FKUB Kabupaten Purworejo Pelajari Model Sinergi Pemerintah dan FKUB di Kota Probolinggo

Probolinggo, Berdampak.net – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Purworejo melaksanakan studi komparasi ke FKUB Kota Probolinggo yang difasilitasi oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Probolinggo, Kamis (16/7/2026), sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas kelembagaan sekaligus memperkuat sinergi antara FKUB dan pemerintah daerah dalam menjaga kerukunan umat beragama serta stabilitas sosial.
Kegiatan yang berlangsung di Kantor Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Probolinggo tersebut diikuti oleh 22 peserta yang dipimpin langsung oleh Ketua FKUB Kabupaten Purworejo, KH. Khabib, S.Pd., didampingi Sekretaris FKUB Kabupaten Purworejo, Rr. Nurul Komariyah, S.Sos., M.A.P.

Rombongan diterima oleh Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Probolinggo, M. Sonhaji, bersama Ketua FKUB Kota Probolinggo, Dr. H. Ahmad Hudri, S.T., M.A.P., didampingi Wakil Sekretaris FKUB Kota Probolinggo, Erfan Sudjianto, dan Wakil Bendahara FKUB Kota Probolinggo, Masyhuri Nurzah.

Acara dipandu langsung oleh Kepala Bakesbangpol Kota Probolinggo, M. Sonhaji, yang dalam sambutannya menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, Kementerian Agama, dan FKUB sebagai pilar utama dalam menjaga kondusivitas daerah di tengah keberagaman masyarakat.

“Sinergi yang terbangun selama ini dinilai menjadi modal sosial yang sangat penting dalam mencegah potensi konflik sekaligus memperkuat persatuan”, kata Sonhaji.

Materi utama disampaikan oleh Ketua FKUB Kota Probolinggo, Dr. H. Ahmad Hudri, S.T., M.A.P., dengan tema “Kebijakan dan Strategi Pemerintah Daerah dalam Menjalin Sinergitas dengan FKUB untuk Menjaga Kerukunan Umat Beragama serta Stabilitas Sosial.” Dalam paparannya dijelaskan bahwa keberhasilan menjaga kerukunan tidak hanya bergantung pada regulasi, tetapi juga memerlukan komunikasi yang intensif, kemitraan yang kuat, deteksi dini terhadap potensi persoalan, serta kolaborasi aktif antara pemerintah, tokoh agama, dan seluruh elemen masyarakat.

“Berbagai praktik baik yang telah dikembangkan FKUB Kota Probolinggo bersama Pemerintah Kota Probolinggo, mulai dari penguatan dialog lintas agama, edukasi moderasi beragama, penyelesaian persoalan melalui musyawarah, hingga berbagai program kolaboratif yang melibatkan organisasi keagamaan, pemerintah daerah, dan masyarakat”, papar Hudri.

Hudri juga memaparkan program unggulan FKUB kota Probolinggo diantaranya ecoHarmony, rumah ibadah ramah anak, rumah ibadah ramah lingkungan, profiling rumah ibadah, FKUB goes to school/ pesantren, dan pembinaan guru non formal pada sekolah Minggu di gereja, pasraman, dan klenteng sumber naga.

Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai pertanyaan dan pertukaran pengalaman mengenai tata kelola kelembagaan FKUB, pola koordinasi dengan pemerintah daerah, serta strategi menjaga harmoni sosial di tengah masyarakat yang majemuk. Suasana yang terbuka dan penuh semangat kebersamaan mencerminkan komitmen kedua daerah untuk terus memperkuat nilai-nilai toleransi dan persaudaraan.

Ketua FKUB Kabupaten Purworejo, KH. Khabib, S.Pd., menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat Pemerintah Kota Probolinggo, Bakesbangpol, dan FKUB Kota Probolinggo. Menurutnya, studi komparasi ini memberikan banyak wawasan dan praktik baik yang dapat diadaptasi untuk memperkuat peran FKUB Kabupaten Purworejo sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis.

“Melalui kegiatan ini diharapkan terjalin hubungan kelembagaan yang semakin erat antardaerah, sekaligus menjadi media pembelajaran bersama dalam mengembangkan inovasi dan strategi penguatan kerukunan umat beragama”, ujar Habib Sol

Sinergi yang baik antara pemerintah daerah, FKUB, dan seluruh pemangku kepentingan diharapkan mampu menjaga stabilitas sosial serta memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa di tengah keberagaman Indonesia.

GEKRAFS Probolinggo Gelar Turnamen PS4 dan Nobar Piala Dunia 2026


Probolinggo, Berdampak.net – Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS) menggelar Turnamen PlayStation 4 (PS4) dan nonton bareng (nobar) semifinal Piala Dunia FIFA 2026 antara Spanyol melawan Prancis di Vibes Space, Desa Bucor Kulon, Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo, Selasa (14/7/2026).

Kegiatan yang diikuti puluhan anak muda tersebut berlangsung meriah. Selain menyuguhkan persaingan seru dalam turnamen gim sepak bola, peserta dan masyarakat juga menikmati nobar laga semifinal Piala Dunia 2026. Suasana semakin semarak dengan pembagian berbagai doorprize kepada peserta dan penonton.

Ketua Pelaksana, Ahmad Fauzan, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari upaya GEKRAFS menghadirkan ruang hiburan yang positif sekaligus memperkuat silaturahmi dan mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif di Kabupaten Probolinggo.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin menghadirkan ruang positif bagi generasi muda untuk berkumpul, berkompetisi secara sportif, dan merasakan euforia Piala Dunia 2026 bersama. Semoga kegiatan ini dapat mempererat kebersamaan sekaligus mendukung perkembangan ekonomi kreatif di Kabupaten Probolinggo,” ujar Ahmad Fauzan.

Menurut Fauzan, turnamen gim dan nobar sepak bola menjadi salah satu media yang efektif untuk mempertemukan komunitas, menumbuhkan sportivitas, serta membuka peluang bagi pelaku ekonomi kreatif lokal untuk berkembang melalui penyelenggaraan berbagai kegiatan kreatif.

GEKRAFS berharap kegiatan serupa dapat terus digelar secara berkelanjutan sebagai wadah kolaborasi, kreativitas, dan kebersamaan generasi muda. Dengan demikian, selain menjadi sarana hiburan, kegiatan ini juga diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi perkembangan ekonomi kreatif di Kabupaten Probolinggo. (fj)

Kolaborasi Perusahaan dan PMI-JFF, Dua Anak Probolinggo Jalani Operasi Katarak Gratis di Jember

Jember, Berdampak.net – Dua anak asal Kabupaten Probolinggo berhasil menjalani operasi katarak gratis di Rumah Sakit Bina Sehat Jember. Keberhasilan kegiatan bakti sosial ini tak lepas dari sinergi PMI Kabupaten Probolinggo dengan John Fawcett Foundation (JFF) Indonesia, serta dukungan dari pihak perusahaan yang turut menghadirkan layanan kesehatan bagi anak-anak yang membutuhkan.

Kegiatan pendampingan penuh dilakukan oleh Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Probolinggo bersama JFF Indonesia pada Jumat (3/7/2026). Peran PMI tampak sejak proses seleksi dan persiapan keberangkatan hingga pengawalan langsung selama pelayanan.

Kedua pasien berasal dari Kecamatan Banyuanyar dan Kecamatan Kraksaan. Mereka diberangkatkan dari Markas PMI Kabupaten Probolinggo, pada Rabu (1/7/2026). Setibanya di Jember, kedua anak menjalani general check-up pada dan kemudian Setelah dinyatakan layak, operasi katarak segera dilakukan oleh tim medis JFF yang berkolaborasi dengan RS Bina Sehat Jember.

Ketua PMI Kabupaten Probolinggo, dr. Adi Nugroho, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, khususnya pada dukungan kemanusiaan dari jejaring mitra dan perusahaan. Ia menegaskan, program ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi dapat menghadirkan dampak langsung bagi masyarakat.

Sebagai bentuk perhatian dan memastikan pelayanan berjalan optimal, PMI memberangkatkan pengurus untuk mendampingi. Para pendamping bertugas memberikan dukungan moril kepada pasien dan keluarga, mulai dari proses persiapan hingga masa pemulihan awal. Menurut rencana, pembukaan perban serta pemeriksaan lanjutan akan dilakukan kemudian dan Jika hasil medis baik di lanjutkan pemulangan kembali ke Probolinggo.

Sementara itu, JFF Indonesia dan tim medisnya menjalankan peran kunci dalam aspek layanan kesehatan, mulai dari asesmen awal hingga pelaksanaan operasi. Dukungan perusahaan turut memperkuat terlaksananya program, sehingga PMI dan JFF bisa menghadirkan pelayanan bagi lebih banyak penerima manfaat.

PMI Kabupaten Probolinggo juga menyampaikan terima kasih kepada JFF Indonesia, PT POMI Paiton Energy, serta seluruh tim medis. Semua pihak berharap Semoga sinergi sosial dan kemanusiaan yang positif ini terus berlanjut untuk membantu lebih banyak masyarakat di kabupaten Probolinggo. kegiatan ini menjadi awal kehidupan baru bagi pasien dan dengan penglihatan yang kembali, l langkah besar lain seperti menempuh pendidikan lanjut untuk meraih cita-cita akan terbuka lebar.

Jurnalistik Jadi Ladang Dakwah, Humas Nurul Jadid Bincang Kehumasan Bersama Wartawan Profesional


Probolinggo, Berdampak.net — Di tengah derasnya arus informasi yang kerap mengabaikan etika dan kebenaran fakta, Pondok Pesantren Nurul Jadid mengambil sikap tegas: menjadikan jurnalistik sebagai sarana dakwah. Komitmen itu kembali ditegaskan dalam kegiatan bincang kehumasan yang digelar di ruang rapat pesantren, mempertemukan tim Humas Nurul Jadid dengan jajaran humas lembaga-lembaga di bawah naungannya.

Keresahan terhadap banjir informasi tanpa verifikasi menjadi alasan utama digelarnya forum ini. Bukan tanpa sebab—informasi yang tidak akurat dinilai berpotensi menyesatkan opini publik jika tidak diimbangi pemberitaan yang bertanggung jawab. Untuk itu, penguatan kapasitas kehumasan di lingkungan pesantren dipandang sebagai langkah mendesak.

Forum kali ini menghadirkan Muhammad Iqbal, wartawan Times Indonesia, yang berbagi perspektif praktis dari dunia jurnalistik profesional. Satu pesan yang ia tekankan cukup mengena: nilai sebuah berita tidak berhenti pada tersampaikannya informasi. Berita yang baik, katanya, harus mendidik—bukan sekadar lewat begitu saja tanpa makna bagi pembacanya.
Iqbal juga mengingatkan pentingnya menjaga etika jurnalistik dan akurasi fakta dalam setiap proses produksi berita, termasuk yang dikerjakan oleh humas pesantren maupun lembaga pendidikan. Baginya, humas bukan sekadar penyampai kabar, melainkan juga penjaga nama baik dan citra lembaga.

Diskusi berlangsung hidup. Para peserta aktif melontarkan pertanyaan, mulai dari teknik penulisan berita hingga strategi menghadapi banjir informasi yang tidak akurat—bekal yang dinilai penting bagi pengelola humas lembaga di lingkungan Nurul Jadid dalam menjalankan tugas sehari-hari.

Forum ini pun tak sekadar ajang berbagi ilmu, tetapi juga ruang silaturahmi antarhumas lembaga untuk menyamakan visi dalam mengelola informasi kepesantrenan. Ke depan, kegiatan serupa direncanakan digelar secara berkala sebagai bagian dari upaya berkelanjutan meningkatkan kapasitas sumber daya kehumasan.

Kasubag Humas dan Infokom Ponirin Mika berharap setiap pemberitaan yang dihasilkan tak hanya informatif, tetapi juga menjadi sarana dakwah yang membawa manfaat dan edukasi positif bagi masyarakat luas.

Menjernihkan Dinamika Penutupan Munas-Konbes NU di Kediri

Oleh: Dr. H. Ahmad Fahrur Rozi
Ketua PBNU Bidang Keagamaan

Dinamika yang terjadi pada penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) di Kediri, Senin (22/6/2026), perlu dijelaskan secara proporsional agar tidak menimbulkan kesalahpahaman maupun framing yang keliru terhadap para kiai, peserta forum, maupun pimpinan sidang.

Saya mengikuti secara langsung pembahasan Komisi Organisasi yang membahas berbagai agenda strategis terkait masa depan organisasi, termasuk persiapan Muktamar ke-35 NU yang direncanakan berlangsung pada Agustus mendatang.

Pembahasan komisi berlangsung sangat serius, dinamis, dan cukup alot. Sejak Ahad siang kemarin hingga menjelang tengah malam, peserta berdiskusi secara intens karena materi yang dibahas menyangkut persoalan penting dan strategis bagi jam’iyah. Perbedaan pandangan muncul sebagaimana lazimnya sebuah forum musyawarah besar, namun seluruh proses tetap berjalan dalam suasana yang konstruktif.

Saya mendapat amanah menjadi salah satu anggota tim perumus Komisi Organisasi ini. Salah satu keputusan penting yang dihasilkan komisi berkaitan dengan calon lokasi penyelenggaraan Muktamar NU.

Setelah mempertimbangkan berbagai usulan yang masuk, komisi menyepakati beberapa daerah sebagai kandidat lokasi Muktamar, yakni Jawa Timur, DKI Jakarta, Jawa Barat, Sumatera Barat dan Nusa Tenggara Barat. Adapun penetapan lokasi definitif belum diputuskan. Komisi merekomendasikan agar dilakukan survei terlebih dahulu untuk menilai kesiapan sarana dan prasarana, transportasi, keamanan, akomodasi, logistik, serta mempertimbangkan aspek spiritual melalui istikharah para masyayikh.

Keputusan tersebut kemudian dibawa ke sidang pleno untuk memperoleh pengesahan.

Dalam sidang pleno itulah muncul dinamika ketika pimpinan sidang menyampaikan keputusan bahwa Muktamar akan dilaksanakan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Pernyataan tersebut memunculkan keberatan dari sejumlah peserta karena dianggap tidak sesuai dengan keputusan Komisi Organisasi yang sebelumnya belum menetapkan lokasi secara final dan masih membuka beberapa kandidat untuk disurvei lebih lanjut.

Karena itu, kegaduhan yang terjadi sesungguhnya bukanlah penolakan terhadap Pondok Pesantren Lirboyo atau daerah tertentu. Keberatan peserta lebih terkait dengan mekanisme pengambilan keputusan yang dinilai tidak sejalan dengan hasil pembahasan komisi.

Dalam situasi yang mulai memanas tersebut, Rais Aam PBNU dengan cepat mengambil peran sebagai penengah. Beliau meminta agar keputusan yang menimbulkan polemik itu dibatalkan dan forum kembali berpegang pada hasil kesepakatan Komisi Organisasi.

Langkah tersebut terbukti efektif meredakan ketegangan. Setelah keputusan pimpinan sidang dicabut, suasana forum kembali tenang dan sidang dapat dilanjutkan secara kondusif.

Karena itu, tidak tepat apabila peristiwa ini kemudian diarahkan menjadi penilaian negatif terhadap Rais Aam. Justru pada saat forum menghadapi situasi yang sensitif, beliau menunjukkan kepemimpinan yang responsif, bijaksana, dan berorientasi pada kemaslahatan organisasi. Sikap tersebut membantu menjaga persatuan forum dan mencegah eskalasi yang tidak diperlukan.

Peristiwa ini juga menunjukkan bahwa NU masih memiliki tradisi musyawarah yang hidup. Dalam organisasi sebesar NU, perbedaan pandangan merupakan sesuatu yang wajar. Yang terpenting bukanlah menghilangkan perbedaan, melainkan memastikan bahwa setiap keputusan diambil melalui mekanisme yang disepakati bersama dan dihormati oleh seluruh peserta.

Dari peristiwa di Kediri ini, kita belajar bahwa penghormatan terhadap tata tertib, mekanisme organisasi, dan keputusan kolektif merupakan fondasi penting dalam menjaga keutuhan jam’iyah. NU adalah rumah besar yang dibangun di atas tradisi syura, adab, dan kebijaksanaan para ulama.

Semoga dinamika yang terjadi menjadi pelajaran berharga bagi kita semua untuk terus memperkuat budaya musyawarah, memperluas ruang partisipasi, dan menjaga persatuan dalam mengemban khidmah bagi umat, bangsa, dan Nahdlatul Ulama.

Tembus Kegelapan, Prajurit Hiu Petarung Yonif 3 Marinir Uji Ketepatan Menembak Malam

Surabaya, Berdampak.net – Deru mesin senjata dan kesunyian malam menyatu di Lapangan Tembak F.X. Supramono, Kesatrian Marinir Sutedi Senaputra, Karangpilang, Surabaya. Pada Kamis (04/06/2026) petang, ketenangan malam pecah saat prajurit petarung Batalyon Infanteri 3 Marinir—yang dikenal dengan julukan “Hiu Petarung”—menggelar latihan intensif menembak malam, uji akurasi sniper, serta pengoperasian Senjata Mesin Sedang (SMS).

Latihan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan agenda strategis untuk memelihara sekaligus mendongkrak profesionalisme serta efektivitas daya gempur satuan. Di bawah temaramnya cahaya malam, para prajurit dituntut untuk tetap tenang, fokus, dan mematikan.

Secara khusus, latihan ini dirancang untuk menguji kesiapan operasional para personel pengawak senjata bantuan (Senban) regu dan para penembak runduk (sniper). Mereka ditempa untuk mampu menghancurkan sasaran secara cepat, tepat, dan senyap, sekaligus membuktikan ketepatan bidikan dalam kondisi pencahayaan yang sangat minim. Bagi seorang Hiu Petarung, kegelapan bukanlah hambatan, melainkan keuntungan taktis untuk melumpuhkan musuh.

Komandan Batalyon Infanteri 3 Marinir, Letkol Marinir Iskandar Muda, menegaskan bahwa kegiatan pembinaan kemampuan tempur ini merupakan implementasi nyata dari program kerja Satuan.

“Latihan ini sangat krusial untuk memastikan seluruh prajurit tetap memiliki kesiapsiagaan tinggi (combat readiness). Kita harus selalu siap menghadapi segala dinamika penugasan dan tantangan di masa depan, kapan pun dan dalam kondisi apa pun,” ujar Letkol Marinir Iskandar Muda tegas.

Dengan tuntasnya latihan ini, prajurit Yonif 3 Marinir kembali membuktikan bahwa kesiapan tempur dan profesionalisme adalah harga mati yang terus diasah, demi menjaga kedaulatan dan kesiapan menghadapi medan tugas yang kian kompleks. (fj)