Sarasehan Tokoh Perempuan Probolinggo Angkat Peran Perempuan Hadapi Krisis Iklim
PROBOLINGGO, berdampak.net – Persoalan krisis iklim tidak lagi sebatas isu lingkungan. Dampaknya mulai bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari kesehatan, pangan, air, hingga kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.
Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Sarasehan Tokoh Perempuan Probolinggo yang digelar Pemerintah Kabupaten Probolinggo bersama Gabungan Organisasi Wanita (GOW) di Kantor Bupati Probolinggo, Senin (28/9/2026).
Sekitar 200 tokoh perempuan dari berbagai unsur hadir dalam kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB tersebut. Sarasehan mengangkat tema “Peran Kepemimpinan Perempuan dalam Penanggulangan Krisis Iklim”.
Pembahasan diarahkan pada pentingnya keterlibatan perempuan dalam membangun kepedulian terhadap lingkungan, termasuk persoalan sampah dan perubahan perilaku masyarakat. Para peserta juga diminta membawa tumbler sebagai bagian dari kampanye mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Ketua GOW Kabupaten Probolinggo, Ning Umi Haniah Fahmi AHZ, S.Th.I., mengatakan kepedulian terhadap lingkungan tidak harus dimulai dari hal besar. Menurutnya, keluarga dan lingkungan sekitar menjadi ruang pertama untuk membangun kebiasaan yang lebih peduli terhadap lingkungan.
“Kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari keluarga dan lingkungan sekitar,” ujarnya.
Ia menyebut persoalan lingkungan memiliki kaitan erat dengan perilaku manusia. Karena itu, upaya menjaga lingkungan membutuhkan kesadaran sekaligus perubahan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kegiatan tersebut, GOW Kabupaten Probolinggo juga menandatangani rekomendasi bersama terkait penanganan sampah. Komitmen serupa turut dibangun di internal organisasi perempuan sebagai bentuk tindak lanjut dari pembahasan sarasehan.
Sarasehan menghadirkan dua narasumber dan tiga panelis dari unsur lintas agama. Direktur Yayasan Ekosistem Sampah Indonesia, A’ak Abdullah Al-Kudus, menjadi salah satu narasumber dengan materi yang mengaitkan krisis iklim dengan perspektif agama, perempuan, dan masa depan bumi.
Ia menjelaskan bahwa krisis iklim memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada persoalan lingkungan. Perubahan iklim berkaitan dengan persoalan sosial, ekonomi, kesehatan, pangan, kemiskinan hingga keadilan.
Sejumlah dampak yang muncul di antaranya kenaikan suhu bumi, hujan ekstrem dan banjir, kekeringan, gelombang panas, kenaikan muka air laut, krisis air, gangguan terhadap pangan dan pertanian serta hilangnya keanekaragaman hayati.
Perempuan, kata dia, menjadi salah satu kelompok yang menghadapi kerentanan lebih besar akibat perubahan kondisi lingkungan, termasuk dalam aspek kesehatan dan reproduksi.
Sementara itu, narasumber lainnya, Zaimatus Sa’diyah dari UIN Walisongo Semarang, mengangkat tema “Merawat Bumi, Merawat Kehidupan: Agama, Perempuan, dan Kesadaran Ekologis.”
Ia memandang krisis ekologis tidak hanya berkaitan dengan kondisi alam, tetapi juga menyangkut etika, relasi kuasa dan cara manusia menjalani kehidupan.
Dalam konteks tersebut, agama dinilai memiliki peran penting karena mempunyai bahasa moral yang dapat mendorong manusia untuk membangun hubungan yang lebih bertanggung jawab dengan lingkungan.
Perubahan iklim juga dinilai dapat memperbesar ketimpangan yang telah ada. Di Indonesia, misalnya, banyak perempuan bergantung pada sektor pertanian, ketersediaan air dan perikanan yang sangat dipengaruhi kondisi iklim.
Ia kemudian memperkenalkan model “Anti 5R” sebagai bentuk komitmen bersama dalam menjaga lingkungan. Konsep tersebut meliputi Refuse atau menolak sesuatu yang tidak diperlukan, Reduce dengan mengurangi konsumsi, Reuse atau menggunakan kembali, Recycle dengan memilah dan mengolah sampah, serta Restore untuk memulihkan ekosistem.
Penerapannya dapat dimulai dari aktivitas sederhana di rumah, seperti mengolah sisa dapur menjadi pupuk sehingga sampah organik tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan.
Dalam pembahasan, peran agama juga disebut penting karena memiliki otoritas moral dalam memengaruhi cara pandang dan perilaku masyarakat. Nilai-nilai keagamaan dapat menjadi pintu masuk untuk membangun solidaritas sekaligus kesadaran bersama menghadapi perubahan iklim.
Ancaman krisis iklim yang semakin nyata dinilai perlu diikuti dengan gerakan yang lebih terarah. Sejumlah langkah yang didorong antara lain transisi dan penghematan energi, pelestarian hutan, advokasi kebijakan, pengelolaan sampah terpadu, pengurangan risiko bencana serta penguatan ketahanan pangan.
Dalam sesi diskusi, perwakilan Komunitas Pena Hijau turut menyampaikan pengalaman gerakan lingkungan di lapangan. Komunitas tersebut rutin melakukan kegiatan bersih-bersih sungai setiap pekan di sejumlah titik di Kabupaten Probolinggo.
Namun, gerakan membersihkan sungai dinilai tidak cukup jika tidak dibarengi dengan perubahan sistem dan perilaku masyarakat dalam jangka panjang.
Karena itu, perwakilan Pena Hijau mempertanyakan kebijakan konkret yang dapat didorong para tokoh perempuan agar gerakan kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti pada kegiatan bersih-bersih sungai, tetapi berkembang menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam menghadapi krisis iklim.
Pertanyaan tersebut sekaligus membawa pembahasan sarasehan pada persoalan yang lebih dekat dengan kondisi di lapangan: bagaimana kepedulian lingkungan yang selama ini tumbuh melalui gerakan masyarakat dapat diperkuat menjadi kebijakan dan gerakan bersama yang berkelanjutan.