HIPKA Probolinggo Gelar Pertemuan Perdana, Tegaskan Komitmen Dorong Pengusaha KAHMI dan UMKM

Probolinggo, Berdampak.net – Rabu, 16 April 2025
Himpunan Pengusaha KAHMI (HIPKA) Probolinggo menggelar pertemuan perdana yang dipimpin langsung oleh Ketua HIPKA Probolinggo, Moh. Nur Kholis Muslim. Pertemuan ini menjadi langkah awal untuk memperkuat sinergi antaranggota sekaligus merumuskan arah perjuangan organisasi ke depan.

Dalam sambutannya, Nur Kholis Muslim menegaskan visi dan misi besar HIPKA Probolinggo, yang salah satunya adalah mendorong keberlanjutan para pengusaha dari kalangan KAHMI. “HIPKA harus menjadi wadah yang mendorong tumbuhnya wirausaha berkelanjutan, baik dari kalangan senior maupun kader muda,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti pentingnya perhatian terhadap pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayah Probolinggo. “Banyak pelaku UMKM yang perlu kita dukung dan dampingi secara konkret. HIPKA harus hadir untuk menjadi katalisator bagi kemajuan mereka,” tambahnya.

Menurut Nur Kholis, HIPKA bukan sekadar forum bisnis, melainkan wadah kolaboratif yang menjunjung tinggi semangat kebersamaan dan keberkahan. “Dengan berkumpul dan saling mendukung, insyaAllah akan ada keberkahan. HIPKA bekerja bersama, bukan sendiri-sendiri,” tegasnya.

Ia juga mendorong seluruh anggota untuk terus menjalin komunikasi intensif dan memperbanyak pertemuan, baik formal maupun informal, demi kemajuan bersama. “Mari kita saling bertemu, berdiskusi, dan eksekusi program-program yang relevan untuk kemajuan HIPKA Probolinggo,” ujarnya.

Pertemuan ini diharapkan menjadi titik awal yang produktif dalam membangun ekosistem wirausaha yang kuat di lingkungan KAHMI Probolinggo, serta memperkuat jejaring antar-pengusaha untuk menghadapi tantangan ekonomi ke depan.

Gus Chasbullah Kafabie dan Pemuda Jabung Sisir Paiton Bagikan Takjil ke Pengguna Jalan Pantura

Probolinggo, Berdampak.net – Dipenghujung Bulan Suci Ramadhan, Anggota DPRD Kabupaten Probolinggo, Gus Chasbullah Kafabie bersama dengan Pemuda Jabung Sisir membagikan takjil kepada pengendara yang melintas di Jalan Raya Pantura Desa Jabung Sisir Kecamatan Paiton, Sabtu (29/03/2025) sore.

Kegiatan yang bertajuk semangat berbagi ini merupakan bentuk kekompakan para kaum muda untuk berbagi dengan sesama di penghujung bulan Ramadhan.

“Ini merupakan bentuk tanggung jawab dan semangat kami para pemuda Jabung Sisir untuk terus melakukan kegiatan positif salah satunya berbagi dengan sesama,” jelas Muhammad Rasub, koordinator kegiatan.

Dengan menggelar kegiatan ini, diharapkan bisa meminimalisir kegiatan-kegiatan negatif yang dilakukan pemuda sehingga bisa menodai kesucian bulan Ramadhan.

“Takjil yang kami bagikan ini tidak seberapa, namun dampak yang kami harapkan bisa menekan kegiatan-kegiatan negatif yang dilakukan oleh pemuda terutama saat menunggu waktu berbuka puasa, seperti trek-trekan di jalan dan lain sebagainya,” ungkap Rasub.

Sementara itu, Gus Chasbullah Kafabie (Gus Has) mengungkapkan, pihaknya akan terus mendukung dan mensupport kegiatan kepemudaan yang bermuara kepada hal-hal yang positif.

“Ini merupakan salah satu contoh kegiatan pemuda yang baik, dan kami akan terus mensupport kegiatan-kegiatan baik lainnya yang dilakukan oleh teman-teman pemuda Kabupaten Probolinggo, terutama di Kecamatan Paiton, Kotaanyar dan Pakuniran,” ungkap Gus Has.

Hal itu merupakan komitmen dalam membangun generasi muda yang eksis unggul dan berdaya saing, sehingga diharapkan pemuda dapat berperan sebagai agen perubahan dalam berbagai bidang, seperti pembangunan, pemberdayaan masyarakat, dan pergerakan nasional.

“Kami akan terus berkolaborasi dengan kelompok-kelompok pemuda guna mencetak generasi yang eksis eksis unggul dan berdaya saing, berguna bagi Agama nusa dan Bangsa,” harapnya. (fiq) 

Puluhan Kader HMI Pimpin Sejumlah Daerah di Indonesia

Berdampak.net – Sedikitnya 60 alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sudah dilantik menjadi kepala atau wakil kepala daerah di berbagai wilayah Indonesia, setelah menang Pilkada 2024 kemarin.

Daftar ini menunjukkan bahwa kader HMI tidak hanya kompetitif, tetapi juga memiliki potensi untuk memenangkan hati rakyat. Mereka yang terpilih menjadi bukti keberlanjutan tradisi kepemimpinan, dari organisasi yang memiliki tujuan “Mewujudkan Masyarakat Adil Makmur yang Diridhoi Allah”.

Penyebaran Alumni HMI di Berbagai Wilayah

Alumni HMI yang berpotensi memimpin daerah tersebar dari Sabang hingga Merauke. Berdasarkan data dikutip dari Koranterkini.com, beberapa nama alumni HMI di antaranya bahkan telah dikenal luas atas kontribusi mereka, baik di bidang politik, pemerintahan, maupun masyarakat. Berikut adalah beberapa nama dalam daftar berikut ini:

1.Sigit Pamungkas – (Sragen)
2.Muslimin Tanja – (Tanjung Jabung Timur)
3.Bursah Zarnubi – (Lahat)
4.Yusuf Rio Prayogi (Situbondo)
5.Dokter Aminuddin (Probolinggo)
6.Dedi Mulyadi (Jawa Barat)
7.Gus Fawaid (Jember)
8.Adi Wibowo (Pasuruan)
9.Mudiyat Noor (Penajam Paser)
10.Najib Hamas (Serang)
11.Ammar Siraddjuddin (Tanggamus)
12.Amkasar Acham (Batam)
13.Zulkarnain Awat Amir (Maluku Tengah)
14.Joncik (Empat Lawang)
15.Abdul Wahid (Riau)
16.Nazib Hamas (Serang)
17.Saepul (Purwakarta)
18.Ramadhani Kirana (kota Solok)
19.Yusran Akbar (Konawe)
20.Anjas Thaher (Halmahera Timur)
21.Eman Suherman (Majalengka)
22.Tarmizi (Aceh Barat)
23.Amir Rumra (Tual)
24.Dokter Khairul (Tarakan)
25.Gusnar Ismail (Gorontalo)
26.Lahmudin Hambali (Bualemo)
27.Paisal (Dumai)
28.Sahabuddin (Bantaeng)
29.Fud Syaifuddin (Sumbawa Barat)
30.Selle Dalle (Soppeng)
31.Hugua (Sultra)
32.Reny Lamadjido (Sulteng)
33.Amir Hamzah (Lebak Banten)
34.Indah Amperawati (Lumajang)
35.dr.Mirna Anisa (Kendal)
36.Afiruddin Mathara (Buton Utara)
37.Abdul Rahman (Buton Utara)
38.Asri Arman (Seram Bagian Barat)
39.Ria Norsan (Kalbar)
40.Sukiryanto (Kubu Raya)
41.Edi Rusdi Kamtono (Pontianak)
42.Muh. Nasir (Lembata NTT)
43.Emil Elestianto Dardak (Jatim)
44.Najmul Ahyar (Lombok Utara NTB)
45.Azwar Hadi (Lampung timur)
46.Iskandar Kamaru (Bolaang Mongondow Selatan)
47.Sirajuddin Lasena (Bolaang Mongondow Utara)
48.Amiruddin (Banggai)
49.Baso Rahmanuddin (Wajo)
50.Safaruddin (Aceh Barat Daya)
51.Helmi Hasan (Bengkulu)
52.Hasan (Raja Ampat)
53.Risal Itjanae (Sigli)
54.Ilham Lawidu (Tojo Una Una)
55.Maulana (Jambi)
56.Tarmizi (Aceh Barat)
57.Putra Mahkota (Padang Lawas)
58.Setyo Wahono (Bojonegoro)
59.Oskar Pontoh (Bolaang Mangondow Timur)
60.Dedy Wahyudi (Bengkulu)

Warkop Phoenampungan

Berdampak.net – Ada warung kopi. Selain tempat seruput kopi dan mengolah biji-biji kopi, juga ruang “mengolah” kata. Sesuai dengan mottonya: “Mengolah seperlunya, minum kopi secukupnya, bersahabat selamanya.” Tulisannya cukup besar di pojok dinding dekat pintu masuk.

“Terus terang saya termasuk salahsatu korban mengolah kata-kata,” ungkap mas menteri Dito Ariotedjo tersenyum disambut riuh tawa pengunjung warkop saat memberikan sambutan launching openingnya, minggu (1/12) pagi.

Hadir juga Dzulfikar Ahmadi Tawalla, Wamen Perlindungan PMI, Sekjen Partai Golkar Sarmudji, anggota DPR Dhave Laksono, Nurdin Halid, anggota DPD Waris Halid, anggota DPR periode lalu Supriansa, Ustadz Das’ad Latif, Jubir JK Husain “Uceng” Abdullah, Ketua Gapensi A.Rukman Nurdin dan tamu lainnya.

Nama warung kopi itu: Phoenampungan. Lokasinya di pusat kota Jakarta. Jalan Wahid Hasyim dibagian timur, tak jauh dari bundaran Tugu Tani. Dari stasiun kereta komuter Gondangdia Menteng, saya jalan kaki 10 menit nyampe.

Dito menceritakan, suatu ketika sebulan sebelum pelantikan kabinet merah putih dirinya bertemu dengan sejumlah mantan aktivis mahasiswa dan pergerakan asal Makassar di sebuah café di Menteng Jakarta.

“Kalian gak nongkrong di Phoenam lagi”?” tanya mas menteri.

Phoenam adalah nama warkop legendaris asal Makassar di jalan Wahid Hasyim. Warga perantau atau diaspora asal Makassar dan Sulawesi Selatan di Jakarta sudah familiar dengan warkop cita rasa kopi dan roti kaya yang khas.

“Sudah tutup” jawab Risman Pasigai yang lagi bersama Abdul Razak “Acha” Said dan kawan-kawan.

“Gimana kalau kita buka kembali?” usul mas menteri spontan. Dito orang Jawa beristri orang Makassar. Mertuanya anda sudah tahu pemilik travel haji dan umroh Maktour.

Ibarat gayung bersambut. Tanpa basa-basi Risman dkk langsung menyodorkan proposal proses akuisisi yang sebenarnya sudah lama mereka rencanakan. Termasuk biaya sewa tempat lima tahun. Hanya terkendala dana.

Ups…mas menteri terkejut bercampur surprise. Barusan ia mengusulkan sudah ada proposalnya. Ia tak menyangka idenya direspon begitu cepat. Apalagi para koleganya sesama aktivis saat di AMPI dulu memaknai kata “kita” mas menteri sebagai kami, atau saya dan anda secara bersama-sama.

“Kami sengaja mengajak mas menteri ikut bersama mewujudkan impian itu. Kalau bukan mas menteri yang bantu siapa lagi?” kata mereka dengan wajah saromase. Istilah bahasa Bugis pandai mengambil hati orang lain.

Diam-diam Wamen Dzulfikar juga menyimpan kenangan unik “mengolah kata” ala warkop saat itu bernama Phoenam yang masih berlokasi di tempat yang lama. Masih di Jalan Wahid Hasyim. Samping kantor bank BCA. Ketika itu pertama kali ia injak warkop Phoenam Jakarta karena diajak Indar “Daeng Beta” Parawansa, almarhum suami Gubernur Jatim Khofifah.

“Kalau kita dipanggil kanda atau dinda, masih aman. Tapi kapan sudah disapa “Bosku” maka waspada (tagihan bill membengkak,red),” kelakarnya memecah riuh tawa pengunjung hari itu.

“Phoenampungan” merupakan penggabungan kata phoenam dan tampung. Merujuk makna tempat penampungan. Sengaja memakai ejaan “Phoenam” sekedar mengingatkan kembali kenangan warkop Phoenam sebelumnya di lokasi yang sama.

Menampung siapa? “Siapa saja yang transit. Disela-sela waktu urusan kerjaan dan bisnis, atau saudara kita dari Makassar yang berkunjung ke Jakarta,” kata Abdul Razak “Acha” Said, salahseorang inisiator dan owner warkop itu. Bahkan karena transit, lanjutnya, sudah terpikirkan untuk menyiapkan fasilitas tempat penitipan barang bagi mobilitas tamu pengunjungnya.

“Manajemen tata kelola warkop harus terjaga. Perbanyak menu tradisional. Dan sekaligus menjadi perekat warga diaspora Makassar di Jabodetabek,” saran Awaluddin, alumni Kelautan Unhas yang juga pelanggan lama Phoenam.

Nama “Phoenampungan” dipilih, menurut Acha, agar terasa welcome untuk siapa saja yang ada hubungan darah dengan Makassar atau Sulsel. Termasuk yang bersuami/beristri dari daerah yang sering dijuluki “negeri para pemberani” itu.

Warkop ini dirintis anak-anak muda perantauan: Risman Pasigai, Abdul Razak “Acha” Said, Ziaul Haq Coi, Rizky Maulana, Saudi Arabia Tahir, dan Thamrin Barubu. Dengan semangat kolektif, mereka membangun warkop ini bukan hanya sebagai usaha ekonomi, tetapi juga sebagai ruang berkumpulnya kaum muda untuk bertukar pikiran.

Bagi para pemuda aktivis dan pergerakan, warung kopi selalu memiliki makna lebih dalam. Ini bukan hanya tempat menyeruput kopi hitam, tetapi sebuah “rumah kedua” untuk mengurai benang kusut ide-ide besar. Disinilah gagasan revolusi, perubahan, atau bahkan inovasi kecil dalam bisnis kerap muncul di tengah diskusi ringan.

Model warkop anak-anak muda ini bukan lagi hanya tempat kongko. Maka itu. Tempatnya tidak lagi harus luas. Tidak harus seperti Starbucks. Yang memerlukan investasi besar.

Sebagai pendatang baru stok lama di bisnis perkopian Phoenampungan akan menemukan jalannya sendiri. ***(Rusman Madjulekka).

Zulfikar Arse Sadikin Hadiri Latihan Kader III HMI Jawa Timur, Tekankan Pentingnya Perkaderan

Surabaya, berdampak.net– Zulfikar Arse Sadikin turut hadir dalam Latihan Kader III (Advance Training) yang diselenggarakan oleh Badan Koordinasi (Badko) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jawa Timur. Dalam kesempatan tersebut, ia berbagi ilmu dan pengalaman dengan kader-kader HMI dari seluruh Indonesia.

Zulfikar menegaskan pentingnya komitmen terhadap perkaderan sebagai kunci eksistensi HMI di berbagai zaman. Ia juga mengungkapkan bahwa selama ada waktu dan kesempatan, dirinya selalu berusaha hadir di forum-forum training HMI, baik yang diselenggarakan oleh cabang maupun badan koordinasi.

“Forum inilah yang membuat HMI sebagai organisasi kader terus eksis dan relevan. Saya yakin komitmen terhadap perkaderan ini ada dalam setiap diri kader dan alumni HMI,” ujarnya.

Latihan Kader III ini diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Indonesia dan menjadi ajang penguatan kapasitas kepemimpinan serta pemahaman keislaman dan keindonesiaan bagi para kader HMI. Acara ini juga diharapkan dapat melahirkan pemimpin-pemimpin muda yang berintegritas dan berkontribusi bagi masyarakat. (fjr)

Gelar LK III, Badko HMI Jatim Soroti Pemangkasan Anggaran di Sektor Pendidikan

Surabaya, Berdampak.net – Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (Badko HMI) Jawa Timur gelar advance training (LK III), tingkat nasional, Jum’at (14/02) di gedung BPSDM Surabaya. Kegiatan digelar untuk menuntaskan tugas dan tanggungjawab pengurus HMI tingkat provinsi.

Turut hadir sejumlah pejabat tinggi tingkat nasional dan provinsi. Diantaranya Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN), dr Mohammad Taufik, Kasubditsosbud Intelkam Polda Jatim, AKBP Haryono, Asisten III Sekda Pemprov Jatim, Benny Sampirwanto Mewakili PJ Gubernur Jatim, Kepala Kesbangpol Edy Supriyanto. Kepala BPSDM Jatim, Ramliyanto, Presidium KAHMI Jatim.

Yusfan menyebut, HMI sepanjang sejarah menjadi bagian pengisi kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, hal tersebut sudah tertanam sejak HMI lahir. Mulai dari fase perjuangan, pembangunan hingga saat ini.

Menurut Yusfan, kader HMI harus peka terhadap perkembangan zaman. Menurutnya, jika hal itu tidak tercapai, maka akan sulit adaptasinya untuk meraih Indonesia emas 2045.

“Kalau kader HMI tidak peka terhadap perkembangan zaman, maka akan sulit untuk mencapai Indonesia emas 2045,” terangnya saat memberi sambutan.

Lebih lanjut, pada momentum itu Yusfan juga meminta pemerintah pusat untuk mempertimbangkan kembali pemotongan anggaran yang dilakukan oleh Presiden RI, Prabowo Subianto. Terutama dalam hal pendidikan, lanjut dia.

Menurutnya, jika hal itu tidak dipertimbangkan dengan baik, dikhawatirkan akan menjadi penyebab lambatnya kualitas pendidikan di Indonesia. Terutama beasiswa bagi mahasiswa yang tergolong tidak mampu.

“Saya meminta pemerintah pusat mempertimbangkan kembali pemotongan anggaran itu. Terutama alokasi anggaran untu pendidikan. Sebab, kita semua, para aktivis juga berangkat dari keluarga tidak mampu,” lanjutnya.

Oleh karena itu, lanjut Yusfan, kader HMI sebagai Mitra kritis dari pemerintah harus turut serta menyuarakan pemotongan anggaran tersebut. Sebab menurutnya, dampak dari pemotongan akan didasarkan di berbagai sektor. Terutama pendidikan.

“Kita sebagai mitra kritis, meminta agar pemerintah pusat mempertimbangkan kembali pemotongan tersebut,” pungkasnya. (fiq)