Muktamar X PPP, Mardiono: Momentum Perkuat Marwah Partai sebagai Rumah Besar Umat Islam

JAKARTA, Berdampak.net – Caketum PPP Mardiono mengajak seluruh kader menjadikan Muktamar X PPP akhir September 2025 sebagai momentum memperkuat marwah partai dan menyegarkan kembali sebagai “rumah besar” umat Islam.

“Muktamar bukan sekadar forum memilih pemimpin, tetapi momentum memperkuat marwah PPP, karena itu mari kita junjung tinggi etika dan moralitas,” kata Mardiono dalam keterangan tertulisnya, kamis (25/9/2025) di Jakarta.

Muktamar PPP, lanjut Mardiono, adalah momentum besar dan sakral untuk menyegarkan kembali organisasi partai PPP yang selalu menjadi Rumah Besar Ummat Islam tanpa membedakan golongan muda dan tua.

“Muktamar bukan ajang membeli kekuasaan tapi mengangkat derajat kekuasaan itu agar menjadi Rahmatan Lilalamin,” ujarnya Mardiono dengan semangat baru PPP.

Oleh karena itu, menurut Mardiono, Muktamar PPP harus dijalankan dengan menjunjung tinggi etika dan moralitas sebagai ciri khas partai berlandaskan nilai Islam.

“Mari kita jadikan Muktamar sebagai ajang silaturahmi politik, bukan arena konflik, dengan tetap menjaga etika dan moralitas.”

Sebab etika dan moralitas, tambahnya adalah fondasi PPP. Mardiono mengingatkan agar keduanya dijaga dalam setiap proses muktamar. (fj)

Diunggulkan dalam Bursa Caketum PPP, Mardiono Punya Visi Kembalikan Kejayaan Partai

JAKARTA Berdampak.net – Dukungan terus bertambah dari daerah membuat Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Muhamad Mardiono, masih diunggulkan dalam bursa Caketum PPP jelang Muktamar X di Jakarta pada 27-29 September 2025.

Dukungan tambahan tersebut, berdasarkan informasi yang dihimpun hingga rabu (19/9/2025) berasal dari pengurus DPW Papua, DPW Maluku, DPW NTB, DPW Bali, DPW Sumut dan ratusan DPC sudah mengkofirmasi.

Terus mengalirnya dukungan itu karena secara umum para kader PPP di daerah menginginkan PPP tetap dipimpin Mardiono dan menolak “orang baru” yang disusupkan oknum yang mencoba memperjualbelikan PPP.

Selain Mardiono, sejumlah nama kandidat ketua umum (ketum) yang menguat, di antaranya Amran Sulaiman (Menteri Pertanian), hingga Agus Suparmanto (Menteri Perdagangan 2019-2020).

Alasan dukungan itu, menurut beberapa pengurus DPW provinsi, dilatarbelakangi karena figur Mardiono yang dinilai memang memiliki visi untuk membangkitkan kembali kejayaan partai berlambang Ka’bah.

Keinginan ini muncul ditengah tantangan berat yang dihadapi PPP, terutama setelah tidak lolos ambang batas parlemen pada Pemilu 2024.

Beberapa catatan langkah dan isu utama yang berkaitan dengan upaya Mardiono membangkitkan PPP. Yang pertama, konsolidasi internal. Dimana salahsatu fokus utama Mardiono adalah menyatukan kembali seluruh kader dan fraksi di internal partai.

Berbagai dukungan dari Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) dari berbagai daerah, seperti Aceh dan Yogyakarta, serta daerah lainnya menunjukkan adanya dukungan kuat terhadap kepemimpinannya menjelang Muktamar.

Kedua, perbaikan organisasi. Mardiono dinilai berupaya membenahi struktur dan logistik partai dari tingkat pusat hingga daerah. Ini termasuk memastikan ketersediaan saksi dan logistik untuk setiap pemilu, yang dinilai menjadi salah satu faktor kelemahan PPP sebelumnya.

Ketiga, respons terhadap kritik. Meskipun ada kritik dari beberapa pihak yang menganggap kepemimpinan Mardiono gagal mempertahankan PPP di Senayan, para pendukungnya menilai ia justru berhasil menjaga partai dari kehancuran. Mereka berpendapat bahwa Mardiono adalah figur yang tepat untuk memimpin pemulihan partai.

Keempat, muktamar sebagai momentum kebangkitan. Pelaksanaan Muktamar ke-10 pada akhir September 2025 dianggap sebagai momentum penting untuk menyusun kerangka strategis partai untuk lima tahun ke depan dan memperkuat konsolidasi.

Meskipun Mardiono mengaku tidak berambisi untuk menjadi Ketua Umum, ia menyatakan kesiapannya jika amanah tersebut diberikan oleh para kader.

Catatan alasan dan upaya-upaya ini menunjukkan komitmen Mardiono untuk tidak hanya memulihkan partai dari keterpurukan, tetapi juga membangun fondasi yang lebih kuat agar PPP bisa kembali ke panggung politik nasional. ***

Jelang Muktamar, Persaingan Calon Ketum PPP Kian Ramai

JAKARTA, Berdampak.net – Pelaksanaan Muktamar X PPP tinggal menghitung hari, peta persaingan calon ketua umum (Ketum) partai berlambang Ka’bah tersebut kian ramai dan santer diwacanakan di ruang publik.

Hal tersebut ditandai dengan banyaknya deklarasi yang telah dilakukan oleh berbagai wilayah, baik itu dari pengurus PPP tingkat wilayah/provinsi maupun tingkat daerah atau kabupaten/kota (DPW dan DPC) yang sudah menyatakan dukungan penuh terhadap calon tertentu.

Mereka secara terbuka menyebut nama Mardiono sebagai calon Ketum. Bahkan, berdasarkan informasi dan laporan media yang dihimpun, menunjukkan adanya trend dukungan terhadap Mardiono yang makin menguat menjelang Muktamar PPP.

Selain itu muncul pula suara dari kalangan ulama/kiai dan forum internal pengurus partai yang mendukungnya sekaligus memandangnya sebagai figur yang stabil dan bisa menjaga soliditas partai.

“Keyakinan bahwa dia adalah figur yang paling siap sedangkan kandidat lain diwanti-wanti segera menunjukkan kesiapan dan keseriusannya,” kata seorang pengurus teras partai Islam tertua di Indonesia ini saat dihubungi di Jakarta, sabtu (13/9/2025).

Sebelumnya marak diberitakan media, nama-nama seperti Sandiaga Uno, Andi Amran Sulaiman, Taj Yasin Maimoen, Dudung Abdurahman, Romahurmuzy, Arwani Thomafi, dll masuk radar calon Ketum. Namun dukungan kepada Mardiono mengalir dari sejumlah pengurus PPP yang selama ini menjadi basis tradisional partai tersebut, antara lain dari pengurus DPW PPP provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), lalu pengurus DPC kabupaten PPP Klaten, Lampung Tengah, dan Bangkalan.

Dukungan serupa juga datang dari kalangan kiai dan ulama se-Jawa Timur & pantura Jawa Tengah, dimana mereka menggelar doa bersama dengan mendoakan agar Muktamar berjalan lancar dan Mardiono kembali menjadi Ketum PPP.

Dukungan dari luar Jawa juga mengalir dari kalangan kiai Sulawesi dan Kalimantan dan mendoakan PPP kembali dipimpin Mardiono.

Ditengah trend dukungan terhadap Mardiono makin menguat, belum semua wilayah/DPC/DPC anak ranting menyatakan dukungannya secara resmi. Ada daerah yang masih menunggu atau belum menentukan pilihan.

Ada juga nama calon Ketum lain yang muncul di media sebagai pesaing potensial, sehingga membuat proses pencalonan dan konsolidasi masih bisa berubah dan dinamis.

Sampai saat ini menurut juru bicara PPP, Usman Tokan, nama Mardiono masuk radar calon kuat sembari menunggu calon lain yang menyatakan kesiapan dan keseriusannya.

Dengan menguatnya nama Mardiono dalam bursa calon Ketum PPP tersebut, belum ada keterangan resmi dari internal partai bahwa Muktamar X PPP akan berlangsung dengan aklamasi, meskipun NTB berharap demikian.

Selain wacana calon Ketum, ada juga dititipkan harapan dari sejumlah kader PPP di daerah agar konsolidasi segera dilakukan agar supaya partai tampil kompak menuju Pemilu 2029.

Kalangan pengurus daerah juga mengharapkan susunan pengurus DPP nantinya dibuat lebih gemuk untuk menampung semua komponen ummat agar kekuatan PPP semakin besar dan solid.***

Ini Resep Guru Besar KAHMI untuk Prabowo dalam Mengatasi Gejolak Sosial Politik di Indonesia

Jakarta, Berdampak.net – Menyikapi gejolak sosial politik yang terjadi di Indonesia belakangan ini, Forum Guru Besar Insan Cita menilai itu terjadi dari kegagalan negara mengatasi kesenjangan sosial-ekonomi. Dalam pernyataan sikap mereka, para akademisi menyebut kemajuan ekonomi Indonesia masih terkonsentrasi pada kelompok tertentu, sementara desa dan daerah tertinggal belum berkembang sebagai pusat pertumbuhan baru.

Kondisi ini, mereka menilai, dapat memperburuk indeks kesengsaraan rakyat sehingga memicu ketidakpuasan yang meluas.

“Lima puluh persen pendapatan negara masih dinikmati penduduk terkaya. Ketimpangan sosial antara Jawa dan luar Jawa, antara kota dan desa, belum berkurang signifikan,” tulis para guru besar dalam pernyataan yang dikutip Selasa (2/9/2025).

Para akademisi tersebut juga menyoroti lambannya reformasi birokrasi dan pemberantasan korupsi. Praktik kongkalikong antara pejabat dan pengusaha masih kuat, sementara birokrasi kerap dipimpin figur tanpa integritas dan kapasitas memadai. Situasi ini, berdampak terhadap ketidakpercayaan publik yang kian tinggi terhadap eksekutif dan legislatif.

Sebagai solusi jangka menengah, para profesor mengajukan delapan langkah strategis. Di antaranya mendorong Presiden Prabowo memimpin langsung gerakan pemberantasan korupsi, serta melakukan evaluasi terhadap regulasi secara menyeluruh yang membebani rakyat, reformasi birokrasi menuju kelas dunia, serta menjaga agar bonus demografi tidak berubah menjadi bencana demografi.

Mereka juga menegaskan perlunya perbaikan kualitas demokrasi agar tidak terjebak pada praktik liberal yang tercerabut dari nilai-nilai Pancasila. Presiden juga diminta mengevaluasi rencana pendirian perguruan tinggi baru oleh Danantara dan lebih fokus meningkatkan mutu perguruan tinggi yang sudah ada.

“Pernyataan sikap ini adalah panggilan moral dan akademik untuk menjaga keutuhan NKRI, memperkuat demokrasi, dan memastikan kebijakan negara berpihak kepada rakyat,” ujar Prof. R. Siti Zuhro bersama Prof. Didik J. Rachbini mewakili para inisiator. (fiq)

Abu Bakar Rohim Tegaskan Arahan Anis Matta: Politik Butuh Keikhlasan dan Visi Panjang

Probolinggo, Berdampak.net– Ketua DPD Partai Gelora Indonesia Kabupaten Probolinggo, Abu Bakar Rohim, menegaskan kembali pesan Ketua Umum Partai Gelora, Anis Matta, tentang pentingnya keikhlasan dan visi panjang dalam perjuangan politik. Hal itu ia sampaikan usai pelantikan pengurus Partai Gelora di room meeting Raluna Coffee, Probolinggo, Sabtu (23/08/2025).

Dalam sambutannya, Abu Bakar mengingatkan bahwa jalan politik tidak pernah mulus, melainkan penuh fitnah, jebakan, dan ujian. Karena itu, menurutnya, hanya dengan keikhlasan perjuangan dapat dijalani dengan konsisten.

“Pak Anis selalu mengingatkan kita, jalan politik ini tidak datar, tapi penuh gelombang. Pada saat tertentu kita akan menghadapi peristiwa besar yang menentukan arah sejarah. Karena itu kita perlu kesabaran, kerja keras, dan perencanaan jangka panjang,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan pesan Anis bahwa kemenangan politik tidak selalu dapat disaksikan langsung oleh para pejuangnya. Namun, semangat nubuwah dan kebahagiaan spiritual harus menjadi energi yang menjaga semangat perjuangan.

“Belajarlah mencari kegembiraan dari hal-hal yang hakiki, bukan dari sesuatu yang pendek dan fana. Musuh terbesar manusia dalam perjuangan adalah kesendirian,” katanya.

Abu Bakar menegaskan bahwa pengakuan formal bukanlah hal terpenting. “Apakah kita nanti dimakamkan di Kalibata atau tidak, itu bukan tujuan utama. Yang penting adalah keberkahan perjuangan yang kita jalani,” ucapnya.

Ia juga mengingatkan kader Partai Gelora agar tidak mudah terjebak dalam ambisi jangka pendek. Menurutnya, pesan Anis menekankan bahwa energi sejati dalam politik justru lahir dari visi panjang yang kokoh.

Dengan menyampaikan arahan tersebut, Abu Bakar berharap seluruh pengurus Partai Gelora Kabupaten Probolinggo dapat menapaki jalan politik dengan sabar, ikhlas, dan berpandangan jauh ke depan demi kejayaan bangsa. (pm)

Sugiono Gantikan Ahmad Muzani sebagai Sekjen Gerindra

Jakarta, berdampak.net — Partai Gerindra resmi menunjuk Sugiono sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) yang baru menggantikan Ahmad Muzani. Keputusan ini ditandatangani langsung oleh Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Bogor.

Ahmad Muzani telah menjabat Sekjen sejak 2008. Dalam perombakan terbaru, ia kini dipercaya menduduki posisi strategis sebagai Sekretaris Dewan Pembina sekaligus Ketua Dewan Kehormatan Partai.

“Terima kasih atas kepercayaan selama ini. Jika ada khilaf, saya mohon maaf,” ujar Muzani dalam pernyataan resminya.

Penunjukan Sugiono menandai penyegaran struktur DPP Gerindra periode 2025–2030. Ia sebelumnya dikenal sebagai sosok dekat Prabowo dan dipercaya menduduki sejumlah posisi strategis di pemerintahan.

Gerindra menegaskan, pergantian ini merupakan bagian dari upaya penguatan organisasi menjelang agenda-agenda politik nasional lima tahun ke depan. (fj)