Pemimpin Akhir Zaman dan Nostalgia Zaman Sayyidana Ali KW

Oleh Muhammad Ali Muhsin Rofiey Notonegoro, Ama.Spd.I. Wakil Sekretaris MD KAHMI Kabupaten Pamekasan. Fenomena politik kontemporer bisa kita baca dengan kaca mata hikmah klasik ini. Alih-alih sekadar menyalahkan pemimpin, umat juga perlu bercermin pada kondisi moral dirinya. Sebab, perubahan besar dalam kepemimpinan hanya mungkin terjadi jika dimulai dari perbaikan kolektif masyarakat ( Raden Bindoro Ali Muhsin Rofiey Notonegoro, Ama. Spd.I ) . Imam Al-Ghazali, dalam bukunya Ihya’ Ulumuddin, menjelaskan bahwa pemimpin merupakan cerminan dari masyarakatnya. Beliau menekankan bahwa masyarakat yang mementingkan keadilan dan moralitas akan memiliki pemimpin yang juga adil dan bermoral. Sebaliknya, jika masyarakat tidak peduli dengan nilai-nilai tersebut, maka pemimpin yang muncul akan kurang memperhatikan prinsip-prinsip tersebut.

Syekh Muhammad Abduh, seorang ulama reformis dari Mesir, juga mengemukakan pandangan serupa. Ia berpendapat bahwa perubahan sosial dan politik bergantung pada kesadaran dan tindakan masyarakat itu sendiri. Masyarakat yang tidak aktif dalam memperjuangkan kebaikan akan menciptakan pemimpin yang tidak berkomitmen pada nilai-nilai tersebut.

PEMIMPIN YANG IDEAL

Pemimpin itu laksana naungan Allah yang berada di bumi, begitu riwayat Imam Baihaqi, di Kitab Syu’ab al-Iman. Agung betul derajat seorang pemimpin dalam Islam. Sampai-sampai dikatakan sebagai bayangan Allah di bumi.

Imam al-Suyuti dalam al-Jami’ al-Saghir Jilid I (h. 496), Pemimpin tempat umat mengeluh dan mengadu. Pemimpin pula tempat orang yang lemah menuntut hak. Kepada pemimpin juga orang yang dizalimi mengadu nasib dari mereka yang berkuasa dan berkekuatan.
Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas. membagi tiga hal yang menjadi akar masalah umat : Pertama adalah Ilmu yg rusak. Kedua , loss of adab (hilangnya adab). Ketiga , kemunculan pemimpin palsu, masalah yang ketiga tersebut berkait erat dengan masalah pertama. Sehingga masalah ketiga muncul disebabkan masalah ilmu.

Fenomena keruntuhan adab, menurut al-Attas, melahirkan hilangnya keadilan (justice), baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Konsekuensi logisnya, hilangnya keadilan melahirkan hilangnya wisdom (hikmah) atau kebijaksaan.

Karena keduanya memang direfleksikan oleh adab. Ketika keadilan dan hikmah sirna maka individu dapat berlaku zalim atau bersikap tidak adil (unjustice) sehingga tidak mampu meletakkan sesuatu secara proporsional. Karena yang terjadi adalah corruption of knowledge karena telah telah terjadi disintegrasi adab. ( Al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), 16-19 ).

Disintegrasi adab tersebut mewujud dalam masalah-masalah spiritual, intelektual, dan kultural, seperti: menyamakan Kitab Suci Al-Qur’an dengan kitab-kitab lain; menyetarakan Nabi Muhammad dengan nabi-nabi lain; menyamakan ilmu agama dengan ilmu lain; menyamakan hidup di dunia dengan hidup di akhirat; pemimpin sejati disejajarkan dengan para pemimpin palsu. ( Al-Attas,“Introduction”, dalam al-Attas , Aims and Objectives of Islamic Education Jeddah Hodder and Stoughton-King Abdul Aziz University, 1979), 14).
Dari loss of adab lahir kebingungan dan kerancuan ilmu; dari kerancuan ilmu dan loss of adab lahirlah para pemimpin palsu. Yaitu , para pemimpin yang tidak identitas dan integritas dalam memimpin.

Mereka tidak amanah dalam menjalankan kepemimpinan mereka. Bahkan, dalam pandangan al-Attas, dari loss of adab dan corruption of knowledge secara khusus, melakhirkan ulama palsu ( false ‘ulama ), yaitu mereka yang membatasi ilmu hanya pada domain fiqh. “…who restrict knowledge (al-‘ilm) to the domain of jurisprudence (fiqh). Sehingga, mereka tidak layak mengikuti para mujtahidun: para Imam hebat yang upaya individual mereka mengukuhkan mazhab hukum fiqih dan hukum dalam Islam. ( Al-Attas, “Introduction”, 8 ).

Dalam sejarah Islam kita mengenal para ulama sebagai sosok generik: dia pakar kalam, tafsir, ushul fiqih, filsafat, bahkan fiqih. Sebut saja misalnya, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam al-Syafi’i, Imam Ahmad, Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Imam al-Dzahabi, Imam ibn al-Atsir, Imam al-Baqillani, Imam Ibn ‘Asakir, Imam ibn Katsir, bahkan Imam Nawawi al-Bantani, Tengku Muhammad Hasbi as-Shidieqi, Buya Hamka, dan banyak lagi. Mereka contoh dari ulama sejati itu.

Selain ulama yang “palsu”, hari ini banyak bermunculan kaum intelektual sekular, yang mengambil inspirasi dari Barat. Secara ideologi, mereka sejalan dengan kaum “pembaharu” modernis dan para pengikutnya; sebagian mereka bahkan mengikuti pandangan kaum “pembaharu” tradisionis dan para pengekornya.

Kebanyakan mereka tidak mengambil pengetahuan dan epistemologi Islam sebagai dasar intelelektualitas dan spiritualitas mereka. Jadi, mereka ini terpisah jauh dari pendekatan kogninitif dan metodologis terhadap sumber dan pengajaran Islam. ( Al-Attas, “Introduction”, 10 ). Ini semuanya disebabkan oleh loss of adab itu.

Penting juga untuk dicatat bahwa loss of adab tidak serta-merta melahirkan ketiadaan ilmu. Tetapi maknanya juga kehilangan kapasitas dan kemampuan untuk mengenal dan mengakui para pemimpin sejati. ( Al-Attas, “Introduction”, 12 ).

Ini mengingatkan pada peringatan futuristik dari Nabi Muhammad. Nabi ﷺ bersabda;

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Rasulullah ﷺ bersabda, “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR: Ibnu Majah).

KRITERIA PEMIMPIN PILIHAN DALAM Al-QUR’AN

Tugas berat yang di emban seorang pemimpin, membuat mereka dikaruniai kemuliaan dari Tuhan. Imam Bukhari dan Imam Muslim, melukiskannya, kelak di hari kiamat pemimpin adil akan mendapatkan naungan, di mana tidak ada perlindungan selain dari Allah. Kelak juga balasan atas jasanya ialah surga.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ

“Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi Muhammad saw, ia bersabda, ‘Ada tujuh kelompok orang yang dinaungi oleh Allah pada hari tiada naungan selain naungan-Nya, yaitu pemimpin yang adil.”. Bagaimana bisa kutemukan pemimpin sejati di tengah tumpukan para pesolek gila kuasa dengan kualitas menengah.

Ketika kekaguman pada ”nama-nama besar” mulai pudar akibat kemerosotan wibawa pusat teladan, banyak orang mengalihkan kekagumannya pada diri sendiri. Hanya berbekal penampilan, sumbangsih tipis atau kantong tebal, seseorang sudah merasa pantas memimpin .

Situasi inilah yang melahirkan onggokan sampah pemimpin plastik, yang tidak otentik di ruang publik . Semoga bermanfaat . Billahitaufiq Wal Hidayah.

Sinergi TNI Menjaga Kedaulatan NKRI; Turut Merawat Kerukunan dengan Moderasi Beragama


Oleh: Dr. H. Ahmad Hudri, ST., MAP.
Ketua FKUB Kota Probolinggo

Tentara Nasional Indonesia (TNI) menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah bangsa. TNI selalu hadir sebagai garda terdepan dalam menjaga keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). TNI tidak hanya berperan di medan pertahanan dan keamanan, tetapi juga turut aktif berperan dalam merawat harmoni sosial, termasuk dalam penguatan moderasi beragama sebagai pilar kerukunan dan integrasi sosial kebangsaan.

Di tengah realitas sosial kebangsaan dengan kemajemukan etnis, bahasa, dan agama, Indonesia membutuhkan penjaga yang tidak hanya tangguh secara militer, tetapi juga arif dan humanis dalam merawat perbedaan. Di sinilah TNI memainkan peran strategis: membangun sinergi antara tugas menjaga kedaulatan negara dengan upaya meneguhkan semangat kerukunan dan persatuan untuk menciptakan harmoni sosial kebangsaan melalui moderasi beragama.

Moderasi beragama bukanlah upaya mengaburkan atau mencampuradukkan keyakinan yang berbeda, melainkan sikap bijak dan saling memghormati dalam beragama yang mengedepankan Tawassuth (moderat), Tawazun (seimbang), I’tidal (adil), dan Tasamuh (toleran). Prinsip ini selaras dengan jati diri TNI yang sejak awal mengedepankan Sapta Marga dan Sumpah Prajurit. Dengan menanamkan nilai moderasi, TNI membantu mencegah potensi konflik bernuansa agama yang bisa mengancam stabilitas bangsa.

Program-program teritorial TNI, seperti komunikasi sosial dengan masyarakat, pembinaan desa, serta sinergi dengan forum kerukunan umat beragama (FKUB), sebagai cara bahwa TNI tidak semata mengandalkan kekuatan senjata. Justru dengan pendekatan kultural dan dialogis inilah yang menjadi cara untuk memperkuat rasa aman dan rasa memiliki di tengah masyarakat majemuk.

Sinergi TNI bersama tokoh agama, pemerintah daerah, serta elemen civil society menjadi kunci dalam merawat kerukunan dan harmoni. Dengan cara ini, TNI tidak hanya menjaga batas teritorial NKRI, tetapi juga menjaga “batas sosial” agar bangsa tidak terpecah belah oleh sentimen perbedaan karena kemajemukan. Begitu pula dalam menghadapi menghadapi tantangan dan godaan politik identitas.

Pada momentum Hari TNI ini perlu diingatkan kembali bahwa kekuatan sejati bangsa bukan hanya pada persenjataan, melainkan juga pada persatuan. Sinergi TNI menjaga NKRI dengan moderasi beragama adalah ikhtiar strategis agar Indonesia terus kokoh, damai, dan berdaulat. Dengan ikhtiar Moderasi beragama, harmoni dan nasionalisme akan senantiasa terpupuk.

Karena itu, perlu didukung peran strategis TNI bukan hanya sebagai penjaga kedaulatan teritorial, tetapi juga sebagai mitra bangsa dalam merawat kerukunan dan harmoni bangsa. Moderasi beragama adalah ikhtiar untuk memastikan Indonesia tetap tegak di tengah dinamika zaman, dan TNI adalah salah satu pilar penting yang mengawal jalan tersebut.

Menjaga Kesaktian Pancasila dengan Spirit Moderasi Beragama


Oleh:
Dr. H. Ahmad Hudri, ST., MAP.
Ketua FKUB Kota Probolinggo

Momentum hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Oktober menjadi peristiwa bernilai historis dan ideologis bagi bangsa Indonesia. Peringatan ini bukan semata seremonial saja, namun juga momentum untuk upgrading keyakinan bahwa Pancasila merupakan dasar negara yang mampu menjaga keutuhan bangsa di tengah kemajemukan. Oleh karena itu, kesaktian Pancasila bukan sekedar slogan; akan tetapi harus terus dijaga, dihidupi, dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dalam berbangsa dan bernegara. Salah satu ikhtiar strategis untuk menjaganya adalah melalui penguatan moderasi beragama.

Moderasi beragama merupakan sikap beragama yang mengedepankan keseimbangan atau yang populer dengan Tawassuth I’tidal: tidak ekstrem ke kanan, tidak pula ekstrem ke kiri. Dalam konteks Indonesia, moderasi beragama berfungsi sebagai perekat sosial yang menjembatani keragaman keyakinan, etnis, dan budaya. Dengan semangat moderasi ini, nilai-nilai luhur Pancasila menemukan ruang aktualisasinya. Karena dengan Moderasi beragama integrasi sosial terwujud persatuan dalam bingkai NKRI.

Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, menegaskan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius, bangsa yang berkeyakinan akan adanya Tuhan dengan beragama. Namun, religiusitas ini harus bersanding dengan pengakuan terhadap pluralitas keyakinan. Moderasi beragama hadir untuk memastikan bahwa wujud nyata penghormatan dan keyakinan kepada Tuhan adalah berupa penghormatan atas hak asasi dan kebebasan untuk menjalankan ibadah dan keyakinan sesuai dengan agama dan keyakinannya di tengah pluralitas umat beragama. Di sinilah Pancasila menjadi payung pelindung yang menaungi seluruh umat beragama agar dapat hidup berdampingan secara damai.

Kesaktian Pancasila diuji ketika muncul ideologi transnasional, paham intoleransi, dan radikalisme yang berupaya menggerus fondasi kebangsaan. Tantangan-tantangan ini hanya bisa dihadapi jika masyarakat memiliki imunitas ideologis. Moderasi beragama berfungsi sebagai vaksin yang menguatkan daya tahan bangsa: ia mencegah perpecahan, mengikis prasangka, dan membangun keadaban publik yang berlandaskan penghormatan pada keberagaman dan perbedaan.

Selain itu, sila-sila lain dalam Pancasila—kemanusiaan, persatuan, musyawarah, hingga keadilan sosial—hanya bisa diwujudkan bila moderasi beragama dijadikan praksis dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa moderasi, beragama bisa jatuh pada fanatisme buta yang memecah belah. Dengan moderasi, agama justru menjadi energi spiritual yang meneguhkan persatuan, menggerakkan solidaritas, dan mendorong lahirnya keadilan sosial.

Menjaga kesaktian Pancasila bukan berarti mengkultuskannya, melainkan menghidupkan nilai-nilainya dalam realitas kebangsaan. Di era globalisasi dan digital yang penuh polarisasi, moderasi beragama menjadi kunci agar Pancasila tidak hanya dikenang sebagai warisan sejarah, tetapi juga tetap relevan sebagai pedoman hidup berbangsa.

Moderasi beragama juga menjadi methode untuk menghidupkan nilai-nilai luhur Pancasila sebagaimana yang termaktub dalam sila-sila Pancasila. Jika moderasi beragama terus teredukasi secara sistematis dan masif, maka tujuan luhur Pancasila akan terwujud dalam pembangunan yang berkeadilan dalam bingkai NKRI.

Pada akhirnya, Pancasila dan moderasi beragama adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Pancasila menjadi fondasi ideologis, sementara moderasi beragama menjadi praksis sosialnya. Keduanya sama-sama menuntun bangsa Indonesia untuk tetap kokoh, sakti, dan bermartabat di tengah dinamika zaman.

Fenomena Baru Tradisi Musik Era Post Modern


Oleh Penulis  : CHOIRUL ANAM FATUR ROHMAN

Kondisi realitas kita saat ini sedang berada di zaman Post Modern dimana suatu hal yang dapat mudah sekali terganti dengan hal yang baru jika memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan hal yang lain. Semua penilaian hanya terdapat pada rasa dan
kenyaman individu atau kelompok. Dalam artian pada era Post Modern ini kondisi apapun bisa menjadi seni seperti fenomena tradisi musik yakni Sound Horeg.
Fenomena ini telah eksis sehingga menjadi bagian dari budaya populer di berbagai wilayah Indonesia terutama Pulau Jawa. Setiap wilayah pasti memiliki ragam budaya dan tradisi yang dapat dikembangkan dan ditunjukkan kepada masyarakat sekitar dengan konsep kegiatan sebuah pertunjukan seni atau festival yang digelar secara umum. Kegiatan festival tentunya dimeriahkan dengan banyak lagu-lagu, biasanya setiap komunitas menyalakan lagu menggunakan sound horeg. Adanya konstruksi sistem suara raksasa, parade musik jalanan ini bukan hanya menjadi pusat perhatian di kalangan masyarakat pedesaan, tetapi juga menciptakan sebuah fenomena baru pada tradisi musik dan budaya.
Fenomena sound horeg semakin sering muncul dalam ruang publik sebagai bentuk sarana hiburan dengan kekuatan audio luar biasa. Kondisi speaker yang berukuran besar dan daya tinggi kegiatan acara ini kerap menarik kerumunan dan menimbulkan euforia. Namun tidak juga menimbulkan keluhan yang sangat fatal akibat kebisingan ekstrem ditimbulkannya. Dikenal sound horeg oleh sebagian masyarakat karena bukan hanya suara ( audio ) yang volumenya keras dan kadang dianggap melampaui batas. Tapi hal ini juga muncul efek horeg atau getaran dan hentakan bunyi yang membuat bumi serta benda disekitarnya bergetar keras. Dampak buruknya adalah bagian rumah bisa rontok dan runtuh ketika sound system melewatinya. Dampak lainnya pada kesehatan terutama bagi yang punya sakit jantung.
Bermula sound system ini yang menghasilkan suara keras diperuntukkan kebutuhan fungsional seperti menyampaikan pesan agar suara yang disampaikan bisa menjangkau kerumunan massa dengan jumlah besar dalam kegiatan kampanye politik, keagamaan, dan acara komunitas untuk memastikan bahwa suara orator atau penceramah terdengar jelas oleh audiens di lapangan terbuka atau ruang besar. Tetapi kondisi belakangan ini sound horeg menjadi tradisi dimana volume tinggi suara dijadikan ukuran estetik dari kehadiran musik ala diskotik dan DJ ( Disc Jockey ) / HipHop. Selain itu ditambah lagi kehadiran para perempuan seksi dengan goyangan asik yang dianggap sensual. Tarian sensual ini yang semata menghibur penonton dengan mengeksploitasi tubuh tidak seharusnya disemarakkan pada tempat publik.
Kemajuan budaya juga menekankan pada upaya mencerdaskan kehidupan bangsa maka dari itu ekspresi budaya yang baik adalah tersalurnya peran konsep edukatif. Sementara yang merusak moral dan memberikan inspirasi buruk pada anak-anak seharusnya dicegah. Esensi kebudayaan dari sound horeg ini mendengarkan suara dengan ukuran estetiknya volume keras.

Semakin keras dan menggetarkan dianggap yang indah bagi penikmat sound horeg dari aspek volume suara. Hal lain dari musik DJ dan perempuan dancer seksi adalah sebuah estetik tubuh yang mungkin menarik bagi kebanyakan penonton laki-laki. Dari sisi inilah yang disebut eksploitasi tubuh yang paling membahayakan ketika kemajuan budaya menitikberatkan pada daya cipta membiarkan sosok perempuan menjadi tontonan objek oleh pihak orang lain.

Gen Z Cerdas, Parpol Dikubur, Demokrasi Selamat

Oleh: Prof. Dr. Hanif Nurcholis, M.Si
Guru Besar Universitas Terbuka.

Hari ini kita menyaksikan babak baru demokrasi lahir…

…bukan di gedung parlemen.
…bukan di TPS.
…tapi di aplikasi digital.

SELAMAT.

Gen Z udah ogah nunggu parpol yang makin mirip zombie. Yang menakutkan rakyat pemilihnya. Rakyat makin ngeri kepada parpol.

Mereka bikin panggung sendiri, lewat platform yang mereka kuasai, untuk memilih siapa yang layak memimpin dan siapa yang pantas dipercaya.

Dan yang mereka pilih bukan figur hasil lobi politik, bukan orang yang pasang baliho di pohon pinggir jalan, tapi tokoh yang bersih, tegas, dan kompeten.

Demokrasi Tanpa Parpol

Gen Z sadar: kita gak bisa lagi berharap pada parpol yang sibuk nipu rakyat dan jadi perpanjangan tangan pemodal. Pemilih dibohongi mentah2.

Maka mereka bikin “parlemen digital” sendiri. Server Discord, channel komunitas, aplikasi voting—semuanya jadi alat demokrasi baru.

Bukan teori, tapi praktik nyata. Dari polling digital → konsensus publik → tekanan sosial → hingga keputusan politik.

Parpol Jadi Kutukan

Di mata Gen Z, parpol bukan rumah demokrasi lagi. Ia jadi kutukan. Maka layak dimasukkan kubur. Saat ini sudah jadi zombie yang menyeret demokrasi ke kuburan.

Tapi Gen Z datang dengan obor digital—menyelamatkan demokrasi tanpa parpol.

Nepal Jadi Contoh

Yes, Nepal!

Negara kecil di kaki Himalaya ini baru saja bikin gebrakan. Anak mudanya ogah lagi main politik gaya lama. Mereka pindah ke server Discord, bikin parlemen digital, lalu rame-rame voting siapa yang paling layak jadi Perdana Menteri interim.

Dan pemenangnya?
Sushila Karki—mantan Ketua Mahkamah Agung, bersih, tegas, tanpa drama, sekaligus perempuan pertama yang duduk di kursi tertinggi pemerintahan Nepal.

Yang bikin heboh bukan hanya siapa yang dipilih, tapi bagaimana cara mereka memilih:

Bukan lewat siaran TV.

Bukan lewat baliho pohon pisang.

Bukan hasil lobi politik kotor.

Tapi lewat voting digital → konsensus publik → tekanan sosial → hingga akhirnya Presiden Nepal meresmikan pilihan mereka secara formal.

Parpol Jadi Zombie

Fenomena Nepal adalah tamparan keras buat demokrasi yang masih disandera parpol. Parpol makin mirip zombie: hidup segan, mati tak mau, tapi tetap menyeret demokrasi ke kuburan.

Sementara itu, Gen Z Nepal menunjukkan bahwa demokrasi bisa diselamatkan tanpa parpol. Dengan alat yang mereka kuasai—Discord, aplikasi, komunitas digital—mereka langsung menyalurkan suara rakyat.

Refleksi Buat Kita

  • Kita masih sibuk jadi silent reader di grup WA alumni, mereka bikin parlemen digital.
  • Kita masih nyinyir elite korup, mereka bikin ruang alternatif yang transparan.
  • Kita masih nunggu “figur bersih” dilirik parpol, mereka justru kasih panggung langsung tanpa perantara.

Masa Depan Itu Sudah Tiba

Banyak yang bilang, “Ah, itu kan cuma Nepal.”
Tapi justru karena itu Nepal—negara kecil, minim fasilitas—harusnya kita lebih malu.

Mereka gak punya anggaran digital miliaran.
Mereka gak punya mesin politik canggih.
Tapi mereka punya trust, koordinasi, dan keberanian.

Dan itu cukup untuk mengubur parpol, sekaligus menghidupkan kembali demokrasi.

Ngeri kali Gen Z.

Generasi masa depan.

Mereka akan mengubur parpol. Partai Dodolan Indonesia kepada Pemodal, Partai Golongan Kerakusan, Partai Amat Naif, Partai Kemunafikan Busuk, Partai Gerombolan Indonesia Rakus, Partai Nasional Demagog, Partai Kena Sana-sini, Partai Persatuan Pengkhianat, Partai Siluman Indonesia, Partai Bobrok Banget.

Saat parpol terkubur mereka menyalakan obor digital untuk menyelamatkan demokrasi.

Maulid Nabi Muhammad SAW, dan Pengakuan Para Ahli Ilmu Dunia

Oleh Muhammad Ali Muhsin Rofiey Notonegoro, Ama.Spd.I. Wakil Sekretaris MD KAHMI Kabupaten Pamekasan.

Nikmat yang paling agung yang diberikan oleh Allah swt kepada umat ini adalah diutusnya Baginda Sayyidina Nabi Muhammad saw kepada mereka . Lathaiful Ma’arif Halaman 189 (Lathaiful Maarif) adalah karya Syaikh Ibnu Rajab al-Hanbali yang membahas amalan-amalan sunnah dan ibadah khusus sepanjang tahun Hijriah, yaitu dari bulan Muharram hingga Dzulhijjah. Tugas kenabian adalah tanggung jawab kemanusiaan dalam sejarah, yang mesti dijalankan dengan motif religiusitas. Bagaimana Aku Menirumu, Oh Kekasihku
Ya Muhammad, Ya Abaz Zahra Ya Jaddal Hasan Wal Hussain Oh Kekasihku sekali lagi bagaimana aku menirumu ( Raden Bindoro Ali Muhsin Rofiey Notonegoro, Ama. Spd.I ) Nabi Muhammad ﷺ‎: Pemimpin Paling Berpengaruh dalam Sejarah, Menurut Ilmuwan Global
Nabi Muhammad ﷺ‎: Pemimpin Paling Berpengaruh dalam Sejarah, Menurut Ilmuwan Global
Rasulullah Muhammad saw lahir di Makkah, pada Senin, 12 Rabiul Awal Tahun Gajah (570 M). Muncul dari latar belakang sosial yang dipenuhi kebudayaan jahiliyah. Sejak usia dini, tanda-tanda kenabiannya telah diakui oleh beberapa tokoh agama saat itu.

Salah satu ramalan tentang kelahirannya datang dari pendeta Buhaira, yang memperhatikan tanda kenabian pada diri Muhammad saw saat masih muda. Sejarawan juga mencatat nubuat dalam teks-teks Yahudi dan Kristen yang meramalkan kedatangan seorang nabi akhir zaman. Di dalam karya-karya akademik semisal Muhammad: Prophet of Islam karya Montgomery Watt , disebutkan bagaimana berbagai nubuah ini menjadi bagian dari kesadaran kolektif masyarakat Semit pada masa itu.

Pada usia 40 tahun, Muhammad saw menerima wahyu pertama di Gua Hira, yang menjadi awal dari misinya menyebarkan Islam. Tantangan yang dihadapinya sangat besar. Terutama di Makkah, yang pada saat itu menentang keras ide monoteisme. Namun, hanya dalam waktu singkat, Muhammad saw berhasil mengubah tatanan sosial, politik, dan agama di Jazirah Arab.

Menurut Karen Armstrong dalam bukunya Muhammad A Biography of the Prophet, Muhammad saw bukan hanya menyebarkan agama, tetapi juga membangun tatanan masyarakat yang lebih egaliter dan berkeadilan sosial. Michael H. Hart dalam bukunya The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History menempatkan Muhammad saw sebagai tokoh paling berpengaruh di dunia. Hart berpendapat bahwa pengaruh Muhammad saw lebih besar daripada tokoh-tokoh lain, karena beliau adalah satu-satunya pemimpin yang berhasil menciptakan perubahan besar di dua bidang utama: agama dan politik.

Di dalam analisis Hart, Muhammad saw mendirikan Islam yang bukan hanya sebuah agama, tetapi juga sistem kehidupan yang menyentuh seluruh aspek sosial, ekonomi, dan politik. Hart menekankan bahwa Muhammad saw berhasil mendirikan sebuah peradaban yang mampu menyatukan berbagai suku dan bangsa dalam satu visi global.

Misteri Konsultan Politik Dari Najed
Para elit yang hadir di Darun Nadwah baru menyadari kehadiran sosok ini sesaat sebelum sidang parlemen Darun Nadwah dibuka. Pria tua yang gagah itu berdiri di depan pintu utama ruang sidang.
Will Durant, seorang sejarawan terkenal, dalam The Story of Civilization menggambarkan Muhammad saw sebagai seorang reformator sosial dan politik yang luar biasa. Durant menyatakan, Muhammad saw mampu membangun dasar-dasar sebuah negara yang tidak hanya kuat secara militer, tetapi juga adil secara sosial dan moral. Ia menganggap Muhammad saw sebagai salah satu pembangun peradaban terbesar yang pernah ada, karena keberhasilan beliau dalam mengubah masyarakat Arab yang terpecah menjadi kekuatan global, dalam waktu yang relatif singkat. Piagam Madinah, yang dibentuk Muhammad saw setelah hijrah ke Madinah, sering dikaji sebagai salah satu dokumen paling awal mengenai tatanan hukum sosial-politik yang pluralistik. Mahatma Gandhi, seorang tokoh spiritual dan politikus India dalam koran Young Hindia menyebutkan tentang sifat-sifat Rasulullah saw yang tidak dapat dipungkiri, sehingga mampu menarik hati jutaan umat manusia untuk berpegang teguh kepadanya. Bukan pedang sebagai media yang menjadikan Islam menempati posisi mulia, tetapi kesederhanaan, keikhlasan, menepati janji, keberanian dan percaya diri sebagai pembuka jalan menuju agama yang benar dan suci.

Demikian juga dengan Michael H Hart, seorang penulis dunia yang terkenal. Dalam bukunya 100 Tokoh Paling Berpengaruh Dalam Sejarah ia menulis, Muhammad menempati urutan nomor satu sebagai sosok paling penting dan agung dalam sejarah. Muhammad berhasil menyelesaikan risalah agamanya dan hukum-hukum yang diimani oleh semua bangsa di dunia. Ia mampu menyatukan bangsa-bangsa menjadi satu umat yang kuat.

‘Aidh al-Qarni menulis, Lamartine, seorang penyair Paris dalam bukunya Sejarah Turki mengatakan, “Tidak seorang pembesar sejarah modern pun yang mampu menyamai kegeniusan Rasulullah saw. Para pembesar yang menciptakan senjata, membuat undang-undang dan mendirikan peradaban. Mereka tidak menuai kecuali keagungan yang usang dan akhirnya runtuh bersama mereka. Namun Rasulullah saw tidak hanya sekedar sebagai pemimpin, pejabat, pembuat hukum dan pendiri pemerintahan, tetapi pembimbing umat manusia di seluruh pelosok dunia. Dengan sabar ia menghapus tradisi jahiliah meraih kemenangan dari Allah Swt.”

Menurut orientalis Perancis Gustave Le Bon dalam bukunya Peradaban Arab, ia berkata, “Muhammad menyikapi berbagai perlakuan buruk dan penyiksaan dengan lapang dada. Ia memperlakukan kaum Quraisy yang menjadi musuhnya selama 20 tahun dengan lemah lembut. Menyelamatkan mereka dari kesesatan, menghilangkan gambar-gambar sesat di Ka’bah, membersihkan 360 patung berhala untuk dihancurkan. Lalu menjadikan Ka’bah sebagai tempat beribadah hingga sekarang ini.”

Aidh al-Qarni melanjutkan tulisannya, seorang sastrawan dunia, Leo Tolstoy berkata, “Cukup Muhammad sebagai penyelamat umatnya yang hina dari cengkraman adat tercela. Lalu dibukakan jalan menuju kemajuan dan kemuliaan. Syariatnya mampu memimpin dunia, karena selaras dengan akal dan kebijaksanaan.”

Dalam bukunya Prinsip-Prinsip Bermasyarakat, seorang filsuf Inggris, Herbert Spencer juga berkata, “Muhammad simbul dalam politik agama yang benar. Sosok yang paling jujur dan penegak amanah yang nyata. Dia selalu membimbing umat siang dan malam tanpa lelah.”