Memperkuat Akar Demokrasi: Refleksi Otonomi Daerah di Kota Probolinggo

Oleh: Viky Hamzah, Komisioner KPU Kota Probolinggo


Peringatan Hari Otonomi Daerah setiap tanggal 25 April bukan sekadar seremoni rutin, melainkan momen refleksi atas perjalanan panjang pendewasaan politik di tingkat lokal. Sejak otonomi daerah diberlakukan, Kota Probolinggo telah bertransformasi secara signifikan. Pesatnya pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas layanan publik, hingga penataan ruang kota yang lebih humanis adalah bukti nyata bahwa mandat pengelolaan daerah yang diberikan pusat telah dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

Namun, pembangunan fisik hanyalah satu sisi mata uang. Sisi lainnya yang menjadi fondasi utama adalah kedaulatan rakyat. Keberhasilan pembangunan di Kota Probolinggo tidak bisa dipisahkan dari kualitas kepemimpinan yang lahir dari rahim demokrasi yang sehat.

Sistem pemilihan langsung telah memberikan ruang bagi warga Kota Probolinggo untuk menentukan nasibnya sendiri. Ketika pemimpin dan wakil rakyat dipilih berdasarkan keinginan dan aspirasi masyarakat, tercipta sebuah ikatan moral yang kuat. Pemimpin yang terpilih memiliki tanggung jawab langsung untuk menjawab setiap keluh kesah dan harapan warga, sehingga arah kebijakan pembangunan menjadi lebih tepat sasaran dan inklusif.

Dalam ekosistem ini, KPU Kota Probolinggo berdiri sebagai pilar utama. Komitmen KPU untuk terus meningkatkan kualitas penyelenggaraan pemilihan adalah kunci keberlanjutan otonomi daerah. Tanpa integritas penyelenggara, mustahil lahir pemimpin yang memiliki legitimasi kuat di mata publik.

Beberapa poin krusial yang terus diupayakan KPU untuk memperkuat demokrasi di Kota Probolinggo meliputi, Penguatan Sistem Kerja dan SDM, Memastikan setiap personel memiliki kompetensi dan integritas tinggi dalam mengawal setiap tahapan pemilu.

Pendidikan Pemilih, KPU Kota Probolinggo Membangun pemilih yang cerdas dan kritis melalui edukasi yang berkelanjutan, sehingga hak pilih tidak hanya digunakan secara kuantitas, tetapi juga berkualitas.

Dan selanjutnya Inklusivitas, memastikan tidak ada satu pun warga negara yang terpinggirkan dalam menggunakan hak konstitusionalnya.

Menjaga kepercayaan publik adalah kerja panjang yang tak mengenal kata usai. Dengan transparansi dan profesionalisme, proses demokrasi di Kota Probolinggo diharapkan mampu terus menghasilkan pemimpin-pemimpin visioner yang mampu membawa kota ini melompat lebih jauh dalam kompetisi global, tanpa meninggalkan nilai-nilai lokal.

Otonomi daerah memberikan hak kepada kita untuk mengatur rumah tangga sendiri. Dan melalui pemilu yang berkualitas, kita memastikan bahwa “rumah” ini dikelola oleh tangan-tangan terbaik yang kita pilih sendiri.

Selamat memperingati Hari Otonomi Daerah, 25 April 2026. Mari terus kawal demokrasi demi Kota Probolinggo yang lebih maju, berdaya saing, dan bermartabat.

Genderang Perang Terbuka: Menguji Ketangguhan “Benteng” Gus Yahya

Oleh: Ponirin Mika
(Pengamat Sosial Keagamaan dan Politik)

Acara halal bihalal Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) baru-baru ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi. Di balik tawa dan jabat tangan, terselip narasi politik yang tajam dan vulgar. Statemen yang dilontarkan oleh tokoh-tokoh sentral seperti Muhaimin Iskandar, Nusron Wahid, dan Nasaruddin Umar memberikan sinyal kuat bahwa ada poros kekuatan baru yang sedang dikonsolidasikan untuk menjadi bagian daripada kegiatan muktamar NU mendatang.


Sinyalemen ini terbaca jelas sebagai upaya sistematis untuk menghalangi KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dalam melanjutkan kepemimpinannya sebagai Ketua Umum PBNU untuk periode kedua. Serangan yang dilancarkan bukan lagi berupa sindiran halus khas pesantren, melainkan sudah memasuki ranah konfrontasi terbuka yang sangat eksplisit. Hal ini menandakan bahwa suhu politik di internal nahdliyin sedang mengalami pemanasan dini.


Keterlibatan Muhaimin Iskandar dalam barisan ini tentu memiliki latar belakang historis dan politis yang panjang. Ketegangan antara PBNU di bawah kendali Gus Yahya dengan PKB telah menjadi rahasia umum. Upaya Gus Yahya untuk “mengembalikan NU ke khittah” dan menjauhkan organisasi dari tarikan politik praktis partai tertentu dirasa sebagai ancaman eksistensial bagi gerbong politik Cak Imin.


Di sisi lain, kehadiran sosok seperti Nusron Wahid dan Nasaruddin Umar dalam gerbong kritik ini menambah bobot seakan makin nampak perlawanan tersebut. Nusron, dengan jaringan politiknya yang luas, serta Nasaruddin Umar yang memiliki pengaruh intelektual dan spiritual, menunjukkan bahwa poros ini tidak hanya mengandalkan massa, tetapi juga pengaruh struktural dan kultural di berbagai lini kekuasaan.


Statemen yang muncul dalam acara tersebut seolah menjadi pengumuman “perang terbuka”. Dalam tradisi NU, perbedaan pendapat adalah hal lumrah, namun ketika narasi yang dibangun sudah menjurus pada upaya pendelegitiman kepemimpinan sebelum masa khidmat berakhir, ini menunjukkan adanya pergeseran pola komunikasi politik yang lebih agresif dan frontal.


NU memang selalu menjadi rumah besar yang memiliki daya magnet luar biasa. Sebagai organisasi massa terbesar, NU bukan hanya sekadar wadah keagamaan, tetapi juga episentrum kekuatan politik yang diperebutkan. Siapapun yang memegang kendali di PBNU secara otomatis memiliki daya tawar yang sangat tinggi di hadapan negara dan para aktor politik nasional.


Gus Yahya, sebagai figur utama yang menjadi sasaran, memiliki tipologi kepemimpinan yang unik. Ia bukanlah tipikal pemimpin yang menyerang secara membabi buta tanpa perhitungan. Sebaliknya, Gus Yahya cenderung menggunakan strategi bertahan yang kokoh, sembari sesekali melancarkan serangan balik yang presisi dan mematikan pada momentum yang tepat.


Ketangguhan Gus Yahya telah teruji dalam berbagai upaya “penggulingan” atau makar organisasi yang sempat berembus sebelumnya. Ia mampu menavigasi konflik dengan ketenangan seorang diplomat, namun memiliki ketegasan seorang eksekutor. Pengalamannya di dunia internasional dan kedekatannya dengan lingkaran kekuasaan menjadikannya lawan tanding yang sulit ditaklukkan begitu saja.


Eskalasi di IKA PMII ini juga menunjukkan bahwa organisasi otonom dan badan otonom di bawah NU—atau yang berafiliasi dengannya—masih menjadi medan tempur yang seksi. IKA PMII, yang diisi oleh para alumni yang kini tersebar di berbagai partai politik dan birokrasi, menjadi instrumen efektif untuk menggoyang kemapanan struktural PBNU saat ini.


Namun, Gus Yahya tidak berdiri sendiri. Di belakangnya terdapat gerbong pendukung yang solid, yang merasa bahwa arah baru NU di bawah kepemimpinannya memberikan harapan akan kemandirian organisasi. Pendukung Gus Yahya melihat serangan dari poros Muhaimin-Nusron sebagai residu politik yang ingin kembali “menyandera” NU demi kepentingan jangka pendek.


Pertarungan ini sebenarnya adalah pertarungan ideologis mengenai wajah NU di masa depan. Apakah NU akan tetap konsisten pada jalur transformasi organisasi yang profesional dan mandiri, ataukah ia akan kembali menjadi alat legitimasi politik bagi segelintir elite yang selama ini merasa nyaman dengan pola-pola lama?


Langkah vulgar para tokoh di halal bihalal tersebut bisa dibilang sebagai perjudian politik yang berisiko. Jika serangan ini gagal melumpuhkan kepercayaan basis massa nahdliyin terhadap Gus Yahya, maka poros ini justru akan terkucilkan dan kehilangan simpati dari para kiai sepuh yang lebih menyukai stabilitas dan marwah organisasi.


Gus Yahya diprediksi akan merespons gerakan ini dengan cara yang elegan. Ia kemungkinan besar tidak akan membalas dengan orasi yang sama vulgarnya, melainkan melalui penguatan struktur di tingkat bawah dan konsolidasi dengan para kiai-kiai kunci di daerah yang selama ini menjadi penentu arah angin Muktamar.


Dinamika ini juga memperlihatkan betapa pragmatisme politik telah merasuk jauh ke dalam sendi-sendi organisasi yang berbasis nilai. Ketika kepentingan untuk menduduki posisi ketua umum atau menghalangi seseorang naik kembali sudah menjadi agenda utama di acara sosial, maka nilai-nilai ukhuwah (persaudaraan) sedang dipertaruhkan.


Publik nahdliyin kini disuguhi tontonan politik yang menarik namun juga mencemaskan. Mencemaskan karena jika konflik ini tidak dikelola dengan baik, ia dapat memicu perpecahan yang tajam di akar rumput. Para pengikut di tingkat bawah seringkali menjadi korban yang paling terdampak ketika para elitenya bersitegang demi kursi kekuasaan.


Kita harus melihat apakah poros kekuatan ini akan semakin solid atau justru pecah di tengah jalan. Menghalangi Gus Yahya untuk dua periode bukanlah perkara mudah, mengingat ia memiliki kontrol yang cukup kuat terhadap mesin organisasi dan legitimasi dari hasil Muktamar Lampung yang masih sangat segar di ingatan.


Dalam politik NU, “serangan balik” seringkali tidak datang dari kata-kata, melainkan dari langkah-langkah organisatoris yang tak terduga. Gus Yahya memiliki kemampuan untuk melakukan manuver yang membuat lawan-lawannya kehilangan pijakan, sebagaimana yang pernah ia tunjukkan dalam beberapa krisis internal sebelumnya.


Halal bihalal IKA PMII tersebut pada akhirnya hanyalah “puncak gunung es” dari ketegangan yang sudah lama terpendam. Ini adalah pembukaan dari babak baru persaingan menuju kepemimpinan NU di masa mendatang, di mana integritas dan visi akan diuji oleh syahwat politik dan ambisi pribadi.


Sebagai pengamat, kita melihat bahwa Gus Yahya adalah sosok yang tahu kapan harus diam dan kapan harus bergerak. Tipologi “bertahan dan sesekali menyerang” ini membuatnya sangat berbahaya bagi lawan yang meremehkan ketenangannya. Ia tidak mudah terpancing emosi, namun sangat taktis dalam mengunci pergerakan lawan.


Kesimpulannya, genderang perang telah ditabuh di acara halal bihalal tersebut. Masa depan PBNU kini berada di persimpangan jalan antara keberlanjutan visi Gus Yahya atau kembalinya pola politik lama yang diusung oleh poros oposisinya. Siapa yang akan memenangkan hati warga nahdliyin akan ditentukan oleh siapa yang paling mampu menjaga marwah organisasi di tengah badai syahwat politik ini.

Air Kehidupan (Mengkondisikan Kesehatan Tubuh dengan Resonansi Gelombang Hado)

Oleh: Dr. M. Hasyim Syamhudi, M.Si

Dosen Sosial Humaniora Universitas Nurul Jadid

Kalaupun manusia merasa mampu memurnikan air dengan teknologi yang semakin canggih, pada akhirnya ia tetap bergantung pada air sebagai sumber kehidupan yang tidak tergantikan.

Air tidak sekadar mengalir dalam tubuh, tetapi juga membentuk keseimbangan hidup yang sering kali tak disadari. Ia hadir tanpa suara, namun menentukan sehat dan tidaknya manusia dalam menjalani kehidupan.

Sebagaimana firman Allah: “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi dahulu menyatu, kemudian Kami pisahkan keduanya, dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air. Maka mengapa mereka tidak beriman?” (QS. Al-Anbiya [21]: 30).

Menurut Masaru Emoto (1943–2014), air pada dasarnya tidak hanya membutuhkan pemurnian secara fisik, tetapi juga penghargaan secara emosional dan spiritual. Dalam pandangannya, di era modern penghargaan terhadap air semakin langka, sementara yang berkembang justru pendekatan teknologis yang berfokus pada pemurnian semata.

Padahal, air yang dimurnikan secara teknis belum tentu menghadirkan kualitas “kemurnian hakiki”, karena tidak selalu mampu membentuk struktur kristal yang indah, sebagaimana diungkap dalam The True Power of Water (terj. Azam Translator, Bandung: MQ Publishing, 2006, hlm. 154).

Dalam perkembangan industri modern, berbagai zat kimia seperti merkuri, timbal, krom, pewarna sintetis, pelarut, sisa pestisida, minyak, serta limbah organik dari industri tekstil, kimia, makanan, pertambangan, farmasi, dan elektronik telah merusak ekosistem air.

Dampak tersebut tidak hanya mengganggu keseimbangan fauna dan flora, tetapi juga membahayakan kesehatan manusia.

Dengan demikian, menghargai air bukan sekadar pilihan etis, melainkan kebutuhan dasar manusia. Lebih jauh, air dipandang sebagai bagian dari makhluk ciptaan Allah yang harus dijaga kelestarian, keseimbangan, dan keharmonisannya.

Namun, hidup di era modern membuat manusia sulit menghindari dampak industrialisasi. Karena itu, selain upaya pemurnian secara teknis, diperlukan pula kesadaran untuk menjaga idealitas kemurnian air sebagai bentuk penghormatan terhadap ciptaan Allah.

Dalam pandangan Masaru Emoto, idealitas air tersebut tampak melalui struktur kristal yang indah, yang ia sebut sebagai hado—yakni energi getaran yang terbentuk dari resonansi gelombang air.

Hado yang teratur, harmonis, dan serasi diyakini memiliki pengaruh terhadap kesehatan tubuh manusia, bahkan sebagai bagian dari proses penyembuhan terhadap berbagai penyakit yang dipicu oleh dampak industrialisasi maupun faktor lainnya.

Sebaliknya, air yang tercemar tidak hanya disebabkan oleh limbah fisik, tetapi juga oleh “pencemaran non-material”, seperti kemarahan, kebencian, kesombongan, dan sikap amoral manusia. Dalam kondisi ini, hado air menjadi tidak stabil, yang tercermin dari struktur kristal yang buram dan tidak teratur.

Dengan demikian, kualitas hado air sangat dipengaruhi oleh sikap, perlakuan, serta suasana batin manusia terhadap air itu sendiri.

Dalam proses penelitiannya, Kazuya Ishibashi dari Universitas Kumamoto turut membantu Masaru Emoto. Pada awalnya, Ishibashi bersikap skeptis terhadap penelitian tersebut. Namun, sikap Emoto yang penuh kesungguhan, disertai pendekatan emosional seperti ucapan “cinta” dan “terima kasih” yang ditujukan kepada air, serta tanpa orientasi keuntungan materi, perlahan mengubah keraguan tersebut.

Hasilnya, Ishibashi menyaksikan respons air dalam bentuk pola kristal yang terbentuk secara teratur, harmonis, dan indah. Dari struktur kristal yang rapi dan berkilau inilah, Emoto menyimpulkan bahwa hado yang positif dapat terbentuk dan berkontribusi pada kesehatan manusia.

Sebaliknya, perlakuan yang kasar terhadap air—melalui ucapan negatif, hinaan, dan energi emosional yang buruk—akan menghasilkan hado yang tidak seimbang. Air menjadi “buram” secara struktural, yang dalam perspektif ini berpotensi memperburuk kondisi kesehatan manusia.

Masaru Emoto juga berpendapat bahwa manusia dapat beresonansi dengan seluruh unsur alam. Manusia mampu menerima gelombang energi dari matahari dan bunga, sekaligus memancarkan gelombang dari tubuhnya ke alam sekitar.

Karena itu, manusia seharusnya membangun relasi harmonis dengan semesta agar resonansi gelombang dalam tubuh tetap terjaga dan tidak tercemar.

Sebagaimana diuraikan dalam The True Power of Water (hlm. 166), dalam perspektif Islam, penghargaan terhadap air tidak hanya didasarkan pada aspek ekologis dan etis, tetapi juga pada keyakinan bahwa air merupakan fondasi kehidupan seluruh makhluk.

Semakin dalam interaksi manusia dengan semesta, semakin teratur pula resonansi energi yang terbentuk dalam tubuh.

Dalam perspektif ini, keteraturan hado air di dalam tubuh akan menghadirkan ketenangan batin, dan ketenangan batin menjadi pintu masuk bagi kesehatan lahir dan batin manusia.

Pada akhirnya, kesehatan bukan hanya persoalan biologis, tetapi juga keseimbangan antara tubuh, kesadaran, dan semesta.

Semoga Allah Swt. senantiasa menganugerahkan kepada kita kesehatan lahir dan batin, dalam harmoni penghargaan kita terhadap air dan seluruh ciptaan-Nya. Aamiin.

Menjadi Kartini Modern: Lebih dari Sekadar Sanggul dan Kebaya

Oleh: Fatmawati Ningsih, (Alumni PMII UNUJA, Santri Pondok Pesantren Nurul Jadid)

Setiap tanggal 21 April, lini masa kita dipenuhi dengan foto-foto anggun mengenakan kebaya, kutipan-kutipan puitis tentang emansipasi, dan perayaan seremonial di berbagai instansi. Namun, di balik kemeriahan visual tersebut, sudahkah kita benar-benar meresapi api yang dinyalakan Raden Ajeng Kartini dari balik tembok pingitannya lebih dari seabad yang lalu?

Kartini bukan sekadar simbol pakaian adat. Beliau adalah intelektual yang gelisah. Di tengah keterbatasan akses fisik, ia mendobrak dunia melalui surat-suratnya. Senjata utamanya bukan kemarahan yang meledak-ledak, melainkan literasi dan korespondensi.
Bagi kita saat ini, merayakan Kartini berarti merayakan hak untuk memiliki opini, hak untuk mengakses pendidikan setinggi mungkin, dan hak untuk menentukan jalan hidup sendiri.
Kartini modern adalah mereka yang berani bersuara melawan ketidakadilan di ruang digital maupun nyata, Terus belajar tanpa memandang batasan usia atau status sosial, Saling mendukung sesama perempuan (women supporting women), bukan malah saling menjatuhkan.

Dulu, tantangan Kartini adalah pingitan dan akses pendidikan. Sekarang, tantangannya telah bertransformasi menjadi bentuk yang lebih halus namun tetap tajam: beban ganda (double burden) dan stigma sosial.
Banyak perempuan saat ini dituntut untuk menjadi “sempurna” di segala lini: karier yang cemerlang, pengasuhan anak yang tanpa cela, hingga penampilan yang selalu estetis. Opini saya, semangat Kartini di era ini seharusnya menjadi pengingat bahwa emansipasi adalah tentang pilihan.

Menjadi ibu rumah tangga penuh waktu adalah pilihan yang terhormat, menjadi pemimpin perusahaan adalah prestasi yang luar biasa, dan melakukan keduanya adalah dedikasi yang hebat. Kuncinya adalah kebebasan untuk memilih tanpa tekanan penghakiman dari lingkungan.

Habis gelap terbitlah terang. Cahaya yang dibawa Kartini kini telah menerangi jutaan jalan perempuan Indonesia. Namun, tugas kita belum usai. Selama masih ada kekerasan terhadap perempuan, selama upah kerja masih timpang karena gender, dan selama akses pendidikan belum merata, maka “Kartini” harus terus lahir di setiap generasi.

Selamat Hari Kartini untuk seluruh perempuan hebat di Indonesia. Teruslah bercahaya, teruslah belajar, dan jangan pernah takut untuk bermimpi setinggi langit. Karena seperti kata Kartini:
“Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri.”

Selamat Hari Kartini! Mari kita jadikan hari ini bukan sekadar seremoni pakaian, tapi momentum untuk memperkuat karakter dan kemandirian berpikir.

Talk show Geopolitik Akhir pekan bersama Idham Holiq

Malang, Berdampak.net – Talk show Geopolitik yang digelar di DPRD Kota Malang kemarin memberi satu kesan kuat, diskusi berkualitas masih punya tempat dan daya tarik di kalangan mahasiswa. Bahkan, dengan durasi sekitar 2,5 jam, forum ini terasa seperti “short course” yang padat, berisi, dan menggugah cara pandang.

Menghadirkan figur seperti Idham Holik dan Kanda Munzil sebagai narasumber menunjukkan bahwa ruang dialog ini tidak sekadar formalitas, tetapi benar-benar menjadi ajang transfer gagasan.

Pembahasan yang menyentuh teori besar seperti Thucydides Trap yang diperkenalkan oleh Graham T. Allison menandakan bahwa diskusi tidak berhenti pada isu lokal, tetapi mampu mengaitkan dinamika global dengan realitas kebangsaan.

Yang menarik, forum ini tidak kehilangan “ruh” diskusi mahasiswa—tetap hidup, interaktif, dan penuh pertukaran gagasan. Istilah “isinya daging semua” bukan sekadar ungkapan, tetapi mencerminkan kualitas materi yang disampaikan.

Dari geopolitik hingga literasi demokrasi, semuanya dikupas dengan pendekatan yang tidak hanya teoritis, tetapi juga relevan dengan kondisi saat ini.

Peran moderator dalam menjaga alur diskusi selama berjam-jam juga menjadi kunci penting. Bukan hanya mengatur waktu, tetapi memastikan setiap gagasan tersampaikan dengan jelas dan tetap menarik bagi audiens. Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan intelektual di kalangan kader masih terjaga dan terus berkembang.
Pada akhirnya, kegiatan seperti ini menegaskan bahwa demokrasi yang sehat lahir dari ruang-ruang diskusi yang hidup.

Ketika mahasiswa terbiasa berdialog dengan perspektif yang luas dan berbasis literasi, maka mereka tidak hanya menjadi penonton dalam dinamika politik, tetapi juga calon aktor yang siap memberi arah.

Forum ini bukan sekadar acara seremonial, tetapi menjadi bukti bahwa tradisi intelektual masih menyala—dan perlu terus dirawat. Salam YAKUSA. (lh)

Datangnya Kematian: “Refleksi Psikologis antara Penderitaan dan Kebahagiaan”

Oleh: Dr. M. Hasyim Syamhudi, M.Si

Dosen Sosial Humaniora Universitas Nurul Jadid

Kalaupun tidak ada perjanjian antara manusia dengan malaikat Izrail—sang pencabut nyawa—dapat dipastikan bahwa kematian akan tetap mendatangi setiap insan. Ia hadir tanpa diundang, menjemput kehidupan, lalu menyerahkan segala urusan jasad kepada keluarga untuk diantarkan ke liang lahat.

Sebagaimana firman Allah: “Di manapun kamu berada, kematian akan mendatangimu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh” (QS. An-Nisa [4]: 78).

Menurut Nurcholish Madjid (1995) dalam Islam, Doktrin dan Peradaban, manusia dalam memandang tujuan hidup dapat dibagi ke dalam dua kelompok besar: pesimis dan optimis.

Kelompok pesimis meyakini bahwa kematian adalah sesuatu yang menyakitkan, mengerikan, dan menakutkan. Pandangan ini membuat mereka menjalani hidup dengan keputusasaan. Bagi mereka, hidup seakan kehilangan makna karena pada akhirnya akan berujung pada kematian yang menyakitkan. Menunggu datangnya kematian hanya dianggap memperpanjang penderitaan. Bahkan, dalam kondisi ekstrem, kematian yang datang lebih cepat dipandang sebagai jalan keluar dari derita berkepanjangan.

Sebaliknya, kelompok optimis memandang kehidupan sebagai karunia yang harus dinikmati sepenuhnya. Namun, dalam praktiknya, optimisme ini kerap bergeser menjadi euforia tanpa batas. Kehidupan dijalani secara hedonistik—berpesta, berfoya-foya, memamerkan kemewahan, serta tenggelam dalam mabuk dan kebebasan tanpa kendali. Dalam perspektif ini, kematian yang datang di tengah euforia justru dianggap sebagai kebanggaan.

Berbeda dari kedua kelompok tersebut, terdapat pandangan Stoisisme. Aliran ini meyakini bahwa kematian adalah keniscayaan yang merupakan bagian dari keteraturan semesta.

Kebahagiaan, menurut Stoisisme, diperoleh melalui keselarasan dengan hukum alam. Karena kematian adalah bagian dari keteraturan itu, maka ia tidak seharusnya ditakuti, melainkan diterima dengan tenang.

Filsuf Stoik Romawi, Lucius Annaeus Seneca (w. 65 M), sebagaimana dikutip oleh Henry Manampiring (2023) dalam Filosofi Teras, menyatakan: “Life is long if you know how to use it. We are not given a short life, but we make it short.” Hidup menjadi panjang jika kita tahu cara menggunakannya. Kita tidak diberi hidup yang pendek, tetapi kitalah yang menjadikannya pendek dan terbuang sia-sia.

Ketakutan terhadap kematian sejatinya bukan berasal dari kematian itu sendiri, melainkan dari gambaran psikologis yang kita bangun tentangnya.

Jika kematian dibayangkan sebagai sesuatu yang menyakitkan dan mengerikan, maka respons psikis kita akan dipenuhi kecemasan dan ketakutan. Sebaliknya, jika kematian dipahami sebagai bagian alami dari kehidupan, maka jiwa akan lebih tenang dalam menghadapinya.

Dalam perspektif Stoisisme, ketenangan itu lahir dari kemampuan mengendalikan interpretasi diri. Bukan kematian yang menakutkan, tetapi cara kita memaknainya. Seneca menegaskan bahwa persoalan utama bukanlah panjangnya usia, melainkan kualitas hidup itu sendiri. Hidup seratus tahun pun tidak berarti jika dipenuhi ketakutan, kecemasan, dan amarah—terutama karena mengejar hal-hal di luar kendali—tanpa pernah mengasah kebijaksanaan, keberanian, pengendalian diri, dan keadilan.

Dalam Islam, kematian adalah keniscayaan universal. Segala yang ada—manusia, malaikat, jin, hewan, hingga seluruh alam semesta—akan mengalami kematian dan kebinasaan. Yang abadi hanyalah Allah Swt. (QS. Al-Qashash [28]: 88).

Malaikat Izrail memang ditugaskan untuk mencabut nyawa (QS. As-Sajdah [32]: 11). Namun, dalam kerangka keimanan, kematian bukan sekadar peristiwa biologis, melainkan gerbang menuju kehidupan berikutnya. Karena itu, kualitas hidup tidak berhenti pada dimensi profan antar-manusia, sebagaimana dalam Stoisisme, dan tidak pula terjebak dalam keputusasaan pesimisme atau euforia optimisme.

Stoisisme memandang manusia sebagai bagian dari semesta yang tunduk pada hukum alam, sedangkan Islam menegaskan bahwa manusia hadir di dunia atas kehendak Allah dan akan kembali kepada-Nya (QS. Ar-Rum [30]: 11).

Pada akhirnya, kematian bukanlah lawan dari kehidupan, melainkan bagian darinya. Ia bukan sekadar akhir, tetapi juga awal dari fase yang lain.

Semoga kita semua dianugerahi kehidupan yang berkualitas—hidup yang tidak hanya selaras secara lahiriah, tetapi juga bermakna secara spiritual—dalam naungan rahmat dan kasih sayang Allah Swt., baik di dunia maupun di akhirat. Aamiin.