasi dan memberikan dampak positif bagi masyarakat,” harap Dr. Ahmad Hudri.

Kegiatan Monev ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk pengurus tempat ibadah yang dikunjungi. Mereka menilai langkah FKUB sebagai bentuk nyata perhatian pemerintah terhadap pembinaan keagamaan lintas umat, yang menjadi ciri khas kerukunan di Kota Probolinggo.

Grand Launching Sekolah Tinggi Agama Islam Roudlotut Tholibin (STAIRO) Kademangan Probolinggo

Probolinggo, Berdampak.net 13 September 2025 — Sebuah tonggak sejarah pendidikan Islam kembali tercipta di Kota Probolinggo dengan diresmikannya Sekolah Tinggi Agama Islam Roudlotut Tholibin (STAIRO) Kademangan. Acara Grand Launching ini berlangsung pada Sabtu pagi (13/09), pukul 08.30 – 12.00 WIB bertempat di halaman Kampus STAIRO, Jalan Prof. Hamka Nomor 54 A, Kelurahan Kademangan, Kota Probolinggo.

Launching secara resmi dilakukan oleh Ketua KOPERTAIS IV, Prof. Akh. Muzakki, M.Ag., Ph.D, bersama Walikota Probolinggo dr. H. Aminuddin, Sp.Og. (K), MM.Kes, dan Ketua STAIRO KH. Abdul Malik Haramain, M.Si. Dengan peresmian ini, STAIRO resmi memulai aktivitas akademiknya, membuka pendaftaran mahasiswa untuk dua program studi unggulan: Manajemen Pendidikan Islam (MPI) dan Hukum Keluarga Islam (HKI).

Dalam sambutannya, KH. Abdullah Zabut, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin, menyampaikan bahwa pendirian STAIRO merupakan kelanjutan dari komitmen yayasan untuk mendidik generasi bangsa. “Kami akan senantiasa istiqamah di jalur pendidikan Islam. Sejak tahun 2011 dan 2015 kami upayakan, dan alhamdulillah terealisasi di tahun 2025,” ujar Gus Zabut.

Ia menambahkan, STAIRO hadir sebagai bentuk kontribusi nyata pondok pesantren dalam menciptakan solusi bagi tantangan pendidikan di Indonesia.

Walikota: STAIRO Adalah Cahaya Baru Probolinggo

Sementara itu, Walikota Probolinggo, dr. Aminuddin, menyambut antusias kehadiran STAIRO. Ia menyampaikan rasa bangga dan harapan besar terhadap kontribusi kampus ini ke depannya.
“Kehadiran STAIRO memberikan pelita bagi pembangunan Kota Probolinggo. Kami yakin STAIRO akan turut berkontribusi dalam pembangunan kota berbasis manajemen finansial dan menjadi lembaga pendidikan tinggi yang maju, baik di Tapal Kuda maupun di tingkat nasional,” tegasnya.

Sementara itu Ketua STAIRO, KH. Abdul Malik Haramain, M.Si, memaparkan bahwa pendirian STAIRO merupakan buah perjuangan panjang yang dimulai sejak gagasan almarhum KH. Mujib Abdullah.
“Prosesnya tidak mudah, butuh perjuangan bertahun-tahun. Kami ingin menjaga agar pendidikan tidak tergelincir menjadi komoditas ekonomi. STAIRO hadir untuk membangun SDM yang berkualitas dan berkarakter,” jelas Gus Malik.
Ia juga menekankan enam prinsip utama STAIRO:

  1. Menjaga konsistensi tujuan pendidikan Islam.
  2. Memaksimalkan potensi lembaga pendidikan yang dimiliki pondok pesantren.
  3. Menyambungkan pendidikan santri hingga jenjang perguruan tinggi.
  4. Memenuhi kebutuhan SDM daerah dengan kualitas unggul.
  5. Mewujudkan cita-cita pembangunan bangsa di bidang pendidikan.
  6. Mencetak lulusan yang kompeten, unggul, dan berakhlak mulia.

Grand Launching juga diisi dengan Studium General oleh Prof. Akh. Muzakki yang memberikan motivasi dan pemahaman mendalam tentang tantangan dan harapan SDM masa kini.
Beberapa poin penting yang disampaikan Prof. Muzakki antara lain : Pentingnya SDM unggul yang tidak hanya pergi ke luar daerah tapi juga berkontribusi kembali ke kampung halaman.
Prof. Muzakki juga mengingatkan tentang Peran ulama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa yang harus terus diapresiasi.
Selain itu, Pentingnya karakter dalam pendidikan, bukan hanya kecerdasan akademik. Dan Menuntut ilmu harus memiliki sanad keilmuan dan sanad kemuliaan.
Lebih lanjut Prof. Muzakki berharap bahwa muslim masa kini harus cerdas dan benar, ditandai dengan akhlaqul karimah.

Acara Grand Launching STAIRO ini ditutup dengan pembacaan doa oleh KH. Jamaludin tepat pukul 12.00 WIB. Diharapkan dengan peresmian ini, STAIRO mampu menjadi pilar baru pendidikan tinggi Islam di Probolinggo dan memberikan kontribusi strategis dalam menciptakan SDM yang unggul, berkarakter, serta berwawasan keilmuan dan keislaman yang kuat.

Pentingnya Pendidikan Karakter untuk Menekan Degradasi Moral

Probolinggo, Berdampak.net – MUI Kabupaten Probolinggo kembali menggelar Pelatihan Penguatan Pendidikan Karakter untuk guru Pendidikan Agama Islam (PAIS) se-Kabupaten Probolinggo, Rabu (10/9/2025) di aula Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Probolinggo. Kegiatan ini sebagai salah satu solusi atasi degradasi moral.

Kegiatan Pelantikan Penguatan Pendidikan Karakter jilid II ini terselenggara atas kerja sama Kemenag Kabupaten Probolinggo, Universitas Islam Zainul Hasan (Unzah) Genggong, dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo. Ratusan guru PAI se-Kabupaten Probolinggo hadir dan mendapat materi dari narasumber.

Sekretaris Umum MUI Kabupaten Probolinggo, ustaz H Taufik, mengatakan kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan serupa pertama di kampus Unzah beberapa waktu lalu. “Kami berkomitmen bagaimana guru mendapatkan materi, pencerahan tentang pendidikan karakter,” kata H Taufik.

Dia menjelaskan, kegiatan ini merupakan salah satu cara yang dilakukan MUI Kabupaten Probolinggo bersama lintas instasi untuk merespons terjadinya kemerosotan moral pada individu dan masyarakat. “Ini sudah terjadi degradasi moral,” jelasnya.

Degradasi moral menurut H Taufik, terlihat dari tanda-tanda melemahnya akhlak, etika, tata krama, hingga perilaku menyimpang. Ia berharap melalui kegiatan Pelatihan Penguatan Pendidikan Karakter, degradasi moral tersebut mendapat jalan keluar.

Sementara menurut Kepala Kemenag Kabupaten Probolinggo, H Samsur penting bagi seorang guru untuk menanamkan keteladanan karakter. “Akan mudah menanamkan karakter positif (pada anak) jika kita sebagai guru lebih dulu mengamalkan hal-hal baik,” kata H Samsur.

Menurutnya, guru bukan sekadar muallim, tapi juga sebagai muaddib serta murobbi.

Diketahui, Pelatihan Penguatan Pendidikan Karakter ini diikuti 200 PAIS, dan Pengawas PAIS. Ada dua narasumber dalam kegiatan kedua ini yakni, H Barzan selaku Kepala Seksi PHU Kemenag sekaligus Ketua Komisi Dakwah MUI Kabupaten Probolinggo. Narasumber kedua yakni Rektor Unzah Profesor Doktor Abdul Aziz Wahab. (don)

Pentingnya Belajar Bahasa Inggris Sejak Dini

Di era globalisasi yang serba terhubung, bahasa Inggris telah menjadi kunci utama dalam komunikasi internasional. Oleh karena itu, mengenalkan bahasa Inggris sejak dini bukanlah pilihan, melainkan sebuah kebutuhan.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa anak-anak yang mulai belajar bahasa Inggris pada usia dini memiliki kemampuan bahasa yang lebih baik dibanding mereka yang baru belajar di usia remaja atau dewasa. Studi yang dilakukan di Shanghai, misalnya, menemukan bahwa pembelajaran bahasa Inggris sejak dini tidak hanya meningkatkan prestasi bahasa Inggris, tetapi juga mendukung pencapaian akademik dalam bahasa ibu tanpa menimbulkan dampak negatif (Tao & Gao, 2020, International Journal of Bilingual Education and Bilingualism).

Manfaatnya tidak berhenti di situ. Menurut artikel yang diterbitkan oleh International Journal of Research and Innovation in Social Science (2024), paparan bahasa Inggris sejak kecil terbukti memperkuat fungsi kognitif anak, seperti daya ingat, kreativitas, dan kemampuan pemecahan masalah. Artinya, kemampuan bilingual sejak dini dapat mempersiapkan anak menghadapi tantangan akademik maupun sosial di masa depan.

Selain aspek akademik, kemampuan berbahasa Inggris juga membuka peluang sosial yang lebih luas. Anak-anak dapat berkomunikasi dengan teman sebaya dari berbagai negara, memahami budaya asing, serta menumbuhkan rasa percaya diri untuk berinteraksi di tingkat global. Seperti yang ditegaskan dalam jurnal Dharmakayana (2024), golden age atau masa emas anak merupakan periode paling tepat untuk menanamkan dasar keterampilan bahasa karena otak mereka lebih mudah menyerap stimulus linguistik.

Dengan berbagai bukti ilmiah tersebut, jelas bahwa pembelajaran bahasa Inggris sejak dini adalah investasi penting. Ini bukan hanya tentang menguasai bahasa asing, tetapi juga tentang membangun generasi yang siap bersaing, berpikir kritis, dan terbuka pada dunia yang semakin tanpa batas.

Menghadapi Ancaman Megathrust: Edukasi Mitigasi Bencana Gempa untuk Santri dan Santriwati Yayasan Pendidikan Islam Al-Intishor Mataram Bersama Universitas Mataram

Mataram, Berdampak.net – Mahasiswa dan dosen Unversitas Mataram melakukan kegiatan pendampingan untuk edukasi mitigasi bencana gempa pada santri dan santriwati yayasan pendidikan islam Al – Intishor Mataram, Nusa Tenggara Barat pada 23 Agustus 2025.

Kurangnya kesadaran masyarakat tentang cara menanggulangi bencana,terutama bencana gempa.”Kegiatan ini pada dasarnya dilakukan untuk memberitahu masyarakat terutama genereasi muda tentang pentingnya mengetahui cara atau langkah-langkah yang perlu dilakukan ketika terjadi bencana (gempa bumi).Karenanya Mahasiswa dan dosen Universitas Mataram hadir untuk memberikan edukasi kepada generasi muda dengan harapan : Generasi muda yang siap dan tangguh menghadapi bencana.
Pemberian edukasi dilakukan dengan cara penyuluhan santri dan santriwati  Yayasan Pendidikan Islam Al-Intishor mengenai informasi dan langkah – langkah mitigasi gempa oleh Mahasiswa fisika,Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Mataram Rozita dan Sofiana. Kegiatan diawali dengan pemaparan materi mengenai bahaya gempa dan langkah – langkah apa saja yang perlu dilakukan ketika terjadi bencana gempa bumi, serta dilakukan kegiatan latihan evakuasi gempa bumi bersama santri dan santriwati. Kemudian dilakukan juga sesi tanya jawab untuk mengetahui sejauh mana pemahaman santri dan santriwati mengenai apa saja yang perlu dilakukan ketika menghadapi bencana gempa bumi seperti yang telah disampaikan oleh pemateri.

Pemberian edukasi mengenai mitigasi bencana gempa ini diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap kesiapan generasi muda dalam menghadapi bencana alam. Dengan adanya penyuluhan dan latihan praktik generasi muda diharapkan tahu langkah apa yang perlu dilakukan ketika menghadapi dan mengurangi dampak bencana tersebut. (rh)

Socialpreneur Celebration, Puncak Karsa Penutupan KKN-T 2025 Unira Malang Berdampak Berkelanjutan

Malang, Berdampak.net – Setelah live-in di desa-desa seantero Malang Raya, Mahasiswa KKN-T semester genap 2025 Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang ditutup secara seremonial di Hall KH. Moh Said, Rabu (3/9/2025).

Seremonial penutupan KKN-T Berdampak, Berkelanjutan Unira Malang kali ini berjalan dengan penuh antusiasme dan meriah. Vibes yang hadirkan dalam Gebyar KKN-T Sociopreneur Celebration bukan hanya sekadar seremoni penutupan, tetapi juga momentum apresiasi untuk seluruh peserta yang sudah mengabdi dan berkontribusi langsung di masyarakat.

Tema yang diambil pada seremonial penutupan KKN ini, Puncak Karsa: Socialpreneur Celebration.
Dr. Ratna Fajarwati Meditama, M.Pd., selaku PJ acara kegiatan mengungkapkan bahwa Tema yang diangkat untuk mendukung suasana acara hangat, penuh kebersamaan, sekaligus menunjukkan kreativitas serta semangat kewirausahaan sosial dari mahasiswa.

“Melalui gebyar ini, kita bisa melihat bahwa KKN-T bukan hanya tentang belajar di desa, tapi juga bagaimana mahasiswa berperan sebagai agen perubahan yang membawa energi positif, inovasi, dan solusi nyata untuk pembangunan masyarakat. Jadi vibes-nya bukan hanya meriah, tapi juga inspiratif, kolaboratif, dan penuh harapan ke depan,” ungkap Kak Nana, sapaan karibnya.
Abdillah U. Djawahir, Kepala LPPM Unira Malang dalam sambutannya, menginginkan bahwa acara ini menjadi panggung bagi ide-ide brilian mahasiswa, terutama dalam mengembangkan potensi lokal dan memberi nilai tambah bagi masyarakat.

Tema besar KKN kita kali ini, Memperkokoh Ekosistem Social Enterprise Masyarakat Desa”. Dengan 3 program kerja unggulan yaitu ketahanan pangan, digitalisasi dan kolaborasi lokal.
“Alhamdulillah tema besar dan program unggulan yang kawan-kawan mahasiswa lakukan di Desa mendapatkan support dari para stakeholder, khususnya stakeholder lokal di di Desa, dan tentu harapannya community development yang dilakukan bisa berdampak dan berkelanjutan,” ungkap Abe.
Dr. Yusuf Azwar Anas, SE.MM, Dekan FEB Unira Malang menambahkan bahwa Tema KKN pada tahun ini yaitu sociopreneur sebagai trobosan baru dalam membumikan kewirausahaan sosial di desa.

“Uluran tangan dan gerakan bersama stakeholder dengan Unira Malang dalam membangun dan mengurai problem desa menjadi kunci untuk menjadikan desa sejahtera. Karena saat ini desa menjadi episentrum pembangunan, saat desa bergerak menuju kesejahteraan, maka kedepan bangsa akan sejahtera,” tuturnya.

Sementara itu, KH. Imron Rosyadi Hamid, SE.,M.Si., Ph.D., Rektor Unira Malang dalam sambutannya mengatakan bahwa KKNT tahun 2025 secara umum telah berjalan dengan baik.
“Saya juga sempat mengunjungi salah satu desa yang menjadi daerah tempat KKNT. Respons masyarakat dan stakeholder lain di sana sangat positif. KKNT ini telah membawa dampak positif bagi masyarakat di desa-desa tempat mahasiswa mengimplementasikan ilmu dan keterampilannya,” ungkap Gus Rektor.