Manfaatkan Barang Bekas, Komunitas Pena Hijau Sukses Ubah Sampah Kresek Jadi Solar
PROBOLINGGO, Berdampak.net — Persoalan sampah plastik di aliran sungai kembali menemukan titik terang inovatif. Komunitas Pemuda Nusantara Peduli Lingkungan Hijau (Pena Hijau) berhasil mengolah limbah kantong plastik sekali pakai (kresek) yang selama ini mencemari lingkungan menjadi produk bernilai guna tinggi, yakni bahan bakar minyak jenis solar melalui metode pirolisis sederhana.
Founder Komunitas Pena Hijau, Taufiqur Rohim, mengungkapkan bahwa inovasi ini lahir dari keprihatinan mendalam atas kondisi faktual di lapangan saat kegiatan bersih sungai (clean up river). Dari total sampah yang berhasil diangkat dari badan air, porsi terbesar didominasi oleh limbah kresek yang kerap dipandang sebelah mata.
“Saat kita lakukan clean up river, sekitar empat puluh persen dari sampah yang berhasil kita angkat dari sungai itu adalah sampah kresek (plastik sekali pakai, red). Ini memang tidak memiliki nilai ekonomis sama sekali jika dibandingkan botol atau gelas plastik bekas air mineral yang masih bisa dijual ke pengepul. Nah, karena kresek ini banyak sekali dibuang ke sungai, kami mencoba mencari cara untuk mengolahnya agar bisa kembali dimanfaatkan. Jadilah pirolisis ini,” jelas Taufiqur Rohim.
Terkait proses teknis pengolahannya, Taufiqur memaparkan bahwa metode ini memanfaatkan teknik pemanasan termal tertutup dengan mengandalkan material rakitan dari barang-barang bekas.
“Bahan dasarnya sampah kresek yang kita panaskan pada suhu tertentu, dan selanjutnya uap hasil dari pemanasan tersebut kita lakukan kondensasi, sehingga menjadi cairan bahan bakar minyak berupa solar,” paparnya.
Menariknya, peralatan yang digunakan dalam tahap uji coba ini memanfaatkan barang limbah yang dimanfaatkan kembali. “Alat yang kita gunakan untuk uji coba ini kita pakai kaleng bekas kue dan pipa besi bekas yang kita dapat dari pengepul besi tua, kondensornya juga kita pakai kaleng bekas kue yang kita isi air, Alhamdulillah berhasil,” lanjutnya.
Meski telah sukses melakukan uji coba awal dengan peralatan yang sangat sederhana, pihak komunitas optimis untuk terus mengembangkan inovasi ini ke tingkat yang lebih professional dan berdampak luas.
“Ini masih kali pertama, ke depan Insya Allah kita akan produksi secara massal, mohon doanya semoga bisa terwujud,” pungkas Taufiqur.
Langkah progresif yang dimotori oleh Pena Hijau ini tidak hanya menawarkan solusi taktis dalam mengurangi volume sampah plastik di tingkat akar rumput, tetapi juga membuka peluang kemandirian energi berbasis pengolahan limbah. Komunitas berharap terobosan ini dapat terus berkembang serta mendapat dukungan dari berbagai pihak guna memperluas kapasitas produksi dan menjaga keberlanjutan ekosistem lingkungan.