Pemimpin Perempuan dalam Eko Feminisme menjawab Transisi Industri

Oleh : Silfiya Dera Wulandari

Bangsa Indonesia kembali terjebak suatu paradoks dalam transformasi industri. Pada satu sisi pemerintah mendorong hilirisasi industri sebagai motor pengembangan ekonomi. Tapi pada sisi yang lain global menuntut praktik industri yang rendah karbon, transparan, dan berkelanjutan. 

Suatu pergeseran industri dan perkembangan teknologi yang massive, memerlukan suatu pendekatan yang mampu mengelola secara komprehensif. Sehingga, dapat mengurangi kerusakan alam yang disebabkan. Maka, diperlukan gagasan yang dapat memanfaatkan dan mengelola keduanya demi kemaslahatan umat dan bangsa.

Lingkungan dan perempuan merupakan dua komponen penting dalam pembangunan berkelanjutan. Dalam konteks ini, perempuan sering menghadapi tantangan yang lebih besar akibat sistem sosial yang tidak adil. Krisis ekonomi, masalah iklim, kurangnya layanan kesehatan, dan isu patriarki telah memperburuk ketidaksetaraan gender, serta menciptakan bentuk penindasan yang bersifat interseksional, seperti berdasarkan ras dan kelas. Jawaban dari permasalahan ini salah satunya terdapat pada ekofeminisme.

Mengenal Ekofeminisme

Ekofeminisme menghubungkan feminisme dan lingkungan hidup dengan menyoroti keterkaitan antara eksploitasi alam dan penindasan terhadap perempuan. Faktor utamanya terletak pada sistem patriarki dan kapitalisme.

Ekofeminisme tidak hanya menekankan hubungan perempuan dengan alam secara simbolis. Tapi, juga memberikan pandangan bagaimana perempuan terdampak langsung pada pencemaran atau kerusakan lingkungan.

Konsep ekofeminisme Vandana Shiva menggabungkan perspektif ekologi dengan feminisme sebagai gerakan yang dikaitkan dengan kaum perempuan yang memiliki peran penting dalam menghadapi dampak buruk dari kerusakan alam. Gerakan ekofeminisme juga muncul sebagai reaksi terhadap proses pembangunan yang mengesampingkan peran perempuan dan dampak negatifnya terhadap keberlanjutan alam.

Perempuan Memimpin

Untuk menjawab tantangan ini, dengan melawan sistem patriarki sekaligus kapitalisme dibutuhkan peran perempuan sebagai pemimpin yang inklusif terhadap kemajuan perkembangan zaman dan mampu menjaga kelestarian alam. 

Melalui pemahaman ekologis dan peningkatan kecakapan untuk mampu mengemban amanah seorang pemimpin, perempuan harus hadir memberikan solusi bagi ketimpangan yang merajalela. Dengan tidak mengesampingkan kemajuan zaman dalam arti digitalisasi.

Berbagai platform media digital dapat digunakan untuk melakukan kampanye lingkungan. Karena akrabnya masyarakat dengan dunia digital maka perlu pendekatan dalam sektor ini pula. Sehingga, kampanye lingkungan berkelanjutan dilakukan pada dua sektor yakni dunia nyata dan dunia maya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *