Kunjungi Probolinggo, ini Kegiatan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah

Probolinggo, Berdampak.net – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M. Ed, mengadakan kunjungan perdananya di Kabupaten Probolinggo. Sabtu (17/01/2026).

Dalam lawatannya tersebut, ada tiga agenda yang dilakukan oleh Abdul Mu’ti di Kabupaten Probolinggo, pertama mengajak guru-guru dan para murid untuk senam ceria, Anak Indonesia Hebat di lapangan Paiton; kedua menghadiri Resepsi Milad ke 113 Muhammadiyah dan terakhir meresmikan 27 lembaga PAUD, SD, SMP, SMA, SMK dan SLB yang telah menyelesaikan pembangunannya 100℅ melalui program revitalisasi tahun 2025.

Senam Anak Indonesia Hebat dilaksanakan dilapangan Sukodadi Paiton dengan dihadiri ribuan siswa-siswa dan guru-guru se Kecamatan Paiton serta beberapa kepala OPD beserta jajarannya. Hadir juga dalam kesempatan tersebut bupati Probolinggo Gus Muhammad Haris.

Dalam sambutannya, Gus Haris sebagai Bupati Probolinggo menyampaikan Terima kasih kepada bapak Menteri Dikdasmen atas kunjungannya di Probolinggo ditengah padatnya kegiatan beliau sebagai Menteri.

Sementara itu, menteri Abdul Mu’ti, mengajak melaksanakan 7 kebiasaan baik agar menjadi anak yang hebat. Dalam kesempatan tersebut Prof Mu’ti juga mengajak siswa-siswi untuk mencegah terjadinya bulying di sekolah. Beliau juga sempat mengajak seluruh peserta senam menyanyikan lagu “Rukun Sama Teman” yang merupakan lagu ciptaannya sendiri. Semuanya tampak ceria dan saling berebut foto bersama dengan pak Menteri dan Bupati Gus Haris.

Yonif 1 Marinir Tuntaskan Tugas Pamtas RI–PNG Mobile Gobang III, Disambut Upacara Kehormatan di Surabaya

Surabaya, Berdampak.net – TNI AL, Dispen Kormar (Surabaya). Komandan Batalyon Infanteri 1 Marinir Letkol Marinir Siswanto, M.Tr.Opsla., bersama seluruh prajurit Yonif 1 Marinir berhasil menuntaskan tugas Pengamanan Perbatasan (Pamtas) Mobile RI–PNG Gobang III Tahun Anggaran 2025. Kepulangan para prajurit petarung ini disambut dengan upacara pengalungan bunga yang dipimpin Wakil Komandan Pasmar 2 Brigjen TNI (Mar) Arianto Beny Sarana, S.E., M.M., di Dermaga Semampir Ujung, Surabaya, Jawa Timur, Senin (5/1/2026).

Upacara penyambutan Satgas Pamtas Mobile RI–PNG Gobang III tersebut berlangsung khidmat dan penuh kebanggaan. Dalam kesempatan itu, Wadan Pasmar 2 menyampaikan amanat Komandan Pasmar 2 Mayjen TNI (Mar) Dr. Oni Junianto, S.A.P., M.M., M.Tr.Opsla., yang mengapresiasi keberhasilan prajurit Yonif 1 Marinir selama menjalankan tugas negara di wilayah perbatasan.

Komandan Pasmar 2 menyampaikan ucapan selamat atas keberhasilan Satgas Pamtas RI–PNG Mobile Gobang III yang telah menorehkan berbagai prestasi gemilang. Di antaranya, keberhasilan mengevakuasi korban guru dan tenaga kesehatan di Distrik Anggruk, Kabupaten Yahukimo, serta pelaksanaan operasi pengejaran di Kali Brazza yang menewaskan satu anggota OPM atas nama Ulis Lokon.

Selain itu, Satgas juga berhasil melumpuhkan satu anggota OPM atas nama Laki Magayang dalam Operasi Patroli Jalan Gunung, melaksanakan operasi perebutan titik kuat Delta, serta mengembalikan satu anggota OPM ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia atas nama Penias Heluka. Pada Operasi Kinetik 2.17 Jalan Gunung, Satgas kembali mencatatkan keberhasilan dengan menewaskan satu anggota OPM atas nama Lea Sobolim (Danyon Sisiba) serta mengamankan 13 pucuk senjata api beserta amunisi dan perlengkapan lainnya.

“Selamat datang kembali dan penghargaan setinggi-tingginya saya sampaikan atas keberhasilan kalian dalam melaksanakan tugas. Mudah-mudahan pengalaman berharga selama penugasan dapat menjadi bekal serta kontribusi positif bagi Korps Marinir,” tegas Mayjen TNI (Mar) Dr. Oni Junianto dalam amanatnya.

Sementara itu, Komandan Batalyon Infanteri 1 Marinir Letkol Marinir Siswanto, M.Tr.Opsla., menyampaikan rasa bangga dan apresiasi kepada seluruh prajurit Satgas Pamtas RI–PNG Mobile Yonif 1 Marinir. Ia berharap pengalaman yang diperoleh selama penugasan dapat menjadi modal penting bagi satuan dan Korps Marinir dalam menghadapi tugas-tugas ke depan.

“Atas nama Komandan Batalyon Infanteri 1 Marinir, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada seluruh personel Satgas yang telah melaksanakan tugas dengan penuh dedikasi, profesionalisme, dan tanggung jawab demi menjaga kehormatan TNI, bangsa, dan negara,” pungkasnya.

Jaga Tradisi penuh kehormatan dan kebanggaan Satuan usai Tunaikan Tugas

Sidoarjo, Berdampak.net – TNI AL, Dispen Kormar (Sidoarjo). Komandan Brigade Infanteri 2 Marinir (Brigif 2 Marinir) Kolonel Marinir Aang Andy Warta, M.Tr.Opsla., menyambut dengan hangat dan kebanggaan kepulangan seluruh prajurit petarung Yonif 1 Marinir usai menuntaskan tugas Pengamanan Perbatasan (Pamtas) Mobile RI–PNG Gobang III Tahun Anggaran 2025. Kegiatan penyambutan berlangsung di Lapangan Rencong Sakti Kesatrian Marinir R. Suhadi, Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (06/01/2026).

Kolonel Marinir Aang Andy Warta, M.Tr.Opsla., menyampaikan rasa bangga dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh personel Satgas Yonif 1 Marinir yang telah melaksanakan penugasan dengan penuh profesionalisme, disiplin, serta semangat juang tinggi. Keberhasilan dalam menjaga stabilitas keamanan wilayah perbatasan RI–PNG menjadi bukti nyata kesiapan prajurit Korps Marinir dalam mengemban setiap amanah yang diberikan.

Kegiatan penyambutan ini tidak hanya menjadi momentum kebersamaan, tetapi juga wujud perhatian pimpinan terhadap prajurit yang telah kembali dari penugasan. Diharapkan pengalaman dan keberhasilan selama melaksanakan Pamtas Mobile RI–PNG Gobang III TA 2025 dapat menjadi bekal berharga dalam mendukung pelaksanaan tugas-tugas selanjutnya di lingkungan Brigif 2 Marinir.

IKA UB Probolinggo Raya Gelar Musik Amal, Gotongroyong Bantu Korban Banjir di Tiris dan Krucil

Probolinggo, Berdampak.net – Bencana banjir tak hanya terjadi di Sumatera dan Aceh, tapi juga terjadi di Kabupaten Probolinggo, tepatnya di Kecamatan Tiris dan Kecamatan Krucil.

Hujan lebat yang mengguyur wilayah Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, pada Kamis (11/12/2025) sore, menyebabkan tiga desa terdampak banjir. Ketiga desa tersebut adalah Desa Andungbiru, Desa Tlogoargo, dan Desa Tiris.

Banjir kali ini cukup parah hingga menyebabkan tiga jembatan penghubung antar desa putus diterjang arus deras, juga ada 50 keluarga yang terdampak, dan banyak infrastruktur yang rusak.

Kepedulian untuk membantu korban bencana di Tiris dan Krucil menggema dari Kota Probolinggo. Pada hari Kamis, 18 Desember 2025, IKA-UB Probolinggo Raya menginisiasi panggung Musik Amal bertajuk “Sound of Humanity”, sebuah gerakan kemanusiaan yang digagas secara sukarela demi membantu pemulihan pascabencana di Tiris dan Krucil.

Ketua Umum IKA-UB Probolinggo Raya, Tri Septa Agung Pamungkas, mengatakan panggung musik amal ini menjadi bagian dari upaya penggalangan dana sekaligus komitmen kepedulian IKA-UB Probolinggo terhadap korban bencana banjir di Tiris dan Krucil.

“Konsep musik amal ini tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga medium solidaritas kemanusiaan. Kami mengucapkan terimakasih kepada pemerintah Kota Probolinggo, Walikota Probolinggo Bapak Dokter Aminudi, Kepala Dispopar Parekraf Bapak Abas, serta seluruh keluarga besar IKA-UB di Probolinggo Raya,” ujarnya.

Gerakan kemanusiaan ini menekankan bahwa meski bantuan yang diberikan mungkin tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan korban, ini adalah bentuk semangat gotongroyong alumni Universitas Brawijaya yang ada di Probolinggo Raya untuk meringankan penderitaan masyarakat yang terdampak banjir di Tiris dan Krucil.

Ketua IKA-UB Probolinggo juga menghimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di musim penghujan yang berpotensi memicu bencana lanjutan. “Kami menghimbau warga agar tetap waspada terhadap potensi bencana seperti banjir dan tanah longsor, khususnya saat curah hujan tinggi,” tambahnya.

Membaca Ulang Banjir dan Longsor: Edukasi Risiko dan Etika Mitigasi


Oleh Ainur Rofiq, S.P, M.Ling.

Banjir dan tanah longsor kerap dipersepsikan sebagai peristiwa alam yang datang tiba-tiba dan sulit dihindari. Pandangan ini tidak sepenuhnya keliru, tetapi juga tidak utuh. Dalam perspektif kebencanaan modern, bencana dipahami sebagai hasil interaksi antara bahaya alam, kerentanan sosial, dan kapasitas manusia dalam mengelola lingkungan. Indonesia memang rawan bencana, tetapi besarnya dampak banjir dan longsor sangat ditentukan oleh pilihan pembangunan, perilaku masyarakat, serta kualitas kebijakan daerah.
Laporan Sixth Assessment Report IPCC menegaskan bahwa perubahan iklim meningkatkan intensitas hujan ekstrem, namun risiko bencana sesungguhnya dibentuk oleh tata ruang, pengelolaan lingkungan, dan kesiapsiagaan sosial. Dengan kata lain, banjir dan longsor adalah cermin relasi manusia dengan ruang hidupnya.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa banjir dan longsor tidak lahir secara tiba-tiba. Ia merupakan akumulasi dari degradasi daerah aliran sungai, alih fungsi lahan, kepadatan permukiman, buruknya sistem drainase, serta rendahnya kesadaran lingkungan. Karena itu, memahami unsur penyebab bencana menjadi fondasi utama mitigasi.
Edukasi kebencanaan di Indonesia perlu bergerak dari sosialisasi normatif menuju thematic disaster education, yakni pendidikan kebencanaan yang kontekstual, berbasis risiko lokal, dan berorientasi pada manajemen risiko serta mitigasi. Wisner dkk. menegaskan bahwa kerentanan sosial bukan kondisi alamiah, melainkan konstruksi sosial yang dapat dikurangi melalui pendidikan dan penguatan kapasitas masyarakat (Wisner et al., 2004).
Selain itu, edukasi kebencanaan tematik harus dipahami sebagai bagian dari proses pembangunan jangka panjang, bukan sekadar respons insidental pascabencana. Pendidikan risiko yang efektif menuntut keterhubungan antara pengetahuan ilmiah, pengalaman lokal, dan praktik keseharian masyarakat. Tanpa integrasi ini, sosialisasi kebencanaan hanya berhenti pada transfer informasi, tidak menjelma menjadi perubahan perilaku. Berbagai studi pengurangan risiko bencana menunjukkan bahwa masyarakat yang memahami hubungan antara aktivitas sehari-hari seperti cara mengelola lahan, sampah, dan ruang permukiman dengan risiko banjir dan longsor cenderung lebih adaptif dan siap menghadapi bencana, sehingga kerugian sosial dan ekonomi dapat ditekan secara signifikan.

Pentahelix Mitigasi Bencana: Lima Aktor, Satu Sistem
Manajemen mitigasi bencana tidak dapat dibebankan pada satu aktor. Pendekatan pentahelix menjadi kunci dengan melibatkan lima komponen utama.
Pertama, pemerintah, sebagai regulator dan penjamin kebijakan berbasis risiko, mulai dari tata ruang hingga pengawasan infrastruktur. Kedua, akademisi, sebagai penyedia basis ilmiah, pemetaan kerawanan, dan rekomendasi teknokratis. Ketiga, dunia usaha, yang wajib memastikan aktivitas pembangunan tidak melampaui daya dukung lingkungan. Keempat, masyarakat dan komunitas lokal, sebagai aktor terdepan penjaga ruang hidup. Kelima, media, yang berperan memperluas literasi kebencanaan dan mengawasi kebijakan publik.
Shaw dan Izumi (2014) menegaskan bahwa ketangguhan masyarakat dibangun melalui kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah lokal, komunitas, akademisi, dan sektor non-pemerintah. Dalam kerangka community-based disaster risk management, masyarakat diposisikan sebagai aktor utama yang memiliki pengetahuan lokal dan kapasitas adaptif. Kolaborasi ini memungkinkan integrasi pengetahuan ilmiah dan kearifan lokal, memperkuat kepercayaan publik, serta memastikan strategi mitigasi selaras dengan konteks sosial, budaya, dan ekologis setempat, sehingga mitigasi bencana menjadi bagian dari praktik hidup sehari-hari.
Daya Tampung dan Daya Dukung antara Desa dan Kota Tidak Sama
Kesalahan umum dalam mitigasi bencana adalah menyamaratakan pendekatan antara wilayah perdesaan dan perkotaan. Padahal, daya tampung dan daya dukung lingkungan keduanya sangat berbeda. Di wilayah perdesaan, mitigasi banjir dan longsor harus menekankan konservasi tanah dan air, perlindungan lereng, pengelolaan hulu DAS, serta praktik pertanian ramah lingkungan. Petley (2012) menunjukkan bahwa meningkatnya longsor fatal di negara berkembang berkorelasi kuat dengan degradasi lereng dan lemahnya pengendalian pemanfaatan lahan.
Sementara di wilayah perkotaan, persoalan utama terletak pada daya tampung lingkungan yang telah terlampaui. Kepadatan bangunan, berkurangnya ruang terbuka hijau, dan saluran drainase yang tersumbat menjadikan hujan biasa berubah menjadi banjir. Edukasi kebencanaan di kota harus menekankan disiplin tata ruang, pengelolaan drainase, dan perubahan perilaku masyarakat urban.
Sampah dan Ekonomi Sirkular Untuk Mengubah Cara Pandang
Selama ini, sampah sering diposisikan secara simplistis sebagai “penyebab banjir”. Pendekatan ini tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah pengenalan ekonomi sirkular sebagai kerangka pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Geissdoerfer dkk. (2017) menegaskan bahwa ekonomi sirkular bertujuan menjaga material tetap berada dalam siklus penggunaan selama mungkin sehingga mengurangi tekanan lingkungan.
Edukasi publik perlu melampaui larangan membuang sampah sembarangan. Masyarakat harus diajarkan praktik konkret: memungut sampah di sekitarnya dan mengembalikannya ke “habitatnya”, yakni tempat sampah dan sistem pengelolaan yang benar. Di titik ini, mitigasi banjir bertemu dengan pendidikan etika ekologis.
Revitalisasi Perkotaan dan Etika Infrastruktur
Mitigasi bencana juga harus hadir dalam detail teknis pembangunan. Pemasangan culvert box dan saluran tertutup kerap menjadi ironi mitigasi perkotaan. Tanpa pengawasan ketat, saluran justru terisi material sisa bangunan berupa pasir, semen, dan puing yang mengurangi kapasitas aliran air.
Secara teknokratis, revitalisasi perkotaan harus disertai standar operasional yang tegas: pembersihan total saluran sebelum penutupan bagian atas serta monitoring ketat oleh pengawas teknis dan pemerintah daerah. Infrastruktur mitigasi yang dibangun tanpa disiplin justru menciptakan risiko baru di masa depan.
Maka Banjir dan longsor bukan semata persoalan alam, melainkan persoalan tata kelola. Edukasi kebencanaan tematik, kolaborasi pentahelix, penghormatan terhadap daya dukung lingkungan, penerapan ekonomi sirkular, dan etika pembangunan infrastruktur adalah fondasi menuju Indonesia yang lebih tangguh bencana. Seperti diingatkan IPCC (Intergivernmental Panel on Climate Change), risiko bencana masa depan tidak ditentukan oleh alam semata, melainkan oleh keputusan manusia hari ini.
(Penulis adalah pemerhati kebijakan publik)

100 Abang Becak Probolinggo Dapat “Hadiah ” dari Prabowo: Becak Listrik Gratis!

Probolinggo, Berdampak.net – Sebanyak 100 abang becak se-Kabupaten Probolinggo tersenyum lebar setelah menerima bantuan becak listrik gratis dari Presiden Prabowo Subianto. Penyerahan berlangsung meriah di Lapangan Universitas Nurul Jadid (Unuja) Paiton, Senin (15/12/2025), dihadiri Wakil Bupati Probolinggo Fahmi AHZ dan deretan pejabat penting.

Kegiatan ini diramaikan kehadiran Direktur Perencanaan dan Pengembangan Usaha Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN) Mayjen TNI (Purn) Firman Dahlan beserta istri, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nurul Jadid Faiz AHZ, Koordinator Becak Listrik Indonesia Dimas Ramdhana Prasetya, anggota DPRD Firdaus Amin AG, serta Asisten Perekonomian M. Sjaiful Efendi. Prosesi ditandai penandatanganan berita acara serah terima oleh Firman Dahlan dengan perwakilan abang becak, disaksikan Wabup Fahmi AHZ. Dilanjutkan penyerahan simbolis kunci becak listrik, becak tiruan, dan paket sembako kepada para penerima.

Mayjen TNI (Purn) Firman Dahlan program tekanan ini sebagai wujud kepedulian Presiden Prabowo terhadap masyarakat kecil. “Becak listrik ini diberikan secara gratis tanpa dipungut biaya apa pun. Ini adalah wujud perhatian pemerintah kepada para pengemudi becak agar tetap bisa bekerja dengan lebih aman, nyaman dan produktif, terutama bagi bapak-bapak yang usianya sudah lanjut,” ujarnya. Ia menambahkan, “Kami berharap becak listrik ini dapat membantu meningkatkan penghasilan yang halal bagi keluarga, sekaligus menjadi bukti bahwa negara hadir dan terus mendukung masyarakat agar tetap berdaya meskipun di tengah keterbatasan usia dan kondisi.”

Wakil Bupati Fahmi AHZ menyampaikan terima kasih sedalam-dalamnya atas kepercayaan Presiden. “Alhamdulillah, pada kesempatan yang berbahagia ini kami mewakili Bupati dan seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Probolinggo mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Bapak Presiden Republik Indonesia Bapak Prabowo Subianto yang melalui Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional telah mempercayakan bantuan sebanyak 100 unit becak listrik kepada masyarakat Kabupaten Probolinggo dan semuanya diterima secara gratis,” katanya. Fahmi menilai bantuan ini sebagai investasi sosial-ekonomi. “Kami berharap becak ini dirawat dengan baik dan dilakukan perawatan secara berkala.Pemerintah Kabupaten Probolinggo menyambut dengan baik dan siap mendukung program ini agar benar-benar memberikan manfaat nyata bagi peningkatan perekonomian masyarakat,” tutupnya.

Becak listrik ini diharapkan meringankan beban fisik abang becak konvensional, meningkatkan pendapatan, dan mendukung transportasi ramah lingkungan. Program nasional ini simbol menjadi semangat pantang menyerah, sekaligus bukti negara peduli pada pekerja informal usia lanjut. Pemkab Probolinggo siap meredam perawatan agar manfaatnya berkelanjutan bagi ekosistem transportasi lokal.