MUI Kota Probolinggo Kecam Keras Acara Musik Challenge Membaca Al-Qur’an Berhadiah Miras, Minta Diproses Sesuai Hukum

PROBOLINGGO, Berdampak.net — Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (DP MUI) Kota Probolinggo mengecam keras munculnya challenge atau tantangan membaca Al-Qur’an yang disertai hadiah minuman keras (miras).
Video tantangan (challenge) menghafal surah Al-Qur’an dengan iming-iming hadiah sebotol minuman keras (miras) ramai dikecam. Pihak event organizer (EO) festival musik, The Sounds Project merupakan penyelenggara event tersebut.

MUI Kota Probolinggo menilai tindakan tersebut tidak hanya berpotensi menyinggung kesucian dan kehormatan Al-Qur’an serta sensitivitas kehidupan beragama, tetapi juga dapat menimbulkan keresahan di tengah masyarakat dan merusak semangat membangun kehidupan sosial yang harmonis.

Ketua Umum MUI Kota Probolinggo, Prof. Dr. KH. M. Sulthon, MA, menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan kitab suci yang memiliki kedudukan sangat mulia bagi umat Islam. Karena itu, menjadikan aktivitas membaca Al-Qur’an sebagai bagian dari tantangan dengan imbalan berupa minuman keras merupakan tindakan yang patut disesalkan dan tidak semestinya dilakukan.

“MUI Kota Probolinggo mengecam keras tindakan yang menjadikan pembacaan Al-Qur’an sebagai konten challenge dengan hadiah minuman keras. Al-Qur’an harus ditempatkan secara terhormat, bukan dijadikan objek candaan, sensasi, atau konten yang berpotensi merendahkan nilai kesucian agama,” tegasnya.

MUI Kota Probolinggo meminta aparat penegak hukum melakukan pemeriksaan secara profesional dan objektif terhadap pihak-pihak yang terlibat, khususnya untuk memastikan apakah terdapat unsur pelanggaran terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

MUI menegaskan bahwa permintaan proses hukum tersebut bukan dimaksudkan untuk mengedepankan tindakan main hakim sendiri, melainkan sebagai bentuk penghormatan terhadap prinsip negara hukum, kepastian hukum, dan ketertiban sosial.

“Jika berdasarkan hasil pemeriksaan terdapat unsur pidana atau pelanggaran hukum, kami meminta agar diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Masyarakat tidak boleh mengambil tindakan sendiri. Serahkan penanganannya kepada aparat penegak hukum,” lanjut MUI.

Selain aspek hukum, MUI Kota Probolinggo juga mengingatkan agar hiburan dan para pengguna media sosial agar lebih bertanggung jawab dalam membuat dan menyebarluaskan konten, terutama konten yang menyangkut agama, simbol keagamaan, serta hal-hal yang memiliki sensitivitas sosial.

Di tengah perkembangan media digital yang sangat cepat, MUI mendorong masyarakat untuk membangun budaya digital yang sehat dengan mengedepankan etika, penghormatan terhadap keyakinan orang lain, dan tanggung jawab sosial.

MUI juga meminta penyelenggara hiburan dan platform media sosial dan pihak terkait untuk melakukan langkah yang diperlukan apabila konten tersebut terbukti melanggar ketentuan komunitas maupun peraturan yang berlaku.

MUI Kota Probolinggo menegaskan bahwa kebebasan berekspresi merupakan bagian penting dalam kehidupan demokratis. Namun, kebebasan tersebut harus dilaksanakan dengan memperhatikan hukum, etika, kepatutan, serta penghormatan terhadap hak dan keyakinan masyarakat lainnya.

Kreativitas dalam hiburan dan membuat konten digital, menurut MUI, seharusnya diarahkan untuk memberikan manfaat, edukasi, inspirasi, dan memperkuat persaudaraan, bukan menciptakan provokasi atau keresahan.

MUI Kota Probolinggo mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap tenang, tidak menyebarluaskan kembali konten yang bermasalah secara berlebihan, dan tidak melakukan tindakan yang dapat memperkeruh suasana.

“Kami mengajak masyarakat menjaga ketenangan dan kerukunan. Kritik dan keberatan hendaknya disampaikan melalui jalur yang bermartabat dan konstitusional. Jika ada dugaan pelanggaran hukum, laporkan kepada aparat yang berwenang,” tegas MUI Kota Probolinggo.

EMPAT SIKAP MUI KOTA PROBOLINGGO

Atas persoalan tersebut, MUI Kota Probolinggo menyampaikan sikap:

  1. Mengecam keras acara musik dengan pembuatan challenge membaca Al-Qur’an yang disertai hadiah minuman keras karena dinilai tidak menghormati kesucian dan kemuliaan Al-Qur’an serta berpotensi menimbulkan keresahan masyarakat.
  2. Meminta aparat penegak hukum melakukan pemeriksaan secara objektif, profesional, dan transparan terhadap pihak-pihak yang terkait serta memprosesnya sesuai ketentuan hukum.
  3. Mengimbau masyarakat tidak melakukan tindakan main hakim sendiri, tidak melakukan persekusi, ancaman, ataupun kekerasan terhadap pihak yang diduga terlibat.
  4. Mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, dan dunia hiburan serta pengguna media sosial, meningkatkan literasi digital dan etika bermedia, dengan menghormati nilai-nilai agama, budaya, hukum, dan kehidupan masyarakat yang majemuk.

MUI Kota Probolinggo berharap persoalan ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bersama bahwa kebebasan berekspresi harus berjalan seiring dengan tanggung jawab, etika, penghormatan terhadap agama, dan kepatuhan terhadap hukum.

“Berharap hiburan bernilai positif. Begitu pula dengan ruang digital sebagai ruang yang sehat, edukatif dan bermartabat. Jangan jadikan agama sebagai bahan sensasi demi mendapatkan perhatian atau keuntungan,” pungkas Kyai Sulton .

MUI – ICMI Lumajang Dorong Pemerintah Perkuat Kebijakan Perlindungan Generasi Muda

LUMAJANG, Berdampak.net— Keprihatinan terhadap berbagai persoalan sosial, kesehatan, moral, dan tantangan pembinaan generasi muda mendorong Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Kabupaten Lumajang memperkuat sinergi dengan Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (DP MUI) Kabupaten Lumajang.

Hal itu mengemuka dalam silaturahmi ICMI Kabupaten Lumajang dengan DP MUI Kabupaten Lumajang di Kantor MUI Kabupaten Lumajang, Selasa (11/8/2026).

Ketua Umum ICMI Kabupaten Lumajang, dr. Aliyah, Sp.THT-KL, bersama jajaran pengurus menyampaikan sejumlah masukan terkait problematika sosial yang berkembang di masyarakat. Salah satu yang menjadi perhatian adalah isu LGBT yang oleh kedua pihak dinilai perlu ditangani secara serius melalui pendekatan yang komprehensif, berbasis data, edukasi, kesehatan, pembinaan keluarga, serta kebijakan hukum yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

ICMI dan MUI Lumajang mendorong pemerintah agar memperkuat regulasi yang memberikan perlindungan kepada masyarakat, khususnya anak dan generasi muda, sekaligus melakukan langkah-langkah preventif dan pembinaan terhadap berbagai perilaku yang berpotensi menimbulkan persoalan sosial dan kesehatan.

Ketua Umum DP MUI Kabupaten Lumajang, Gus Hanif, mengatakan bahwa persoalan tersebut perlu menjadi perhatian bersama antara ulama, cendekiawan, pemerintah, tenaga kesehatan, lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat.

“Di antara hasil pertemuan koordinasi DP MUI Korwil V Jawa Timur adalah mendorong agar fatwa MUI tentang LGBT dapat menjadi salah satu rujukan dalam penyusunan kebijakan dan regulasi pemerintah. Tentu prosesnya harus melalui mekanisme konstitusional dan sesuai dengan sistem peraturan perundang-undangan yang berlaku,” ujar Gus Hanif.

Menurutnya, penguatan regulasi perlu ditempatkan dalam kerangka perlindungan masyarakat, pencegahan, edukasi, dan pembinaan, bukan semata-mata pendekatan represif.

Dalam pertemuan tersebut juga dibahas pelaksanaan karnaval dan berbagai kegiatan perayaan masyarakat.

ICMI dan MUI Kabupaten Lumajang berharap kegiatan karnaval dapat diarahkan menjadi pawai yang memperkuat semangat perjuangan, nasionalisme, persatuan, kreativitas, dan kecintaan terhadap bangsa.

“Perayaan kemerdekaan hendaknya menjadi momentum membangun semangat kebangsaan dan persatuan. Karena itu, kegiatan masyarakat perlu tetap memperhatikan etika, nilai agama, budaya, ketertiban umum, serta ketentuan yang berlaku,” demikian pokok pembahasan dalam pertemuan tersebut.

Sekretaris Umum DP MUI Kabupaten Lumajang, Gus Sarwadi, SH., MH., menegaskan pentingnya kolaborasi antara ulama dan cendekiawan dalam menjawab berbagai persoalan umat.

“Sebagai wadah silaturahmi ulama, zuama dan cendekiawan Muslim sebagaimana amanat PD/PRT MUI, maka sangat tepat dan bermakna strategis langkah ICMI Kabupaten Lumajang bersilaturahmi dan sekaligus berkolaborasi dengan MUI Kabupaten Lumajang,” ujar Gus Sarwadi.

Ia menilai kolaborasi tersebut harus diarahkan pada kerja nyata dan solusi konstruktif, terutama dalam bidang pembinaan umat, pendidikan, kesehatan, ketahanan keluarga, perlindungan generasi muda, serta penguatan nilai kebangsaan.

Sebagai tindak lanjut, ICMI dan MUI Kabupaten Lumajang sepakat melakukan audiensi dengan Bupati Lumajang, Bunda Indah Masdar.

Audiensi tersebut akan menjadi momentum menyampaikan berbagai masukan dan rekomendasi kepada pemerintah daerah sekaligus menawarkan sinergi dalam membantu menyelesaikan problematika umat dan persoalan sosial di Kabupaten Lumajang.

Silaturahmi ICMI dan MUI Lumajang menegaskan pentingnya menghadirkan kolaborasi ulama, cendekiawan, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun kebijakan yang berpihak pada perlindungan generasi muda, ketahanan keluarga, kesehatan masyarakat, moralitas publik, dan kehidupan sosial yang harmonis.

Bagi ICMI dan MUI Lumajang, perbedaan peran tidak boleh menjadi sekat. Ulama memberikan landasan nilai, cendekiawan memperkuat perspektif keilmuan, sementara pemerintah memiliki kewenangan kebijakan. Ketiganya perlu bertemu dalam satu kepentingan: mewujudkan masyarakat Lumajang yang sehat, beradab, harmonis, religius, dan berkemajuan.

Tingkatkan Mutu Pembelajaran, MA Nurul Jadid Paiton Gelar Supervisi Administrasi Guru

Probolinggo.Berdampak.Net — Madrasah Aliyah (MA) Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, menggelar kegiatan Supervisi Administrasi Pembelajaran pada Selasa (11/8/2026) di ruang pertemuan madrasah. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh tenaga pendidik dan bertujuan memperkuat tata kelola pendidikan sekaligus mendorong peningkatan kualitas proses belajar mengajar di lingkungan madrasah.

Bertindak sebagai supervisor utama, Pengawas Madrasah Abd. Ghani, S.Ag., M.Pd.I., melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap dokumen administrasi pembelajaran yang disusun para guru. Berkas yang diperiksa antara lain Program Tahunan (Prota), Program Semester (Promes), Capaian Pembelajaran, Silabus, hingga Modul Ajar dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Proses supervisi tidak sebatas mengecek kelengkapan dokumen, tetapi juga menelaah kesesuaian isi materi dengan kurikulum yang berlaku saat ini. Menurut Abd. Ghani, administrasi pembelajaran yang tersusun rapi bukan sekadar pemenuhan formalitas, melainkan menjadi pedoman penting bagi guru dalam mengarahkan jalannya pembelajaran di kelas.

Ia menekankan bahwa perencanaan yang matang akan berdampak langsung pada efektivitas penyampaian materi kepada siswa.

Selain memeriksa dokumen, Abd. Ghani turut memberikan masukan dan alternatif solusi atas kendala teknis yang kerap dihadapi guru saat mengajar. Para guru diminta segera menindaklanjuti dan memperbaiki perangkat pembelajaran sesuai catatan koreksi yang diberikan.

Pihak manajemen MA Nurul Jadid menegaskan komitmennya untuk terus mengawal hasil evaluasi supervisi agar benar-benar diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari. Kegiatan ini diakhiri dengan penyusunan rencana tindak lanjut bersama seluruh tenaga pendidik, sebagai wujud keseriusan MA Nurul Jadid dalam meningkatkan kualitas pendidikan sejalan dengan cita-cita besar Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Dosen UPN Veteran Jatim Ciptakan Aplikasi Antiperundungan Berbasis Sastra, Siswa SMAN 1 Besuki Bisa Petakan Kasus Tanpa Rasa Takut

SITUBONDO, INDHEF NEWS — Banyak kasus perundungan di sekolah luput dari perhatian karena korban enggan bercerita. Rasa malu, takut disalahkan, atau trauma sering membuat siswa memilih diam dan memendam persoalan sendirian.

Menjawab tantangan tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur mengembangkan sebuah terobosan bernama Virtual Literary Therapy Lab — aplikasi berbasis Android yang menggabungkan edukasi antiperundungan dengan pendekatan sastra reflektif, permainan edukatif, dan jurnal emosi.

Aplikasi ini resmi diperkenalkan kepada siswa kelas X B SMAN 1 Besuki, Kabupaten Situbondo, pada 6 Agustus 2026. Kegiatan berlangsung pukul 09.00–13.00 WIB dan sekaligus menjadi momen serah terima aplikasi kepada pihak sekolah.

Sastra sebagai Media Refleksi Emosi

Tim pelaksana dipimpin oleh Dr. Achmad Fawaid, S.S., M.A., M.A., beranggotakan Hanum Lintang Siwi Suwingnyo, M.A.; Ambaristi Hersita Milanguni, M.A.; Lailatul Fitriyah, M.Si.; dan Moh. Ainol Yaqin, M.Kom., bersama dua mahasiswa, Nurmalita Herdiana dan Cindy Eka Aulia. Kegiatan ini didampingi langsung oleh Koordinator BK SMAN 1 Besuki, Ika Febrianti, S.Pd., serta Kepala SMAN 1 Besuki, Irpan Hilmi, S.Pd., M.P.

Berbeda dari aplikasi pembelajaran pada umumnya, Virtual Literary Therapy Lab menawarkan ruang interaktif yang cukup lengkap: materi edukasi seputar perundungan, game antiperundungan, kumpulan cerita dan puisi reflektif, hingga fitur jurnal emosi harian. Konten sastra di dalamnya sengaja dirancang untuk membantu siswa mengenali dan memahami emosinya lewat kisah yang dekat dengan keseharian remaja.

Dr. Achmad Fawaid menjelaskan bahwa inovasi ini juga menjadi bukti bahwa ilmu bahasa dan sastra Indonesia dapat dikembangkan lewat teknologi digital.

“Kami mencoba membawa teks sastra ke fungsi yang lebih aplikatif. Cerita dan puisi tidak hanya dibaca, tetapi digunakan sebagai medium refleksi untuk membantu siswa memahami emosi dan persoalan perundungan. Teknologi memungkinkan proses tersebut dikemas lebih interaktif dan lebih dekat dengan kebiasaan siswa,” jelas Fawaid.

Pemetaan Perundungan Lewat 75 Pertanyaan Berbasis Kasus

Selain memperkenalkan aplikasi, kegiatan ini juga dimanfaatkan untuk memetakan kondisi perundungan dan budaya aman di lingkungan sekolah. Para siswa diminta mengisi 75 pertanyaan digital yang disusun berdasarkan kasus atau kejadian konkret, sehingga mereka tidak perlu menyatakan secara langsung apakah dirinya pernah menjadi korban.

Instrumen survei ini dikembangkan dengan merujuk pada sejumlah standar internasional dan nasional, yaitu Global School-based Student Health Survey (GSHS) dari World Health Organization, indikator iklim sekolah dan paparan perundungan dalam Programme for International Student Assessment (PISA) OECD, serta Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 6 Tahun 2026.

Melalui pendekatan berbasis kasus ini, tim berharap dapat memperoleh gambaran yang lebih rinci mengenai berbagai bentuk perundungan yang dialami siswa — mulai dari verbal, fisik, sosial atau relasional, siber, hingga seksual. Survei ini juga memetakan frekuensi dan lokasi kejadian, dampak yang dirasakan siswa, pola pelaporan, hambatan dalam mencari bantuan, serta persepsi siswa terhadap keamanan lingkungan sekolah mereka.

Data untuk Perkuat Kebijakan Sekolah

Kepala SMAN 1 Besuki, Irpan Hilmi, S.Pd., M.P., menyambut baik hasil pemetaan ini dan menilainya dapat memperkuat pengambilan keputusan di tingkat sekolah.

“Sekolah membutuhkan data agar program yang dibuat benar-benar menjawab kondisi siswa. Dari pemetaan ini kami berharap dapat mengetahui bagian mana yang perlu diperkuat, baik layanan BK, edukasi kepada siswa, pengawasan lingkungan sekolah maupun mekanisme pelaporan. Jadi tindak lanjutnya dapat lebih tepat sasaran,” ujar Irpan.

Antusiasme juga datang dari siswa. Muhammad Ilzam Firdausi, siswa kelas X B, mengaku merasa lebih nyaman karena pengalamannya dipotret lewat pertanyaan berbasis situasi, bukan pertanyaan langsung yang bisa terasa menghakimi.

“Pertanyaannya menggunakan contoh kejadian yang mungkin dialami siswa, jadi lebih mudah dipahami dan dijawab. Kami juga tidak perlu menyebut nama siapa pun. Menurut saya cara seperti ini membuat siswa lebih nyaman untuk menjawab sesuai keadaan sebenarnya,” kata Ilzam.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan penyerahan resmi aplikasi Virtual Literary Therapy Lab kepada SMAN 1 Besuki sebagai produk yang dapat terus dimanfaatkan untuk memperkuat layanan psikososial bagi siswa.

Kegiatan ini merupakan bagian dari hibah PKM Edu LPPM UPN “Veteran” Jawa Timur bertajuk “Penguatan Layanan Pemulihan Psikososial melalui Aplikasi Virtual Literary Therapy Lab Berbasis Teks Sastra bagi Siswa SMAN 1 Situbondo.”

Dosen UPN Veteran Jatim Kembangkan Virtual Literary Therapy Lab, Perkuat Deteksi Perundungan dan Budaya Aman di Sekolah

Situbondo.Berdampak.Net — Tim dosen Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur mengembangkan Virtual Literary Therapy Lab, aplikasi berbasis Android yang memadukan teknologi, literasi sastra, edukasi antiperundungan, dan refleksi emosi bagi siswa. Aplikasi tersebut disosialisasikan sekaligus diserahterimakan kepada SMAN 1 Besuki, Kabupaten Situbondo, pada 6 Agustus 2026.

Kegiatan berlangsung di ruang kelas X B SMAN 1 Besuki mulai pukul 09.00 hingga 13.00 WIB. Program dipimpin Dr. Achmad Fawaid, S.S., M.A., M.A. bersama Hanum Lintang Siwi Suwingnyo, M.A., Ambaristi Hersita Milanguni, M.A., Lailatul Fitriyah, M.Si., Moh. Ainol Yaqin, M.Kom., serta mahasiswa Nurmalita Herdiana dan Cindy Eka Aulia. Pelaksanaan kegiatan didampingi Koordinator BK SMAN 1 Besuki Ika Febrianti, S.Pd. dan Kepala SMAN 1 Besuki Irpan Hilmi, S.Pd., M.P.

Virtual Literary Therapy Lab menghadirkan sejumlah fitur yang dekat dengan pengalaman remaja, mulai dari edukasi mengenai perundungan, game antiperundungan, cerita dan puisi reflektif, hingga jurnal emosi. Teknologi tersebut dirancang bukan sebagai alat diagnosis klinis, melainkan sebagai media edukasi dan refleksi yang dapat mendukung layanan psikososial serta program budaya sekolah aman.

Ketua tim pelaksana, Dr. Achmad Fawaid, mengatakan pengembangan aplikasi tersebut menunjukkan bahwa bahasa dan sastra dapat dipertemukan dengan teknologi untuk menjawab persoalan konkret di lingkungan pendidikan.

“Kami ingin teks sastra tidak berhenti sebagai bahan bacaan di kelas. Cerita, puisi, dan aktivitas reflektif kami integrasikan dengan teknologi agar menjadi ruang yang lebih dekat dengan siswa untuk mengenali perasaan, memahami perundungan, dan mengetahui cara mencari bantuan ketika menghadapi situasi yang tidak aman,” ujar Fawaid.

Selain sosialisasi aplikasi, tim melaksanakan survei digital untuk memperoleh gambaran kondisi perundungan, kesehatan mental, dan budaya aman sekolah. Sebanyak 75 pertanyaan berbasis kejadian disusun dengan merujuk pada Global School-based Student Health Survey (GSHS) dari World Health Organization, indikator iklim sekolah dan paparan perundungan dalam Programme for International Student Assessment (PISA) OECD, serta Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 6 Tahun 2026.

Survei dirancang agar siswa dapat menyampaikan pengalaman secara lebih bebas tanpa harus menceritakan kasus secara langsung di hadapan guru atau teman. Data yang diperoleh diharapkan membantu sekolah memetakan bentuk perundungan, lokasi dan waktu rawan, dampak terhadap siswa, pola pelaporan, serta tingkat kepercayaan siswa terhadap mekanisme bantuan sekolah.

Kepala SMAN 1 Besuki, Irpan Hilmi, S.Pd., M.P., menyambut pemanfaatan teknologi tersebut karena dapat menyediakan informasi yang lebih terukur untuk penguatan kebijakan sekolah.

“Bagi sekolah, aplikasi dan survei ini penting bukan hanya untuk mengetahui apakah perundungan terjadi, tetapi untuk memahami bentuk dan kondisinya. Data tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi sekolah, guru BK, dan seluruh warga sekolah dalam menentukan program pencegahan serta layanan yang lebih tepat sasaran,” katanya.

Respons positif juga datang dari siswa. Muhammad Ilzam Firdausi, siswa kelas X B, menilai penyampaian materi melalui aplikasi membuat isu perundungan lebih mudah dipahami.

“Aplikasinya menarik karena kami tidak hanya membaca materi. Ada game, cerita, puisi, dan jurnal emosi. Surveinya juga membuat kami bisa menjawab berdasarkan pengalaman tanpa harus bercerita langsung di depan kelas,” ungkap Ilzam.

Kegiatan ditutup dengan serah terima Virtual Literary Therapy Lab kepada Kepala SMAN 1 Besuki untuk mendukung pemanfaatan dan pengembangan layanan sekolah selanjutnya.

Program ini merupakan pelaksanaan hibah Pengabdian kepada Masyarakat PKM Edu yang didanai LPPM UPN “Veteran” Jawa Timur melalui kegiatan berjudul “Penguatan Layanan Pemulihan Psikososial melalui Aplikasi Virtual Literary Therapy Lab Berbasis Teks Sastra bagi Siswa SMAN 1 Situbondo.”