Membaca Ulang Banjir dan Longsor: Edukasi Risiko dan Etika Mitigasi


Oleh Ainur Rofiq, S.P, M.Ling.

Banjir dan tanah longsor kerap dipersepsikan sebagai peristiwa alam yang datang tiba-tiba dan sulit dihindari. Pandangan ini tidak sepenuhnya keliru, tetapi juga tidak utuh. Dalam perspektif kebencanaan modern, bencana dipahami sebagai hasil interaksi antara bahaya alam, kerentanan sosial, dan kapasitas manusia dalam mengelola lingkungan. Indonesia memang rawan bencana, tetapi besarnya dampak banjir dan longsor sangat ditentukan oleh pilihan pembangunan, perilaku masyarakat, serta kualitas kebijakan daerah.
Laporan Sixth Assessment Report IPCC menegaskan bahwa perubahan iklim meningkatkan intensitas hujan ekstrem, namun risiko bencana sesungguhnya dibentuk oleh tata ruang, pengelolaan lingkungan, dan kesiapsiagaan sosial. Dengan kata lain, banjir dan longsor adalah cermin relasi manusia dengan ruang hidupnya.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa banjir dan longsor tidak lahir secara tiba-tiba. Ia merupakan akumulasi dari degradasi daerah aliran sungai, alih fungsi lahan, kepadatan permukiman, buruknya sistem drainase, serta rendahnya kesadaran lingkungan. Karena itu, memahami unsur penyebab bencana menjadi fondasi utama mitigasi.
Edukasi kebencanaan di Indonesia perlu bergerak dari sosialisasi normatif menuju thematic disaster education, yakni pendidikan kebencanaan yang kontekstual, berbasis risiko lokal, dan berorientasi pada manajemen risiko serta mitigasi. Wisner dkk. menegaskan bahwa kerentanan sosial bukan kondisi alamiah, melainkan konstruksi sosial yang dapat dikurangi melalui pendidikan dan penguatan kapasitas masyarakat (Wisner et al., 2004).
Selain itu, edukasi kebencanaan tematik harus dipahami sebagai bagian dari proses pembangunan jangka panjang, bukan sekadar respons insidental pascabencana. Pendidikan risiko yang efektif menuntut keterhubungan antara pengetahuan ilmiah, pengalaman lokal, dan praktik keseharian masyarakat. Tanpa integrasi ini, sosialisasi kebencanaan hanya berhenti pada transfer informasi, tidak menjelma menjadi perubahan perilaku. Berbagai studi pengurangan risiko bencana menunjukkan bahwa masyarakat yang memahami hubungan antara aktivitas sehari-hari seperti cara mengelola lahan, sampah, dan ruang permukiman dengan risiko banjir dan longsor cenderung lebih adaptif dan siap menghadapi bencana, sehingga kerugian sosial dan ekonomi dapat ditekan secara signifikan.

Pentahelix Mitigasi Bencana: Lima Aktor, Satu Sistem
Manajemen mitigasi bencana tidak dapat dibebankan pada satu aktor. Pendekatan pentahelix menjadi kunci dengan melibatkan lima komponen utama.
Pertama, pemerintah, sebagai regulator dan penjamin kebijakan berbasis risiko, mulai dari tata ruang hingga pengawasan infrastruktur. Kedua, akademisi, sebagai penyedia basis ilmiah, pemetaan kerawanan, dan rekomendasi teknokratis. Ketiga, dunia usaha, yang wajib memastikan aktivitas pembangunan tidak melampaui daya dukung lingkungan. Keempat, masyarakat dan komunitas lokal, sebagai aktor terdepan penjaga ruang hidup. Kelima, media, yang berperan memperluas literasi kebencanaan dan mengawasi kebijakan publik.
Shaw dan Izumi (2014) menegaskan bahwa ketangguhan masyarakat dibangun melalui kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah lokal, komunitas, akademisi, dan sektor non-pemerintah. Dalam kerangka community-based disaster risk management, masyarakat diposisikan sebagai aktor utama yang memiliki pengetahuan lokal dan kapasitas adaptif. Kolaborasi ini memungkinkan integrasi pengetahuan ilmiah dan kearifan lokal, memperkuat kepercayaan publik, serta memastikan strategi mitigasi selaras dengan konteks sosial, budaya, dan ekologis setempat, sehingga mitigasi bencana menjadi bagian dari praktik hidup sehari-hari.
Daya Tampung dan Daya Dukung antara Desa dan Kota Tidak Sama
Kesalahan umum dalam mitigasi bencana adalah menyamaratakan pendekatan antara wilayah perdesaan dan perkotaan. Padahal, daya tampung dan daya dukung lingkungan keduanya sangat berbeda. Di wilayah perdesaan, mitigasi banjir dan longsor harus menekankan konservasi tanah dan air, perlindungan lereng, pengelolaan hulu DAS, serta praktik pertanian ramah lingkungan. Petley (2012) menunjukkan bahwa meningkatnya longsor fatal di negara berkembang berkorelasi kuat dengan degradasi lereng dan lemahnya pengendalian pemanfaatan lahan.
Sementara di wilayah perkotaan, persoalan utama terletak pada daya tampung lingkungan yang telah terlampaui. Kepadatan bangunan, berkurangnya ruang terbuka hijau, dan saluran drainase yang tersumbat menjadikan hujan biasa berubah menjadi banjir. Edukasi kebencanaan di kota harus menekankan disiplin tata ruang, pengelolaan drainase, dan perubahan perilaku masyarakat urban.
Sampah dan Ekonomi Sirkular Untuk Mengubah Cara Pandang
Selama ini, sampah sering diposisikan secara simplistis sebagai “penyebab banjir”. Pendekatan ini tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah pengenalan ekonomi sirkular sebagai kerangka pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Geissdoerfer dkk. (2017) menegaskan bahwa ekonomi sirkular bertujuan menjaga material tetap berada dalam siklus penggunaan selama mungkin sehingga mengurangi tekanan lingkungan.
Edukasi publik perlu melampaui larangan membuang sampah sembarangan. Masyarakat harus diajarkan praktik konkret: memungut sampah di sekitarnya dan mengembalikannya ke “habitatnya”, yakni tempat sampah dan sistem pengelolaan yang benar. Di titik ini, mitigasi banjir bertemu dengan pendidikan etika ekologis.
Revitalisasi Perkotaan dan Etika Infrastruktur
Mitigasi bencana juga harus hadir dalam detail teknis pembangunan. Pemasangan culvert box dan saluran tertutup kerap menjadi ironi mitigasi perkotaan. Tanpa pengawasan ketat, saluran justru terisi material sisa bangunan berupa pasir, semen, dan puing yang mengurangi kapasitas aliran air.
Secara teknokratis, revitalisasi perkotaan harus disertai standar operasional yang tegas: pembersihan total saluran sebelum penutupan bagian atas serta monitoring ketat oleh pengawas teknis dan pemerintah daerah. Infrastruktur mitigasi yang dibangun tanpa disiplin justru menciptakan risiko baru di masa depan.
Maka Banjir dan longsor bukan semata persoalan alam, melainkan persoalan tata kelola. Edukasi kebencanaan tematik, kolaborasi pentahelix, penghormatan terhadap daya dukung lingkungan, penerapan ekonomi sirkular, dan etika pembangunan infrastruktur adalah fondasi menuju Indonesia yang lebih tangguh bencana. Seperti diingatkan IPCC (Intergivernmental Panel on Climate Change), risiko bencana masa depan tidak ditentukan oleh alam semata, melainkan oleh keputusan manusia hari ini.
(Penulis adalah pemerhati kebijakan publik)

100 Abang Becak Probolinggo Dapat “Hadiah ” dari Prabowo: Becak Listrik Gratis!

Probolinggo, Berdampak.net – Sebanyak 100 abang becak se-Kabupaten Probolinggo tersenyum lebar setelah menerima bantuan becak listrik gratis dari Presiden Prabowo Subianto. Penyerahan berlangsung meriah di Lapangan Universitas Nurul Jadid (Unuja) Paiton, Senin (15/12/2025), dihadiri Wakil Bupati Probolinggo Fahmi AHZ dan deretan pejabat penting.

Kegiatan ini diramaikan kehadiran Direktur Perencanaan dan Pengembangan Usaha Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN) Mayjen TNI (Purn) Firman Dahlan beserta istri, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nurul Jadid Faiz AHZ, Koordinator Becak Listrik Indonesia Dimas Ramdhana Prasetya, anggota DPRD Firdaus Amin AG, serta Asisten Perekonomian M. Sjaiful Efendi. Prosesi ditandai penandatanganan berita acara serah terima oleh Firman Dahlan dengan perwakilan abang becak, disaksikan Wabup Fahmi AHZ. Dilanjutkan penyerahan simbolis kunci becak listrik, becak tiruan, dan paket sembako kepada para penerima.

Mayjen TNI (Purn) Firman Dahlan program tekanan ini sebagai wujud kepedulian Presiden Prabowo terhadap masyarakat kecil. “Becak listrik ini diberikan secara gratis tanpa dipungut biaya apa pun. Ini adalah wujud perhatian pemerintah kepada para pengemudi becak agar tetap bisa bekerja dengan lebih aman, nyaman dan produktif, terutama bagi bapak-bapak yang usianya sudah lanjut,” ujarnya. Ia menambahkan, “Kami berharap becak listrik ini dapat membantu meningkatkan penghasilan yang halal bagi keluarga, sekaligus menjadi bukti bahwa negara hadir dan terus mendukung masyarakat agar tetap berdaya meskipun di tengah keterbatasan usia dan kondisi.”

Wakil Bupati Fahmi AHZ menyampaikan terima kasih sedalam-dalamnya atas kepercayaan Presiden. “Alhamdulillah, pada kesempatan yang berbahagia ini kami mewakili Bupati dan seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Probolinggo mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Bapak Presiden Republik Indonesia Bapak Prabowo Subianto yang melalui Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional telah mempercayakan bantuan sebanyak 100 unit becak listrik kepada masyarakat Kabupaten Probolinggo dan semuanya diterima secara gratis,” katanya. Fahmi menilai bantuan ini sebagai investasi sosial-ekonomi. “Kami berharap becak ini dirawat dengan baik dan dilakukan perawatan secara berkala.Pemerintah Kabupaten Probolinggo menyambut dengan baik dan siap mendukung program ini agar benar-benar memberikan manfaat nyata bagi peningkatan perekonomian masyarakat,” tutupnya.

Becak listrik ini diharapkan meringankan beban fisik abang becak konvensional, meningkatkan pendapatan, dan mendukung transportasi ramah lingkungan. Program nasional ini simbol menjadi semangat pantang menyerah, sekaligus bukti negara peduli pada pekerja informal usia lanjut. Pemkab Probolinggo siap meredam perawatan agar manfaatnya berkelanjutan bagi ekosistem transportasi lokal.

Komandan DINIPAM 2 Marinie Berikan Apresiasi kepada Atlet Berprestasi

Surabaya, Berdampak.net – TNI AL, Dispen Kormar (Surabaya). Komandan Detasemen Intai Para Amfibi 2 Marinir (Denipam 2 Mar) Kolonel Marinir Mohamad Abdillah, M.Tr.Opsla memberikan apresiasi kepada Prajurit dan Putra Putri prajurit Denipam 2 Mar yang mengukir prestasi membanggakan pada ajang Kejuaraan Nasional OWF dan OBA bertempat di lapangan apel Denipam 2 Mar, Karangpilang, Surabaya. Selasa (16 /12/2025).

Apresiasi tersebut diberikan kepada prajurit Denipam 2 Mar yang berprestasi, yaitu Praka Mar (Iam) Adrian Tulehu Tuankota, meraih Medali Emas 5-Point Course Putra (Senior) dan Medali Perunggu OBA M Course Putra (Senior), dan Kopda Mar (Iam) Eko Sujiono, meraih medali perunggu 5-Point Course Putra (Senior) dan Medali Perak OBA M Course Putra (Senior). Selain itu, apresiasi juga diberikan kepada Putri dari Sertu Mar (Iam) Ariyati Candra, yaitu Cherryl Fanisa Octaviani, meraih Medali Emas OBA Five Point Course Putri (Senior) dan medali Perunggu OBA M Course Putri (Senior) dan Affifah Ayu Chellya, meraih Medali Emas Open water fins Swimming 500 M KU C dan Medali PerakOpen water fins Swimming 1000 M.

Pemberian apresiasi tersebut adalah sebagai bentuk ucapan terimakasih dari Denipam 2 Mar kepada para atlet yang telah mengharumkan nama Denipam 2 Mar sekaligus sebagai motivasi kepada para prajurit Denipam 2 Mar yang lain.

Dalam kesempatan tersebut, Denipam 2 Mar menyampaikan ucapan terima kasih kepada para atlet Denipam 2 Mar yang telah membawa nama besar Denipam 2 Mar di kancah Nasional maupun Internasional.

‘Semoga kegiatan ini mampu menumbuhkan semangat untuk prajurit yang lain agar bisa memaksimalkan kemampuannya demi kemajuan Denipam 2 Mar,” ujarnya.

Rehabilitasi Fisik Museum Tengger Hampir Rampung

Probolinggo, Berdampak.net – Proses rehabilitasi Gedung Museum sebagai tindaklanjut hasil FGD bersama Tim Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur tanggal 30 Oktober 2025 yang lalu hampir rampung.
Rehabilitasi fisik gedung tersebut menggunakan sumber dana dari APBN melalui Kementerian Kebudayaan RI.
Ada 2 kegiatan dalam Revitalisasi Museum Tengger tersebut.

  1. Rehabilitasi Fisik Interior bangunan, antara lain, pembuatan tangga, pengecatan dan Interior serta pavingisasi halaman.
  2. Storyline Museum, melalui penataan dan desain ulang isi museum agar memudahkan pengunjung dalam memahami tentang budaya Tengger.
    Kedua kegiatan tersebut semuanya di suport oleh APBN.
    Arief Hermawan CM selalu Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Probolinggo memberikan apresiasi kepada Kementerian Kebudayaan RI, Museum Nasional dan BPK Wilayah XI Jawa Timur atas suport yang telah diberikan kepada Museum Tengger Probolinggo, sehingga nantinya museum tersebut Rumah Budaya Tengger sekaligus Etalase bagi Wisatawan yang berkunjung ke Bromo.
    Sebelum wisatawan berkunjung ke Bromo diharapkan para wisatawan mengunjungi Museum Tengger agar mengenal lebih dekat tentang adat istiadat dan budaya Tengger.
Sinergi Dinas DKP3 dan IKA-UB Probolinggo: Talkshow Pesta Mangga 2025 Lahirkan Banyak Terobosan Baru

Probolinggo, Berdampak.net – Rangkaian Pesta Mangga Kota Probolinggo 2025 semakin semarak dengan hadirnya talkshow bertema “Mangga Kota Probolinggo, Identitas yang Terus Menyala” pada Minggu (23/11) malam.

Diskusi berlangsung menarik, berbobot dan kaya akan gagasan, membahas strategi mempertahankan serta menguatkan branding Probolinggo sebagai Kota Mangga.

Beragam pertanyaan masyarakat mengemuka terkait masa depan mangga Kota Probolinggo.

Sebagai respons, Pemerintah Kota Probolinggo melalui Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKPPP) menegaskan komitmen mengembalikan kejayaan mangga sebagai identitas kota, berdampingan dengan komoditas anggur.

Kepala DKPPP, Fitriawati Jufri, mengakui adanya tantangan besar, terutama berkurangnya lahan produktif untuk kebun mangga.

“Luas lahan kebun mangga semakin berkurang, yang produktif hanya separuh. Karena itu, dibutuhkan pemikiran bersama untuk mengembalikan branding Kota Mangga. Semoga muncul ide kreatif yang bisa menjadi bekal meningkatkan produksi,” ujarnya.

Pj Sekda Kota Probolinggo, Rey Suwigtyo, yang turut menjadi narasumber, menyampaikan bahwa pemerintah telah berupaya memperkuat branding mangga dan anggur melalui regulasi berupa peraturan daerah.

Namun intervensi tambahan diperlukan untuk menjaga agar potensi mangga arum manis dan manalagi tidak diklaim daerah lain.

“Kami akan membuat regulasi yang memungkinkan, seperti satu warga menanam mangga dan anggur di rumah masing-masing. Pemerintah juga akan memberikan subsidi bibit, pendampingan dari penanaman hingga pengembangan, serta dukungan bagi warga pemilik kebun mangga dan anggur,” jelas Tiyok, sapaan akrabnya.

Tiyok juga menyoroti pentingnya aspek budaya dalam pengembangan olahan mangga. Ia mendorong revitalisasi kuliner tradisional berbahan mangga.

“Dulu ketan mangga jadi suguhan di rumah-rumah, tapi sekarang sudah jarang. Mari kita angkat kembali budaya itu,” ujarnya.

Sementara itu, intelektual muda sekaligus Ketua Ikatan Alumni Universitas Brawijaya (IKA-UB) Probolinggo Raya, Tri Septa Agung Pamungkas, mendukung Pesta Mangga sebagai agenda kalender rutin tahunan.

Ia menilai event-event di Kota Probolinggo perlu diperkaya dengan unsur edutainment, menggabungkan unsur entertainment dan edukasi. Talkshow malam itu menjadi langkah awal yang tepat. Ke depan perlu disusul event-event lanjutan tentang Pertanian, Ketahanan Pangan dan Mangga Kota Probolinggo.

Menurutnya, meski Probolinggo dikenal sebagai Kota Mangga, kenyataan di lapangan belum benar-benar mencerminkan identitas tersebut.

“Mangga Probolinggo memiliki diferensiasi keunikan yang dipengaruhi kondisi alam strategis. Ada pengaruh angin gending yang membantu penyerbukan pohon Mangga, pengaruh abu vulkanis dari gunung Bromo dan pegunungan yang menyuburkan tanah, serta pengaruh letak di kawasan pesisir yang menjadikan cita rasa Mangga-nya khas,” ujar Tri Septa Agung.

Ia juga menyoroti pentingnya membuat road-map pertanian, pusat kajian inovasi pertanian, dan wisata edukasi pertanian yang estetik. (fj)

Kajati Jatim Resmi Jadi Anggota Kehormatan Kavaleri, Tegaskan Komitmen Sinergitas bersama Pasmar 2 di Jawa Timur

Surabaya, Berdampak.net – Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, Dr. Kuntadi, S.H., M.H., menerima Brevet Kehormatan Kavaleri Korps Marinir yang disematkan langsung oleh Komandan Pasukan Marinir 2 (Danpasmar 2) Mayjen TNI (Mar) Dr. Oni Junianto di Kesatrian Marinir Sutedi Senaputra Karang Pilang, Surabaya, Jawa Timur. Selasa (25/11/2025).

Kegiatan tersebut berlangsung dalam rangkaian agenda kunjungan kerja Kajati Jatim ke Pasukan Marinir 2 TNI AL sebagai bentuk penguatan hubungan kelembagaan yang selaras dan berkelanjutan.

Sebelum prosesi penyematan, Kajati Jatim bersama jajaran melaksanakan peninjauan pembekalan hukum bertema Penanganan Perkara Koneksitas, yang diselenggarakan oleh Pasmar 2. Setelah itu, rombongan diajak mengikuti facility tour dan merasakan langsung pengalaman mengemudikan kendaraan tempur BMP-3F.

Agenda kemudian berlanjut pada prosesi penyematan Brevet Kavaleri dan penyerahan piagam penghargaan oleh Danpasmar 2 kepada Kajati Jatim, Wakajati, para Asisten, Kabag TU, Kajari Surabaya, Kajari Tanjung Perak, Koordinator dan Pejabat Eselon IV.

Penyematan ini menandai disahkannya para penerima brevet sebagai anggota kehormatan Kavaleri Korps Marinir.

Dalam sambutannya, Kajati Jatim, Dr. Kuntadi, menyampaikan apresiasi atas penerimaan serta penghargaan yang diberikan oleh Pasmar 2. Ia menegaskan pentingnya membangun sinergitas yang produktif sebagai fondasi tercapainya keselarasan langkah dalam menjaga kedaulatan hukum serta pertahanan dan keamanan nasional.

Sebagai penutup kunjungan, Kajati Jatim dan jajaran berkesempatan mengikuti latihan menembak menggunakan senjata sniper. Latihan ini disambut antusias dan menjadi ruang untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan.

Keseluruhan agenda ini menjadi wujud nyata penguatan koordinasi dan sinergitas antara Kejati Jatim dan Pasmar 2, sekaligus membuka ruang kolaborasi yang semakin luas untuk mendukung pelaksanaan tugas penegakan hukum yang berintegritas serta kesiapsiagaan pertahanan negara secara profesional. (fj)