Ketua Jong Madura Ponirin Mika Soroti Perang AS–Israel vs Iran sebagai Pertarungan Geopolitik dan Kepentingan Dunia

Probolinggo, Berdampak.net – Ketua Jong Madura Ponirin Mika menilai konflik yang memanas antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran bukan sekadar konflik ideologi atau agama, melainkan pertarungan geopolitik dan kepentingan bisnis global yang melibatkan kekuatan besar dunia.

Menurut Ponirin, dinamika konflik di Timur Tengah selama ini sering kali dipengaruhi oleh perebutan pengaruh politik, kontrol sumber daya energi, serta dominasi ekonomi global. Kawasan Timur Tengah dikenal sebagai salah satu wilayah dengan cadangan minyak dan gas terbesar di dunia, sehingga setiap ketegangan di kawasan tersebut hampir selalu berkaitan dengan kepentingan strategis negara-negara besar.

Ia menilai Iran selama ini kerap menjadi sasaran tekanan politik, ekonomi, hingga militer karena sikapnya yang tidak sepenuhnya tunduk terhadap hegemoni Amerika Serikat di kawasan tersebut. Sikap independen Iran dalam berbagai kebijakan regional dan internasional sering dianggap sebagai tantangan bagi kepentingan geopolitik Amerika dan sekutunya.

“Perang ini bukan hanya soal agama, tetapi juga tentang dominasi ekonomi, energi, dan pengaruh global. Iran dianggap menjadi hambatan bagi kepentingan geopolitik Amerika dan sekutunya,” ujar Ponirin.

Sejumlah laporan internasional juga menyoroti dampak kemanusiaan dari konflik tersebut. Serangan udara yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel di Iran pada awal tahun 2026 dilaporkan menyebabkan kerusakan besar pada berbagai fasilitas sipil dan memicu jatuhnya korban di kalangan masyarakat.
Dalam salah satu insiden yang disorot organisasi hak asasi manusia internasional, sebuah serangan dilaporkan mengenai fasilitas pendidikan sehingga menimbulkan korban jiwa di kalangan warga sipil, termasuk anak-anak. Lembaga pemantau HAM internasional menilai peristiwa tersebut perlu diselidiki secara independen karena berpotensi melanggar hukum humaniter internasional.

Di sisi lain, berbagai organisasi HAM global seperti Amnesty International dan Human Rights Watch juga telah lama menyoroti berbagai dugaan pelanggaran hukum humaniter internasional dalam konflik Timur Tengah, termasuk tuduhan tindakan yang dapat dikategorikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan dalam konflik di Gaza dan sejumlah wilayah konflik lainnya.
Konflik terbaru antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran juga dikhawatirkan dapat memperluas instabilitas kawasan dan memperparah krisis kemanusiaan yang telah berlangsung lama di Timur Tengah.

Berbagai laporan menyebutkan ribuan korban jiwa dan jutaan warga terpaksa mengungsi akibat eskalasi konflik yang terus terjadi.
Ponirin menegaskan bahwa tragedi kemanusiaan yang terus berulang di kawasan tersebut seharusnya menjadi perhatian serius masyarakat internasional. Ia menilai perang yang mengorbankan masyarakat sipil tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun.

“Tidak ada perang yang benar jika yang menjadi korban adalah rakyat sipil. Dunia harus bersuara agar konflik ini tidak terus melahirkan tragedi kemanusiaan,” tegasnya. (pm)

Layanan Commuter Line Supas Rute Probolinggo–Surabaya dengan Tarif Rp8.000 Menjadi Pilihan Utama Masyarakat

PROBOLINGGO – KAI Commuter resmi mengoperasikan layanan Commuter Line Supas (Surabaya Kota–Pasuruan) dengan perpanjangan rute hingga Stasiun Probolinggo. Layanan ini menggunakan tarif flat sebesar Rp8.000 untuk sekali perjalanan.

Kereta ini melayani penumpang dengan rute melintasi Stasiun Probolinggo, Pasuruan, Bangil, Sidoarjo, hingga Surabaya Kota. Kehadiran rute ini bertujuan untuk meningkatkan konektivitas transportasi publik antarwilayah di Jawa Timur.

Pemesanan tiket dilakukan secara daring melalui aplikasi Access by KAI mulai H-7 sebelum keberangkatan. Penumpang juga dapat membeli tiket di loket stasiun mulai 3 jam sebelum jadwal keberangkatan selama persediaan masih ada.

Fasilitas yang tersedia dalam rangkaian kereta mencakup gerbong dengan pendingin ruangan (AC) dan penataan kursi ekonomi. Jadwal keberangkatan telah diatur secara tetap untuk memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat pada pagi dan sore hari.

Tarif rendah Rp8.000 ini terlaksana melalui skema subsidi Public Service Obligation (PSO) dari pemerintah. Hal ini dimaksudkan agar layanan transportasi berbasis rel tetap terjangkau bagi masyarakat yang melakukan perjalanan rutin antar-kota.

Transformasi Ekonomi Pesisir, Gus Faiz Ungkap Unit Cold Storage dan Industri Kreatif Pesantren Nurul Jadid

PROBOLINGGO – Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton kembali melakukan terobosan besar dalam pemberdayaan umat. Mewakili Kepala Pesantren, KH. Faiz Abdul Haq Zaini yang akrab disapa Gus Faiz, meresmikan program Kampung Kerren 2025: Pemberdayaan Produk Masyarakat Pesisir, Jumat (6/3/2026). Langkah ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat sinergi ekonomi antara pesantren dan masyarakat pesisir Probolinggo.

Peresmian strategis ini dihadiri oleh Direktur Pesantren Kemenag RI Dr. H. Basnang Sa’id, Asisten Deputi Kemenko Pemberdayaan Masyarakat Dr. Amin Mudzakkir, serta Kakanwil Kemenag Jatim Dr. H. Suruji Bahtiar.

Dalam sambutannya, Gus Faiz menjelaskan bahwa program ini didukung oleh bantuan senilai Rp500 juta dari Kementerian Agama RI. Dana tersebut direalisasikan ke dalam dua unit usaha unggulan:

  1. Unit Cold Storage dan Pengolahan Fillet Ikan: Solusi teknologi bagi nelayan lokal untuk menjaga kesegaran hasil tangkapan, meningkatkan higienitas, dan memberikan nilai tambah ekonomi agar produk perikanan lebih berdaya saing.
  2. Unit Bordir Nurul Jadid Garment: Pusat pengembangan industri kreatif tekstil yang bertujuan mengasah keterampilan santri serta membuka lapangan pekerjaan baru bagi warga sekitar.

“Dua unit usaha ini adalah langkah nyata menuju kemandirian pesantren yang berbasis pada potensi lokal,” tegas Gus Faiz.

Direktur Pesantren Kemenag RI, Dr. H. Basnang Sa’id, memberikan pengakuan khusus dengan menyebut Nurul Jadid sebagai satu dari lima pesantren terbaik di Indonesia. Ia menekankan bahwa Nurul Jadid adalah pesantren pertama yang berhasil merealisasikan bantuan program “Pesantren Keren” dengan dampak kemanfaatan yang nyata bagi ribuan santri.

Senada dengan itu, Kepala Kemenag Probolinggo H. Samsur memberikan apresiasi tinggi atas kepemimpinan Gus Faiz. Ia berharap keberhasilan ini menjadi role model bagi pesantren-pesantren lain di Jawa Timur.

Selain Kampung Kerren, Pesantren Nurul Jadid kini mengelola beragam unit usaha di bawah Koppontren Mandiri, mulai dari sektor ritel (Enjemart), logistik, digital printing, hingga pusat distribusi Torasera Nurja Berkah yang baru saja diresmikan oleh Menteri Koperasi RI.

Dengan peluncuran program ini, Pondok Pesantren Nurul Jadid semakin mengukuhkan perannya tidak hanya sebagai pusat pendidikan Islam, tetapi juga sebagai motor penggerak ekonomi kerakyatan yang mandiri dan berdaya saing global.

Sinergi Organisasi Sosial dan Dunia Usaha, 2.500 Paket Sembako Disalurkan untuk TNI–Polri di Jawa Timur

Surabaya – Dewan Pimpinan Provinsi (DPP) Asosiasi Pengusaha Indonesia Jawa Timur bersama sejumlah organisasi dan penyalur bantuan sosial Ramadhan berupa 2.500 paket sembako kepada institusi TNI dan Polri di Jawa Timur, Selasa (24/2/2026).

Kegiatan bakti sosial ini merupakan hasil kolaborasi antara DPP APINDO Jawa Timur, Yayasan Bhakti Persatuan, PERPIT, dan Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya (PMTS) sebagai wujud sinergi dunia usaha dan organisasi sosial dalam mendukung aparat negara.

Penyaluran bantuan dimulai pukul 09.00 WIB di Markas Polda Jawa Timur dengan penyerahan 1.500 paket sembako yang diterima langsung oleh Kapolda Jatim, Irjen Pol. Dr. Nanang Avianto, M.Si. Selanjutnya, pada pukul 11.00 WIB, kegiatan dilanjutkan di Markas Kodam V/Brawijaya dengan penyerahan 1.000 paket sembako kepada Pangdam V/Brawijaya, Mayjen TNI Rudy Saladin.

Acara ini dihadiri sejumlah tokoh dan pengurus organisasi, antara lain Alim Markus (Ketua Dewan Pertimbangan APINDO sekaligus Ketua Dewan Pembina Yayasan Bhakti Persatuan), Eddy Widjanarko (Ketua APINDO Jawa Timur), Hermawan Santoso (Ketua Umum Yayasan Bhakti Persatuan), Hidayat Alim (Ketua Umum PERPIT Jatim), serta H. Nurawi (Ketua Umum PMTS). Turut hadir pula para pengurus organisasi dan donatur yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

Bakti sosial Ramadan ini bertujuan mempererat hubungan kelembagaan antara dunia usaha, organisasi masyarakat, serta institusi TNI–Polri di Jawa Timur. Kegiatan berlangsung lancar dan khidmat, dengan harapan kolaborasi serupa dapat terus berlanjut guna memperkuat kepedulian sosial dan keharmonisan antarlembaga.

Khusyu’ itu Saat Raga Mematung dan Hati Menghadap Ilahi; Berikut Penjelasan Kiai Zuhri Zaini

Probolinggo, Berdampak.net – Sholat bukan sekadar gerakan fisik yang menggugurkan kewajiban. Di balik ruku’ dan sujud, terdapat ruh bernama khusyuk yang menjadi penentu kesempurnaan ibadah. Dalam pengajian terbaru pada Ahad (22/02/26), Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, membedah urgensi ketenangan hati dalam shalat.

Kiai Zuhri menegaskan bahwa khusyuknya anggota badan merupakan buah dari ketenangan hati. Tanpa hati yang hadir, mustahil raga bisa tenang. Beliau mengutip standar khusyuk dari para ulama: Jika seseorang masih menyadari siapa yang berada di samping kanan atau kirinya saat sholat, maka ia belum mencapai hakikat khusyuk. Orang yang benar-benar khusyuk tidak akan menyadari lingkungan sekitarnya karena seluruh kesadarannya terserap dalam dialog dengan Allah SWT.

“Meskipun kita belum mencapai tingkatan tersebut, setidaknya kita harus memiliki kesadaran penuh bahwa kita sedang menghadap Sang Pencipta,” pesan Kiai Zuhri.

Dalam penjelasannya, Kiai Zuhri membagikan beberapa fragmen kisah yang menggambarkan betapa dahsyatnya pengaruh khusyuk bagi seorang hamba. Kiai Zuhri menceritakan ada orang sholeh yang begitu diam dan tenang saat sholat, hingga burung-burung hinggap di atas kepalanya karena mengira ia adalah benda mati. Beliau melanjutkan, dikisahkan pula seorang hamba yang tetap bersujud meski masjid tempatnya sholat roboh. Padahal, hiruk-pikuk keruntuhan itu terdengar hingga ke pasar di dekat masjid, namun ia tetap tak bergeming. Selain itu, Kiai Zuhri bercerita tentang Ujian Juraij dan Panggilan Ibu: Beliau menceritakan kisah ahli ibadah terdahulu yang dilema antara sholat dan panggilan ibunya. Karena tidak menjawab panggilan sang ibu, ia terkena doa buruk hingga difitnah menghamili wanita. Kisah ini menjadi pengingat tentang pentingnya fiqih dalam menyeimbangkan ibadah dan bakti.
Kiai Zuhri memberikan perbandingan yang menyentuh tentang kualitas spiritual. Beliau menjelaskan fenomena “Jadzab”, di mana seseorang kehilangan kesadaran akan dunia (seperti seorang kiai yang mengajar tanpa ingat waktu) karena hatinya terpaku hanya pada Allah.

Namun, tingkat tertinggi adalah Nabi Muhammad SAW. Berbeda dengan kita yang mudah terdistraksi, Rasulullah tetap mampu berinteraksi dengan manusia tanpa sedikit pun memutus sambungan hatinya dengan Allah.

Kiai Zuhri mengutip jawaban ulama salaf saat ditanya apakah mereka memikirkan hal lain saat sholat:

“Apakah ada sesuatu yang lebih saya sukai selain sholat? Pada waktu saya menghadap Allah, saya melupakan segalanya.”
Bagi mereka, sholat bukan beban, melainkan tempat “pelarian” yang paling indah dari hiruk-pikuk dunia. (pm)

Kiai Zuhri Zaini Tekankan Pentingnya Menghadirkan Hati

Probolinggo, Berdampak.net – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, Kiai Zuhri Zaini, memberikan pesan mendalam mengenai hakikat ibadah shalat. Beliau menegaskan bahwa shalat bukan sekadar penggugur kewajiban formal, melainkan sarana mi’raj (naiknya ruh) seorang mukmin untuk menghadap Allah SWT.

Kiai Zuhri menjelaskan perbedaan mendasar antara peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW dengan shalat yang dilakukan umatnya. Jika Rasulullah diperjalankan secara fisik dan batin menuju Sidratul Muntaha, maka bagi umatnya, mi’raj dilakukan melalui batin. Uraian ini disampaikan saat mengisi pengajian kitab Nashoihud Diniyah (22/02/26).

“Kita bisa melakukan mi’raj kepada Allah, tapi dengan batin, bukan dengan badan atau fisik,” tutur beliau.

Meski perintah shalat bermula dari 50 waktu hingga menjadi 5 waktu, Kiai Zuhri mengingatkan bahwa nilai pahalanya tetap setara dengan 50 waktu, asalkan dikerjakan dengan kualitas yang benar.

Dalam ceramahnya, beliau mengutip bahwa posisi paling dekat antara seorang hamba dengan Sang Pencipta adalah saat sujud. Namun, ia memberikan catatan kritis: sujud tersebut harus disertai kekhusyukan dan ketundukan total.

“Bukan hanya sujud dengan menempelkan dahi ke bumi. Shalat yang dikerjakan tanpa menghadirkan hati atau asal-asalan tidak akan membawa kebaikan, justru bisa mendatangkan keburukan karena hilangnya adab kepada Allah,” tegas Kiai Zuhri.

Beliau mencontohkan, saat lisan mengucap Allahu Akbar, hati pun harus ikut merasakan kesucian dan keagungan Allah. Shalat yang kering dari rasa ghoflah (kelalaian) inilah yang mampu membawa perubahan positif dalam kehidupan seseorang.

Menanggapi keluhan banyak orang tentang sulitnya fokus, Kiai Zuhri berpesan agar tidak menunggu datangnya rasa khusyuk untuk mulai memperbaiki shalat. Kekhusyukan adalah sebuah proses yang harus dilatih secara konsisten.

“Hati ini sulit dikendalikan kecuali sudah terbiasa. Maka berusahalah dengan sungguh-sungguh, renungkan apa yang dibaca, dan jangan terburu-buru,” pesannya.
Beliau juga menekankan bahwa kualitas ibadah jauh lebih utama daripada sekadar mengejar angka. Hal ini berlaku tidak hanya dalam shalat, tetapi juga dalam membaca Al-Qur’an.

“Shalat itu tidak harus (mengejar) banyak, tapi laksanakan dengan baik. Begitu juga membaca Al-Qur’an, jangan terburu-buru. Meski hanya khatam satu bulan sekali, itu jauh lebih baik jika disertai dengan pemahaman isinya,” pungkas beliau. (pm)