Santri dan Moderasi Beragama: Merajut Harmoni di Tengah Kemajemukan

Oleh:
Dr. H. Ahmad Hudri, ST., MAP.
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Probolinggo

Hari Santri diperingati secara resmi sebagai Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015, artinya baru 10 (sepuluh) tahun lalu. Namun adanya peresmian peringatan Hari Santri Nasional pada tahun 2015 tersebut bukanlah sebagai penanda awal kiprah santri dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Namun hal itu lebih sebagai faktor pengingat bahwa santri memiliki peran besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia di era kolonialisme yang sangat panjang. Menurut Saputra (2019) bahwa dalam sejarah, santri tidak hanya berperan sebagai pemuka agama, tetapi juga sebagai elemen penting yang turut serta dalam membentuk narasi kebangsaan. Santri berperan besar meletakkan pondasi kebangsaan yang sangat kuat bagi berdirinya pilar-pilar kebangsaan. Yaitu nilai-nilai spiritualitas yang menjunjung tinggi prinsip Ketuhanan dan penghargaan atas nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Disini pula peran santri yang berakar dari pesantren seperti KH. Hasyim dan putra beliau KH. Wahid Hasyim turut berperan penting “mempertemukan” Agama dan Negara dalam bingkai kebangsaan yang bernama Indonesia.

Oleh karena itu ketika bangsa ini berbicara tentang moderasi beragama, maka tidak adil jika mengabaikan peran santri dari diskursus tersebut. Sepanjang sejarah perjuangan kemerdekaan hingga kini, santri selalu hadir sebagai entitas yang menempatkan agama bukan sekadar simbol keimanan, tetapi juga sebagai inspirasi kebangsaan. Momentum Hari Santri yang diperingati setiap 22 Oktober menjadi pengingat penting sekaligus penggugah bahwa semangat cinta tanah air, toleransi, dan keseimbangan berpikir telah lama hidup dalam denyut nadi pesantren.

Moderasi Beragama dan Nilai-nilai Kebangsaan

Indonesia sebagai negara yang sangat majemuk —dari agama, suku, bahasa, hingga budaya. Dalam perspektif ini moderasi beragama menjadi kebutuhan mendesak sekaligus solusi, bukan hanya sebatas slogan. Kementerian Agama RI mendefinisikan moderasi beragama sebagai cara pandang, sikap, dan praktik beragama yang selalu mengambil jalan tengah, menghindari ekstremisme, serta menjunjung tinggi keadilan dan kemanusiaan.

Namun, di tengah derasnya arus globalisasi dan disrupsi informasi dengan ditandai oleh digitalisasi informasi yang melahirkan postruth, kita juga menghadapi tantangan baru: penyebaran paham radikal, polarisasi sosial, dan ujaran kebencian berbasis agama di ruang publik dan digital. Di sinilah kontribusi santri menjadi sangat relevan. Santri tidak hanya dibekali pengetahuan agama yang mendalam, tetapi juga diajarkan untuk menimbang segala sesuatu dengan akal sehat dan hati yang seimbang nan jernih.

Nilai-nilai Pesantren sebagai Fondasi Moderasi

Dalam tradisi pesantren, nilai-nilai seperti tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan i’tidal (adil) bukan sekedar teori, melainkan bagian dari perilaku keseharian. Santri dibentuk untuk berpikir jernih, tidak tergesa-gesa menilai, dan senantiasa mencari titik temu di tengah perbedaan. Menjadi jembatan penghubung diantara jurang pemisah perbedaan.

Nilai-nilai ini bersumber dari ajaran Islam rahmatan lil alamin — Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Seorang santri belajar untuk menghargai guru, teman, bahkan mereka yang berbeda pandangan. Pembelajaran dari Kitab Adabul Alim Wal Mutaalim karya KH. Hasyim Asyari mengaktualisasikan bahwa akhlak dalam pendidikan adalah fondasi yang kuat dan ditransformasikan untuk mewujudkan masyarakat yang beradab dan harmonis, sesuatu yang sangat diperlukan dalam masyarakat modern yang serba cepat dan sering kali kurang memperhatikan nilai-nilai humanis. Sikap inilah yang menjadi basis etika dalam kehidupan bermasyarakat.

Dengan modal nilai-nilai tersebut, santri sejatinya adalah “moderator” alami dalam kehidupan keagamaan dan kebangsaan. Mereka menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, antara teks dan konteks, antara agama dan kemanusiaan.

Santri sebagai Motor Penggerak Harmoni dan Persaudaraan

Dalam kehidupan sosial, santri seringkali menjadi pionir dalam membangun ruang-ruang dialog lintas iman dan lintas budaya. Keberadaan pesantren dengan para santrinya turut aktif bermitra dengan pemerintah dan entitas
masyarakat lainnya dalam menyelenggarakan kegiatan sosial dan pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa pesantren bukan entitas eksklusif, melainkan terbuka terhadap kebinekaan.

Selain itu, santri juga hadir di ruang digital dengan wawasan keilmuan yang mengkolaborasi wawasan keilmuan kontemporer dan agama dengan pendekatan inklusifitas. Banyak komunitas santri muda yang aktif membuat konten edukatif tentang Islam yang sejuk, dialogis, dan penuh kasih. Gerakan Santri dalam jagat digital merupakan bentuk nyata dari adaptasi santri terhadap tantangan era digital tanpa kehilangan jati diri keislaman dan keindonesiaannya.

Menjaga Tradisi dan Beradaptasi dengan Kemajuan

Santri dikenal sebagai penjaga tradisi Islam Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) yang moderat. Namun, di saat yang sama, mereka juga adaptif terhadap perubahan zaman. KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah berpesan bahwa santri harus mampu menjembatani masa lalu, masa kini, dan masa depan. Artinya, nilai-nilai klasik yang diwariskan ulama harus terus dihidupkan, tetapi juga perlu dikontekstualisasikan dengan tantangan baru. Sebagaimana kaidah yang populer di kalangan pesantren yaitu mempertahankan nilai-nilai lama yang masih baik dan menerima nilai-nilai baru yang lebih baik. Kaidah ini terkenal dalam bahasa Arab yaitu Al mukhafadhutu ala Qodimissholeh Wal Akhdu bil Jadidi wal Aslah.

Dalam perspektif kebangsaan, hal ini bermakna bahwa santri tidak hanya berkutat di ranah keagamaan, melainkan juga berperan aktif dalam pembangunan sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Banyak alumni pesantren kini menjadi akademisi, pejabat publik, wirausahawan, pegiat sosial hingga politisi yang tetap membawa semangat moderasi beragama.

Sinergi dengan Program Nasional Moderasi Beragama

Program Penguatan Moderasi Beragama yang digagas Kementerian Agama sejak 2019 sejatinya mendapat dukungan moral dan konseptual dari pesantren. Nilai-nilai yang diajarkan di pesantren seirama dengan empat indikator moderasi beragama versi Kemenag, yakni: komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, dan penerimaan terhadap budaya lokal.

Oleh sebab itu, santri bukan hanya obyek program, namun juga menjadi mitra strategis dan konstruktif dalam implementasinya. Oleh karena Pesantren sebagai lembaga pendidikan yang menaungi para santri dapat menjadi penggerak moderasi beragama — tempat di mana nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan dirawat melalui pembelajaran agama yang inklusif dan rasional.

Refleksi: Santri dan Masa Depan Kebangsaan

Di tengah berbagai tantangan kehidupan sebagaimana tersebut di atas, santri memikul tanggung jawab moral yang sangat berat. Mereka tidak cukup hanya memahami keilmuan agama secara tekstual, namun juga harus mampu menafsirkan secara kontekstual kedalam realitas sosial dengan bijak. Santri masa kini harus berani tampil sebagai katalisator di tengah konflik, sebagai penyejuk di tengah panasnya perdebatan terutama di media sosial, dan sebagai penjaga harmoni dalam keberagaman.

Sebagaimana halnya pesantren mengajarkan tentang memuliakan kemanusiaan dengan Akhlaqul karimah, memegang komitmen kebangsaan, dan mengamalkan agama dengan cinta, bukan kebencian.

Maka dari itu, moderasi beragama bukan sekadar proyek pemerintah, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh elemen bangsa. Dan santri, dengan segala kearifan dan keikhlasannya, akan terus menjadi garda terdepan dalam menjaga kerukunan dan harmoni bagi Indonesia agar tetap damai, toleran, berkeadaban dan berkemajuan.

Mengasah Potensi Terampil dalam Membaca Buku

Oleh* : CHOIRUL ANAM FATUR ROHMAN

Apapun profesi seseorang pasti sangat berrurusan dengan membaca. Tentu jika seorang kalangan pelajar harus membaca buku dan materi pelajaran di ruang kelas maupun di lingkungan eksternal sekolah seperti tempat lapak baca / ruang perpustakaan daerah. Jika seorang profesi manajer perusahaan harus mahir membaca laporan, update terbaru seputar bisnis, dan menganalisinya untuk mengambil keputusan. Jika seseorang yang gemar melatih keterampilan baru maka harus kerap membaca dan belajar.
Salah satu rahasia menjadi pribadi produktif adalah dengan membaca buku lebih cepat. Bayangkan jika seseorang bisa membaca buku dua kali lebih cepat dari rata-rata orang, maka bisa menyelesaikan berbagai tugas yang berhubungan dengan membaca hanya dalam kurun waktu setengahnya saja. Hal ini akan menjadi pribadi yang jauh lebih produktif. Sebuah fakta menarik seputar membaca buku di Negara Amerika Serikat : Ada 95% buku dibeli oleh 5% orang. Sisa 5% buku lainnya dibeli oleh 95% orang yang hampir tidak pernah membaca buku tersebut. Mereka membelinya untuk dijadikan hadiah atau pajangan di rak buku.Secara singkat kita bisa menarik kesimpulan bahwa orang yang senang membaca buku akan terus membaca lebih banyak buku dari waktu ke waktu untuk meningkatkan pengetahuan dam keterampilan mereka. Semakin hari mereka semakin cerdas dan terampil. Sebaliknya orang yang tidak senang membaca buku cenderung tidak pernah menambah ilmu baru setelah mereka dewasa. Kalaupun mereka membeli buku, biasanya cuma dibaca 1-2 Bab saja dan setelah itutersusun rapi di rak.
Rata-rata orang menghabiskan waktu 2 jam untuk membaca buku. Buat seorang profesional, waktu mereka akan dihabiskan untuk membaca koran, memeriksa email, membaca laporan kerja, browsing internet mencari informasi, dan melakukan kegiatan yang berhubungan dengan membaca lainnya. Teruntuk seorang dosen dan mahasiswa ( yang benar-benar belajar ), waktu membaca buku dapat meningkatkan ketajaman konsentrasi berfikir. Mereka dapat menghabiskan 4-6 jam sehari untuk kegiatan membaca buku. Fakta lain menunjukkan kebanyakan orang tidak pernah meningkatkan kemampuan membacanya setelah lepas dari sekolah dasar. Dengan keterampilan membaca yang terbatas dan tidak pernah meningkat, praktis seseorang kehilangan kesempatan untuk menambah produktivitas. Padahal hanya dengan memperbaiki caranya membaca, orang tersebut bisa menjadi pribadi yang lebih produktif dengan mudah.
Semuanya dapat dilakukan dengan cara mudah dan sederhana yakni memperbaiki keterampilan membaca. Jika seorang memiliki kemampuan membaca cepat maka bisa menguasai bacaan apapun dalam tempo lebih singkat dengan pemahaman yang setara ketika membaca seperti biasa. Bahkan kebanyakan pembaca cepat mempunyai pemahaman yang jauh lebih tinggi daripada pembaca lambat, karena mereka mampu membaca dengan fokus, aktif sekaligus sistematis. Oleh sebab itu tidak heran jika tokoh pemimpin besar Soekarno adalah orang yang memiliki keterampilan baca tinggi. Kesibukan superketat sebagai pemimpin negara masih bisa meluangkan waktu membaca 1-2 buku setiap harinya. Inilah rahasia mengapa ilmu dan wawasan beliau begitu luas.
Mulai sekarang perbaikilah keterampilan dengan cara membaca cepat sehingga dapat menyelesaikan tugas dalam waktu singkat dan memanfaatkan kelebihan waktu untuk aktivitas yang lainnya. Jika hal itu dilakukan maka seorang menjadi pribadi yang lebih produktif dan unggul. Kita mungkin terbiasa untuk mencari informasi mengenai hal-hal yang kita sukai. Hal seperti inilah yang membuat pengetahuan dan motivasi kita menjadi lebih terbatas. Namun bukan tidak mungkin seorang akan menemukan sebuah fakta baru atau ide yang sebelumnya belum pernah terfikirkan. Sebab, sejatinya membaca buku bukan untuk bersenang-senang, tetapi untuk membekali diri dengan ilmu yang bermanfaat. Selain membaca buku, aktivitas membaca blog, browsing internet dan cara membaca lainnya juga bisa kita praktikkan secara teratur mulai dari sekarang.


Saat Api dan Doa Mekar di Langit Cempluk

Malam merapat, namun gang-gang di Kampung Cempluk justru semakin benderang. Inilah puncak perayaan, momentum penutupan Festival Kampung Cempluk yang ke-15. Udara terasa padat, bukan hanya oleh sesaknya manusia, tapi oleh akumulasi kebahagiaan yang tumpah ruah di setiap sudutnya. Ini bukan sekadar festival; ini adalah hari raya kebudayaan bagi kami, warga kampung.

Langkah kaki seolah tak punya pilihan selain mengikuti arus lautan manusia. Di sela-sela riuh tawa dan obrolan, aroma nasi bakar yang baru diangkat dari panggangan beradu dengan wangi manis popcorn yang sedang dimasak. Para penjual, dengan senyum yang tak luntur meski lelah, melayani pembeli tanpa henti. “Dagangan laris,” begitu bisik mereka penuh syukur.

Dari panggung utama, gemuruh ritmis menggetarkan dada. Itu bukan sekadar musik dari kawan-kawan yang silih berganti tampil, melainkan dentuman semangat dari para penerus kampung ini sendiri: anak-anak dari grup perkusi Garuda Putih. Tangan-tangan kecil mereka lincah menabuh instrumen, menciptakan irama yang membakar malam. Di setiap pukulan mereka, tersimpan energi murni, sebuah pernyataan bahwa tradisi dan kreativitas di kampung ini terus beregenerasi.

Tiba-tiba, di tengah lautan manusia, langit yang gelap pecah. Nyala merah suar membakar malam, diangkat tinggi-tinggi oleh tangan-tangan yang bersemangat, menjadi obor kebahagiaan yang menular. Asapnya yang tebal menyatu dengan cahaya panggung, menciptakan siluet orang-orang yang menari dan bersorak, merayakan kemenangan kolektif ini.

Lalu, rentetan letusan membelah angkasa. Bunga-bunga api mekar di atas atap-atap rumah kami, melukis langit malam dengan warna-warni yang gemerlap. Kepala-kepala serentak menengadah, diiringi pekik kagum dan sorak-sorai yang menyatu dengan musik. Inilah puncak dari akumulasi kebahagiaan selama berhari-hari.
Kembang api kampung ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan doa-doa yang kami lontarkan ke langit, berisi harapan dan rasa syukur yang tak terhingga.

Bahkan di sudut-sudut yang tak tersorot lampu panggung, kebahagiaan itu nyata. Bapak-bapak petugas parkir dari berbagai RT, yang sedari sore mengatur kendaraan, ekspresi mereka jauh dari lelah. Ada kelegaan dan kebanggaan di sana. Malam ini bukan hanya tentang suksesnya acara, tapi tentang bukti bahwa gotong royong mereka membuahkan hasil, bahwa kampung mereka hidup dan berdaya. Setiap rupiah dari parkir, setiap piring yang terjual, menjadi benih harapan yang akan mereka rawat bersama.

Terima kasih, Semesta. Energi produktif yang Kau embuskan pada kami, warga Kampung Cempluk, telah kami wujudkan menjadi perayaan ini. Sebuah cara kami untuk merawat rumah, merawat ruang-ruang komunal di gang-gang ini, agar ia tak hanya menjadi tempat tinggal, tapi juga ruang yang terus menginspirasi. Malam penutupan ini bukanlah akhir, melainkan sebuah jeda untuk menancapkan harapan yang lebih kokoh lagi, untuk masa depan kampung yang kami cintai ini. Esok, mentari akan terbit, dan kami akan kembali bekerja, dengan semangat yang telah terisi penuh dari malam yang magis ini.

Pawon Cempluk, 11 Oktober 2025, jam 23.19 (REP)

Menyembuhkan “Cedera” Industri Tebu: Kunci Percepatan Swasembada Gula dan Kesejahteraan Petani Jawa Timur

*Fajar Satrio (Ketua TANI MERDEKA INDONESIA KABUPATEN PROBOLINGGO)

Problem hilirisasi tebu dan upaya percepatan swasembada gula di Indonesia menunjukkan tantangan serius yang harus segera diatasi agar visi kemandirian pangan dan energi terwujud. Meski pemerintah telah menyiapkan peta jalan strategis dengan target ambisius berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 2023, tatanan lama yang rapuh di sektor perkebunan tebu rakyat dan industri gula nasional masih menjadi beban berat yang menghambat kemajuan.

Kondisi keterlambatan pembayaran oleh PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), yang hanya membayar 30% dari kewajiban kepada petani tebu di Jawa Timur, bukan sekadar persoalan administratif, melainkan cerminan kegagalan sistem dan lemahnya koordinasi dalam rantai nilai hilirisasi tebu. Petani, sebagai ujung tombak produksi gula, mengalami tekanan berat yang berpotensi melemahkan motivasi dan keberlanjutan usaha tani tebu. Ini bukan hanya jeritan ekonomi, tetapi juga panggilan untuk reformasi mendasar.

Untuk membangun hilirisasi tebu yang kuat dan berkeadilan, diperlukan terobosan visioner yang berorientasi pada sinergi antara pemerintah, BUMN, dan petani. Pertama, penguatan infrastruktur produksi dan pengolahan tebu harus diprioritaskan untuk mencapai produktivitas 93 ton per hektar dan rendemen gula 11,2% yang telah ditargetkan. Investasi modernisasi pabrik dan teknologi agro-industri menjadi kunci agar hasil panen tidak lagi hanya menjadi komoditas primer, melainkan produk bernilai tambah tinggi seperti bioetanol.

Kedua, model kemitraan antara BUMN dan petani harus direvitalisasi dengan memperbaiki sistem pembayaran agar transparan, tepat waktu, dan memadai. Penerapan teknologi digital dalam monitoring transaksi dan distribusi hasil panen bisa mengurangi risiko kerugian dan menyelesaikan persoalan trust yang selama ini menimbulkan luka lama. Pemerintah juga harus memberikan jaminan perlindungan sosial kepada petani melalui skema asuransi dan dukungan finansial.

Ketiga, percepatan swasembada gula yang diminta Presiden Prabowo harus direspon dengan strategi sinergis seluruh stakeholder, tidak hanya tiga BUMN, tetapi juga pemerintah daerah dan sektor swasta. Hal ini membutuhkan reformasi kebijakan pertanian terpadu yang mendorong diversifikasi produk, pengembangan pasar lokal dan ekspor, serta pelestarian lingkungan di lahan perkebunan tebu.

Visi besar swasembada gula bukan hanya soal kuantitas produksi, melainkan juga keberlanjutan ekonomi petani dan ketahanan pangan nasional. Jika persoalan klasik dan baru tidak segera diatasi dengan kebijakan yang berani, terintegrasi, dan inklusif, maka cita-cita percepatan swasembada gula akan tetap menjadi janji kosong yang memperpanjang jeritan petani tebu. Indonesia membutuhkan lompatan inovasi dan kemitraan yang kuat agar gula bukan hanya bahan konsumsi, tetapi simbol kemandirian agroindustri bangsa.

Pemimpin Akhir Zaman dan Nostalgia Zaman Sayyidana Ali KW

Oleh Muhammad Ali Muhsin Rofiey Notonegoro, Ama.Spd.I. Wakil Sekretaris MD KAHMI Kabupaten Pamekasan. Fenomena politik kontemporer bisa kita baca dengan kaca mata hikmah klasik ini. Alih-alih sekadar menyalahkan pemimpin, umat juga perlu bercermin pada kondisi moral dirinya. Sebab, perubahan besar dalam kepemimpinan hanya mungkin terjadi jika dimulai dari perbaikan kolektif masyarakat ( Raden Bindoro Ali Muhsin Rofiey Notonegoro, Ama. Spd.I ) . Imam Al-Ghazali, dalam bukunya Ihya’ Ulumuddin, menjelaskan bahwa pemimpin merupakan cerminan dari masyarakatnya. Beliau menekankan bahwa masyarakat yang mementingkan keadilan dan moralitas akan memiliki pemimpin yang juga adil dan bermoral. Sebaliknya, jika masyarakat tidak peduli dengan nilai-nilai tersebut, maka pemimpin yang muncul akan kurang memperhatikan prinsip-prinsip tersebut.

Syekh Muhammad Abduh, seorang ulama reformis dari Mesir, juga mengemukakan pandangan serupa. Ia berpendapat bahwa perubahan sosial dan politik bergantung pada kesadaran dan tindakan masyarakat itu sendiri. Masyarakat yang tidak aktif dalam memperjuangkan kebaikan akan menciptakan pemimpin yang tidak berkomitmen pada nilai-nilai tersebut.

PEMIMPIN YANG IDEAL

Pemimpin itu laksana naungan Allah yang berada di bumi, begitu riwayat Imam Baihaqi, di Kitab Syu’ab al-Iman. Agung betul derajat seorang pemimpin dalam Islam. Sampai-sampai dikatakan sebagai bayangan Allah di bumi.

Imam al-Suyuti dalam al-Jami’ al-Saghir Jilid I (h. 496), Pemimpin tempat umat mengeluh dan mengadu. Pemimpin pula tempat orang yang lemah menuntut hak. Kepada pemimpin juga orang yang dizalimi mengadu nasib dari mereka yang berkuasa dan berkekuatan.
Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas. membagi tiga hal yang menjadi akar masalah umat : Pertama adalah Ilmu yg rusak. Kedua , loss of adab (hilangnya adab). Ketiga , kemunculan pemimpin palsu, masalah yang ketiga tersebut berkait erat dengan masalah pertama. Sehingga masalah ketiga muncul disebabkan masalah ilmu.

Fenomena keruntuhan adab, menurut al-Attas, melahirkan hilangnya keadilan (justice), baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Konsekuensi logisnya, hilangnya keadilan melahirkan hilangnya wisdom (hikmah) atau kebijaksaan.

Karena keduanya memang direfleksikan oleh adab. Ketika keadilan dan hikmah sirna maka individu dapat berlaku zalim atau bersikap tidak adil (unjustice) sehingga tidak mampu meletakkan sesuatu secara proporsional. Karena yang terjadi adalah corruption of knowledge karena telah telah terjadi disintegrasi adab. ( Al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), 16-19 ).

Disintegrasi adab tersebut mewujud dalam masalah-masalah spiritual, intelektual, dan kultural, seperti: menyamakan Kitab Suci Al-Qur’an dengan kitab-kitab lain; menyetarakan Nabi Muhammad dengan nabi-nabi lain; menyamakan ilmu agama dengan ilmu lain; menyamakan hidup di dunia dengan hidup di akhirat; pemimpin sejati disejajarkan dengan para pemimpin palsu. ( Al-Attas,“Introduction”, dalam al-Attas , Aims and Objectives of Islamic Education Jeddah Hodder and Stoughton-King Abdul Aziz University, 1979), 14).
Dari loss of adab lahir kebingungan dan kerancuan ilmu; dari kerancuan ilmu dan loss of adab lahirlah para pemimpin palsu. Yaitu , para pemimpin yang tidak identitas dan integritas dalam memimpin.

Mereka tidak amanah dalam menjalankan kepemimpinan mereka. Bahkan, dalam pandangan al-Attas, dari loss of adab dan corruption of knowledge secara khusus, melakhirkan ulama palsu ( false ‘ulama ), yaitu mereka yang membatasi ilmu hanya pada domain fiqh. “…who restrict knowledge (al-‘ilm) to the domain of jurisprudence (fiqh). Sehingga, mereka tidak layak mengikuti para mujtahidun: para Imam hebat yang upaya individual mereka mengukuhkan mazhab hukum fiqih dan hukum dalam Islam. ( Al-Attas, “Introduction”, 8 ).

Dalam sejarah Islam kita mengenal para ulama sebagai sosok generik: dia pakar kalam, tafsir, ushul fiqih, filsafat, bahkan fiqih. Sebut saja misalnya, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam al-Syafi’i, Imam Ahmad, Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Imam al-Dzahabi, Imam ibn al-Atsir, Imam al-Baqillani, Imam Ibn ‘Asakir, Imam ibn Katsir, bahkan Imam Nawawi al-Bantani, Tengku Muhammad Hasbi as-Shidieqi, Buya Hamka, dan banyak lagi. Mereka contoh dari ulama sejati itu.

Selain ulama yang “palsu”, hari ini banyak bermunculan kaum intelektual sekular, yang mengambil inspirasi dari Barat. Secara ideologi, mereka sejalan dengan kaum “pembaharu” modernis dan para pengikutnya; sebagian mereka bahkan mengikuti pandangan kaum “pembaharu” tradisionis dan para pengekornya.

Kebanyakan mereka tidak mengambil pengetahuan dan epistemologi Islam sebagai dasar intelelektualitas dan spiritualitas mereka. Jadi, mereka ini terpisah jauh dari pendekatan kogninitif dan metodologis terhadap sumber dan pengajaran Islam. ( Al-Attas, “Introduction”, 10 ). Ini semuanya disebabkan oleh loss of adab itu.

Penting juga untuk dicatat bahwa loss of adab tidak serta-merta melahirkan ketiadaan ilmu. Tetapi maknanya juga kehilangan kapasitas dan kemampuan untuk mengenal dan mengakui para pemimpin sejati. ( Al-Attas, “Introduction”, 12 ).

Ini mengingatkan pada peringatan futuristik dari Nabi Muhammad. Nabi ﷺ bersabda;

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Rasulullah ﷺ bersabda, “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR: Ibnu Majah).

KRITERIA PEMIMPIN PILIHAN DALAM Al-QUR’AN

Tugas berat yang di emban seorang pemimpin, membuat mereka dikaruniai kemuliaan dari Tuhan. Imam Bukhari dan Imam Muslim, melukiskannya, kelak di hari kiamat pemimpin adil akan mendapatkan naungan, di mana tidak ada perlindungan selain dari Allah. Kelak juga balasan atas jasanya ialah surga.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ

“Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi Muhammad saw, ia bersabda, ‘Ada tujuh kelompok orang yang dinaungi oleh Allah pada hari tiada naungan selain naungan-Nya, yaitu pemimpin yang adil.”. Bagaimana bisa kutemukan pemimpin sejati di tengah tumpukan para pesolek gila kuasa dengan kualitas menengah.

Ketika kekaguman pada ”nama-nama besar” mulai pudar akibat kemerosotan wibawa pusat teladan, banyak orang mengalihkan kekagumannya pada diri sendiri. Hanya berbekal penampilan, sumbangsih tipis atau kantong tebal, seseorang sudah merasa pantas memimpin .

Situasi inilah yang melahirkan onggokan sampah pemimpin plastik, yang tidak otentik di ruang publik . Semoga bermanfaat . Billahitaufiq Wal Hidayah.

Sinergi TNI Menjaga Kedaulatan NKRI; Turut Merawat Kerukunan dengan Moderasi Beragama


Oleh: Dr. H. Ahmad Hudri, ST., MAP.
Ketua FKUB Kota Probolinggo

Tentara Nasional Indonesia (TNI) menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah bangsa. TNI selalu hadir sebagai garda terdepan dalam menjaga keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). TNI tidak hanya berperan di medan pertahanan dan keamanan, tetapi juga turut aktif berperan dalam merawat harmoni sosial, termasuk dalam penguatan moderasi beragama sebagai pilar kerukunan dan integrasi sosial kebangsaan.

Di tengah realitas sosial kebangsaan dengan kemajemukan etnis, bahasa, dan agama, Indonesia membutuhkan penjaga yang tidak hanya tangguh secara militer, tetapi juga arif dan humanis dalam merawat perbedaan. Di sinilah TNI memainkan peran strategis: membangun sinergi antara tugas menjaga kedaulatan negara dengan upaya meneguhkan semangat kerukunan dan persatuan untuk menciptakan harmoni sosial kebangsaan melalui moderasi beragama.

Moderasi beragama bukanlah upaya mengaburkan atau mencampuradukkan keyakinan yang berbeda, melainkan sikap bijak dan saling memghormati dalam beragama yang mengedepankan Tawassuth (moderat), Tawazun (seimbang), I’tidal (adil), dan Tasamuh (toleran). Prinsip ini selaras dengan jati diri TNI yang sejak awal mengedepankan Sapta Marga dan Sumpah Prajurit. Dengan menanamkan nilai moderasi, TNI membantu mencegah potensi konflik bernuansa agama yang bisa mengancam stabilitas bangsa.

Program-program teritorial TNI, seperti komunikasi sosial dengan masyarakat, pembinaan desa, serta sinergi dengan forum kerukunan umat beragama (FKUB), sebagai cara bahwa TNI tidak semata mengandalkan kekuatan senjata. Justru dengan pendekatan kultural dan dialogis inilah yang menjadi cara untuk memperkuat rasa aman dan rasa memiliki di tengah masyarakat majemuk.

Sinergi TNI bersama tokoh agama, pemerintah daerah, serta elemen civil society menjadi kunci dalam merawat kerukunan dan harmoni. Dengan cara ini, TNI tidak hanya menjaga batas teritorial NKRI, tetapi juga menjaga “batas sosial” agar bangsa tidak terpecah belah oleh sentimen perbedaan karena kemajemukan. Begitu pula dalam menghadapi menghadapi tantangan dan godaan politik identitas.

Pada momentum Hari TNI ini perlu diingatkan kembali bahwa kekuatan sejati bangsa bukan hanya pada persenjataan, melainkan juga pada persatuan. Sinergi TNI menjaga NKRI dengan moderasi beragama adalah ikhtiar strategis agar Indonesia terus kokoh, damai, dan berdaulat. Dengan ikhtiar Moderasi beragama, harmoni dan nasionalisme akan senantiasa terpupuk.

Karena itu, perlu didukung peran strategis TNI bukan hanya sebagai penjaga kedaulatan teritorial, tetapi juga sebagai mitra bangsa dalam merawat kerukunan dan harmoni bangsa. Moderasi beragama adalah ikhtiar untuk memastikan Indonesia tetap tegak di tengah dinamika zaman, dan TNI adalah salah satu pilar penting yang mengawal jalan tersebut.