Dr Siti Romlah, Peran Rumah Inovasi Guru sebagai Ruang Kolaboratif dalam Membentuk Kembali Pengajaran sebagai Profesi Kolaboratif

Probolinggo, Berdampak.net – Dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Probolinggo menyampaikan bagaimana Peran Rumah Inovasi Guru sebagai Ruang Kolaboratif dalam Membentuk Kembali Pengajaran sebagai Profesi Kolaboratif. Pemikirian di dorong karena pentingnya metode pembelajaran yang inovatif dan kolaboratif di abad ke-21. Menurut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Probolinggo ini dalam praktiknya, banyak guru masih mengajar secara individual, yang menghambat potensi inovasi dan peningkatan mutu pendidikan. Oleh karena itu, Pemerintah Kota Probolinggo bersama Disdikbud mendirikan Rumah Inovasi Guru sebagai wadah untuk menampung dan mengembangkan inovasi guru.

Rumah Inovasi Guru bertujuan untuk menciptakan lingkungan kolaboratif di mana guru saling berbagi ide, praktik baik, dan berusaha bersama untuk memajukan mutu pendidikan. Dalam makalahnya, Siti Romlah menggarisbawahi empat fokus utama: fungsi dan peran Rumah Inovasi Guru, dukungannya terhadap profesi pengajaran kolaboratif, bentuk-bentuk kolaborasi yang difasilitasi, serta tantangan dan solusi yang diperlukan untuk mengoptimalkannya.
Peran Rumah Inovasi Guru ini diantaranya :

  1. Wadah Berbagi dan Mendokumentasikan Inovasi: Rumah Inovasi Guru menjadi tempat bagi guru untuk menyimpan dan memamerkan metodologi serta strategi belajar inovatif, dengan lebih dari 2.000 karya inovasi ditampilkan.
  2. Fasilitator Kolaborasi: Rumah Inovasi memfasilitasi pertemuan antar guru dari berbagai sekolah, yang memungkinkan kolaborasi lintas disiplin dan pengembangan praktik terbaik.
  3. Mendorong Profesionalisme dan Pembelajaran Mendalam: Salah satu tujuan utama adalah mengedepankan inovasi dalam pembelajaran melalui pendekatan masyarakat belajar yang mendalam dan bermakna.
  4. Mendukung Pendidikan Inklusif: Pendirian Unit Layanan Disabilitas (ULD) menunjukkan komitmen untuk menyediakan pendidikan yang responsif terhadap keragaman kebutuhan siswa.
    Namun Dr Siti Romlah juga menyadari bahwa ada beberapa tantangan yang dihadapi Rumah Inovasi Guru, seperti memastikan kontinuitas pemanfaatan inovasi, komitmen dan partisipasi guru, serta dukungan kebijakan yang memadai. Dalam rekomendasi, disarankan untuk menjadwalkan pertemuan reguler, memberikan insentif bagi kontribusi aktif guru, dan menjalin kemitraan dengan perguruan tinggi serta komunitas untuk memperkaya inovasi.

Siti Romlah menekankan bahwa Rumah Inovasi Guru merupakan inisiatif strategis yang mampu menggeser budaya pengajaran dari individualistik ke kolaboratif dan inklusif. “Melalui kolaborasi, guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pengembang dan pembelajar sepanjang hayat,” ujarnya. Ia juga berharap dapat memperkuat komitmen para pendidik dalam mengadopsi praktik kolaboratif, demi menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih baik dan berkualitas tinggi di Kota Probolinggo. (rh)

Analisis Bibliometrik Tren Riset Inovasi Pembelajaran di Indonesia, Pemikiran Dr Adip Wahyudi dalam Seminar Hari Guru Nasional IKA UM Probolinggo Raya

Probolinggo, Berdampak.net – Pendidikan di Indonesia kini berada dalam fase transformasi yang signifikan. Sebuah penelitian terkini yang dilakukan oleh Adip Wahyudi dkk berjudul “Analisis Bibliometrik Tren Riset Inovasi Pembelajaran di Indonesia” memaparkan gambaran mendalam mengenai perkembangan inovasi di bidang pendidikan melalui pendekatan bibliometrik. Studi ini menganalisis 41 artikel ilmiah yang terindeks di Scopus dan menunjukkan tren pertumbuhan yang menarik dalam inovasi pengajaran, terutama setelah pandemi COVID-19.
Salah satu temuan utama dalam studi ini adalah lonjakan signifikan dalam publikasi yang berkaitan dengan inovasi pengajaran setelah tahun 2020. Penelitian menunjukkan bahwa respons terhadap pandemi telah mendorong banyak institusi pendidikan untuk beradaptasi dengan cepat terhadap metode pengajaran baru. Pasca-pandemi, publikasi terkait E-learning dan strategi pengajaran digital mengalami peningkatan tajam, menegaskan bahwa inovasi kini bukan hanya pilihan, melainkan sebuah keharusan untuk survival pendidikan.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa penggunaan teknologi tercanggih, termasuk Artificial Intelligence (AI) dan E-learning, mendominasi riset inovatif di Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh Santoso et al. (2024) menunjukkan bahwa generative AI telah mulai diadopsi sebagai metode pengajaran di sekolah vokasi. Adopsi teknologi baru ini bukan hanya meningkatkan efisiensi pembelajaran, tetapi juga memberikan siswa keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi dunia industri yang semakin kompetitif.

Meski ada tantangan dalam mengimplementasikan inovasi, penelitian menunjukkan bahwa kesiapan guru dalam melakukan perubahan pedagogis semakin meningkat. Dengan adanya kebutuhan untuk beradaptasi dengan metode pembelajaran jarak jauh, banyak guru mulai berinvestasi dalam keterampilan literasi digital. Hal ini menjadi kunci keberhasilan integrasi teknologi dalam kelas. Susanto (2022) mencatat bahwa ada korelasi positif antara kemampuan literasi digital guru dan efektivitas inovasi pengajaran yang diterapkan.
Menariknya, meskipun banyak riset mengacu pada teknologi Barat, banyak peneliti di Indonesia berupaya mengintegrasikan nilai lokal dalam kurikulum. Huda (2023) menyatakan bahwa inovasi pengajaran dalam Pendidikan Agama Islam tetap relevan dengan konteks budaya dan sosial masyarakat Indonesia. Rahayu (2020) juga menunjukkan bahwa pendekatan etnosains dalam pendidikan kimia dapat menghubungkan konsep ilmiah dengan budaya lokal, yang pada gilirannya memperkaya pengalaman belajar siswa.

Implikasi dari penelitian ini sangat signifikan. Ditemukan bahwa dukungan infrastruktur digital perlu ditingkatkan, terutama di daerah terpencil yang masih mengalami ketimpangan dalam akses teknologi. Mukminin (2020) memperingatkan bahwa tanpa dukungan yang memadai, kesenjangan digital akan semakin lebar. Oleh sebab itu, para peneliti merekomendasikan agar penelitian lebih lanjut dilakukan untuk mengeksplorasi dampak jangka panjang dari inovasi berbasis AI dalam pendidikan, khususnya dalam pengembangan karakter siswa.

Dengan hasil analisis yang menunjukkan kemajuan dan integrasi antara pedagogi dan teknologi, penelitian ini menegaskan bahwa riset inovasi pengajaran di Indonesia telah mencapai tahap kematangan baru. Pendekatan yang berimbang antara teknologi dan nilai lokal tidak hanya memperkaya metode pengajaran tetapi juga menciptakan lingkungan belajar yang inklusif. Dr Adip berharap temuan ini dapat mendorong lebih banyak kolaborasi dan inovasi dalam pendidikan, agar generasi mendatang siap menghadapi tantangan di era digital yang terus berevolusi. Ia juga mengajak semua pemangku kepentingan di bidang pendidikan untuk berpartisipasi dalam transformasi ini agar pendidikan di Indonesia dapat terus berkembang dan bersaing secara global.

Seminar Nasional IKA UM “Membentuk Kembali Pengajaran Sebagai Profesi Kolaboratif” oleh Dr. Daris Wibisono Setiawan, S.S., M.Pd

Probolinggo, Berdampak.net – Dalam menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21, Dr. Daris Wibisono Setiawan, S.S., M.Pd, menyampaikan pemikirannya dalam seminar nasional HGN 2025 bersama IKA UM dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Probolinggo dengan tema “Membentuk Kembali Pengajaran Sebagai Profesi Kolaboratif.” Dalam materinya ia mendorong perubahan paradigma dalam pengajaran dan membahas pentingnya kolaborasi di kalangan pendidik di Indonesia.

Ia juga menyampaikan bahwa saat ini di butuhan integrasi 6 C dari pembelajaran abad 21, yaitu Creativity, Collaboration, Communication, Critical thinking and problem solving, Character, dan Citizenship. Di tengah dampak sistemik yang disebabkan oleh era disrupsi digital, dunia pendidikan memerlukan inovasi yang tidak bisa dihadapi oleh guru secara individual. “Kolaborasi menjadi identitas profesional yang sangat penting bagi para pendidik untuk menghadapi tantangan ini,” ungkap Dr. Daris.
Dalam seminar ini, Dr. Daris menjelaskan beberapa pilar profesi kolaboratif yang perlu diterapkan di sekolah. Di antaranya adalah kolaborasi kurikulum, pembelajaran, pengembangan profesional, serta penggunaan teknologi. “Dengan berkolaborasi, guru dapat menciptakan modul ajar yang lebih kaya dan strategis, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas pengajaran dan hasil belajar siswa,” katanya.

Dr. Daris juga membahas tantangan yang dihadapi oleh guru saat ini, seperti beban administratif yang tinggi, kesenjangan kompetensi digital, dan kurikulum yang terus berubah. “Kami perlu menciptakan ekosistem kolaboratif yang mendukung guru dalam mengatasi masalah ini,” tegasnya. Strategi implementatif seperti jam kolaborasi resmi dan penggunaan aplikasi teknologi kolaboratif diusulkan untuk memperkuat budaya kolaboratif di sekolah. Sebagai penutup, Dr. Daris menekankan bahwa masa depan pendidikan bergantung pada kolaborasi, bukan individualitas. “Guru bukan hanya pengajar, tetapi anggota tim profesional yang saling menguatkan,” ujarnya. Ia mengajak semua guru untuk menjadi bagian dari perubahan ini dengan berkolaborasi, belajar, dan berbagi demi membangun masa depan yang lebih baik bagi pendidikan di Indonesia. (rh)

Seminar Nasional Hari Guru Nasional: Ikatan Alumni Universitas Negeri Malang dan Dinas Pendidikan Kota Probolinggo wujudkan Kolaborasi untuk Peningkatan Kualitas Pendidikan

Probolinggo, Berdampak.net – Dalam rangka rangkaian hari guru nasional 2025, Ikatan Alumni Universitas Negeri Malang menggelar Seminar Nasional dengan tema Membentuk Kembali Pengajaran Sebagai Profesi
Kolaboratif di Gedung Puri Manggala Bhakti Kota Probolinggo. Acara yang diikuti oleh sekitar 250an peserta dengan 190 peserta hadir langsung dan sisanya mengikuti melalui live streaming online. Peserta terdiri dari guru , mahasiswa , dosen dan praktisi pendidikan tidak hanya dari area kota dan kabupaten Probolinggo tetapi bahkan sampai Semarang , banyuwangi, tegal dan daerah lainnya.

Ketua Ikatan Alumni IKA UM dalam sambutannya bahwa kegiatan ini bagian dari kontribusi nyata alumni UM dalam peningkatan mutu pendidikan dan wujud sumbangsih alumni di area Probolinggo Raya melalui kolaborasi dengan pemerintah Kota Probolinggo melalui dinas pendidikan dan kebudayaan kota Probolinggo. Harapannya sinergi antar alumni ini menjadi modal penting dalam eksistensi alumni di mana alumni berada.

Hadir dalam pembukaan seminar Walikota Probolinggo Dr. H. Aminuddin dan Dr. Siti Romlah Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Probolinggo serta jajaran pengurus IKA UM , kepala sekolah di kabupaten dan kota Probolinggo serta pemateri Prof. Dr. Muslihati, S.Ag., M.Pd, Dr. Adip Wahyudi, M.Pd, Dr. Daris Wibisono Setiawan, S.S., M.Pd.

Dr. Siti Romlah Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Probolinggo membawakan Peran Rumah Inovasi Guru sebagai Ruang Kolaboratif dalam
Membentuk Kembali Pengajaran sebagai Profesi Kolaboratif (Studi di
Kota Probolinggo) , Prof. Dr. Muslihati, S.Ag., M.Pd membahas mengenai tantangan pendidikan remaja saat ini dan implementasi pembelajaran melalui keluarga dan sekolah berbasis masyarakat, Dr. Adip Wahyudi, M.Pd menyampaikan tentang trend riset inovasi dalam bidang pendidikan dan Dr. Daris Wibisono Setiawan, S.S., M.Pd tentang Sharing Best practice pendidikan kolaboratif dalam perjalanan karir di lapangan sebagai penggerak bidang pendidikan.

Dr Aminuddin dalam sambutannya menyampaikan bahwa kabupaten Probolinggo mempunyai target indeks pendidikan manusia diatas 7.5 dan untuk itu diperlukan kolaborasi semua pihak termasuk guru sebagai penggerak utama pendidikan dan dalam visi Probolinggo bersolek kota Probolinggo juga menempatkan pendidikan sebagai fokus utama tidak hanya dari aspek infrastruktur , kolaborasi peluang beasiswa dengan universitas terbuka dan salah satunya juga dengan universitas negeri Malang. Walikota Probolinggo juga mengapresiasi peran guru dan sekaligus mengajak kontribusi melalui inovasi para guru dalam memajukan pendidikan di Probolinggo.

Sesi diskusi panel yang diadakan di akhir seminar memberi kesempatan kepada peserta untuk bertanya langsung kepada narasumber dan mendiskusikan tantangan serta peluang dalam perkembangan pendidikan saat ini.

Dengan suksesnya acara ini, Ikatan Alumni UM berharap dapat mendorong lebih banyak inisiatif dan dukungan terhadap kemajuan pendidikan di Probolinggo, serta memperkuat jaringan alumni dalam memberikan kontribusi kepada masyarakat.
Seminar ini diharapkan dapat menjadi titik tolak untuk dialog yang lebih intens dalam upaya menciptakan pendidikan yang berkelanjutan dan berkualitas di masa depan. (rh)

Menghadirkan Iklim Ilmiah dan Harmoni Lintas Agama, FKUB Kota Probolinggo Gelar Seminar Nasional Agama, Etika dan Perdamaian

Probolinggo, Berdampak.net – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Probolinggo menggelar Seminar Nasional, dengan tema “Agama, Etika dan Perdamaian: Menemukan Titik Tengah dalam Masyarakat Multikultural” . Dalam acara ini juga dilakukan pengukuhan Pengurus Forum Kader Muda Penggerak Moderasi Beragama (FKM PMB) Periode 2025-2026. Pelaksanaan acara pada tanggal 26 Nopember 2025 di Aula PD. Muhammadiyah Kota Probolinggo Jalan Sutoyo.
Acara ini dihadiri Walikota Probolinggo dr. H. Aminudin, Sp.Og. (K), M.Kes, jajaran pengurus FKUB Kota Probolinggo dan peserta seminar berjumlah 122 orang dari berbagai unsur masyarakat terutama organisasi guru dan ormas keagamaan di kota Probolinggo. Sebagai narasumber adalah Ahmad Sahidah, PhD. Dosen Program Pascasarjana S3 Universitas Nurul Jadid Paiton – Probolinggo dan Romo Ignasius Budiono. O.Carm Dosen STFT Widya Sasana Malang.

Walikota Probolinggo dokter Aminudin dalam sambutannya menyampaikan dalam sambutannya bahwa kota Probolinggo adalah kota yang kaya keberagaman agama, budaya, dan berbagai tradisi hidup berdampingan dan saling melengkapi. “Keragaman yang ada ini bukan sekadar fakta sosial, tetapi juga investasi peradaban. Namun keberagaman hanya akan menjadi berkah apabila kita kelola dengan prinsip saling menghormati, saling memahami, dan saling menjaga”, ujar Aminudin

Dalam kesempatan ini Aminudin juga mengukuhkan pengurus Forum Kader Muda Penggerak Moderasi Beragama (FKM PMB) yang dibentuk oleh FKUB Kota Probolinggo sebagai forum bagi anak-anak muda lintas agama.

Sementara itu Dr. Ahmad Hudri Ketua FKUB Kota Probolinggo dalam sambutannya menjelaskan peran strategis FKUB. “FKUB adalah jembatan dialog, rumah bersama, dan ruang perjumpaan bagi seluruh elemen masyarakat lintas agama. Jajaran FKUB terus hadir di tengah masyarakat, menghadirkan kesejukan, memastikan ruang publik tetap inklusif, serta memperkuat ketahanan sosial di Kota Probolinggo”, jelas Hudri

Lebih lanjut Hudri menambahkan bahwa tema seminar tentang Agama, Etika dan Perdamaian: Menemukan Titik Tengah dalam Masyarakat Multikultural, sangat relevan dengan kebutuhan bangsa, terlebih menjelang tahun-tahun politik dan perubahan sosial yang begitu cepat.

“Tantangan kita bukan hanya menjaga kedamaian, tetapi juga memastikan agar nilai-nilai etika tetap menjadi fondasi dalam setiap interaksi sosial dan kebijakan publik.
Perdamaian tidak lahir semata-mata dari ketiadaan konflik, melainkan dari hadirnya keadilan, dialog, dan sikap saling memahami. Agama, yang pada dasarnya membawa misi kemanusiaan dan kasih sayang, harus mampu menjadi kompas moral dalam perjalanan masyarakat multikultural”, tandas Hudri.

Usai seremoni pembukaan, acara dilanjutkan dengan sesi pemaparan materi oleh kedua narasumber. Kesempatan pertama pemaparan pemateri disampaikan oleh Romo Ignasius Budiono. Romo Budiono menyampaikan bahwa dalam konteks masyarakat modern, ada pilar penting untuk menemukan titik tengah kehidupan bersama, yakni: Etika Lintas Iman (Interfaith Ethics)
“Setiap agama membawa pesan universal tentang kebaikan. Ketika nilai-nilai ini dipertemukan, lahirlah etika bersama yang mampu menjadi pedoman harmoni dalam masyarakat. Kota Probolinggo perlu terus membangun ruang dialog yang tidak berhenti pada seremoni, tetapi masuk ke dalam implementasi kehidupan sehari-hari”, jelas Budiono.

Budiono menambahkan tentang pentingnya penguatan Moderasi Beragama. Bahwa Moderasi bukan memoderatkan ajaran agama, tetapi memoderatkan cara kita memahami dan mengekspresikan agama. Sikap anti-ekstrem, anti-kekerasan, dan anti-diskriminasi harus menjadi prinsip yang terus ditanamkan melalui pendidikan keluarga, sekolah, rumah ibadah, dan ruang publik.

Sementara itu narasumber kedua Ahmad Sahidah memaparkan mengenai pentingnya memperkuat literasi agama yang inklusif, mengembangkan platform dialog antar komunitas, membangun kebijakan negara yang adil bagi semua kelompok agama dan perlunya mengedepankan etika kemanusiaan universal sebagai dasar interaksi.

“Agama dapat menjadi sumber etika universal untuk perdamaian. Dalam Masyarakat multikultural butuh ruang perjumpaan yang menghormati perbedaan. Titik tengah ditemukan melalui dialog, pendidikan, keadilan, dan empati.
Perdamaian terjadi ketika agama dan etika berjalan bersama”, tutup Sahidah.

Usai pemaparan materi, sesi berikutnya adalah tanya jawab. Sesi tanya jawab direspon dengan sangat antusias oleh peserta hadir yang berjumlah 122 orang. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pertanyaan. Namun karena keterbatasan waktu, acara seminar ditutup hingga menjelang waktu magrib tiba.

Dosen Peraih Excellent Student Scholarship dari Hiroshima University, Juri Inovasi Guru: Mendorong Karya Kreatif dalam Dunia Pendidikan

Probolinggo, Berdampak.net – Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan, Ediyanto M.Pd., PH.D baru-baru ini diamanahkan menjadi juri dalam ajang inovasi guru sebagai kolaborasi IKA UM Probolinggo Raya dengan Disdikdaya Kota Probolinggo dalam rangka HGN 2025. Dalam kesempatan tersebut, Dr. Ediyanto memberikan testimoni yang menyoroti pentingnya inovasi dalam dunia pendidikan.

“Karya guru guru di kota Probolinggo sangat inovatif dan mampu menjawab tantangan dunia pendidikan,” ungkapnya. Penilaian ini menunjukkan betapa krusialnya peran guru guru di kota Probolinggo dalam menciptakan solusi yang adaptif dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Lebih lanjut, dosen program studi S2 pendidikan khusus FIP dan Kepala LPPM Universitas Negeri Malang yang pernah meraih Hiroshima University Excellent Student menekankan bahwa praktik baik dalam inovasi tidak hanya terbatas pada momen lomba atau pameran. Ia mengatakan, “Inovasi guru adalah tanggung jawab yang berkelanjutan untuk memberikan yang terbaik bagi siswa.”

Dalam konteks pembelajaran, ia menekankan pentingnya merujuk pada “cipta, rasa, dan karsa” sesuai dengan kepakaran masing-masing. “Dengan pendekatan ini, Universitas Negeri Malang (UM) siap untuk menjadi pelopor pendidikan yang berkeadilan untuk semua,” tambahnya.

Koordinasi dan kerjasama juga menjadi fokus utama dalam inovasi ini, terutama dalam penguatan pendidikan inklusif yang menjadi kebutuhan penting dalam masyarakat saat ini. Dengan kolaborasi antara berbagai pihak, diharapkan inovasi yang dihasilkan dapat menjadikan pendidikan lebih berkualitas dan merata bagi semua kalangan.

Dengan penugasan ini, Dosen yang baru saja mendapatkan gelar kehormatan dari Circhik State Pedagogical University, Uzbekistan ini berharap dapat mendorong lebih banyak guru untuk terus berinovasi dan berkontribusi terhadap kemajuan dunia pendidikan di Indonesia khusus nya di Probolinggo Raya. (rh)