Kepala Pesantren Kiai Hamid Wahid: Kampus Harus Cetak Pencipta Lapangan Kerja, Bukan Sekadar Pencari Kerja
PROBOLINGGO.BERDAMPAK.NET – Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Dr. KH. Abdul Hamid Wahid, mendorong dunia pendidikan tinggi melahirkan lulusan yang mampu menciptakan lapangan kerja, bukan hanya mencari pekerjaan. Pesan itu disampaikan dalam Wisuda dan Dies Maulidiyah ke-9 Universitas Nurul Jadid (UNUJA), Ahad (25/10/2026).
Menurut Kiai Hamid, yang juga Bupati Bondowoso, ilmu tidak boleh berhenti sebagai modal meningkatkan penghasilan pribadi. Ilmu semestinya menjadi kekuatan untuk mengembangkan usaha, memberdayakan masyarakat, dan membuka jalan kesejahteraan bersama.
Dalam sambutannya di hadapan wisudawan jenjang diploma, sarjana, dan magister, ia menyebut dua hal penting untuk meneruskan amanah para pendiri lembaga: keberanian berinovasi dan kesungguhan membangun kemandirian, terutama di bidang ekonomi.
Inovasi Jadi Keharusan
Kiai Hamid menilai inovasi merupakan keharusan karena tantangan setiap zaman berbeda. Cara yang efektif di masa lalu belum tentu cukup menjawab persoalan hari ini.
Ia mendorong perguruan tinggi memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta membangun model pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Dosen dan peneliti diharapkan menemukan jawaban atas persoalan nyata, sementara mahasiswa didorong menjadi insan kreatif yang berani menawarkan solusi.
Kemandirian Ekonomi
Soal kemandirian ekonomi, ia menegaskan bahwa perjuangan pendidikan dan pengabdian sosial membutuhkan fondasi yang kuat. Niat baik saja, kata dia, tidak selalu cukup untuk membangun lembaga pendidikan bermutu dan memperluas akses belajar.
“Kemandirian ekonomi adalah kemampuan menjaga keberlangsungan perjuangan, memperluas manfaat, dan mengurangi ketergantungan yang dapat membatasi gerak langkah kita,” ujarnya.
Pesantren dan universitas, lanjutnya, perlu terus mendorong budaya kewirausahaan, mengembangkan unit usaha yang sehat, membangun kemitraan produktif, dan menghubungkan keahlian kampus dengan kebutuhan dunia usaha serta potensi daerah.
Nilai dan Ilmu Saling Menguatkan
Kiai Hamid juga menegaskan UNUJA bukan sekadar perguruan tinggi yang kebetulan berada di lingkungan pesantren. Universitas ini tumbuh dari tradisi perjuangan seorang ulama pendiri Nurul Jadid yang mengabdikan diri pada pendidikan demi umat dan bangsa.
Tradisi pesantren seperti penghormatan kepada ilmu dan guru, kedisiplinan, kesederhanaan, keikhlasan, dan tanggung jawab, menurutnya, bukan penghalang kemajuan akademik. Nilai-nilai itu justru menjaga agar kemajuan tidak kehilangan tujuan kemanusiaan.
“Nilai tanpa penguasaan ilmu dapat kehilangan daya jangkau. Sebaliknya, ilmu tanpa orientasi nilai dapat kehilangan arah. Keduanya harus saling menguatkan,” katanya.
Acara tersebut dihadiri para masyayikh dan keluarga besar pesantren, pimpinan dan senat universitas, perwakilan Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, dosen, mitra kampus, serta orang tua dan wali wisudawan.
Di akhir sambutan, Kiai Hamid berpesan agar para wisudawan menjadi generasi yang memadukan kedalaman ilmu, keluhuran akhlak, dan keteguhan pengabdian. “Semoga ilmu yang diperoleh menjadi cahaya dalam kehidupan, jalan bagi kemaslahatan masyarakat, dan amal jariyah yang terus mengalir,” tuturnya.