GEKRAFS Probolinggo Gelar Turnamen PS4 dan Nobar Piala Dunia 2026


Probolinggo, Berdampak.net – Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS) menggelar Turnamen PlayStation 4 (PS4) dan nonton bareng (nobar) semifinal Piala Dunia FIFA 2026 antara Spanyol melawan Prancis di Vibes Space, Desa Bucor Kulon, Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo, Selasa (14/7/2026).

Kegiatan yang diikuti puluhan anak muda tersebut berlangsung meriah. Selain menyuguhkan persaingan seru dalam turnamen gim sepak bola, peserta dan masyarakat juga menikmati nobar laga semifinal Piala Dunia 2026. Suasana semakin semarak dengan pembagian berbagai doorprize kepada peserta dan penonton.

Ketua Pelaksana, Ahmad Fauzan, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari upaya GEKRAFS menghadirkan ruang hiburan yang positif sekaligus memperkuat silaturahmi dan mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif di Kabupaten Probolinggo.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin menghadirkan ruang positif bagi generasi muda untuk berkumpul, berkompetisi secara sportif, dan merasakan euforia Piala Dunia 2026 bersama. Semoga kegiatan ini dapat mempererat kebersamaan sekaligus mendukung perkembangan ekonomi kreatif di Kabupaten Probolinggo,” ujar Ahmad Fauzan.

Menurut Fauzan, turnamen gim dan nobar sepak bola menjadi salah satu media yang efektif untuk mempertemukan komunitas, menumbuhkan sportivitas, serta membuka peluang bagi pelaku ekonomi kreatif lokal untuk berkembang melalui penyelenggaraan berbagai kegiatan kreatif.

GEKRAFS berharap kegiatan serupa dapat terus digelar secara berkelanjutan sebagai wadah kolaborasi, kreativitas, dan kebersamaan generasi muda. Dengan demikian, selain menjadi sarana hiburan, kegiatan ini juga diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi perkembangan ekonomi kreatif di Kabupaten Probolinggo. (fj)

Jurnalistik Jadi Ladang Dakwah, Humas Nurul Jadid Bincang Kehumasan Bersama Wartawan Profesional


Probolinggo, Berdampak.net — Di tengah derasnya arus informasi yang kerap mengabaikan etika dan kebenaran fakta, Pondok Pesantren Nurul Jadid mengambil sikap tegas: menjadikan jurnalistik sebagai sarana dakwah. Komitmen itu kembali ditegaskan dalam kegiatan bincang kehumasan yang digelar di ruang rapat pesantren, mempertemukan tim Humas Nurul Jadid dengan jajaran humas lembaga-lembaga di bawah naungannya.

Keresahan terhadap banjir informasi tanpa verifikasi menjadi alasan utama digelarnya forum ini. Bukan tanpa sebab—informasi yang tidak akurat dinilai berpotensi menyesatkan opini publik jika tidak diimbangi pemberitaan yang bertanggung jawab. Untuk itu, penguatan kapasitas kehumasan di lingkungan pesantren dipandang sebagai langkah mendesak.

Forum kali ini menghadirkan Muhammad Iqbal, wartawan Times Indonesia, yang berbagi perspektif praktis dari dunia jurnalistik profesional. Satu pesan yang ia tekankan cukup mengena: nilai sebuah berita tidak berhenti pada tersampaikannya informasi. Berita yang baik, katanya, harus mendidik—bukan sekadar lewat begitu saja tanpa makna bagi pembacanya.
Iqbal juga mengingatkan pentingnya menjaga etika jurnalistik dan akurasi fakta dalam setiap proses produksi berita, termasuk yang dikerjakan oleh humas pesantren maupun lembaga pendidikan. Baginya, humas bukan sekadar penyampai kabar, melainkan juga penjaga nama baik dan citra lembaga.

Diskusi berlangsung hidup. Para peserta aktif melontarkan pertanyaan, mulai dari teknik penulisan berita hingga strategi menghadapi banjir informasi yang tidak akurat—bekal yang dinilai penting bagi pengelola humas lembaga di lingkungan Nurul Jadid dalam menjalankan tugas sehari-hari.

Forum ini pun tak sekadar ajang berbagi ilmu, tetapi juga ruang silaturahmi antarhumas lembaga untuk menyamakan visi dalam mengelola informasi kepesantrenan. Ke depan, kegiatan serupa direncanakan digelar secara berkala sebagai bagian dari upaya berkelanjutan meningkatkan kapasitas sumber daya kehumasan.

Kasubag Humas dan Infokom Ponirin Mika berharap setiap pemberitaan yang dihasilkan tak hanya informatif, tetapi juga menjadi sarana dakwah yang membawa manfaat dan edukasi positif bagi masyarakat luas.

Menjernihkan Dinamika Penutupan Munas-Konbes NU di Kediri

Oleh: Dr. H. Ahmad Fahrur Rozi
Ketua PBNU Bidang Keagamaan

Dinamika yang terjadi pada penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) di Kediri, Senin (22/6/2026), perlu dijelaskan secara proporsional agar tidak menimbulkan kesalahpahaman maupun framing yang keliru terhadap para kiai, peserta forum, maupun pimpinan sidang.

Saya mengikuti secara langsung pembahasan Komisi Organisasi yang membahas berbagai agenda strategis terkait masa depan organisasi, termasuk persiapan Muktamar ke-35 NU yang direncanakan berlangsung pada Agustus mendatang.

Pembahasan komisi berlangsung sangat serius, dinamis, dan cukup alot. Sejak Ahad siang kemarin hingga menjelang tengah malam, peserta berdiskusi secara intens karena materi yang dibahas menyangkut persoalan penting dan strategis bagi jam’iyah. Perbedaan pandangan muncul sebagaimana lazimnya sebuah forum musyawarah besar, namun seluruh proses tetap berjalan dalam suasana yang konstruktif.

Saya mendapat amanah menjadi salah satu anggota tim perumus Komisi Organisasi ini. Salah satu keputusan penting yang dihasilkan komisi berkaitan dengan calon lokasi penyelenggaraan Muktamar NU.

Setelah mempertimbangkan berbagai usulan yang masuk, komisi menyepakati beberapa daerah sebagai kandidat lokasi Muktamar, yakni Jawa Timur, DKI Jakarta, Jawa Barat, Sumatera Barat dan Nusa Tenggara Barat. Adapun penetapan lokasi definitif belum diputuskan. Komisi merekomendasikan agar dilakukan survei terlebih dahulu untuk menilai kesiapan sarana dan prasarana, transportasi, keamanan, akomodasi, logistik, serta mempertimbangkan aspek spiritual melalui istikharah para masyayikh.

Keputusan tersebut kemudian dibawa ke sidang pleno untuk memperoleh pengesahan.

Dalam sidang pleno itulah muncul dinamika ketika pimpinan sidang menyampaikan keputusan bahwa Muktamar akan dilaksanakan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Pernyataan tersebut memunculkan keberatan dari sejumlah peserta karena dianggap tidak sesuai dengan keputusan Komisi Organisasi yang sebelumnya belum menetapkan lokasi secara final dan masih membuka beberapa kandidat untuk disurvei lebih lanjut.

Karena itu, kegaduhan yang terjadi sesungguhnya bukanlah penolakan terhadap Pondok Pesantren Lirboyo atau daerah tertentu. Keberatan peserta lebih terkait dengan mekanisme pengambilan keputusan yang dinilai tidak sejalan dengan hasil pembahasan komisi.

Dalam situasi yang mulai memanas tersebut, Rais Aam PBNU dengan cepat mengambil peran sebagai penengah. Beliau meminta agar keputusan yang menimbulkan polemik itu dibatalkan dan forum kembali berpegang pada hasil kesepakatan Komisi Organisasi.

Langkah tersebut terbukti efektif meredakan ketegangan. Setelah keputusan pimpinan sidang dicabut, suasana forum kembali tenang dan sidang dapat dilanjutkan secara kondusif.

Karena itu, tidak tepat apabila peristiwa ini kemudian diarahkan menjadi penilaian negatif terhadap Rais Aam. Justru pada saat forum menghadapi situasi yang sensitif, beliau menunjukkan kepemimpinan yang responsif, bijaksana, dan berorientasi pada kemaslahatan organisasi. Sikap tersebut membantu menjaga persatuan forum dan mencegah eskalasi yang tidak diperlukan.

Peristiwa ini juga menunjukkan bahwa NU masih memiliki tradisi musyawarah yang hidup. Dalam organisasi sebesar NU, perbedaan pandangan merupakan sesuatu yang wajar. Yang terpenting bukanlah menghilangkan perbedaan, melainkan memastikan bahwa setiap keputusan diambil melalui mekanisme yang disepakati bersama dan dihormati oleh seluruh peserta.

Dari peristiwa di Kediri ini, kita belajar bahwa penghormatan terhadap tata tertib, mekanisme organisasi, dan keputusan kolektif merupakan fondasi penting dalam menjaga keutuhan jam’iyah. NU adalah rumah besar yang dibangun di atas tradisi syura, adab, dan kebijaksanaan para ulama.

Semoga dinamika yang terjadi menjadi pelajaran berharga bagi kita semua untuk terus memperkuat budaya musyawarah, memperluas ruang partisipasi, dan menjaga persatuan dalam mengemban khidmah bagi umat, bangsa, dan Nahdlatul Ulama.

Tembus Kegelapan, Prajurit Hiu Petarung Yonif 3 Marinir Uji Ketepatan Menembak Malam

Surabaya, Berdampak.net – Deru mesin senjata dan kesunyian malam menyatu di Lapangan Tembak F.X. Supramono, Kesatrian Marinir Sutedi Senaputra, Karangpilang, Surabaya. Pada Kamis (04/06/2026) petang, ketenangan malam pecah saat prajurit petarung Batalyon Infanteri 3 Marinir—yang dikenal dengan julukan “Hiu Petarung”—menggelar latihan intensif menembak malam, uji akurasi sniper, serta pengoperasian Senjata Mesin Sedang (SMS).

Latihan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan agenda strategis untuk memelihara sekaligus mendongkrak profesionalisme serta efektivitas daya gempur satuan. Di bawah temaramnya cahaya malam, para prajurit dituntut untuk tetap tenang, fokus, dan mematikan.

Secara khusus, latihan ini dirancang untuk menguji kesiapan operasional para personel pengawak senjata bantuan (Senban) regu dan para penembak runduk (sniper). Mereka ditempa untuk mampu menghancurkan sasaran secara cepat, tepat, dan senyap, sekaligus membuktikan ketepatan bidikan dalam kondisi pencahayaan yang sangat minim. Bagi seorang Hiu Petarung, kegelapan bukanlah hambatan, melainkan keuntungan taktis untuk melumpuhkan musuh.

Komandan Batalyon Infanteri 3 Marinir, Letkol Marinir Iskandar Muda, menegaskan bahwa kegiatan pembinaan kemampuan tempur ini merupakan implementasi nyata dari program kerja Satuan.

“Latihan ini sangat krusial untuk memastikan seluruh prajurit tetap memiliki kesiapsiagaan tinggi (combat readiness). Kita harus selalu siap menghadapi segala dinamika penugasan dan tantangan di masa depan, kapan pun dan dalam kondisi apa pun,” ujar Letkol Marinir Iskandar Muda tegas.

Dengan tuntasnya latihan ini, prajurit Yonif 3 Marinir kembali membuktikan bahwa kesiapan tempur dan profesionalisme adalah harga mati yang terus diasah, demi menjaga kedaulatan dan kesiapan menghadapi medan tugas yang kian kompleks. (fj)

Menakar Optimisme Baru Pemuda Probolinggo di Tangan Iwan Afnani

Probolinggo, Berdampak.net – Peta gerakan pemuda di Kabupaten Probolinggo tampaknya akan memasuki babak baru. Momentum Musyawarah Daerah (Musda) Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Kabupaten Probolinggo kian hangat dengan munculnya figur-figur potensial yang siap membawa perubahan. Salah satu nama yang kini santer diperbincangkan adalah Iwan Afnani.

Hadir sebagai calon ketua umum, Iwan Afnani membawa visi segar yang dirangkum secara apik dalam sebuah komitmen kuat: “Mengabdi dengan Tegas, Berdampak Nyata Terhadap Gerakan Pemuda di Kabupaten Probolinggo.”

Bukan sekadar deretan kata tanpa makna, tagline ini menjadi representasi atas kegelisahan sekaligus jawaban bagi masa depan pemuda di bumi Bayuangga ini.

Ketegasan dalam Mengabdi; Fondasi Kepemimpinan Baru

Di tengah dinamisnya tantangan zaman—mulai dari isu digitalisasi, bonus demografi, hingga keterlibatan pemuda dalam kebijakan daerah—KNPI dinilai membutuhkan nakhoda yang berkarakter kuat. Sifat “Tegas” yang diusung Iwan bukan berarti kaku, melainkan tegas dalam prinsip, transparan dalam manajerial, dan berani mengambil keputusan strategis demi kepentingan pemuda di akar rumput.

“Mengabdi itu harus totalitas. Ketegasan diperlukan agar roda organisasi KNPI tidak berjalan di tempat, melainkan mampu menjadi mitra kritis sekaligus strategis bagi pemerintah daerah,” ungkap salah satu kolega dekat Iwan saat mendiskusikan visi tersebut.

Ketegasan ini diyakini akan menjadi energi baru untuk menyatukan berbagai Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) yang bernaung di bawah payung KNPI Kabupaten Probolinggo, memperkuat konsolidasi, dan mengikis ego sektoral.

Sentuhan “Berdampak Nyata”; Menolak Menjadi Menara Gading

Aspek kedua yang menjadi pilar utama perjuangan Iwan Afnani adalah “Berdampak Nyata”. Sudah bukan saatnya lagi organisasi kepemudaan terjebak dalam seremonial belaka atau menjadi ‘menara gading’ yang jauh dari realitas sosial masyarakat.

Iwan mendorong agar KNPI ke depan berfokus pada program-program konkret yang langsung menyentuh potensi dan kebutuhan pemuda.

Menyalakan Kembali Obor Gerakan Kepemudaan

Langkah Iwan Afnani menuju kursi kepemimpinan KNPI Kabupaten Probolinggo ini mendapat respons positif dari berbagai kalangan aktivis dan pemuda. Kombinasi antara karakter yang berintegritas dan rekam jejak yang dekat dengan dunia pergerakan menjadikannya magnet tersendiri dalam bursa pemilihan kali ini.

Kabupaten Probolinggo memiliki potensi pemuda yang luar biasa, tersebar dari wilayah pesisir hingga pegunungan. Di tangan pemimpin yang tepat, potensi ini bisa menjadi mesin penggerak kemajuan daerah.

Melalui komitmen mengabdi secara tegas dan berorientasi pada dampak nyata, Iwan Afnani siap menghibahkan waktu dan energinya untuk membawa KNPI Kabupaten Probolinggo menjadi episentrum pergerakan pemuda yang progresif, inklusif, dan disegani.

Kini, bola ada di tangan para pemilik suara di Musda KNPI untuk menentukan, apakah optimisme baru ini akan segera mewujud nyata bagi bumi Probolinggo.

Tantangan Pendidikan, Link and Match Industri, dan Green Jobs Jadi Fokus Kopi Soride IKA UM Probolinggo Raya

Probolinggo, Berdampak.net – Tantangan pendidikan menengah dalam menyiapkan lulusan yang siap kerja, penguatan link and match dengan dunia industri, hingga peluang green jobs sebagai profesi masa depan menjadi sorotan dalam kegiatan yang digelar di Toga Mas Probolinggo, Sabtu (31/5/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Doni Tri Prasetio, S.Pd., M.Pd, yang merupakan alumni fakultas Teknik UM yang juga sebagai sebagai instruktur di kemendikdasmen memaparkan berbagai tantangan yang masih dihadapi dunia pendidikan, khususnya dalam menjembatani kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) dengan kompetensi lulusan.

Menurutnya, persoalan utama bukan lagi sekadar jumlah lulusan yang tersedia, melainkan kesesuaian keterampilan yang dimiliki dengan kebutuhan pasar kerja. Ia menyebut masih terjadi paradoks rekrutmen, di mana perusahaan membutuhkan tenaga kerja, tetapi banyak lulusan belum memenuhi kompetensi yang dibutuhkan.

Dalam materi yang disampaikan, tingkat pengangguran lulusan SMK pada 2025 tercatat mencapai 8,63 persen. Angka tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan antara pendidikan vokasi dan kebutuhan dunia kerja. Doni menjelaskan, terdapat tiga faktor utama yang menjadi penyebab kondisi tersebut, yakni kesenjangan kompetensi antara teori dan praktik, rendahnya penguasaan soft skills dan komunikasi profesional, serta cepatnya perubahan kebutuhan industri yang tidak selalu diikuti pembaruan sistem pendidikan.

Selain isu ketenagakerjaan, ia juga menyoroti pentingnya adaptasi pendidikan terhadap perkembangan teknologi digital. Menurutnya, visi Indonesia Emas 2045 membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki literasi teknologi, kemampuan beradaptasi, dan akses pembelajaran yang merata.

Doni juga mengulas pentingnya transformasi konsep link and match antara sekolah dan industri. Ia menilai pola kolaborasi lama sudah tidak lagi cukup menghadapi perubahan industri yang berlangsung sangat cepat.
Sebagai solusi, ia memperkenalkan konsep Link and Match 8+i yang menitikberatkan pada sinkronisasi kurikulum, magang industri, sertifikasi kompetensi bersama, hingga penguatan berbagai aspek yang mendukung kesiapan kerja lulusan.
Menurutnya, kurikulum tidak boleh hanya menjadi dokumen administratif, melainkan harus menjadi ruang pembelajaran yang terhubung langsung dengan kebutuhan dunia kerja.

Untuk mengurangi kesenjangan keterampilan, Doni juga mendorong penguatan kompetensi bidang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), pemrograman, serta pengalaman belajar berbasis proyek dan penyelesaian masalah nyata. Selain itu, sertifikasi kompetensi dan portofolio proyek dinilai penting sebagai bukti kemampuan yang dapat diakui industri.

Topik lain yang mendapat perhatian adalah peluang green jobs atau pekerjaan hijau. Dalam paparannya, green jobs dijelaskan sebagai pekerjaan yang berkontribusi pada pelestarian dan pemulihan lingkungan, mulai dari sektor energi terbarukan, pengelolaan limbah, hingga ekonomi sirkular.

Ia menyebut kebutuhan tenaga kerja hijau diproyeksikan mencapai sekitar 1,8 juta orang hingga tahun 2030, seiring meningkatnya komitmen menuju ekonomi rendah karbon dan pembangunan berkelanjutan. Untuk menyiapkan talenta hijau, dunia pendidikan didorong mengintegrasikan green skills ke dalam proses pembelajaran melalui pendekatan Project-Based Learning (PjBL), penguatan kompetensi teknis, serta kolaborasi lintas sektor.

Menurut Doni, keberhasilan pengembangan talenta hijau membutuhkan sinergi model triple helix yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, dan industri secara berkelanjutan. Dalam konteks pembangunan daerah, Universitas Negeri Malang juga dinilai memiliki peran strategis melalui program pengabdian masyarakat, kerja sama dengan pemerintah daerah, serta penguatan jejaring alumni.Kegiatan tersebut ditutup dengan diskusi santai , ramah tamah sambil mengenal cerita jaman mahasiswa dan refleksi program berdampak kedepannya dari IKA UM Probolinggo Raya. (fj)