Gawai Menguat, Minat Baca Melemah, TKA Menanti.

Hadirnya teknologi seperti gawai bukanlah menjadi penghambat utama dunia pendidikan. Teknologi seperti gawai justru sangat membantu dalam mencari informasi lebih cepat dan memberikan kemudahan untuk mengakses berbagai hal positif. Namun pertanyaanya : apakah gawai sudah digunakan dengan waktu yang tepat?.


Konten digital memberikan hiburan secara cepat dan singkat, jika bosan anak-anak bisa menggeser ke konten digital berikutnya. Sedangkan membaca membutuhkan perhatian, kesabaran dan usaha untuk memahami isi bacaan. Jika kebiasaan bermain gawai tidak diimbangi dengan kegiatan yang melatih konsentrasi dan pemahaman, kesempatan anak untuk memperkuat kemampuan baca secara mendalam berkurang. Permasalahan ini bukan tentang memilih buku atau gawai secara absolut. Permasalahan utamanya adalah bagaimana teknologi digunakan secara bijak tanpa mengurangi waktu atau ruang untuk membaca dalam kehidupan anak.


Berdasarkan pengalaman dilapangan, beberapa anak saat diberikan arahan untuk membaca 15 menit, terlihat kurang antusias, merasa gelisah dan terburu-buru mengakhiri membaca, pada akhirnya anak tidak benar-benar paham terhadap konteks bacaan yang dibaca. Fenomena ini patut menjadi perhatian, terutama ketika kebiasaan membaca belum tumbuh secara kokoh serta tuntunan dunia pendidikan yang mengharuskan anak memiliki kemampuan memahami informasi, berpikir kritis dan bernalar.


Di tengah kemudahan mengakses informasi, mengapa kebiasaan membaca anak justru semakin memudar?. Pertanyaan ini menjadi penting ketika anak dihadapkan dengan berbagai tuntunan akademik, termasuk tes kemampuan akademik (TKA). Apakah mereka telah memiliki kebiasaan belajar yang cukup untuk menghadapai tantangan ini ?. ini bukan persoalan apakah anak-anak menyukai buku atau tidak. Pada dasarnya membaca merupakan pondasi yang begitu penting dan termasuk kunci utama dalam perkembangan akademik, kognitif, kecerdasan, empati dan kesuksesan di era digital. Membaca erat kaitannya dengan seluruh mata pelajaran yang ada dan sangat dibutuhkan sebagai bentuk pemahaman.
Tatangan kemampuan membaca di Indonesia tercermin dalam hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 mencapai 365 point. Skor ini menunjukkan peningkatan yang begitu pesat meskipun hanya naik sekitar 6-7 point dari skor tahun 2022 (359). Meskipun meningkat, capaian ini masih jauh dibawah rata-rata standart OECD (461) dan menempatkan Indonesia di peringkat bawah dikawasan ASEAN. Pada tingkat literasi dasar hanya sekitar 55% siswa kelas 6 SD yang mencapai literasi minimum berdasarkan data terakhir ANBK. Fakta lainnya bahwa pemanfaatan perpustakaan di sekolah Indonesia, baru sekitar 28% yang memiliki perpustakaan layak.


Dari data tersebut, tidak dapat diambil kesimpulan bahwa rendahnya kemampuan membaca disebabkan oleh gawai. Data yang dikeluarkan oleh PISA merupakan dasar untuk mengukur kemampuan membaca, bukan minat baca. Namun dari hasil PISA tersebut menjadi pengingat untuk terus memperkuat kemampuan dalam memahami teks bacaan, tidak cukup hanya sekedar membaca kemudian dilupakan. Anak-anak perlu memahami isi bacaan dan bisa menggunakan kembali informasi untuk menjawab persoalan yang disajikan dalam teks bacaan.


Hadirnya tes kemapuan akademik sejak tahun 2025 memberikan warna baru dalam dunia pendidikan terutama untuk anak-anak yang akan menjajaki babak baru. Hadirnya TKA menjadi pengingat bahwa proses belajar perlu dilakukan secara menyeluruh. TKA bukanlah pengukur minat baca, namun sebagai evaluasi capaian akademik pada mata pelajaran tertentu yang mana dari TKA tersebut mendukung kebiasaan dalam memahami informasi dalam bacaan dengan cermat.


Kebiasaan tersebut harus dibangun jauh sebelum pelaksanaan TKA dilaksanakan. Oleh karena itu, mempersiapkan anak menghadapi TKA tidak cukup dengan memperbanyak latihan soal menjelang pelaksanaan TKA. Latihan sangat diperlukan dan dibalik proses itu, terdapat pembiasaan membaca yang diperkuat sejak awal. Jangan sampai anak hanya mampu menjawab soal, tetapi sulit menggunakan pengetahuannya dalam menghadapi persoalan baru. Memperkuat pondasi membaca membutuhkan kolaborasi dan kerja sama antar berbagai pihak, seperti sekolah dan keluarga. Untuk memperkuat pondasi membaca dibutuhkan pembiasaan sejak awal. Orang tua memiliki peran yang sangat penting, anak akan lebih mudah termotivasi dalam membaca, jika melihat orang dewasa sekitarnya juga turut serta membaca.


Meskipun gawai tidak bisa dihindari, orang tua perlu melakukan pendampingan secara konsisten dengan menyepakati waktu bermain gawai, pemilihan konten digital, sampai anak benar-benar paham fungsi sesungguhnya gawai. Selain gawai, orang tua bisa menyediakan fasilitas buku cetak/digital yang menarik sesuai perkembangan anak. Sekolah harus turut andil dengan memastikan kegiatan literasi betul-betul berjalan secara konsisten, bukan saat perayaan besar saja. Ruang perpustakaan harus hidup, mengingat perpustakaan merupakan jantungnya sekolah.


Pada akhirnya, dalam mempersiapkan seorang anak menghadapai TKA tidak dibangun dalam satu atau dua bulan saja. Kesiapan tersebut tumbuh melalui proses belajar yang konsisten termasuk membaca. Keberhasilan dalam membaca menentukan kemahiran dalam memahami dan bernalar. Sebagai pendidik, kita tidak bisa menuntut untuk selalu mencapai hasil yang baik, jika lingkungan belajarnya belum memberikan wadah yang cukup untuk berproses. Gawai boleh menjadi bagian dari dunia anak, tetapi kebiasaan membaca jangan sampai kehilangan tempat. Mari menyiapkan generasi yang mencintai proses belajar dan menjadi pembelajar sepanjang hanyat.

Oleh : Endah Novita Sari
Guru SD Muhammadiyah Plus Kota Probolinggo
Magister Pedagogi Universitas Muhammadiyah Malang