Kiai Zuhri Zaini: Menuju ‘Ibadurrahman’ dengan Jalur Istiqamah

Probolinggo, Berdampak.net – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, menekankan pentingnya konsistensi dalam ibadah sebagai kunci meraih derajat ‘Ibadurrahman (hamba Allah yang terpilih). Pesan ini disampaikan dalam pengajian khataman kitab Nashaihud Diniyyah di Masjid Jami’ Nurul Jadid, Paiton, Sabtu (28/02/2026).
Dalam tausiyahnya, Kiai Zuhri memaparkan tiga ciri utama sosok shalih yang disebut sebagai ‘Ibadurrahman. Pertama, memiliki sifat tawadhu atau rendah hati dalam keseharian. Kedua, mampu menjaga lisan dengan tidak membalas makian orang jahil. Ketiga, senantiasa menghidupkan malam dengan sujud dan shalat (Qiyamul Lail).
“Jika tidak mampu banyak, kerjakanlah sebisanya, meskipun hanya dua rakaat,” ujar Kiai Zuhri memotivasi jamaah agar tidak merasa berat untuk memulai shalat malam.
Beliau juga mendorong jamaah untuk menjaga interaksi dengan Al-Qur’an. Bagi penghafal Al-Qur’an, beliau menyarankan agar ayat-ayat tersebut dibaca secara berurutan saat shalat malam hingga khatam dalam satu bulan. Kiai Zuhri bahkan memberikan teguran keras bagi umat Islam yang mengabaikan kitab sucinya.
“Kalau seseorang seumur hidupnya tidak pernah mengkhatamkan Al-Qur’an, itu sungguh keterlaluan,” tegasnya.
Terkait metode beramal, Kiai Zuhri mengingatkan bahwa prinsip istiqamah jauh lebih utama daripada kuantitas yang hanya dilakukan sesekali. Beliau juga memperluas makna wirid, yang menurutnya tidak terbatas pada zikir lisan, melainkan segala amal baik yang dilakukan secara rutin seperti puasa sunnah hingga menjaga kebersihan masjid.
Beliau memberikan catatan kritis mengenai definisi “orang jahil”. Menurut Kiai Zuhri, jahil bukan sekadar orang yang tidak berilmu, melainkan mereka yang memiliki ilmu namun perilakunya tetap buruk.

Khusyu’ itu Saat Raga Mematung dan Hati Menghadap Ilahi; Berikut Penjelasan Kiai Zuhri Zaini

Probolinggo, Berdampak.net – Sholat bukan sekadar gerakan fisik yang menggugurkan kewajiban. Di balik ruku’ dan sujud, terdapat ruh bernama khusyuk yang menjadi penentu kesempurnaan ibadah. Dalam pengajian terbaru pada Ahad (22/02/26), Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, membedah urgensi ketenangan hati dalam shalat.

Kiai Zuhri menegaskan bahwa khusyuknya anggota badan merupakan buah dari ketenangan hati. Tanpa hati yang hadir, mustahil raga bisa tenang. Beliau mengutip standar khusyuk dari para ulama: Jika seseorang masih menyadari siapa yang berada di samping kanan atau kirinya saat sholat, maka ia belum mencapai hakikat khusyuk. Orang yang benar-benar khusyuk tidak akan menyadari lingkungan sekitarnya karena seluruh kesadarannya terserap dalam dialog dengan Allah SWT.

“Meskipun kita belum mencapai tingkatan tersebut, setidaknya kita harus memiliki kesadaran penuh bahwa kita sedang menghadap Sang Pencipta,” pesan Kiai Zuhri.

Dalam penjelasannya, Kiai Zuhri membagikan beberapa fragmen kisah yang menggambarkan betapa dahsyatnya pengaruh khusyuk bagi seorang hamba. Kiai Zuhri menceritakan ada orang sholeh yang begitu diam dan tenang saat sholat, hingga burung-burung hinggap di atas kepalanya karena mengira ia adalah benda mati. Beliau melanjutkan, dikisahkan pula seorang hamba yang tetap bersujud meski masjid tempatnya sholat roboh. Padahal, hiruk-pikuk keruntuhan itu terdengar hingga ke pasar di dekat masjid, namun ia tetap tak bergeming. Selain itu, Kiai Zuhri bercerita tentang Ujian Juraij dan Panggilan Ibu: Beliau menceritakan kisah ahli ibadah terdahulu yang dilema antara sholat dan panggilan ibunya. Karena tidak menjawab panggilan sang ibu, ia terkena doa buruk hingga difitnah menghamili wanita. Kisah ini menjadi pengingat tentang pentingnya fiqih dalam menyeimbangkan ibadah dan bakti.
Kiai Zuhri memberikan perbandingan yang menyentuh tentang kualitas spiritual. Beliau menjelaskan fenomena “Jadzab”, di mana seseorang kehilangan kesadaran akan dunia (seperti seorang kiai yang mengajar tanpa ingat waktu) karena hatinya terpaku hanya pada Allah.

Namun, tingkat tertinggi adalah Nabi Muhammad SAW. Berbeda dengan kita yang mudah terdistraksi, Rasulullah tetap mampu berinteraksi dengan manusia tanpa sedikit pun memutus sambungan hatinya dengan Allah.

Kiai Zuhri mengutip jawaban ulama salaf saat ditanya apakah mereka memikirkan hal lain saat sholat:

“Apakah ada sesuatu yang lebih saya sukai selain sholat? Pada waktu saya menghadap Allah, saya melupakan segalanya.”
Bagi mereka, sholat bukan beban, melainkan tempat “pelarian” yang paling indah dari hiruk-pikuk dunia. (pm)

Kiai Zuhri Zaini Tekankan Pentingnya Menghadirkan Hati

Probolinggo, Berdampak.net – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, Kiai Zuhri Zaini, memberikan pesan mendalam mengenai hakikat ibadah shalat. Beliau menegaskan bahwa shalat bukan sekadar penggugur kewajiban formal, melainkan sarana mi’raj (naiknya ruh) seorang mukmin untuk menghadap Allah SWT.

Kiai Zuhri menjelaskan perbedaan mendasar antara peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW dengan shalat yang dilakukan umatnya. Jika Rasulullah diperjalankan secara fisik dan batin menuju Sidratul Muntaha, maka bagi umatnya, mi’raj dilakukan melalui batin. Uraian ini disampaikan saat mengisi pengajian kitab Nashoihud Diniyah (22/02/26).

“Kita bisa melakukan mi’raj kepada Allah, tapi dengan batin, bukan dengan badan atau fisik,” tutur beliau.

Meski perintah shalat bermula dari 50 waktu hingga menjadi 5 waktu, Kiai Zuhri mengingatkan bahwa nilai pahalanya tetap setara dengan 50 waktu, asalkan dikerjakan dengan kualitas yang benar.

Dalam ceramahnya, beliau mengutip bahwa posisi paling dekat antara seorang hamba dengan Sang Pencipta adalah saat sujud. Namun, ia memberikan catatan kritis: sujud tersebut harus disertai kekhusyukan dan ketundukan total.

“Bukan hanya sujud dengan menempelkan dahi ke bumi. Shalat yang dikerjakan tanpa menghadirkan hati atau asal-asalan tidak akan membawa kebaikan, justru bisa mendatangkan keburukan karena hilangnya adab kepada Allah,” tegas Kiai Zuhri.

Beliau mencontohkan, saat lisan mengucap Allahu Akbar, hati pun harus ikut merasakan kesucian dan keagungan Allah. Shalat yang kering dari rasa ghoflah (kelalaian) inilah yang mampu membawa perubahan positif dalam kehidupan seseorang.

Menanggapi keluhan banyak orang tentang sulitnya fokus, Kiai Zuhri berpesan agar tidak menunggu datangnya rasa khusyuk untuk mulai memperbaiki shalat. Kekhusyukan adalah sebuah proses yang harus dilatih secara konsisten.

“Hati ini sulit dikendalikan kecuali sudah terbiasa. Maka berusahalah dengan sungguh-sungguh, renungkan apa yang dibaca, dan jangan terburu-buru,” pesannya.
Beliau juga menekankan bahwa kualitas ibadah jauh lebih utama daripada sekadar mengejar angka. Hal ini berlaku tidak hanya dalam shalat, tetapi juga dalam membaca Al-Qur’an.

“Shalat itu tidak harus (mengejar) banyak, tapi laksanakan dengan baik. Begitu juga membaca Al-Qur’an, jangan terburu-buru. Meski hanya khatam satu bulan sekali, itu jauh lebih baik jika disertai dengan pemahaman isinya,” pungkas beliau. (pm)

Untuk Kali Kedua Mahasiswa UNESA Laksanakan Studi Independen (magang) di Media Berdampak.net, Dampak Nyata untuk Dunia Pendidikan

Probolinggo, Berdampak.net – Dalam kurun waktu 2025 dan awal 2026 ini mahasiswa Program Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melakukan program magang di media berdampak.net untuk meningkatkan keterampilan praktik jurnalistik mereka. Program magang ini berlangsung selama empat bulan, dari Februari hingga June 2026 di mana sebelumnya juga Agustus sampai Desember 2025.

Mahasiswa yang turut serta dalam program magang akan terlibat dalam berbagai kegiatan di media, seperti menulis berita, melakukan wawancara, dan menjadi bagian dari tim redaksi. Husnul khotimah, salah satu mahasiswa magang, mengungkapkan rasa antusiasmenya. “Ini adalah kesempatan emas untuk belajar langsung dari para profesional di bidang jurnalistik,” ujarnya.

Kegiatan magang ini merupakan bagian dari kurikulum untuk memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa . Pimpinan berdampak sekaligus Pemred Taufik menyampaikan “Program berdampak ini sangat bagus dirancang untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi tantangan di dunia kerja, khususnya di bidang media.” Sementara direktur berdampak Fajar menambahkan “Selama magang, mahasiswa juga diberikan pelatihan tambahan mengenai penggunaan perangkat lunak jurnalistik dan etika peliputan berita” . Hal ini bertujuan agar mereka memahami standar profesional yang diperlukan dalam industri media.

Beberapa mahasiswa magang juga mendapatkan kesempatan untuk meliput acara-acara penting sesuai arahan dari tim pemred berdampak. Dengan pengalaman ini, diharapkan mahasiswa dapat lebih siap memasuki dunia kerja setelah menyelesaikan studi mereka.

Kegiatan magang ini mendapat respons positif dari pihak media berdampak, serta hasil yang diperoleh mahasiswa akan dilaporkan ke pihak kampus untuk evaluasi dan pengembangan program di masa mendatang termasuk potensi kerjasama secara berkelanjutan. (rh)

Perkuat Literasi, Para Santri Ponpes Nurul Jadid Probolinggo Dibekali Ilmu Jurnalistik

Probolinggo, Berdampak.net – Untuk meningkatkan pengetahuan dalam menulis, Madrasah Jurnalitik Pondok Pesantren Nurul Jadid Probolinggo, menggelar pelatihan jurnalistik dasar dalam rangka regenerasi Tim Humas dan Infokom putri. Senin (16/02/2026).

Kegiatan yang digelar di salah satu aula kantor sekretariat pesantren itu mendatangkan narasumber Taufiqur Rohim, Pimpinan Redaksi media Berdampak.net.

Ponirin Mika, Humas dan Infokom Pondok Pesantren Nurul Jadid, mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan para santri tentang teknik dasar penulisan berita yang singkat, sederhana, dan sesuai kaidah jurnalistik.

Ia juga menyampaikan, pelatihan jurnalistik ini menjadi langkah awal untuk menyiapkan kader muda dalam hal ini para santri yang memiliki kapasitas dan integritas dalam dunia jurnalistik. 

“Harapannya para santri yang mayoritas siswa ini bisa faham tentang kaidah jurnalistik, dan nantinya menjadi pioner dalam kehumasan di Pondok Pesantren Nurul Jadid,” jelasnya.

Sementara itu, Taufiqur Rohim, yang hadir sebagai Narasumber, mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh Humas dan Infokom Pondok Pesantren Nurul Jadid, dalam melaksanakan pelatihan jurnalistik dasar bagi para santri.

“Terlebih, para peserta yang notabene santriwati, mereka sangat aktif dan cekatan dalam menyerap materi, buktinya kami coba memberikan tugas dengan simulasi data mentah yang sudah di siapkan, mereka bisa menyusun data mentah tersebut menjadi sebuat produk jurnalistik,” katanya.

Ia berharap, untuk selanjutnya bisa bermunculan jurnalis-jurnalis handal dari kalangan santri yang bisa berkontribusi aktif dalam kemajuan dunia pendidikan dan bangsa Indonesia. (fiq)

Pemerintah Kecamatan Gending Gandeng PT POMI Gelar Pelatihan Bank Sampah

Probolinggo, Berdampak.net – Pemerintah Kecamatan Gending berkolaborasi dengan PT POMI–Paiton Energy menggelar pelatihan bank sampah dan kewirausahaan berbasis bank sampah di Recreation Hall POH 1, Jalan Raya Surabaya–Situbondo Km 141 Paiton Kabupaten Probolinggo, Kamis dan Jum’at (12-13/2/2026).

Kegiatan ini diikuti 85 peserta dengan melibatkan unsur PKK Kecamatan Gending (Ketua, Sekretaris dan Ketua Pokja III), kader lingkungan dan/atau calon pengurus bank sampah desa, perwakilan unit usaha BUMDes, Komunitas Alam Hijau, unsur Pramuka, perwakilan Puskesmas (sanitasi lingkungan dan promosi kesehatan), organisasi kemasyarakatan (Muslimat dan Fatayat), dunia usaha (PT Sasa Inti Gending dan PT Sinergi Gula Nusantara/PG Gending) serta unsur pendidikan dari SMAN 1 Gending, SMKN 1 Gending dan SMPN 1 Gending.

Pelatihan bank sampah dan kewirausahaan berbasis bank sampah ini dihadiri oleh Wakil Ketua TP PKK Kabupaten Probolinggo Ning Umi Haniah Fahmi AHZ, Manager Human Capital Facilities and Community (HCFC) PT POMI Rochman Hidayat, Facility Supervisor Erfin Budianto, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Probolinggo Jurianto, Camat Gending Winda Permata Erianti serta perwakilan Puskesmas Gending.

Manager HCFC PT POMI Rochman Hidayat menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terbangun dalam momentum peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) tersebut.

“Kami berterima kasih karena kegiatan ini tidak kami laksanakan sendiri, tetapi didukung oleh berbagai stakeholder, termasuk Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Probolinggo dan para mitra,” ujarnya.

Rochman menegaskan persoalan sampah bukan hanya isu daerah, melainkan juga menjadi perhatian serius di lingkungan perusahaan. Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dan program lingkungan lainnya, PT POMI berupaya memastikan pengelolaan sampah berjalan sesuai regulasi dan prinsip keberlanjutan.

“Kami diminta oleh pemerintah dan KLHK untuk melihat sampah bukan hanya sebagai bentuk kepatuhan terhadap regulasi, tetapi sebagai komitmen berkelanjutan. Setiap bulan kami wajib melaporkan neraca sampah, mulai dari jumlah yang diolah hingga yang dibuang ke TPA. Jika rasionya tidak seimbang, itu menjadi catatan penting bagi kami,” tegasnya.

Ia menambahkan, saat ini perusahaan dituntut mampu mengurangi pembuangan sampah ke TPA hingga 30–40 persen melalui pengelolaan mandiri. Berbagai inisiatif telah dijalankan, mulai dari pelatihan eco enzyme, pembuatan kompos, budidaya maggot hingga pengembangan perikanan berbasis hasil olahan sampah.

“Dulu mungkin 100 persen sampah langsung ke TPA. Sekarang tidak bisa lagi seperti itu. Kami sudah menginisiasi pengelolaan di kompleks perusahaan, termasuk di PLTU. Harapannya, kegiatan hari ini dan penguatan bank sampah bisa menjadi role model baru di Kabupaten Probolinggo,” harapnya.

Sementara Wakil Ketua TP PKK Kabupaten Probolinggo Ning Umi Haniah Fahmi AHZ menegaskan isu lingkungan hidup kini telah menjadi isu global yang menentukan masa depan peradaban manusia.
“Persoalan sampah, perubahan iklim, pencemaran air dan tanah serta menurunnya kualitas lingkungan hidup adalah tantangan nyata yang kita hadapi bersama,” katanya.

Menurut Ning Hani, sampah tidak selalu menjadi masalah apabila dikelola dengan baik. “Sampah sering dipandang sebagai masalah. Namun jika dikelola dengan baik, sampah dapat menjadi sumber daya ekonomi. Di sinilah pentingnya bank sampah dan kewirausahaan berbasis sampah,” jelasnya. (fiq)