Saya Jatuh Cinta pada Kopi yang Tidak Saya Mengerti
Oleh Andreas
Dulu saya mengira kopi hanya punya tiga kemungkinan rasa pahit, manis, dan asam. Selebihnya saya tidak terlalu peduli. Kopi bagi saya hanyalah minuman yang berwarna hitam, kadang menemani pekerjaan, kadang mengusir kantuk, dan sesekali menjadi alasan untuk duduk lebih lama bersama teman.
Ada satu persoalan lain perut saya tidak terlalu bersahabat dengan kopi. Setiap kali minum, sering kali muncul rasa tidak nyaman. Mules, kembung, atau sensasi asam yang membuat saya berpikir dua kali sebelum menambah secangkir. Maka kopi bukan sesuatu yang benar-benar saya cari.
Sampai suatu ketika saya mengenal arabika dan, lebih jauh lagi, manual brew.
Saya masih ingat perasaan aneh ketika pertama kali melihat orang menyeduh kopi dengan cara yang menurut saya cukup “serius”. Biji kopi ditimbang. Air ditimbang. Bubuk kopi digiling dengan ukuran tertentu. Air dituangkan perlahan, dengan gerakan yang tampaknya sudah diperhitungkan. Ada istilah blooming, rasio, suhu air, grind size, extraction dan berbagai istilah lain yang saat itu terdengar seperti bahasa asing.
Dalam hati saya sempat bertanya, Memangnya membuat kopi harus serumit ini?
Lalu kopi itu diminum.
Dan saya terdiam.
Ada sesuatu yang berbeda. Kopi itu tidak sekadar pahit. Ada aroma yang samar seperti buah, ada rasa manis yang tidak berasal dari gula, ada keasaman yang justru terasa menyegarkan. Untuk pertama kalinya saya menyadari bahwa selama ini mungkin saya bukan tidak menyukai kopi. Saya hanya belum pernah benar-benar mengenal kopi.
Di situlah perjalanan kecil saya dimulai.
Saya mulai penasaran pada hal-hal yang sebelumnya tidak pernah saya pikirkan. Mengapa kopi dari daerah tertentu terasa berbeda dengan kopi dari daerah lain? Mengapa satu biji yang sama bisa menghasilkan rasa berbeda ketika digiling dengan ukuran berbeda? Mengapa suhu air berpengaruh? Mengapa cara menuangkan air bisa mengubah hasil seduhan?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu perlahan membuat saya masuk semakin jauh.
Saya mulai mengenal istilah yang sebelumnya terasa asing aroma, acidity, body, sweetness, aftertaste, balance. Saya mulai belajar bahwa rasa asam dalam kopi tidak selalu berarti kopi itu “basi” atau tidak bagus. Keasaman dalam konteks kopi dapat menjadi bagian dari karakter dan memberikan sensasi segar. Saya mulai memahami bahwa body bukan soal kopi yang “berat”, melainkan sensasi yang dirasakan di mulut. Aftertaste adalah cerita yang masih tertinggal setelah kopi ditelan.
Ternyata lidah manusia lebih rumit daripada yang saya kira.
Dan kopi jauh lebih rumit daripada yang selama ini saya bayangkan.
Arabika menjadi salah satu pintu pertama yang membuat saya semakin penasaran. Saya tidak ingin mengatakan bahwa arabika selalu lebih baik daripada jenis kopi lainnya. Dunia kopi terlalu luas untuk disederhanakan menjadi soal mana yang terbaik. Tetapi arabika memperkenalkan kepada saya sebuah kenyataan bahwa kopi bisa memiliki karakter yang sangat beragam.
Ada kopi yang mengingatkan saya pada buah. Ada yang memiliki aroma bunga. Ada yang terasa seperti cokelat atau kacang. Ada yang terasa ringan dan bersih. Ada pula yang meninggalkan rasa panjang setelah diminum.
Dari sana saya mulai memahami bahwa kopi bukan hanya minuman. Kopi adalah hasil dari pertemuan banyak hal termasuk varietas, lingkungan tempat tumbuh, ketinggian, iklim, cara panen, proses pascapanen, sangrai dan akhirnya metode penyeduhan.
Satu cangkir kopi ternyata menyimpan perjalanan yang panjang.
Kemudian saya mengenal liberika.
Jika arabika membuat saya penasaran, liberika membuat saya kembali merasa seperti orang yang baru pertama kali menemukan kopi. Karakternya unik. Tidak selalu mudah ditebak. Ada sesuatu yang berbeda dari pengalaman menikmati liberika, dan justru karena perbedaannya itu saya semakin tertarik.
Saya kemudian mulai melihat bahwa dunia kopi Indonesia sebenarnya menyimpan kekayaan yang jauh lebih besar daripada yang sering kita bayangkan. Kita mengenal nama-nama besar daerah penghasil kopi, tetapi di balik nama tersebut terdapat begitu banyak cerita tentang kebun, varietas, petani, proses dan tradisi yang belum tentu kita pahami ketika secangkir kopi sudah berada di atas meja.
Di titik ini, saya mulai merasa bahwa menikmati kopi juga berarti belajar menghargai perjalanan di baliknya.
Ada petani yang menunggu buah kopi matang. Ada tangan yang memilih buah yang layak dipetik. Ada proses setelah panen yang menentukan bagaimana karakter biji berkembang. Ada roaster yang mencoba menerjemahkan potensi biji melalui panas. Ada barista atau brewer yang kemudian berusaha mengeluarkan karakter itu melalui air.
Dan akhirnya ada kita, penikmat yang sering kali hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk menghabiskan sesuatu yang prosesnya membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
Pemahaman itu mengubah cara saya memandang secangkir kopi.
Saya tidak lagi sekadar bertanya, “Enak atau tidak?”
Saya mulai bertanya, “Mengapa rasanya seperti ini?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi bagi saya justru di situlah kenikmatannya.
Manual brew kemudian menjadi semacam ritual kecil. Bukan hanya karena hasil akhirnya, tetapi karena prosesnya. Suara grinder, aroma kopi yang baru digiling, air panas yang menyentuh bubuk kopi, proses blooming, lalu aliran air yang perlahan masuk ke dalam dripper. Ada jeda yang membuat kita sejenak berhenti dari dunia.
Mungkin inilah bagian yang paling saya sukai dari kopi.
Kopi memaksa kita untuk sedikit melambat.
Di tengah kehidupan yang semakin cepat, kopi memberi alasan untuk menunggu. Kita menunggu air mencapai suhu tertentu. Menunggu proses ekstraksi. Menunggu tetesan terakhir. Kemudian menunggu aroma yang muncul ketika cangkir didekatkan ke hidung.
Bagi orang lain mungkin itu hal biasa.
Bagi saya, sekarang tidak lagi.
Ada semacam ketenangan di sana.
Yang menarik, pengalaman saya dengan tubuh sendiri juga berubah. Dulu kopi sering membuat perut saya tidak nyaman. Setelah mengenal jenis kopi dan metode seduh yang berbeda, saya justru dapat menikmati kopi beberapa kali dalam sehari tanpa mengalami keluhan yang sama seperti sebelumnya.
Namun saya tidak ingin menjadikan pengalaman pribadi itu sebagai kesimpulan bahwa arabika atau manual brew pasti lebih aman bagi semua orang. Tubuh setiap orang berbeda. Jenis kopi, tingkat sangrai, dosis, waktu konsumsi dan cara penyeduhan dapat memberikan pengalaman yang berbeda pula.
Yang berubah dalam diri saya bukan semata-mata kondisi setelah minum kopi.
Yang berubah adalah cara saya memandang kopi.
Dulu saya meminum kopi.
Sekarang saya mencoba memahami kopi.
Dan semakin saya belajar, semakin saya sadar bahwa pengetahuan saya sebenarnya masih sangat sedikit.
Itulah paradoks yang membuat saya semakin tertarik.
Semakin banyak mencoba, semakin banyak pertanyaan muncul. Mengapa kopi yang sama terasa berbeda ketika diseduh dengan metode berbeda? Mengapa perubahan kecil pada ukuran gilingan bisa membuat rasa berubah? Mengapa kopi yang sama dapat terasa lebih manis ketika suhu tertentu digunakan? Bagaimana petani memilih proses pascapanen? Bagaimana roaster menentukan profil sangrai yang tepat?
Saya belum memiliki semua jawabannya.
Bahkan mungkin tidak akan pernah.
Tetapi saya mulai menyukai ketidaktahuan itu.
Sebab dalam kopi, ketidaktahuan justru membuat perjalanan menjadi panjang.
Saya tidak lagi terlalu sibuk mencari kopi “terbaik”. Sebab semakin lama saya mengenal kopi, semakin saya merasa bahwa istilah terbaik adalah sesuatu yang sangat subjektif. Kopi yang dianggap luar biasa oleh seseorang belum tentu menjadi kopi yang ingin saya minum setiap pagi.
Saya lebih tertarik pada kopi yang membuat saya berhenti sejenak. Kopi yang membuat saya penasaran.
Kopi yang membuat saya ingin mencoba lagi.
Kopi yang membuat saya bertanya tentang dari mana ia berasal dan bagaimana ia sampai ke dalam cangkir.
Mungkin di situlah saya akhirnya menemukan alasan mengapa saya begitu jatuh cinta pada kopi.
Bukan karena saya sudah memahaminya.
Justru karena saya belum memahaminya.
Saya jatuh cinta pada sesuatu yang selalu menyisakan ruang untuk dipelajari.
Dulu saya hanya mengenal kopi sebagai rasa pahit yang kadang diselingi manis dan asam. Sekarang saya tahu bahwa tiga kata itu terlalu kecil untuk menggambarkan dunia kopi.
Ada tanah di dalamnya. Ada cuaca. Ada ketinggian. Ada varietas. Ada tangan petani. Ada proses. Ada panas dari roaster. Ada air. Ada waktu. Ada kesalahan dalam penyeduhan. Ada percobaan yang berhasil. Ada pula cangkir-cangkir yang gagal tetapi justru mengajarkan sesuatu.
Dan mungkin, pada akhirnya, kopi juga berbicara tentang manusia.
Tentang kesabaran.
Tentang rasa ingin tahu.
Tentang kegagalan.
Tentang keinginan untuk terus mencoba sesuatu yang belum sepenuhnya kita mengerti.
Hari ini, ketika saya menggiling biji kopi dan mulai menuangkan air perlahan, saya tidak lagi sekadar membuat minuman.
Saya seperti sedang membuka sebuah cerita.
Saya tidak selalu tahu bagaimana cerita itu akan berakhir. Kadang hasilnya terlalu pahit. Kadang terlalu asam. Kadang terlalu tipis. Kadang justru menghasilkan satu cangkir yang membuat saya berhenti dan berkata, “Ini menarik.”
Besok saya akan mencoba lagi.
Mungkin dengan kopi yang berbeda.
Mungkin dengan ukuran gilingan yang berbeda.
Mungkin dengan suhu air yang berbeda.
Atau mungkin hanya dengan rasa ingin tahu yang sama.
Sebab sekarang saya mengerti satu hal: saya tidak harus menjadi ahli kopi untuk mencintai kopi.
Saya hanya perlu bersedia terus mencicipi, terus bertanya, dan terus belajar.
Barangkali begitulah cara seseorang jatuh cinta pada sesuatu yang tidak ia mengerti.
Bukan dengan berusaha menaklukkannya.
Tetapi dengan menikmati perjalanan untuk mengenalnya.
Dan saya masih berada di perjalanan itu.
Dengan satu cangkir arabika di meja.
Atau mungkin liberika.
Air panas yang perlahan dituangkan.
Aroma yang mulai memenuhi ruangan.
Lalu sebuah pertanyaan sederhana yang selalu muncul sebelum tegukan pertama:
Hari ini, kopi ini akan bercerita tentang apa?