Air Kehidupan (Mengkondisikan Kesehatan Tubuh dengan Resonansi Gelombang Hado)

Oleh: Dr. M. Hasyim Syamhudi, M.Si

Dosen Sosial Humaniora Universitas Nurul Jadid

Kalaupun manusia merasa mampu memurnikan air dengan teknologi yang semakin canggih, pada akhirnya ia tetap bergantung pada air sebagai sumber kehidupan yang tidak tergantikan.

Air tidak sekadar mengalir dalam tubuh, tetapi juga membentuk keseimbangan hidup yang sering kali tak disadari. Ia hadir tanpa suara, namun menentukan sehat dan tidaknya manusia dalam menjalani kehidupan.

Sebagaimana firman Allah: “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi dahulu menyatu, kemudian Kami pisahkan keduanya, dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air. Maka mengapa mereka tidak beriman?” (QS. Al-Anbiya [21]: 30).

Menurut Masaru Emoto (1943–2014), air pada dasarnya tidak hanya membutuhkan pemurnian secara fisik, tetapi juga penghargaan secara emosional dan spiritual. Dalam pandangannya, di era modern penghargaan terhadap air semakin langka, sementara yang berkembang justru pendekatan teknologis yang berfokus pada pemurnian semata.

Padahal, air yang dimurnikan secara teknis belum tentu menghadirkan kualitas “kemurnian hakiki”, karena tidak selalu mampu membentuk struktur kristal yang indah, sebagaimana diungkap dalam The True Power of Water (terj. Azam Translator, Bandung: MQ Publishing, 2006, hlm. 154).

Dalam perkembangan industri modern, berbagai zat kimia seperti merkuri, timbal, krom, pewarna sintetis, pelarut, sisa pestisida, minyak, serta limbah organik dari industri tekstil, kimia, makanan, pertambangan, farmasi, dan elektronik telah merusak ekosistem air.

Dampak tersebut tidak hanya mengganggu keseimbangan fauna dan flora, tetapi juga membahayakan kesehatan manusia.

Dengan demikian, menghargai air bukan sekadar pilihan etis, melainkan kebutuhan dasar manusia. Lebih jauh, air dipandang sebagai bagian dari makhluk ciptaan Allah yang harus dijaga kelestarian, keseimbangan, dan keharmonisannya.

Namun, hidup di era modern membuat manusia sulit menghindari dampak industrialisasi. Karena itu, selain upaya pemurnian secara teknis, diperlukan pula kesadaran untuk menjaga idealitas kemurnian air sebagai bentuk penghormatan terhadap ciptaan Allah.

Dalam pandangan Masaru Emoto, idealitas air tersebut tampak melalui struktur kristal yang indah, yang ia sebut sebagai hado—yakni energi getaran yang terbentuk dari resonansi gelombang air.

Hado yang teratur, harmonis, dan serasi diyakini memiliki pengaruh terhadap kesehatan tubuh manusia, bahkan sebagai bagian dari proses penyembuhan terhadap berbagai penyakit yang dipicu oleh dampak industrialisasi maupun faktor lainnya.

Sebaliknya, air yang tercemar tidak hanya disebabkan oleh limbah fisik, tetapi juga oleh “pencemaran non-material”, seperti kemarahan, kebencian, kesombongan, dan sikap amoral manusia. Dalam kondisi ini, hado air menjadi tidak stabil, yang tercermin dari struktur kristal yang buram dan tidak teratur.

Dengan demikian, kualitas hado air sangat dipengaruhi oleh sikap, perlakuan, serta suasana batin manusia terhadap air itu sendiri.

Dalam proses penelitiannya, Kazuya Ishibashi dari Universitas Kumamoto turut membantu Masaru Emoto. Pada awalnya, Ishibashi bersikap skeptis terhadap penelitian tersebut. Namun, sikap Emoto yang penuh kesungguhan, disertai pendekatan emosional seperti ucapan “cinta” dan “terima kasih” yang ditujukan kepada air, serta tanpa orientasi keuntungan materi, perlahan mengubah keraguan tersebut.

Hasilnya, Ishibashi menyaksikan respons air dalam bentuk pola kristal yang terbentuk secara teratur, harmonis, dan indah. Dari struktur kristal yang rapi dan berkilau inilah, Emoto menyimpulkan bahwa hado yang positif dapat terbentuk dan berkontribusi pada kesehatan manusia.

Sebaliknya, perlakuan yang kasar terhadap air—melalui ucapan negatif, hinaan, dan energi emosional yang buruk—akan menghasilkan hado yang tidak seimbang. Air menjadi “buram” secara struktural, yang dalam perspektif ini berpotensi memperburuk kondisi kesehatan manusia.

Masaru Emoto juga berpendapat bahwa manusia dapat beresonansi dengan seluruh unsur alam. Manusia mampu menerima gelombang energi dari matahari dan bunga, sekaligus memancarkan gelombang dari tubuhnya ke alam sekitar.

Karena itu, manusia seharusnya membangun relasi harmonis dengan semesta agar resonansi gelombang dalam tubuh tetap terjaga dan tidak tercemar.

Sebagaimana diuraikan dalam The True Power of Water (hlm. 166), dalam perspektif Islam, penghargaan terhadap air tidak hanya didasarkan pada aspek ekologis dan etis, tetapi juga pada keyakinan bahwa air merupakan fondasi kehidupan seluruh makhluk.

Semakin dalam interaksi manusia dengan semesta, semakin teratur pula resonansi energi yang terbentuk dalam tubuh.

Dalam perspektif ini, keteraturan hado air di dalam tubuh akan menghadirkan ketenangan batin, dan ketenangan batin menjadi pintu masuk bagi kesehatan lahir dan batin manusia.

Pada akhirnya, kesehatan bukan hanya persoalan biologis, tetapi juga keseimbangan antara tubuh, kesadaran, dan semesta.

Semoga Allah Swt. senantiasa menganugerahkan kepada kita kesehatan lahir dan batin, dalam harmoni penghargaan kita terhadap air dan seluruh ciptaan-Nya. Aamiin.

Menjadi Kartini Modern: Lebih dari Sekadar Sanggul dan Kebaya

Oleh: Fatmawati Ningsih, (Alumni PMII UNUJA, Santri Pondok Pesantren Nurul Jadid)

Setiap tanggal 21 April, lini masa kita dipenuhi dengan foto-foto anggun mengenakan kebaya, kutipan-kutipan puitis tentang emansipasi, dan perayaan seremonial di berbagai instansi. Namun, di balik kemeriahan visual tersebut, sudahkah kita benar-benar meresapi api yang dinyalakan Raden Ajeng Kartini dari balik tembok pingitannya lebih dari seabad yang lalu?

Kartini bukan sekadar simbol pakaian adat. Beliau adalah intelektual yang gelisah. Di tengah keterbatasan akses fisik, ia mendobrak dunia melalui surat-suratnya. Senjata utamanya bukan kemarahan yang meledak-ledak, melainkan literasi dan korespondensi.
Bagi kita saat ini, merayakan Kartini berarti merayakan hak untuk memiliki opini, hak untuk mengakses pendidikan setinggi mungkin, dan hak untuk menentukan jalan hidup sendiri.
Kartini modern adalah mereka yang berani bersuara melawan ketidakadilan di ruang digital maupun nyata, Terus belajar tanpa memandang batasan usia atau status sosial, Saling mendukung sesama perempuan (women supporting women), bukan malah saling menjatuhkan.

Dulu, tantangan Kartini adalah pingitan dan akses pendidikan. Sekarang, tantangannya telah bertransformasi menjadi bentuk yang lebih halus namun tetap tajam: beban ganda (double burden) dan stigma sosial.
Banyak perempuan saat ini dituntut untuk menjadi “sempurna” di segala lini: karier yang cemerlang, pengasuhan anak yang tanpa cela, hingga penampilan yang selalu estetis. Opini saya, semangat Kartini di era ini seharusnya menjadi pengingat bahwa emansipasi adalah tentang pilihan.

Menjadi ibu rumah tangga penuh waktu adalah pilihan yang terhormat, menjadi pemimpin perusahaan adalah prestasi yang luar biasa, dan melakukan keduanya adalah dedikasi yang hebat. Kuncinya adalah kebebasan untuk memilih tanpa tekanan penghakiman dari lingkungan.

Habis gelap terbitlah terang. Cahaya yang dibawa Kartini kini telah menerangi jutaan jalan perempuan Indonesia. Namun, tugas kita belum usai. Selama masih ada kekerasan terhadap perempuan, selama upah kerja masih timpang karena gender, dan selama akses pendidikan belum merata, maka “Kartini” harus terus lahir di setiap generasi.

Selamat Hari Kartini untuk seluruh perempuan hebat di Indonesia. Teruslah bercahaya, teruslah belajar, dan jangan pernah takut untuk bermimpi setinggi langit. Karena seperti kata Kartini:
“Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri.”

Selamat Hari Kartini! Mari kita jadikan hari ini bukan sekadar seremoni pakaian, tapi momentum untuk memperkuat karakter dan kemandirian berpikir.

Talk show Geopolitik Akhir pekan bersama Idham Holiq

Malang, Berdampak.net – Talk show Geopolitik yang digelar di DPRD Kota Malang kemarin memberi satu kesan kuat, diskusi berkualitas masih punya tempat dan daya tarik di kalangan mahasiswa. Bahkan, dengan durasi sekitar 2,5 jam, forum ini terasa seperti “short course” yang padat, berisi, dan menggugah cara pandang.

Menghadirkan figur seperti Idham Holik dan Kanda Munzil sebagai narasumber menunjukkan bahwa ruang dialog ini tidak sekadar formalitas, tetapi benar-benar menjadi ajang transfer gagasan.

Pembahasan yang menyentuh teori besar seperti Thucydides Trap yang diperkenalkan oleh Graham T. Allison menandakan bahwa diskusi tidak berhenti pada isu lokal, tetapi mampu mengaitkan dinamika global dengan realitas kebangsaan.

Yang menarik, forum ini tidak kehilangan “ruh” diskusi mahasiswa—tetap hidup, interaktif, dan penuh pertukaran gagasan. Istilah “isinya daging semua” bukan sekadar ungkapan, tetapi mencerminkan kualitas materi yang disampaikan.

Dari geopolitik hingga literasi demokrasi, semuanya dikupas dengan pendekatan yang tidak hanya teoritis, tetapi juga relevan dengan kondisi saat ini.

Peran moderator dalam menjaga alur diskusi selama berjam-jam juga menjadi kunci penting. Bukan hanya mengatur waktu, tetapi memastikan setiap gagasan tersampaikan dengan jelas dan tetap menarik bagi audiens. Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan intelektual di kalangan kader masih terjaga dan terus berkembang.
Pada akhirnya, kegiatan seperti ini menegaskan bahwa demokrasi yang sehat lahir dari ruang-ruang diskusi yang hidup.

Ketika mahasiswa terbiasa berdialog dengan perspektif yang luas dan berbasis literasi, maka mereka tidak hanya menjadi penonton dalam dinamika politik, tetapi juga calon aktor yang siap memberi arah.

Forum ini bukan sekadar acara seremonial, tetapi menjadi bukti bahwa tradisi intelektual masih menyala—dan perlu terus dirawat. Salam YAKUSA. (lh)

Datangnya Kematian: “Refleksi Psikologis antara Penderitaan dan Kebahagiaan”

Oleh: Dr. M. Hasyim Syamhudi, M.Si

Dosen Sosial Humaniora Universitas Nurul Jadid

Kalaupun tidak ada perjanjian antara manusia dengan malaikat Izrail—sang pencabut nyawa—dapat dipastikan bahwa kematian akan tetap mendatangi setiap insan. Ia hadir tanpa diundang, menjemput kehidupan, lalu menyerahkan segala urusan jasad kepada keluarga untuk diantarkan ke liang lahat.

Sebagaimana firman Allah: “Di manapun kamu berada, kematian akan mendatangimu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh” (QS. An-Nisa [4]: 78).

Menurut Nurcholish Madjid (1995) dalam Islam, Doktrin dan Peradaban, manusia dalam memandang tujuan hidup dapat dibagi ke dalam dua kelompok besar: pesimis dan optimis.

Kelompok pesimis meyakini bahwa kematian adalah sesuatu yang menyakitkan, mengerikan, dan menakutkan. Pandangan ini membuat mereka menjalani hidup dengan keputusasaan. Bagi mereka, hidup seakan kehilangan makna karena pada akhirnya akan berujung pada kematian yang menyakitkan. Menunggu datangnya kematian hanya dianggap memperpanjang penderitaan. Bahkan, dalam kondisi ekstrem, kematian yang datang lebih cepat dipandang sebagai jalan keluar dari derita berkepanjangan.

Sebaliknya, kelompok optimis memandang kehidupan sebagai karunia yang harus dinikmati sepenuhnya. Namun, dalam praktiknya, optimisme ini kerap bergeser menjadi euforia tanpa batas. Kehidupan dijalani secara hedonistik—berpesta, berfoya-foya, memamerkan kemewahan, serta tenggelam dalam mabuk dan kebebasan tanpa kendali. Dalam perspektif ini, kematian yang datang di tengah euforia justru dianggap sebagai kebanggaan.

Berbeda dari kedua kelompok tersebut, terdapat pandangan Stoisisme. Aliran ini meyakini bahwa kematian adalah keniscayaan yang merupakan bagian dari keteraturan semesta.

Kebahagiaan, menurut Stoisisme, diperoleh melalui keselarasan dengan hukum alam. Karena kematian adalah bagian dari keteraturan itu, maka ia tidak seharusnya ditakuti, melainkan diterima dengan tenang.

Filsuf Stoik Romawi, Lucius Annaeus Seneca (w. 65 M), sebagaimana dikutip oleh Henry Manampiring (2023) dalam Filosofi Teras, menyatakan: “Life is long if you know how to use it. We are not given a short life, but we make it short.” Hidup menjadi panjang jika kita tahu cara menggunakannya. Kita tidak diberi hidup yang pendek, tetapi kitalah yang menjadikannya pendek dan terbuang sia-sia.

Ketakutan terhadap kematian sejatinya bukan berasal dari kematian itu sendiri, melainkan dari gambaran psikologis yang kita bangun tentangnya.

Jika kematian dibayangkan sebagai sesuatu yang menyakitkan dan mengerikan, maka respons psikis kita akan dipenuhi kecemasan dan ketakutan. Sebaliknya, jika kematian dipahami sebagai bagian alami dari kehidupan, maka jiwa akan lebih tenang dalam menghadapinya.

Dalam perspektif Stoisisme, ketenangan itu lahir dari kemampuan mengendalikan interpretasi diri. Bukan kematian yang menakutkan, tetapi cara kita memaknainya. Seneca menegaskan bahwa persoalan utama bukanlah panjangnya usia, melainkan kualitas hidup itu sendiri. Hidup seratus tahun pun tidak berarti jika dipenuhi ketakutan, kecemasan, dan amarah—terutama karena mengejar hal-hal di luar kendali—tanpa pernah mengasah kebijaksanaan, keberanian, pengendalian diri, dan keadilan.

Dalam Islam, kematian adalah keniscayaan universal. Segala yang ada—manusia, malaikat, jin, hewan, hingga seluruh alam semesta—akan mengalami kematian dan kebinasaan. Yang abadi hanyalah Allah Swt. (QS. Al-Qashash [28]: 88).

Malaikat Izrail memang ditugaskan untuk mencabut nyawa (QS. As-Sajdah [32]: 11). Namun, dalam kerangka keimanan, kematian bukan sekadar peristiwa biologis, melainkan gerbang menuju kehidupan berikutnya. Karena itu, kualitas hidup tidak berhenti pada dimensi profan antar-manusia, sebagaimana dalam Stoisisme, dan tidak pula terjebak dalam keputusasaan pesimisme atau euforia optimisme.

Stoisisme memandang manusia sebagai bagian dari semesta yang tunduk pada hukum alam, sedangkan Islam menegaskan bahwa manusia hadir di dunia atas kehendak Allah dan akan kembali kepada-Nya (QS. Ar-Rum [30]: 11).

Pada akhirnya, kematian bukanlah lawan dari kehidupan, melainkan bagian darinya. Ia bukan sekadar akhir, tetapi juga awal dari fase yang lain.

Semoga kita semua dianugerahi kehidupan yang berkualitas—hidup yang tidak hanya selaras secara lahiriah, tetapi juga bermakna secara spiritual—dalam naungan rahmat dan kasih sayang Allah Swt., baik di dunia maupun di akhirat. Aamiin.

Rezeki: Antara Ikhtiar, Kegagalan, dan Rencana Besar Tuhan

Oleh: Dr. M. Hasyim Syamhudi, M.Si

Dosen Sosial Humaniora Universitas Nurul Jadid

Sering kali kita memahami rezeki sebatas uang, pekerjaan, atau penghasilan. Padahal, kalau mau sedikit jujur dan lebih luas melihat, rezeki itu tidak sesempit itu.

Nafas yang masih teratur, tubuh yang sehat, hati yang tenang, bahkan kesempatan untuk bangkit setelah jatuh—itu semua juga rezeki.

Dalam bahasa sederhana, rezeki adalah segala sesuatu yang membuat hidup kita tetap berjalan dan bermakna. Ada yang terlihat—seperti makanan, tempat tinggal, dan penghasilan. Ada juga yang tidak terlihat—seperti ketenangan batin, kebahagiaan, dan rasa cukup. Keduanya sama pentingnya.

Menariknya, dalam ajaran Islam, rezeki telah dijamin. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an: QS. Hūd [11]: 6 “Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).”

Namun, jaminan tersebut tidak boleh dipahami secara keliru. Kepastian rezeki bukan alasan untuk berdiam diri tanpa usaha, melainkan penegasan bahwa setiap makhluk memiliki bagian yang harus dijemput melalui ikhtiar.

Justru, manusia diperintahkan untuk bergerak, berusaha, dan bekerja. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an: QS. Al-‘Ankabūt [29]: 17 “Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, sembahlah Dia, dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.”

Dalam konteks ini pemikiran Ibnu Khaldun menjadi sangat menarik. Ia melihat rezeki bukan sekadar “apa yang kita miliki”, tetapi “apa yang benar-benar kita manfaatkan”. Uang yang hanya disimpan tanpa memberi nilai bagi kehidupan, menurutnya, belum sepenuhnya bisa disebut rezeki.

Lebih jauh lagi, Ibnu Khaldun mengaitkan rezeki dengan kerja, produksi, dan pengelolaan sumber daya. Ketika manusia bekerja, mengolah, dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, di situlah rezeki bergerak. Bahkan sisa dari hasil itu bisa menjadi modal untuk berkembang lebih besar di masa depan.

Lalu bagaimana dengan kegagalan?

Di sinilah sering kali kita keliru. Kita menganggap gagal sebagai akhir, padahal bisa jadi itu hanya jeda. Bahkan dalam Al-Qur’an: QS. Yusuf [12]: 87 manusia diingatkan untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah.

Kegagalan, kalau dilihat dengan kacamata yang lebih jernih, sering kali adalah bagian dari desain besar yang tidak kita pahami. Kita punya rencana, tapi Tuhan punya skenario.

Contoh sederhana—dan dekat dengan kehidupan kita—adalah kisah Brian Acton. Ia pernah ditolak bekerja di Facebook. Kalau saat itu ia diterima, mungkin dunia tidak akan pernah mengenal WhatsApp seperti sekarang.

Ironisnya, justru Facebook yang dulu menolaknya, akhirnya membeli WhatsApp dengan nilai fantastis. Dari kegagalan, lahir peluang yang jauh lebih besar.

Dari sini kita belajar satu hal penting: gagal bukan berarti tidak dapat rezeki. Bisa jadi, kita sedang diarahkan menuju bentuk rezeki yang lebih tepat.

Akhirnya, hidup ini bukan soal cepat atau lambat mendapatkan hasil. Tapi soal bagaimana kita terus berusaha, menjaga niat, dan tetap percaya bahwa setiap proses—termasuk yang pahit—ada dalam rencana-Nya.

Rezeki itu pasti datang. Tugas kita hanya dua: menjemputnya dengan usaha, dan memanfaatkannya dengan bijak. Semoga kita semua diberi kemampuan untuk mencari rezeki yang halal, baik, dan membawa keberkahan.

Waktu Subuh/Pagi Hari dan Keutamaan Bersedekah di Dalamnya (?)

Oleh: USTADZ MOHAMAD KHOIRUL ADHIM, S.H.I
Ketua Umum MUI Kecamatan Wonoasih – Kota Probolinggo

Akhir-akhir ini lagi populer istilah Sedekah Subuh. Sampai-sampai ini dijadikan sebagai sebuah gerakan yang dikampanyekan secara masif di berbagai kesempatan.

Sebagaimana namanya, ini adalah sebuah gerakan yang menganjurkan kita berinfaq di waktu subuh/pagi hari. Jadi penekanannya ada pada waktu pelaksanaannya, yakni subuh/pagi hari.

Menurut informasinya, sedekah di waktu subuh/pagi hari ini memiliki keutamaan tersendiri. Hal ini didasarkan pada sebuah hadis muttafaq ‘alaih (riwayat Imam Bukhari dan Muslim Ra.) sebagai berikut:

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ اِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُوْلُ اَحَدُهُمَا اَللّٰهُمَّ اَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُوْلُ الْاٰخَرُ اَللّٰهُمَّ اَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

“Tidak ada satu pagi hari pun bagi seorang hamba kecuali ada dua malaikat yang turun. Salah satunya berdoa, ya Allah berilah ganti (yang lebih baik) kepada orang yang bersedekah. Sedangkan malaikat satunya lagi berdoa, ya Allah berilah kebinasaan kepada orang yang menahan hartanya (tidak mau berinfaq)” (H.R. Imam al-Bukhariy {1442} dan Muslim {1010} dari sahabat Abu Hurairah Ra.)

Namun disini ada kejanggalan mengenai adanya keutamaan bersedekah di waktu subuh/pagi hari ini. Benarkah sedekah di waktu ini memiliki keutamaan tersendiri di samping keutamaan sedekah di waktu-waktu lainnya. Jika memang benar begitu, apakah hal itu tepat jika berpijak pada hadis shahih di atas.

Berlandaskan penelusuran beberapa hadis tentang keutamaan bersedekah, khususnya keutamaan yang berkenaan dengan waktu pelaksanaannya, diperoleh beberapa hadis. Tetapi sepanjang penelusuran itu tidak ditemukan satupun hadis yang menjelaskan waktu subuh/pagi hari sebagai salah satu waktu utama untuk bersedekah.

Sekedar contoh hadis yang mengungkapkan waktu-waktu utama bersedekah terdapat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhariy (2748) dan Muslim (1032) dari sahabat Abu Hurairah Ra. Dalam hadis ini diceritakan bahwa ada seseorang datang kepada Rasulullah Saw. dan bertanya tentang shadaqah yang paling utama/paling besar pahalanya. Lalu beliau menjawab, shadaqah yang dilakukan pada waktu masih sehat, saat masih punya banyak keinginan/kebutuhan, saat sangat berharap menjadi kaya dan saat takut jatuh miskin.

Lalu bagaimana dengan hadis yang pertama tadi? Tidakkah itu cukup sebagai landasan hukum keutamaan sedekah di waktu subuh/pagi hari?

Secara redaksional, makna, dan konteksnya, hadis itu tidak tepat dijadikan sebagai dasar hukum. Mengapa?

Perlu dipahami bahwa hadis tersebut menjelaskan tentang doa yang dipanjatkan dua malaikat di waktu pagi untuk orang yang bersedekah dan yang tidak mau bersedekah. Maksudnya, waktu pagi itu adalah saat dimana dua malaikat tadi memanjatkan doanya, bukan waktu yang secara khusus dianjurkan untuk bersedekah di dalamnya. Itu artinya, mau bersedekah kapan saja, baik pagi, siang, sore, maupun malam tetap mendapatkan barokah dari doa malaikat tadi. Begitu pula bagi yang tidak mau bersedekah akan mendapatkan akibat buruk dari doa malaikat tersebut.

Karena itu, sedekah yang mendatangkan keistimewaan doa malaikat tadi tidak ditentukan hanya dilakukan di saat subuh/pagi hari saja. Waktu subuh/pagi hari tidak memiliki keistimewaan tertentu untuk bersedekah. Bagi anda yang baru sempat bersedekah di waktu siang, sore, atau malam tidak perlu berkecil hati. Anda tetap akan mendapatkan keutamaan doa malaikat tadi.

Di samping itu, anda juga akan mendapatkan tambahan keutamaan ketika bersedekah dalam kondisi sebagaimana digambarkan di hadis kedua tadi. Begitu juga ada tambahan keutamaan saat anda bersedekah di bulan Ramadhan, di hari Jumat, dan waktu-waktu lain sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw. dalam hadis-hadis beliau.

Wallaahu a’lam bis-shawaab