Ekspor Benur Lobster Satu Pintu Melalui BUMN Budidaya, Pengamat: Solusi Alternatif dan Butuh Tata Kelola yang Baik

Jakarta, Berdampak.net – Wacana penerapan kebijakan ekspor benur lobster satu pintu melalui melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang budidaya mendapat beragam respon dari berbagai kalangan terkait.

Salah satunya datang dari kalangan pengamat yang juga sekaligus praktisi sektor kelautan dan perikanan Darwis Ismail.

“Saya kira ini salah satu wacana dan strategi yang sangat rasional serta memungkinkan diterapkan secara regulasi, terutama untuk menekan angka penyelundupan Benih Bening Lobster (BBL),” ujarnya saat dihubungi, Selasa (26/5) malam di Jakarta.

Menurut Darwis yang juga Ketua Ikatan Sarjana Kelautan (ISLA) Universitas Hasanuddin secara konsep strategi ini memiliki potensi besar, namun lebel keberhasilannya sangat bergantung pada tata kelola di lapangan.

Oleh karena itu, lanjutnya, dibutuhkan analisis yang komprehensif beberapa faktor mengenai bagaimana sistem ini bisa diterapkan, keuntungan, serta tantangan yang harus dihadapi.

Yang pertama, Darwis menyoroti soal mekanisme penerapan saat sistem ini bekerja. Jika skema ekspor satu pintu melalui BUMN seperti PT Perikanan Indonesia/Perindo atau BUMN perikanan lainnya diterapkan, alurnya akan berubah menjadi kontrol terpusat.

Dalam kaitan hal tersebut, maka sejumlah mesti diperhatikan. Pertama, kemitraan dengan nelayan. Dimana nelayan penangkap BBL wajib menjual hasil tangkapannya kepada BUMN atau koperasi yang ditunjuk dengan harga yang adil dan transparan.

Kedua, karantina dan standardisasi. Semua BBL dikumpulkan di-hub- logistik resmi milik BUMN untuk memastikan kualitas, kesehatan benih, dan pencatatan kuota yang ketat.
Ketiga, kuota ekspor vs budidaya dalam negeri. BUMN bertindak sebagai “gatekeeper”. Sesuai semangat hilirisasi, sebagian BBL wajib dialokasikan untuk pembudidaya lokal di dalam negeri terlebih dahulu, sementara sisanya baru diekspor secara legal untuk mendanai ekosistem tersebut.

Keempat, ekspor “business-to-business”(B2B). Dimana BUMN menjadi satu-satunya entitas yang memegang izin ekspor resmi ke negara tujuan (seperti Vietnam), sehingga tidak ada celah bagi eksportir swasta nakal untuk memanipulasi dokumen.

Faktor berikutnya, menurut Darwis, soal keuntungan sistem satu pintu BUMN. Dalam hal ini, yang mesti diperhatikan terkait transparansi logistik dan pendapatan.

“Dengan satu pintu, tracing (penelusuran) asal-usul barang menjadi sangat mudah. Pemerintah bisa memastikan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) masuk 100% ke kas negara,” ujarnya.

Selain itu, memotong rantai tengkulak/penyelundup. Selama ini penyelundupan marak karena adanya disparitas harga yang tinggi antara yang diterima nelayan lokal dengan harga di luar negeri. Jika BUMN mampu membeli BBL dari nelayan dengan harga yang layak dan stabil, insentif nelayan untuk menjual ke jaringan ilegal akan drastis berkurang.

Dan juga, tambahnya, mesti dilakukan kontrol kuota budidaya lokal. Dimana pemerintah bisa menjamin bahwa ekspor tidak akan menguras stok untuk kebutuhan budidaya lobster dalam negeri.

Faktor kedua, tantangan nyata di lapangan. Meskipun secara teori sangat ideal, penerapan ekspor satu pintu melalui BUMN memiliki tantangan besar yang harus diantisipasi.

Misalnya soal kecepatan logistik dan birokrasi BUMN. Selam aini BBL adalah komoditas hidup dengan tingkat mortalitas (kematian) yang sangat tinggi.

Sistem birokrasi BUMN yang sering kali dianggap kaku dan lambat bisa menjadi bumerang. Jika proses administrasi di satu pintu tersebut memakan waktu lama, benih lobster bisa mati masal, yang akhirnya merugikan nelayan dan negara.

Selain itu, kapasitas finansial untuk menyeraph hasil tangkapan. BUMN harus memiliki modal kerja yang besar dan likuid untuk langsung membayar tunai hasil tangkapan nelayan. Jika pembayaran dari BUMN tertunda (menggunakan sistem tempo), nelayan akan kembali berpaling ke jaringan penyelundup yang selalu siap membayar tunai di tempat.

Tantangan selanjutnya, potensi monopoli negatif dan korupsi internal. Satu pintu berarti pemusatan kekuasaan ekonomi. Jika tidak diawasi dengan ketat oleh instansi seperti KPK, KPPU, dan KKP, hak eksklusif yang dimiliki BUMN tersebut justru bisa memicu praktik korupsi baru atau penetapan harga beli yang merugikan nelayan karena tidak adanya kompetisi sehat.

“Walaupun demikian BUMN ini bisa membentuk cabang disetiap propinsi untuk menyalurkan benur benur yang dikumpulkan pengusaha dan pembudidaya lokal,” jelasnya.
.
Kemudian hal tak kalah penting adalah jaringan penyelundup yang sudah mengakar. Jalur tikus penyelundupan BBL di Indonesia sangat luas (melalui jalur laut ke Singapura atau Malaysia sebelum ke Vietnam).

Mengubah sistem hilir menjadi satu pintu tidak akan efektif jika pengawasan fisik di “jalur-jalur tikus” pantai selatan Jawa, Lombok, atau Sumatera tidak diperketat.

Dengan mencermati berbagai analisis dan tantangan tersebut, Darwis Ismail yang juga Waketum Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (Iskindo) berpandangan, ekspor satu pintu melalui BUMN budidaya sangat bisa dilakukan dan efektif untuk menghentikan kebocoran devisa akibat penyelundupan. Namun, kebijakan ini tidak boleh berdiri sendiri.

Agar supaya berhasil, sarannya, BUMN yang ditunjuk harus bertransformasi menjadi entitas yang fleksibel, memiliki manajemen logistik “cold chain” yang cepat, punya cabang cabang disemua propinsi dan didukung penuh oleh penegakan hukum (patroli laut) yang tanpa kompromi.

Selain itu, lanjutnya, fokus utama jangka panjang harus tetap pada budidaya di dalam negeri, dimana ekspor satu pintu ini hanya dijadikan instrumen transisi untuk mengontrol pasar sebelum industri pembesaran lobster domestik benar-benar matang.

Dan BUMN budidaya menurutnya akan menjadi jalan tengah untuk mencegah penyelundupan benur lobster yang terjadi selama ini. (fj)

Muskot PMI Probolinggo Pilih Mega Guntara Aklamasi

Probolinggo, Berdampak.net – Musyawarah Kota (Muskot) PMI Kota Probolinggo di Hotel Nadia, Sabtu (23/5/2026), berlangsung relatif cair. Dalam forum tersebut, Mega Guntara kembali terpilih sebagai Ketua PMI Kota Probolinggo periode 2026–2031 secara aklamasi.

Usai terpilih, Mega menyampaikan sejumlah program utama, termasuk penguatan relawan melalui pembentukan pos pertolongan pertama di perusahaan-perusahaan, serta kerja sama dengan rumah sakit untuk program pendampingan pasien melalui jaringan relawan PMI.

PMI Kota Probolinggo pada periode sebelumnya juga mencatat sejumlah capaian, seperti penghargaan pelayanan publik, kesiapan audit transparansi keuangan, serta bantuan alat kesehatan dari PMI Pusat dan Kementerian Kesehatan RI.

Arum Central Garden Hadirkan Rumah Bersubsidi Layaknya Perumahan Mewah di Kota Probolinggo

Probolinggo, Berdampak.net – Akad massal BSN di Perumahan Arum Central Garden, Kota Probolinggo, digelar pada hari Sabtu, 23 Mei 2026. Dihadiri langsung oleh Founder Arum Central Garden, Mohammad Iqbal Maulana, Notaris Djoko Poernomo, pejabat teras BSN Probolinggo, dan para pemilik hunian di Perumahan Arum Central Garden. Acara seremoni akad massal ini berlangsung sangat meriah dengan adanya undian doorprize dan hiburan musik.

“Syukur Alhamdulillah kurang dari satu tahun seluruh hunian bersubsidi telah habis terjual. Terimakasih atas kepercayaan dari masyarakat terhadap Perumahan Arum Central Garden. Terimakasih kepada BSN, sebagai mitra perbankan yang telah memberi kemudahan dalam akses permodalan. Terimakasih juga kami sampaikan kepada Pemerintah Kota Probolinggo yang berandil besar dalam memberikan dukungan dan kemudahan dalam proses-proses perijinan,” ujar Mas Iqbal, panggilan akrab pengusaha muda sekaligus founder Arum Central Garden ini.

Perumahan Arum Central Garden memiliki beberapa keunggulan, yakni lokasi yang strategis, lingkungan aman dan nyaman, akses masuk yang mudah, bangunan rumah dengan gaya arsitektur klasik Mediterania, serta dilengkapi taman bermain yang estetik. Dengan beragam keunggulan tersebut menjadikan Arum Central Garden sebagai perumahan bersubsidi modern dengan citarasa layaknya hunian mewah dan premium di tengah Kota Probolinggo.

Raker PAC JQH NU Tiris Barat, Gelar Raker untuk Meneguhkan Program Nyata Pendidikan Al-Qur’an

Probolinggo, Berdampak.net — Suasana hangat dan penuh semangat mewarnai pelaksanaan Rapat Kerja (RAKER) PAC JQH NU Tiris Barat yang digelar pada Ahad (17/5/2026) di MI Miftahul Huda desa Pedagangan, Tiris, Probolinggo.

Forum tersebut dihadiri seluruh pengurus, pengurus ranting JQH NU, pimpinan TPQ se-PAC JQH NU Tiris Barat, serta tamu undangan dari , yakni selaku Ketua Tanfidziyah.

Raker ini menjadi forum strategis untuk merumuskan arah program organisasi sekaligus memperkuat koordinasi antarpengurus dan lembaga pendidikan Al-Qur’an di wilayah Tiris Barat.

Ketua Dewan Organisasi PAC JQH NU Tiris Barat, Ahmad Taufiq Zein, dalam sambutannya menegaskan bahwa rapat kerja tidak boleh dipahami sekadar agenda rutin organisasi, melainkan ruang penyusunan arah gerak yang jelas dan terukur.

“Raker ini menjadi arah program yang akan dikerjakan oleh PAC JQH NU Tiris Barat ke depan,” ujarnya.

Menurutnya, organisasi berbasis pengabdian Al-Qur’an membutuhkan perencanaan yang matang agar program yang disusun tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi benar-benar dapat dijalankan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Senada dengan itu, Ketua Tanfidziyah MWC NU Tiris Barat, Budiono, mengingatkan agar hasil Raker diarahkan pada program-program nyata yang dapat diwujudkan. Ia menilai organisasi akan memiliki dampak apabila agenda yang disusun tidak hanya bersifat administratif atau seremonial, tetapi menyentuh kebutuhan riil masyarakat, khususnya dalam penguatan pendidikan Al-Qur’an.

“RAKER hendaknya mencakup program-program yang nyata,” katanya.

Pesan lain yang menguatkan arah spiritual organisasi disampaikan Rois Majlis Ilmi PAC JQH NU Tiris Barat, Moh. Toha. Ia menekankan pentingnya menjaga niat sebagai pengajar, pendidik, sekaligus pejuang Al-Qur’an agar tetap dilandasi keikhlasan.

Menurutnya, tantangan pendidikan Al-Qur’an pada masa kini tidak ringan. Karena itu, ketulusan dan orientasi pengabdian perlu terus dirawat agar perjuangan mendidik generasi Qur’ani tetap istiqamah.

Usai seremonial pembukaan, agenda dilanjutkan dengan sidang pleno RAKER yang dipimpin oleh Ahmad Babuddin.

Sidang berlangsung dinamis dengan antusiasme peserta yang cukup tinggi. Berbagai gagasan dan usulan program mengemuka dalam forum sebagai upaya memperkuat arah organisasi ke depan.

Dari dinamika sidang tersebut, tampak adanya semangat kolektif untuk menjadikan PAC JQH NU Tiris Barat tidak hanya aktif secara struktural, tetapi juga hadir secara nyata dalam penguatan pendidikan Al-Qur’an di tingkat masyarakat.

Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama, sebagai penanda berakhirnya rangkaian Raker sekaligus harapan agar setiap keputusan yang dihasilkan dapat dijalankan secara konsisten dan membawa manfaat luas bagi perjuangan Al-Qur’an di Tiris Barat. (red)

Peternak Bebek Probolinggo Menjerit, Puluhan Ribu Telur Rusak Tak Terjual

Probolinggo, Berdampak.net – Sektor peternakan bebek di Kabupaten Probolinggo, Jatim, kini berada di titik nadir. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, para peternak dan pengepul kini terjepit di antara lonjakan harga pakan dan anjloknya daya serap pasar yang membuat ribuan butir telur berakhir di tempat sampah.

Krisis ini mengancam aset ekonomi yang sangat besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, populasi itik di Kabupaten Probolinggo pada tahun 2023 mencapai 438.793 ekor. Angka populasi yang hampir menyentuh setengah juta ekor ini kini terancam tidak produktif akibat ketiadaan kepastian pasar.

Kondisi memprihatinkan ini merata di berbagai wilayah, mulai dari Kecamatan Gading hingga Pajarakan. Latif, peternak asal Desa Tanjung, Kecamatan Pajarakan, mengaku terkejut dengan kondisi saat ini.

“Saya sudah empat tahun berkecimpung di ternak bebek petelur, baru kali ini harga hancur seperti ini. Sementara pakan naiknya gila-gilaan. Saya setiap hari rugi 600 ribu rupiah. Semua teman-teman mengeluh. Kalau program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak mengambil telur bebek lokal, tidak tahu lagi ke depannya. Bisa-bisa gulung tikar semua,” keluh Latif dengan nada putus asa.

Kecemasan serupa disampaikan Kamiluddin dari Desa Wangkal, Kecamatan Gading. “Bebek setiap hari bertelur dan butuh pakan yang harganya terus melambung, tapi telurnya tidak laku,” tambahnya.

Kerugian Mencapai 40 Persen

Dampak mandeknya serapan pasar ini dirasakan langsung oleh Muhammad Romli, pengepul asal Desa Patokan, Kecamatan Bantaran. Setiap pekannya, ia menampung sekitar 50.000 butir telur dari 10 peternak lokal untuk diolah menjadi telur asin.

Namun, lesunya pasar membuat stok menumpuk hingga membusuk di gudang. “Dari 50.000 butir produksi kami, tingkat kerusakannya bisa mencapai 20.000 butir karena tidak laku,” ungkap Romli. Kerugian yang mencapai 40 persen ini menjadi potret nyata rapuhnya ketahanan ekonomi peternak saat ini.

Solusi di Balik 147 Satuan Gizi

Menghadapi ancaman kebangkrutan massal, para peternak menaruh harapan besar pada intervensi Pemerintah Kabupaten Probolinggo melalui program MBG. Harapan ini didasarkan pada potensi kebutuhan pangan yang sangat masif di wilayah tersebut.

Merujuk pada data resmi bgn.go.id, Kabupaten Probolinggo memiliki 147 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Dengan asumsi rata-rata setiap SPPG menyediakan 1.500 porsi, maka terdapat potensi 220.500 porsi yang diolah setiap hari.

Artinya, jika pemerintah daerah menginstruksikan penggunaan telur asin lokal dalam menu mingguan MBG, pasokan protein anak bangsa terpenuhi sekaligus menyelamatkan populasi 438.793 ekor itik serta hajat hidup ribuan peternak di Probolinggo.

“Kami sangat berharap pemerintah daerah membantu memasarkan. Minimal satu minggu sekali, telur asin bisa ada di menu MBG,” pungkas Romli. (fj)

Geliat Investasi Kabupaten Probolinggo, Pembangunan Hotel Azana Style Mulai di Kraksaan

Probolinggo, Berdampak.net – Pembangunan Hotel Azana Style Probolinggo resmi dimulai melalui prosesi groundbreaking/peletakan batu pertama di Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo pada Jumat (8/5/2026). Kehadiran hotel bintang empat ini diharapkan menjadi penggerak baru bagi investasi, pariwisata serta pembukaan lapangan kerja di Kabupaten Probolinggo.

Acara dihadiri langsung oleh Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris dan Wakil Bupati Fahmi AHZ, bersama jajaran Forkopimda, Direktur Bina Indo Grup Ekao Saputra Wijaya, Vice Director Operation Azana Hospitality Ardi Mali, Irjen Pol Agus Djaka Santoso, Ketua Tanfidziyah PCNU Kraksaan KH Hafidzul Hakim Noer, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid KH Moh. Zuhri Zaini serta sejumlah Kepala OPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo.

Bupati Haris menyampaikan bahwa pembangunan hotel bukan hanya proyek fisik, tetapi juga tanda kepercayaan investor terhadap perkembangan ekonomi Kraksaan dan Kabupaten Probolinggo. Ia berharap hotel dapat selesai dalam waktu sekitar satu tahun dan memicu tumbuhnya sektor lain seperti restoran serta investasi baru.

Sementara itu, Direktur Bina Indo Grup Ekao Saputra Wijaya menargetkan pembangunan selesai dalam 12 bulan, dengan rencana hotel tujuh lantai di lahan sekitar 5.500 m² dan total luas bangunan sekitar 9.878 m². Azana Hospitality juga menegaskan rekrutmen tenaga kerja akan dilakukan secara profesional dan terbuka.

Dengan dimulainya proyek ini, Pemkab Probolinggo berharap investasi baru terus berdatangan dan mempercepat pertumbuhan ekonomi, khususnya di wilayah Kraksaan. (rh)