IPM Menjadi Bahasan Bupati Probolinggo saat Sertijab, Fraksi PDI Perjuangan Usulkan Pendidikan Kesetaraan Bagi Penerima Bansos

Probolinggo, Berdampak.net – Usulan untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Probolinggo, khususnya dalam aspek rata-rata lama sekolah yang masih berada di angka 6,3 tahun, kembali mengemuka. Salah satu anggota DPRD Kabupaten Probolinggo dari Komisi IV, Arief Hidayat, yang dipanggil Dayat, menegaskan perlunya penyelenggaraan pendidikan kesetaraan bagi penerima Bantuan Sosial (Bansos) sebagai solusi untuk meningkatkan angka partisipasi pendidikan.

Meskipun gagasan ini telah lama ada, Dayat menyampaikan usulan ini secara resmi sesaat setelah serah terima jabatan (sertijab) Bupati dan Wakil Bupati terpilih. Yang mana pada saat penyampaian visi dan misi, persoalan IPM ini juga sempat menjadi pembahasan. Momentum ini dinilai tepat sebagai bagian dari agenda peningkatan kesejahteraan masyarakat yang dapat menjadi prioritas kepemimpinan baru.

“Kita tahu bahwa rendahnya rata-rata lama sekolah masih menjadi tantangan serius bagi Kabupaten Probolinggo. Banyak penerima bansos yang terpaksa putus sekolah karena keterbatasan ekonomi. Oleh karena itu, pendidikan kesetaraan menjadi langkah strategis agar mereka tetap memiliki kesempatan menempuh pendidikan,” ungkap Dayat.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, Kementerian Agama, serta lembaga pendidikan nonformal untuk merealisasikan program ini. “Jika program ini bisa terintegrasi dengan skema bantuan sosial, masyarakat tidak hanya mendapatkan dukungan ekonomi, tetapi juga kesempatan untuk meningkatkan taraf pendidikan mereka,” tambahnya.

Usulan ini diharapkan mendapat perhatian karena sejalan dengan visi kepemimpinan baru Kabupaten Probolinggo yang berkomitmen meningkatkan kualitas sumber daya manusia. DPRD berharap usulan ini dapat segera ditindaklanjuti, sehingga program pendidikan kesetaraan dapat berjalan efektif dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan IPM daerah. (fiq)

Temukan Kios Jual Pupuk Bersubsidi Diatas HET, Gus Chasbullah Minta Kembalikan Uang Masyarakat

Probolinggo, Berdampak.net – Anggota DPRD Kabupaten Probolinggo, Gus Chasbullah Khafabie melakukan inspeksi mendadak (Sidak) ke kios -kios Pupuk yang berada di Kecamatan Kotaanyar dan Pakuniran, Minggu (02/03/2025), siang. Dalam sidak tersebut beliau menemukan kios-kios nakal yang masih menjual pupuk bersubsidi di atas HArga Eceran Tertinggi, beliau meminta kios untuk mengembalikan uang kelebihan penjualan tersebut.

Sidak tersebut dilakukan guna menindak lanjuti laporan masyarakat, tentang maraknya pupuk bersubsidi yang dijual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).

Setelah dilakukan sidak ternyata benar ada tiga kios yang menjual pupuk bersubsidi jenis Urea dengan harga 280 hingga 300 ribu rupiah per kwintal. Saat ditanya, kenapa menjual diatas harga eceran tertinggi, pemilik kios beralasan dengan macam-macam.

Diketahui HET pupuk bersubsidi yakni, Pupuk Urea seharga Rp. 225 ribu, sedangkan Phonska Rp. 230 ribu per kwintal.

Beliau meminta kepada para kios untuk mengembalikan uang kelebihan penjualan pupuk bersubsidi kepada masyarakat yang telah membeli.

“Kembalikan kelebihan uang dari masyarakat yang sudah membeli pupuk bersubsidi itu, pokoknya wajib dikembalikan,” pintanya.

Gus Has yang juga tergabung dalam Tim Panja Pupuk itu menekankan, saat ini pihaknya masih akan memberikan peringatan dan teguran secara lisan, namun jika dikemudian hari masih ditemukan menjual pupuk bersubsidi diatas harga eceran tertinggi, maka pihaknya tidak akan segan-segan merekomendasikan untuk mencabut izin operasional dari kios pupuk tersebut.

“Jika nanti terulang lagi, maka kita akan merekom ijin operasional dicabut. Saya tegadkan lagi akan dicabut, kasihan petabi kalau terus-terusan pupuk dijual diatas harga eceran tertinggi,” tegasnya. (fiq)

PSB 2025 Secara Online Pesantren Nurul Jadid Resmi Dibuka

Probolinggo, Berdampak.net – Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo, Jawa Timur yang didirikan KH. Zaini Mun’im resmi membuka Pendaftaran Santri Baru (PSB) secara online. Ahad (02/03/25).

Pendaftaran secara online ini bertujuan untuk memudahkan para pendaftar yang akan mondok dan bersekolah di pesantren Nurul Jadid.

Sekretaris Pesantren H. Thohiruddin mengungkapkan bahwa ada dua mekanisme pendaftaran PSB di pesantren Nurul Jadid, yaitu; pendaftaran secara online dan offline. Thohir menjelaskan kedua mekanisme ini untuk memudahkan para pendaftar.

“Semua calon santri baru bisa mendaftar secara online sejak saat ini bulan Maret hingga Juli. Pada bulan juli nanti calon santri baru hanya melakukan verifikasi untuk menyelesaikan data yang kurang lengkap,” katanya.

Selanjutnya, Thohir menegaskan berkait jumlah pendaftar di pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

“Setiap tahun santri yang mendaftar di pesantren Nurul Jadid sebanyak dua ribu lima ratus. Oleh karena itu, pesantren memfasilitasi pendaftaran online agar para pendaftar tidak terlalu lama antri saat melakukan pendaftaran secara offline,” tegasnya..

Sementara Kasubbag Umum dan PSB Muslehuddin Jauhari menyampaikan, pendaftaran offline hanya fokus pada verifikasi data dan berkas kelengkapan santri baru. Hal itu dilakukan pada 5 sampai 9 Juli 2025.

“Pada pendaftaran offline itu, kita berfokus untuk verifikasi data dan kelengkapan berkas. Karena santri baru akan mendapatkan semua kebutuhan dan kelengkapan santri berupa atribut, kitab, seragam khas pesantren, seragam sekolah dan kelengkapan-kelengkapan yang lain,” katanya.

Musleh juga berharap agar para calon pendaftar untuk memaksimalkan pendaftaran secara online agar lebih mudah.

“Fasilitas pendaftaran secara online itu bisa dimaksimalkan dengan baik. Semua ada petunjuknya atau SOPnya yang tercantum pada link pendaftaran secara online,” imbuhnya. (pm)

Menanti Gebrakan Bupati dan Wakil Bupati Probolinggo

Oleh: Ponirin Mika
Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research Probolinggo

Probolinggo, Berdampak.net –Pelantikan bupati dan wakil bupati Probolinggo yang baru membawa harapan besar bagi masyarakat. Setelah bertahun-tahun berada dalam kondisi stagnasi dengan kepemimpinan yang kurang populis, kini warga menanti gebrakan baru yang mampu mengangkat kesejahteraan dan membawa perubahan nyata. Harapan ini bukan sekadar euforia sesaat, tetapi lahir dari keyakinan bahwa pemimpin yang berasal dari kalangan pesantren mampu membawa nilai-nilai kepemimpinan yang lebih adil, dekat dengan rakyat, dan berpihak pada kepentingan masyarakat luas.

Kehadiran dua kader terbaik dari pesantren terbesar di Probolinggo memang menjadi angin segar dalam politik lokal. Pesantren bukan hanya tempat pendidikan agama, tetapi juga pusat pembentukan karakter dan kepemimpinan yang berbasis moralitas tinggi. Diharapkan, latar belakang religius ini menjadi pondasi utama dalam setiap kebijakan yang diambil, baik dalam aspek sosial, ekonomi, maupun pemerintahan. Kedekatan mereka dengan ulama dan masyarakat juga diharapkan mampu menciptakan pemerintahan yang lebih inklusif dan partisipatif.

Masyarakat Probolinggo sangat lama berada dalam kondisi yang tidak menyenangkan akibat kepemimpinan yang kurang merakyat. Kini, hadirnya pemimpin baru dengan visi yang lebih terbuka dan pro-rakyat diharapkan dapat membawa perubahan nyata. Tidak hanya dalam pemberdayaan ekonomi, tetapi juga dalam menciptakan pemerintahan yang lebih dekat dengan masyarakat, mendengarkan aspirasi mereka, serta memberikan solusi konkret terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi.

Salah satu tantangan terbesar yang harus segera diatasi adalah pemberdayaan ekonomi masyarakat. Probolinggo memiliki potensi besar di sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata yang belum digarap maksimal. Gebrakan baru dalam bentuk kebijakan pro-rakyat harus segera direalisasikan, misalnya dengan memperkuat infrastruktur pertanian, memberikan akses permodalan bagi petani dan nelayan, serta mengembangkan ekowisata berbasis masyarakat. Dengan langkah konkret ini, diharapkan kesejahteraan masyarakat dapat meningkat secara signifikan.

Tidak adanya pembatasan antara masyarakat dan pemerintah tengah menjadi jembatan penting agar pembangunan di segala bidang dapat berjalan dengan baik. Kepemimpinan yang baru harus mampu membangun komunikasi yang lebih terbuka antara pemerintah dan rakyat. Pemerintahan yang mendengarkan langsung aspirasi warganya akan lebih mudah menemukan solusi yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan. Oleh karena itu, dibutuhkan mekanisme dialog yang aktif, baik melalui musyawarah desa, forum aspirasi, maupun media digital yang lebih modern.

Reformasi birokrasi juga menjadi agenda mendesak yang perlu diperhatikan. Pelayanan publik yang cepat, transparan, dan bebas dari praktik korupsi harus menjadi prioritas utama. Reformasi ini bukan hanya soal merampingkan struktur pemerintahan, tetapi juga memastikan bahwa setiap kebijakan benar-benar sampai kepada masyarakat tanpa hambatan birokrasi yang berbelit-belit. Digitalisasi layanan publik dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan efisiensi dan akuntabilitas pemerintahan.

Selain itu, kepemimpinan baru diharapkan mampu memperkuat peran pesantren dalam membangun karakter masyarakat yang lebih baik. Program-program pendidikan berbasis kemandirian ekonomi harus diperbanyak, sehingga lulusan pesantren tidak hanya memiliki pemahaman agama yang kuat, tetapi juga keterampilan untuk bersaing di dunia kerja. Sinergi antara pesantren, sekolah umum, dan dunia usaha perlu diperkuat agar tercipta ekosistem pendidikan yang lebih adaptif terhadap perubahan zaman.

Dengan segala tantangan dan harapan ini, bupati dan wakil bupati Probolinggo harus segera menunjukkan gebrakan nyata. Masyarakat tidak ingin sekadar janji, tetapi menantikan aksi yang konkret. Dengan kepemimpinan yang inklusif, program yang berpihak pada rakyat, serta komitmen untuk menjalankan pemerintahan yang bersih dan transparan, maka perubahan yang diimpikan bukanlah hal yang mustahil. Kini saatnya membuktikan bahwa pemimpin dari pesantren mampu membawa Probolinggo ke arah yang lebih baik. (pm)

Khalifah Abu Bakar: Keimanan dan Gerakan Politik Islam

Oleh: Ponirin Mika
Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research Probolinggo

Wafatnya Nabi Muhammad SAW merupakan sebuah musibah besar yang menimpa umat Islam, terutama pada saat Islam mulai menguasai Jazirah Arab. Islam yang telah tersebar luas menunjukkan bahwa agama ini sesuai dengan fitrah manusia dan memiliki sistem yang mampu mengatur kehidupan sosial, politik, dan ekonomi. Namun, wafatnya Nabi memunculkan perdebatan mendasar, terutama dalam hal kepemimpinan yang akan meneruskan perjuangan Islam.

Peristiwa politik tidak bisa dihindari dalam menentukan pemimpin pasca-wafatnya Nabi. Kaum Muhajirin dan Anshar sempat berdebat di Saqifah Bani Sa’idah mengenai siapa yang paling layak menggantikan Rasulullah. Namun, sejarah membuktikan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sosok yang paling tepat untuk meneruskan perjuangan Nabi. Kepribadiannya yang teguh dalam keimanan serta kedekatannya dengan Rasulullah menjadikannya figur utama dalam komunitas Muslim. Dengan kebijaksanaan dan ketegasan, ia akhirnya terpilih sebagai khalifah pertama dalam Islam.

Dalam diri Abu Bakar terdapat keimanan yang sangat kuat untuk menjaga risalah Nabi. Politik Islam yang menjadi ideologi gerakannya bukan semata-mata soal kekuasaan, tetapi bagian dari upaya mempertahankan ajaran Islam agar tetap murni dan diterapkan dalam kehidupan sosial. Salah satu bukti keimanannya adalah ketegasannya dalam menghadapi kaum yang menolak membayar zakat. Baginya, zakat bukan sekadar kewajiban individu, tetapi bagian dari sistem sosial Islam yang harus ditegakkan. Oleh karena itu, ia mengambil keputusan untuk memerangi kelompok yang membangkang, yang dikenal dalam sejarah sebagai Perang Riddah.

Gerakan politik Abu Bakar tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga strategis dalam memastikan keberlanjutan Islam sebagai sistem sosial. Salah satu kebijakan pentingnya adalah tetap mengirim pasukan di bawah komando Usamah bin Zaid, meskipun banyak yang menentang karena situasi politik belum stabil. Namun, Abu Bakar tetap teguh menjalankan perintah Nabi sebelum wafat, menunjukkan bahwa politik Islam yang ia jalankan didasarkan pada kepatuhan terhadap sunnah Rasulullah.

Selain itu, ia juga berhasil menyatukan kembali umat Islam yang sempat mengalami perpecahan akibat munculnya nabi-nabi palsu dan kelompok yang menolak otoritas pusat di Madinah. Dengan kebijaksanaan dan ketegasan, ia meredam gerakan-gerakan ini tanpa mengorbankan prinsip keadilan dalam Islam. Keberhasilannya dalam menstabilkan pemerintahan Islam menjadi fondasi kuat bagi kepemimpinan Umar bin Khattab dan para khalifah setelahnya.

Dalam aspek hukum dan administrasi, Abu Bakar tetap mengedepankan prinsip musyawarah (syura). Ia tidak bertindak secara otoriter, melainkan selalu berdiskusi dengan para sahabat senior seperti Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib dalam pengambilan keputusan. Hal ini menunjukkan bahwa politik Islam di masa awal tidak hanya mengandalkan otoritas individu, tetapi juga prinsip kolektif yang berlandaskan kebijaksanaan bersama.

Kepemimpinan Abu Bakar memberikan pelajaran bahwa Islam bukan hanya ajaran keimanan, tetapi juga sistem sosial-politik yang memiliki tatanan kepemimpinan yang kuat. Keimanan yang kokoh, ditambah dengan kebijakan politik yang bijaksana, menjadikannya pemimpin yang mampu menjaga stabilitas umat Islam di tengah berbagai tantangan. Gerakan politiknya yang berlandaskan Islam menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya dalam memahami bahwa kepemimpinan bukan hanya soal kekuasaan, tetapi juga tanggung jawab besar dalam menjaga amanah Allah dan Rasul-Nya.

Dengan demikian, warisan politik Islam yang dibangun oleh Abu Bakar bukan sekadar soal pemerintahan, tetapi juga tentang bagaimana Islam dapat terus berkembang dan beradaptasi dengan tantangan zaman tanpa kehilangan esensinya. Keimanan dan kebijakan politiknya membuktikan bahwa Islam bukan hanya sistem spiritual, tetapi juga solusi bagi tata kelola kehidupan yang adil dan berlandaskan nilai-nilai ketuhanan. (pm)

Gus Chasbullah Kafabie, Anggota DPRD Kabupaten Probolinggo; “Jadikan Momentum Ramadhan untuk Hidup Sehat”

Probolinggo, Berdampak.net – Ramadhan merupakan momentum yang tepat untuk memulai pola hidup sehat, serta ajang pembelajaran dalam manajemen diri. Hal itu disampaikan oleh Gus Chasbullah Kafabie, Anggota DPR-D Kabupaten Probolinggo dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Beliau menyebut, di Bulan Ramadhan umat Muslim menjalankan ibadah puasa sebulan penuh, hal ini menurutnya harus dijadikan momentum untuk membersihkan diri dari hal-hal yang kurang baik.

Menurutnya, Ramadhan adalah bulan penuh berkah dan merupakan bulan Al-Qur’an. Oleh karena itu, langkah pertama yang harus kita lakukan adalah bertaubat dari segala dosa, membersihkan hati dari kebencian, dan menyiapkan diri secara spiritual.

“Menyambut tamu agung (Ramdhan, red) ini tentu harus dilakukan dengan penuh suka cita dan persiapan yang terbaik dengan bekal iman, ilmu, harta, dan kesehatan agar dapat memaksimalkan ibadah selama Ramadhan,” ujarnya, Sabtu (01/03/2025) petang.

Persiapan ini bahkan harus melebihi segala persiapan agenda atau acara yang pernah kita lakukan, karena Ramadan adalah tamu spesial, anugerah luar biasa yang menjadi kesempatan emas untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah.

“Bertemu dengan Ramadan adalah moment yang dinantikan, sebuah nikmat yang patut disyukuri. Mungkin, kita telah bertemu Ramadhan puluhan kali, setidaknya pengalaman sebelumnya itu menjadi motivasi untuk Ramadhan kali ini dengan tekad lebih baik,” lanjutnya.

Puasa terbukti memberikan dampak positif bagi metabolisme tubuh. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa puasa dapat meningkatkan sensitivitas insulin, membantu detoksifikasi tubuh, serta mengurangi risiko penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi.

“Dalam sisi Kesehatan, saat berpuasa, tubuh beradaptasi dengan membakar lemak sebagai sumber energi utama, yang dapat membantu dalam pengelolaan berat badan dan peningkatan fungsi otak,” katanya.

Namun, untuk meraih manfaat maksimal dari puasa, beliau berpesan, untuk menjaga pola makan yang sehat, menghindari konsumsi makanan berlebihan saat berbuka, “Mengonsumsi makanan bergizi, serta menjaga hidrasi sangat penting agar tubuh tetap fit selama sebulan penuh. Selain itu, menjaga aktivitas fisik ringan juga membantu tubuh tetap bugar, hindari juga makanan yang mengakibatkan tidak baik, yang mengandung lemak berlebih, karena di Masyarakat kita ini kalau buka puasa itu ingin makan semuanya seperti kolak, gorengan dan lain-lainnya, jadi harus dikontrol agar tubuh bisa tetap fit,” lanjutnya.

Di samping manfaat kesehatan, bulan puasa juga merupakan ajang pembelajaran dalam manajemen diri. Dengan menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga matahari terbenam, seseorang melatih kesabaran dan pengendalian diri. Hal ini berimplikasi pada kehidupan sehari-hari, di mana individu menjadi lebih disiplin, bertanggung jawab, serta memiliki kontrol emosi yang lebih baik.

“Tak hanya itu, bulan Ramadhan juga mengajarkan pentingnya manajemen waktu. Aktivitas sehari-hari diatur agar tetap produktif meskipun dalam kondisi berpuasa. Pembagian waktu antara ibadah, pekerjaan, dan istirahat menjadi lebih terstruktur. Rutinitas seperti sahur dan berbuka puasa secara tidak langsung menciptakan ritme hidup yang lebih tertata. Semoga kita semua bisa melaksanakan ibadah di bulan Ramdhan ini dengan khusyuk dan hikmat,” tutupnya. (fiq)