Pukau Peserta Upacara HSN 2026, 60 Personel Pagar Nusa Kota Probolinggo Tampilkan Jurus Kolosal, TEGUHKAN SEMANGAT PERJUANGAN SANTRI

PROBOLINGGO, Berdampak.net – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) Tahun 2026 di Kota Probolinggo berlangsung khidmat dan meriah. Usai pelaksanaan upacara yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Probolinggo pada Kamis, 22 Oktober 2026, di halaman Kantor Pemerintah Kota Probolinggo, suasana semakin semarak dengan penampilan seni kolosal pencak silat dari Tim Seni Pencak Silat Pagar Nusa Kota Probolinggo.

Mengusung judul “Gema Jurus Santri Nusantara”, penampilan tersebut melibatkan 60 personel yang menampilkan perpaduan gerakan pencak silat, kekompakan, kedisiplinan, dan semangat perjuangan. Pertunjukan ini tidak sekadar menjadi hiburan dalam rangkaian peringatan Hari Santri, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan warisan seni bela diri Nusantara yang tumbuh dan berkembang di lingkungan para ulama dan pesantren.

Pagar Nusa merupakan perguruan pencak silat di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) yang memiliki komitmen dalam melestarikan seni bela diri sekaligus menanamkan nilai-nilai keislaman, kebangsaan, persaudaraan, dan kedisiplinan kepada generasi muda.

Ketua Pagar Nusa Kota Probolinggo, Rudi Hermanto, menyampaikan bahwa penampilan kolosal tersebut menjadi momentum penting untuk mengenalkan kekayaan tradisi pencak silat yang diwariskan oleh para ulama Nusantara kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Melalui “Gema Jurus Santri Nusantara”, Pagar Nusa ingin menegaskan bahwa pencak silat bukan hanya seni bela diri, melainkan juga bagian dari identitas budaya bangsa yang sarat dengan nilai perjuangan, keberanian, pengabdian, dan tanggung jawab.

“Peringatan Hari Santri Nasional menjadi momentum untuk mengingat kembali perjuangan para santri dalam mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Santri sejak dahulu memiliki peran penting dalam perjuangan bangsa dan selalu berada di garda terdepan dalam mendampingi serta menjaga para kiai,” Jelas Rudi Hermanto.

Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober memiliki makna historis bagi perjalanan bangsa Indonesia. Tanggal tersebut merujuk pada Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945, yang membangkitkan semangat perjuangan umat Islam dan para santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Dalam konteks tersebut, penampilan Pagar Nusa menjadi pengingat bahwa semangat perjuangan santri tidak berhenti pada perjuangan fisik di masa lalu. Nilai-nilai tersebut perlu diteruskan melalui pengabdian kepada masyarakat, pelestarian kebudayaan, pembentukan karakter, serta kontribusi nyata dalam menjaga persatuan dan keutuhan bangsa.

Seni kolosal pencak silat juga memperlihatkan bahwa tradisi pesantren memiliki kekuatan untuk terus berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan akar sejarah dan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu.

Bagi generasi muda, pencak silat dapat menjadi ruang pembelajaran untuk membangun mental yang tangguh, menghormati guru dan orang tua, menjaga persaudaraan, serta mengembangkan sikap disiplin dan tanggung jawab.

Penampilan 60 personel Tim Seni Pencak Silat Pagar Nusa Kota Probolinggo dalam peringatan HSN 2026 menjadi simbol bahwa santri memiliki banyak cara untuk berkontribusi bagi bangsa. Melalui pendidikan, seni, budaya, olahraga, dan pengabdian sosial, santri dapat mengambil peran strategis dalam membangun Indonesia yang maju, berkarakter, dan bermartabat.

Momentum Hari Santri Nasional di Kota Probolinggo pun tidak hanya menjadi ajang mengenang sejarah perjuangan, tetapi juga kesempatan untuk meneguhkan komitmen bersama dalam merawat warisan ulama, memperkuat nasionalisme, serta membangun generasi muda yang berakar pada nilai-nilai agama dan kebangsaan.

Melalui “Gema Jurus Santri Nusantara”, Pagar Nusa Kota Probolinggo mengirimkan pesan bahwa santri bukan hanya pewaris tradisi, melainkan juga penjaga identitas bangsa dan penerus perjuangan para ulama dalam mengawal Indonesia menuju masa depan yang lebih baik.

Semangat Hari Santri Nasional 2026 menjadi pengingat bahwa menjaga negeri merupakan tanggung jawab bersama. Sebab, ketika tradisi dilestarikan, nilai perjuangan dihidupkan, dan persatuan dirawat, semangat santri akan terus bergema dari pesantren untuk Indonesia.

Kompak Bersarung, Bupati-Wabup Probolinggo dan PCNU Kraksaan Satukan Langkah di HSN 2026

Probolinggo, Berdampak.net – Ribuan santri dan masyarakat memeriahkan kegiatan Jalan Sehat Bersarung dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Minggu (18/10/2026). Kegiatan ini menjadi momentum mempererat kebersamaan sekaligus melestarikan identitas budaya pesantren.

Acara yang diinisiasi Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PCNU Kraksaan bekerja sama dengan Pondok Pesantren Raudlatul Jannah Klaseman tersebut berlangsung meriah dengan diikuti para santri dan masyarakat umum yang mengenakan sarung.

Bupati dan Wakil Bupati Probolinggo turut hadir bersama pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Jannah, Habib Ali Zainal Abidin bin Toha Ba’aqil. Kehadiran unsur pemerintah daerah dan tokoh pesantren mencerminkan sinergi antara ulama dan umara dalam mendukung kegiatan keagamaan serta sosial kemasyarakatan.

Pelepasan peserta ditandai dengan pengibaran bendera start oleh pimpinan daerah bersama pengasuh pesantren, diiringi lantunan selawat yang menambah semangat para peserta.

Dalam sambutannya, Bupati Probolinggo menyampaikan apresiasi kepada RMI PCNU Kraksaan dan Pondok Pesantren Raudlatul Jannah Klaseman atas penyelenggaraan kegiatan yang memadukan olahraga, kebersamaan, dan pelestarian tradisi pesantren.

Sementara itu, Habib Ali Zainal Abidin bin Toha Ba’aqil mengungkapkan rasa syukur atas antusiasme para santri dan masyarakat. Menurutnya, jalan sehat dengan mengenakan sarung bukan sekadar aktivitas olahraga, tetapi juga menjadi simbol kerendahan hati, kemandirian, dan keteguhan karakter santri dalam menghadapi perkembangan zaman.

Selain mendorong pola hidup sehat, kegiatan ini juga menjadi sarana memperkuat ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah. Sepanjang kegiatan, para peserta menunjukkan semangat kebersamaan sekaligus membawa pesan perdamaian, keharmonisan, dan kecintaan terhadap bangsa.

Melalui Jalan Sehat Bersarung, peringatan HSN 2026 di Kraksaan tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga ruang untuk meneguhkan identitas santri serta mempererat hubungan antara pesantren, pemerintah, dan masyarakat. (rh)

Tokk! Terpilih Aklamasi, Tri Septa Agung Jadi Ketua KNPI Kota Probolinggo

Probolinggo, Berdampak.net – Setelah vakum bertahun-tahun, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Probolinggo akhirnya menggelar Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub), Jumat (9/10) siang, di Aula Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Probolinggo.

Mengusung tema “Pemuda Bergerak, Kota Probolinggo Maju: Menguatkan Peran Sentral KNPI dalam Pembangunan Daerah”, Musdalub diikuti 50 peserta dari berbagai Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) di Kota Probolinggo.

Hadir para pimpinan dan delegasi utusan dari organisasi kepemudaan besar seperti HMI, GMNI, PMII, GP Ansor, IMM, Fatayat, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiah, IPNU, IPPNU, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, dan lima pimpinan KNPI Kecamatan. Semua OKP secara aklamasi sepakat memilih Tri Septa Agung Pamungkas sebagai Ketua Umum DPD KNPI Kota Probolinggo 2026-2030. Perlu diketahui, KNPI merupakan induk organisasi tertinggi yang mewadahi organ kepemudaan.

Wali Kota Probolinggo Aminuddin mengapresiasi terselenggaranya Musdalub sebagai langkah untuk menghidupkan kembali KNPI Kota Probolinggo setelah vakum selama kurang lebih sembilan tahun. Menurutnya, KNPI memiliki posisi strategis sebagai wadah berhimpunnya organisasi kepemudaan untuk menyatukan aspirasi, memperkuat sinergi, dan melahirkan gagasan yang mendukung pembangunan daerah.

Wali kota mengajak seluruh elemen kepemudaan untuk berkolaborasi dengan pemerintah daerah dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif melalui semangat Probolinggo Bersolek. Karena pembangunan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak dengan membuka ruang partisipasi dan menerima aspirasi dari beragam lapisan masyarakat.

Menutup sambutannya, Dokter Aminuddin berharap KNPI Kota Probolinggo yang kembali terbentuk dapat menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam menghadirkan ide kreatif, program inovatif, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

KAHMI Jatim Siap Ambil Peran Strategis Kawal Pembangunan Jawa Timur Lewat Kebijakan Publik

Surabaya, Berdampak.net — Usai resmi terpilih menakhodai Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MW KAHMI) Jawa Timur, Luthfi J Kurniawan menegaskan komitmennya untuk membawa organisasi ini bertransformasi menjadi kekuatan intelektual serta civil society yang progresif. Ia memandang KAHMI memiliki tanggung jawab moral dan strategis dalam mengawal arah kemajuan provinsi Jawa Timur ke depan.

Fokus utama kepemimpinannya diarahkan pada gagasan percepatan pemajuan pembangunan di Jawa Timur, yang mencakup tiga pilar utama, sosial, ekonomi, dan kebudayaan.

Menurutnya, potensi besar yang dimiliki Jawa Timur harus diimbangi dengan kontribusi nyata dari kalangan intelektual alumni HMI. “Kedepan kita akan mendorong KAHMI untuk terlibat dalam perumusan kebijakan publik,” jelas Luthfi saat menyampaikan visi dan arah gerak organisasinya, Selasa (29/09/2026).

Ia menambahkan, keterlibatan aktif dalam perumusan kebijakan ini sangat penting agar setiap regulasi maupun program pembangunan yang berjalan benar-benar berorientasi pada kepentingan masyarakat luas, inklusif, serta berkelanjutan.

Sebagai wadah berhimpunnya para cendekiawan dan kaum profesional, KAHMI Jatim di bawah kepemimpinan Luthfi siap mengambil peran strategis sebagai mitra kritis sekaligus kolaborator pemerintah daerah. Berikut adalah poin penting dari arah gerak pembangunan yang diusung, seperti pemberdayaan sosial, akselerasi ekonomi, dan pemajuan kebudayaan.

Lebih lanjut, Luthfi menegaskan bahwa KAHMI Jawa Timur tidak boleh hanya menjadi penonton dalam dinamika pembangunan regional. Organisasi ini harus hadir secara aktif memberikan solusi atas berbagai persoalan krusial di akar rumput.

“KAHMI Jatim juga harus ikut serta membangun arah pembangunan kedepan, terutama di Jawa Timur,” tegasnya.

Dengan semangat kebersamaan dan kolaborasi lintas sektor, kepengurusan baru MW KAHMI Jawa Timur optimis dapat menghadirkan warna baru dalam kontribusi nyata bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Jawa Timur.

Diketahui, Musyawarah Wilayah (Muswil) VI Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MW KAHMI) Jawa Timur menetapkan tujuh Presidium untuk periode 2026-2031. Forum organisasi tersebut berlangsung di Hotel Grand Whiz Trawas, Mojokerto, Minggu (27/9/2026).

Muswil diikuti 36 Majelis Daerah (MD) KAHMI kabupaten/kota se-Jawa Timur. Dalam pemilihan tersebut, peserta menggunakan hak suara untuk menentukan tujuh anggota Presidium MW KAHMI Jatim melalui mekanisme voting.

Berdasarkan hasil rekapitulasi, Lutfi J. Kurniawan memperoleh suara terbanyak dengan 30 suara, disusul Aan Eko Widiarto dengan 29 suara. Ahmad Riyadh dan Nur Muhyidin masing-masing meraih 28 suara. Berikutnya Agus Machfud Fauzi memperoleh 27 suara, Robbah Fatawi 24 suara, dan Nyadin 21 suara. Dengan hasil tersebut, ketujuh nama tersebut ditetapkan sebagai Presidium MW KAHMI Jawa Timur periode 2026-2031. Sementara kandidat lainnya yakni Samwil memperoleh 20 suara, dr. Agung M 19 suara, Chusnu Romdhoni 14 suara, Moh Ma’ruf Syah 8 suara, serta M Arbayanto dan Ahmad Sanusi masing-masing 2 suara. (fiq)

Sarasehan Tokoh Perempuan Probolinggo Angkat Peran Perempuan Hadapi Krisis Iklim

PROBOLINGGO, berdampak.net – Persoalan krisis iklim tidak lagi sebatas isu lingkungan. Dampaknya mulai bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari kesehatan, pangan, air, hingga kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.

Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Sarasehan Tokoh Perempuan Probolinggo yang digelar Pemerintah Kabupaten Probolinggo bersama Gabungan Organisasi Wanita (GOW) di Kantor Bupati Probolinggo, Senin (28/9/2026).

Sekitar 200 tokoh perempuan dari berbagai unsur hadir dalam kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB tersebut. Sarasehan mengangkat tema “Peran Kepemimpinan Perempuan dalam Penanggulangan Krisis Iklim”.

Pembahasan diarahkan pada pentingnya keterlibatan perempuan dalam membangun kepedulian terhadap lingkungan, termasuk persoalan sampah dan perubahan perilaku masyarakat. Para peserta juga diminta membawa tumbler sebagai bagian dari kampanye mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Ketua GOW Kabupaten Probolinggo, Ning Umi Haniah Fahmi AHZ, S.Th.I., mengatakan kepedulian terhadap lingkungan tidak harus dimulai dari hal besar. Menurutnya, keluarga dan lingkungan sekitar menjadi ruang pertama untuk membangun kebiasaan yang lebih peduli terhadap lingkungan.

“Kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari keluarga dan lingkungan sekitar,” ujarnya.

Ia menyebut persoalan lingkungan memiliki kaitan erat dengan perilaku manusia. Karena itu, upaya menjaga lingkungan membutuhkan kesadaran sekaligus perubahan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kegiatan tersebut, GOW Kabupaten Probolinggo juga menandatangani rekomendasi bersama terkait penanganan sampah. Komitmen serupa turut dibangun di internal organisasi perempuan sebagai bentuk tindak lanjut dari pembahasan sarasehan.

Sarasehan menghadirkan dua narasumber dan tiga panelis dari unsur lintas agama. Direktur Yayasan Ekosistem Sampah Indonesia, A’ak Abdullah Al-Kudus, menjadi salah satu narasumber dengan materi yang mengaitkan krisis iklim dengan perspektif agama, perempuan, dan masa depan bumi.

Ia menjelaskan bahwa krisis iklim memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada persoalan lingkungan. Perubahan iklim berkaitan dengan persoalan sosial, ekonomi, kesehatan, pangan, kemiskinan hingga keadilan.

Sejumlah dampak yang muncul di antaranya kenaikan suhu bumi, hujan ekstrem dan banjir, kekeringan, gelombang panas, kenaikan muka air laut, krisis air, gangguan terhadap pangan dan pertanian serta hilangnya keanekaragaman hayati.

Perempuan, kata dia, menjadi salah satu kelompok yang menghadapi kerentanan lebih besar akibat perubahan kondisi lingkungan, termasuk dalam aspek kesehatan dan reproduksi.

Sementara itu, narasumber lainnya, Zaimatus Sa’diyah dari UIN Walisongo Semarang, mengangkat tema “Merawat Bumi, Merawat Kehidupan: Agama, Perempuan, dan Kesadaran Ekologis.”

Ia memandang krisis ekologis tidak hanya berkaitan dengan kondisi alam, tetapi juga menyangkut etika, relasi kuasa dan cara manusia menjalani kehidupan.

Dalam konteks tersebut, agama dinilai memiliki peran penting karena mempunyai bahasa moral yang dapat mendorong manusia untuk membangun hubungan yang lebih bertanggung jawab dengan lingkungan.

Perubahan iklim juga dinilai dapat memperbesar ketimpangan yang telah ada. Di Indonesia, misalnya, banyak perempuan bergantung pada sektor pertanian, ketersediaan air dan perikanan yang sangat dipengaruhi kondisi iklim.

Ia kemudian memperkenalkan model “Anti 5R” sebagai bentuk komitmen bersama dalam menjaga lingkungan. Konsep tersebut meliputi Refuse atau menolak sesuatu yang tidak diperlukan, Reduce dengan mengurangi konsumsi, Reuse atau menggunakan kembali, Recycle dengan memilah dan mengolah sampah, serta Restore untuk memulihkan ekosistem.

Penerapannya dapat dimulai dari aktivitas sederhana di rumah, seperti mengolah sisa dapur menjadi pupuk sehingga sampah organik tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan.

Dalam pembahasan, peran agama juga disebut penting karena memiliki otoritas moral dalam memengaruhi cara pandang dan perilaku masyarakat. Nilai-nilai keagamaan dapat menjadi pintu masuk untuk membangun solidaritas sekaligus kesadaran bersama menghadapi perubahan iklim.

Ancaman krisis iklim yang semakin nyata dinilai perlu diikuti dengan gerakan yang lebih terarah. Sejumlah langkah yang didorong antara lain transisi dan penghematan energi, pelestarian hutan, advokasi kebijakan, pengelolaan sampah terpadu, pengurangan risiko bencana serta penguatan ketahanan pangan.

Dalam sesi diskusi, perwakilan Komunitas Pena Hijau turut menyampaikan pengalaman gerakan lingkungan di lapangan. Komunitas tersebut rutin melakukan kegiatan bersih-bersih sungai setiap pekan di sejumlah titik di Kabupaten Probolinggo.

Namun, gerakan membersihkan sungai dinilai tidak cukup jika tidak dibarengi dengan perubahan sistem dan perilaku masyarakat dalam jangka panjang.

Karena itu, perwakilan Pena Hijau mempertanyakan kebijakan konkret yang dapat didorong para tokoh perempuan agar gerakan kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti pada kegiatan bersih-bersih sungai, tetapi berkembang menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam menghadapi krisis iklim.

Pertanyaan tersebut sekaligus membawa pembahasan sarasehan pada persoalan yang lebih dekat dengan kondisi di lapangan: bagaimana kepedulian lingkungan yang selama ini tumbuh melalui gerakan masyarakat dapat diperkuat menjadi kebijakan dan gerakan bersama yang berkelanjutan.

Muswil VI KAHMI Jatim Tetapkan 7 Presidium Periode 2026-2031

MOJOKERTO, Berdampak.net — Musyawarah Wilayah (Muswil) VI Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MW KAHMI) Jawa Timur menetapkan tujuh Presidium untuk periode 2026-2031. Forum organisasi tersebut berlangsung di Hotel Grand Whiz Trawas, Mojokerto, Minggu (27/9/2026).

Muswil diikuti 36 Majelis Daerah (MD) KAHMI kabupaten/kota se-Jawa Timur. Dalam pemilihan tersebut, peserta menggunakan hak suara untuk menentukan tujuh anggota Presidium MW KAHMI Jatim melalui mekanisme voting.

Berdasarkan hasil rekapitulasi, Lutfi J. Kurniawan memperoleh suara terbanyak dengan 30 suara, disusul Aan Eko Widiarto dengan 29 suara. Ahmad Riyadh dan Nur Muhyidin masing-masing meraih 28 suara. Berikutnya Agus Machfud Fauzi memperoleh 27 suara, Robbah Fatawi 24 suara, dan Nyadin 21 suara.

Dengan hasil tersebut, ketujuh nama tersebut ditetapkan sebagai Presidium MW KAHMI Jawa Timur periode 2026-2031. Sementara kandidat lainnya yakni Samwil memperoleh 20 suara, dr. Agung M 19 suara, Chusnu Romdhoni 14 suara, Moh Ma’ruf Syah 8 suara, serta M Arbayanto dan Ahmad Sanusi masing-masing 2 suara.

Sekretaris Umum Majelis Nasional KAHMI Syamsul Qomar menjelaskan, mekanisme zonasi yang diterapkan dalam Muswil VI hanya digunakan pada tahap penjaringan bakal calon Presidium. Menurutnya, pemilihan akhir tetap dilakukan melalui voting dalam forum Muswil.

“Pembagian zona sifatnya hanya sebatas penjaringan bakal calon. Sedangkan proses pemilihan dilaksanakan dalam Muswil kali ini,” ujar Syamsul saat memimpin persidangan pleno.

Muswil VI KAHMI Jatim juga menjadi momentum konsolidasi organisasi untuk memperkuat peran KAHMI di Jawa Timur. Kepemimpinan baru diharapkan mampu meningkatkan kontribusi strategis organisasi dalam berbagai bidang pembangunan sekaligus memperkuat sinergi antar-MD KAHMI di Jawa Timur.