Ponpes Nurul Jadid Bersama Kemenkumhan Jatim Gelar Pendampingan Pengajuan Permohonan Kekayaan Intelektual

Probolinggo, Berdampak.net — Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo bekerja sama dengan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Timur membuka kegiatan Pendampingan Pengajuan Permohonan Kekayaan Intelektual (KI) pada Senin (9/12/2025). Kegiatan ini mengusung tema “Santri Berinovasi, Kekayaan Intelektual Melindungi” dan bertujuan memperkuat perlindungan hukum terhadap karya santri dan lembaga pesantren.
Sekretaris Pesantren Nurul Jadid, H. Thahirudin, menyampaikan bahwa pendampingan KI merupakan upaya penyelamatan karya agar tidak diakui oleh pihak lain.
“SDM Pondok pesantren banyak melahirkan karya. Untuk menyelamatkan karya itu perlu dibuat hak cipta agar tidak diakui oleh orang lain,” ujarnya.
Pendiri Pesantren Nurul Jadid, KH. Zaini Mun’im banyak melahirkan karya tulis. Insya Allah 2 karya beliau yang akan dihak ciptakan, yaitu Nadham Safinah dan Kitab Syu’abul Iman
Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana, Pahlevi Witantra, dalam laporan pelaksanaannya menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi langkah nyata memastikan potensi karya, inovasi dan keilmuan di lingkungan pesantren mendapatkan perlindungan hukum secara eksklusif. Ia juga menguraikan tujuan kegiatan, antara lain meningkatkan kesadaran terkait pentingnya KI, memberikan pendampingan teknis proses pengajuan Hak Cipta dan Merek, serta melindungi karya dari plagiasi dan pembajakan.
Sebagai informasi, setelah rangkaian acara pembukaan, dilaksanakan pendampingan permohonan Hak Cipta terhadap karya pesantren berupa Syair Nadham Safinah dan Kitab Syu’abul Iman buah karya alm. KH. Zaini Mu’im Pendiri dan Pengasuh Pertama Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.
Kegiatan yang dilaksanakan di komplek Pondok Pesantren Nurul Jadid, Probolinggo tersebut merupakan hasil kolaborasi dengan Kanwil Kemenkumham Jatim dan didanai dari Anggaran Tahun 2025.
Kepala Divisi Pelayanan Hukum Kemenkumham Jawa Timur, R. Fadjar Widjanarko, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terlaksananya kerja sama dan menegaskan bahwa pesantren merupakan ruang lahirnya kreativitas dan inovasi ekonomi masyarakat.
“Potensi karya di pesantren sangat besar, mulai dari karya tulis, video dakwah, hingga produk ekonomi kreatif. Semua ini harus terlindungi agar tidak mudah ditiru atau diklaim pihak lain,” katanya.
Fadjar juga menyebut Pondok Pesantren Nurul Jadid telah memiliki tiga merek resmi terdaftar, yakni Nurja (air mineral), Pustaka Nurja (jasa penerbitan), dan Pondok Pesantren Nurul Jadid. Selain itu, Universitas Nurul Jadid saat ini masih dalam proses pendaftaran Merek.
Ia berharap kegiatan pendampingan dapat mempermudah proses pencatatan Hak Cipta dan pendaftaran Merek oleh santri dan unit usaha pesantren.
“Amankan, lindungi, dan majukan karya Anda mulai hari ini,” tegasnya.
Kegiatan kemudian secara resmi dibuka dengan pembacaan Bismillahirrahmanirrahim oleh Kepala Divisi Pelayanan Hukum di hadapan jajaran pimpinan pesantren, tenaga pendidik, dan ratusan santri peserta kegiatan.

Nurul Jadid Gelar Seminar Internasional Rumuskan Nilai Islam Universal untuk Pesantren Inklusif

Probolinggo, Berdampak.net — Pondok Pesantren Nurul Jadid melalui Biro Pendidikan menggelar Seminar Internasional bertema “Universal Islamic Values for a Peaceful and Inclusive Pesantren toward Global Civilization” di Aula I pesantren. Kegiatan ini menghadirkan tokoh nasional dan akademisi internasional untuk merumuskan nilai-nilai Islam universal sebagai respons terhadap meningkatnya kasus perundungan di lembaga pendidikan. Senin (01/12/2025).

Kepala Biro Kepesantrenan, Kiai Ahmad Madarik, dalam sambutannya menyampaikan bahwa maraknya perundungan di sekolah dan pesantren menjadi tantangan serius bagi dunia pendidikan. Ia menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah dan pengelola pendidikan untuk menciptakan lingkungan pesantren yang aman.

“Dunia pendidikan sedang menghadapi peristiwa yang kurang mengenakkan. Kita sering mendengar laporan bullying, entah di sekolah, di pesantren, bahkan kepada pengajar,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa Pesantren Nurul Jadid telah merumuskan aturan anti-perundungan, meski masih ditemukan kasus akibat minimnya pengetahuan dan kesadaran santri.

Dari akademisi internasional, Rowan Gould, Co-Founder dan Co-Director Mosaic Connections Australia, menyoroti relevansi nilai ukhuwah dalam menghadapi tantangan global di era digital. Ia menilai kolaborasi melalui program Australia–Indonesia Muslim Exchange Program (AIMEP) turut memperkuat dialog antarbangsa.

Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur, Ahmad Sruji Bahtiar, menegaskan pentingnya posisi pesantren dalam sejarah bangsa. Ia menilai kontribusi pesantren saat ini belum didukung struktur birokrasi memadai, sehingga perlu dibentuk Direktorat Jenderal Pesantren yang memahami kultur pesantren secara utuh.

Bahtiar juga menyoroti meningkatnya laporan perundungan dan menekankan perlunya pendekatan sistematis berbasis kesadaran individu, SOP, pengawasan, serta pendidikan karakter. “Bahkan mikro-ekspresi kita saja bisa dimaknai kekerasan. Karena itu konstruksi besar untuk meniadakan kekerasan di pesantren sangat diperlukan,” ujarnya.

Seminar internasional ini menjadi ruang dialog global sekaligus momentum memperkuat komitmen pesantren sebagai lembaga pendidikan yang aman, inklusif, dan berkontribusi pada peradaban dunia yang damai. (pm)

Menakar Karakter Orang Madura dari Sejarah, Budaya, dan Realitas Sosial

Oleh: Ponirin Mika Ketua Umum Jong Madura Probolinggo Raya

Sebagai bagian dari masyarakat Madura sekaligus saksi hidup perjalanan budayanya, saya sering merenungi bagaimana sejarah dan lingkungan telah membentuk karakter orang Madura hingga kini. Madura, yang sejak lama dikenal sebagai wilayah dengan bentang alam kering dan lahan yang tidak selalu bersahabat, secara alami menumbuhkan etos hidup yang berbeda. Di tanah yang tidak terlalu subur, masyarakat kami belajar bahwa bertahan hidup tidak bergantung pada kemurahan alam, melainkan pada kerja keras, ketekunan, dan usaha tanpa henti. Maka tidak mengherankan jika prinsip “kerja lebih keras dari orang lain” begitu melekat dalam jiwa orang Madura.

Karakter itu kemudian bertransformasi menjadi etos sosial dan ekonomi yang menonjol: kemandirian, keuletan, dan keberanian mengambil risiko. Banyak orang Madura merantau bukan karena ingin meninggalkan tanah kelahiran, melainkan karena dorongan untuk mencari ruang hidup yang lebih luas. Sikap hemat, daya tahan menghadapi kesulitan, dan motivasi kuat untuk memperbaiki keadaan adalah nilai yang saya lihat setiap hari — baik pada para perantau maupun masyarakat yang tetap tinggal di kampung halaman.

Dalam pergaulan antarpribadi, orang Madura sering dikenal tegas, jujur, dan lugas. Kami diajarkan untuk menyatakan pendapat apa adanya, bukan untuk menyakiti, tetapi untuk menjaga integritas. Bagi kami, harga diri dan kejujuran adalah dua hal yang tidak boleh ditawar. Lebih baik dianggap keras, daripada hidup dengan kepura-puraan. Prinsip itulah yang membentuk karakter pribadi orang Madura dalam mengambil keputusan, berinteraksi, maupun menjaga komitmen.

Satu hal yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan orang Madura adalah agama dan tradisi. Islam bukan sekadar identitas, melainkan fondasi moral yang mengatur cara kami berperilaku. Penghormatan kepada kiai, kepatuhan pada nilai-nilai keagamaan, dan kuatnya tradisi lokal seperti gotong royong dan solidaritas sosial menjadi unsur penting dalam membangun harmoni di tengah masyarakat. Perpaduan antara religiusitas dan adat inilah yang melahirkan komunitas yang kokoh dan penuh rasa persaudaraan.

Saya perlu menegaskan bahwa stereotip negatif yang sering dilekatkan pada orang Madura-seperti anggapan keras, kasar, atau mudah marah—sering kali tidak mencerminkan kenyataan. Banyak penelitian menunjukkan bahwa citra tersebut lahir dari generalisasi berlebihan atas kasus-kasus tertentu. Padahal, karakter sejati orang Madura jauh lebih kompleks dan manusiawi: ada moralitas yang kuat, solidaritas tanpa batas, kejujuran, dan kebanggaan terhadap budaya sendiri. Nilai-nilai positif ini justru menjadi perekat yang membuat masyarakat Madura terus bertahan dan berkembang.

Memahami karakter orang Madura membutuhkan kacamata yang jernih, bukan sekadar menilai dari stereotip. Kita harus melihatnya melalui sejarah, budaya, dan realitas sosial yang membentuknya. Orang Madura adalah cermin ketegasan, kemandirian, religiusitas, dan dedikasi pada kerja keras. Mereka adalah bagian penting dari mozaik kebinekaan Indonesia-sebuah kekayaan yang harus dihargai, bukan disederhanakan.

Kiai Zuhri Zaini Ajak P4NJ Nusantara Hidupkan Istighotsah, Ingatkan Pentingnya Silaturahim

Probolinggo, Berdampak.net — Dalam pertemuan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid KH. Moh. Zuhri Zaini dan P4NJ Nusantara yang digelar di Aula Mini Pondok Pesantren Nurul Jadid, Sabtu (22/11), beliau mengajak para alumni untuk kembali menghidupkan tradisi istighotsah sebagai benteng spiritual umat di tengah berbagai dinamika sosial dan isu yang berkembang. Sabtu 22 November 2025.

Kiai Zuhri menyampaikan bahwa umat Islam perlu menjaga semangat pengabdian dan memperkuat silaturahim. Ia mengutip hadis Rasulullah tentang pentingnya menyambung tali persaudaraan sebagai jalan melapangkan rezeki dan menambah keberkahan umur.

Dalam tausiah tersebut, pengasuh menyinggung maraknya pemberitaan robohnya bangunan pesantren yang viral di media sosial dan berbagai serangan terhadap tokoh agama. Ia mengingatkan agar umat tetap waspada, namun tidak gegabah dalam menilai perbedaan sebagai permusuhan. “Tujuan yang baik harus dilakukan dengan cara yang baik,” ujarnya.

Ia pun juga menekankan bahaya musuh terbesar yang ada dalam diri manusia sendiri, yakni hawa nafsu.

Pada kesempatan itu, ia mengisahkan kembali teladan Nabi dalam menghadapi seorang Badui yang kencing di masjid. Menurutnya, kisah tersebut mengajarkan bahwa pendidikan harus dilakukan dengan kelembutan dan kebijaksanaan.

Selain itu, Kiai Zuhri memaparkan sejarah dua qasidah karya KH. Zaini Mun’im: Ya Rabbî Sallimnâ yang ditulis pada masa polemik politik 1970-an, serta Ya Rabbî Syaffi‘ yang digubah menjelang wafatnya. Keduanya berisi doa keselamatan dan kesembuhan bagi umat, bangsa, dan pesantren.

Dalam penutup tausiahnya, Kiai menyampaikan kisah tentang lelaki yang mengkritisi ciptaan Allah terkait buah semangka dan buah wringin. Cerita itu mengingatkan bahwa seluruh ciptaan telah memiliki hikmah tersendiri yang kerap tak dipahami manusia. (pm)

Kiai Kholil Jadi Pahlawan Nasional: JongMa Probolinggo Siapkan Tasyakuran dan Kajian

Probolinggo, Berdampak.net – Jong Madura Probolinggo (JongMa) akan menggelar tasyakuran atas penetapan Kiai Kholil Bangkalan sebagai Pahlawan Nasional. Kegiatan ini menjadi bentuk syukur sekaligus penghormatan terhadap tokoh besar Madura yang memiliki kontribusi besar dalam sejarah bangsa.

Agenda tasyakuran tersebut juga dirangkai dengan kajian mendalam terkait jejak perjuangan dan pemikiran Kiai Kholil. Kajian akan menyoroti pergerakan, peran pendidikan, hingga dimensi tasawuf yang menjadi bagian penting dalam perjalanan intelektual beliau.

Selain tasyakuran, JongMa Probolinggo memulai rangkaian kegiatan dengan konsolidasi awal bersama para mahasiswa. Konsolidasi ini melibatkan perwakilan dari empat kabupaten di Madura, yakni Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan.

Pertemuan tersebut digelar di Wisma Dosen Universitas Nurul Jadid pada Kamis (20/11/25). Lokasi ini dipilih sebagai ruang bertemunya gagasan dan komitmen mahasiswa Madura yang tengah menempuh pendidikan di Probolinggo Raya.

Ketua Umum Jong Madura Probolinggo, Ponirin Mika, menekankan bahwa banyak nilai dan tradisi Madura saat ini mengalami kemunduran. Ia menilai karakter khas masyarakat Madura, seperti keakraban dan kesopanan, semakin jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Ponirin menjelaskan bahwa ikatan persahabatan yang dulu sangat kuat antarwarga Madura juga mulai menipis. Hal ini, menurutnya, perlu segera dipulihkan lewat gerakan yang digagas oleh generasi muda.

Selain itu, Ponirin menyoroti derasnya arus budaya dari luar Madura yang mulai mempengaruhi cara hidup masyarakat. Ia menyebut fenomena tersebut sebagai ancaman serius terhadap nilai-nilai luhur yang selama ini dijaga oleh para leluhur.

JongMa Probolinggo melihat bahwa revitalisasi nilai budaya Madura tidak dapat ditunda lagi. Upaya pelestarian ini, kata Ponirin, harus dimulai melalui ruang-ruang edukasi dan kebersamaan para pemuda Madura.

Melalui tasyakuran dan kajian pemikiran Kiai Kholil Bangkalan, JongMa berharap dapat menumbuhkan kembali kesadaran historis di kalangan generasi muda. Pemahaman terhadap tokoh besar seperti Kiai Kholil dinilai penting untuk memperkuat identitas kultural mereka.

JongMa Probolinggo juga menargetkan kegiatan ini mampu mempererat jejaring mahasiswa Madura di Probolinggo Raya. Dengan hubungan yang semakin solid, gerakan pelestarian budaya Madura diharapkan dapat berjalan lebih terarah dan berkelanjutan. (pm)

Santri SMA Nurul Jadid Tampil Gemilang di Ajang Debat Bahasa Mandarin 2025

Surabaya — Siswa SMA Nurul Jadid kembali menunjukkan prestasi membanggakan dalam ajang Disway Mandarin Debate & Speech Competition 2025. Dua tim perwakilan sekolah tampil luar biasa dan berhasil menorehkan pencapaian membanggakan di kompetisi debat Bahasa Mandarin tingkat provinsi yang diikuti puluhan sekolah unggulan.

Kompetisi bergengsi ini digelar oleh Harian Disway bekerja sama dengan lembaga pendidikan dan kebudayaan serta didukung oleh Tunjungan Plaza Surabaya sebagai tuan rumah. Lomba berlangsung selama dua hari, 4–5 Oktober 2025, di Atrium Tunjungan Plaza Surabaya, dan menjadi ajang pembuktian kemampuan berbahasa Mandarin para pelajar.

Tim SMA Nurul Jadid yang terdiri dari Muhammad Arif Nanda Aditya, Nicky Dirga Ibrahim, dan Manggali Attallah Bahy Majid, serta Saintika Hurin Mazidah, Natasya Wahyu Safitri, dan Dwi Ayu Nabila tampil memukau dengan kemampuan argumentasi yang tajam, penguasaan bahasa yang kuat, dan kerja sama tim yang solid.

Para peserta beradu gagasan dalam bahasa Mandarin dengan berbagai topik menantang, salah satunya bertema “Dakwah di Era AI”, yang menuntut peserta menghubungkan perkembangan teknologi modern dengan nilai-nilai sosial dan spiritual.

Guru pembimbing Bahasa Mandarin SMA Nurul Jadid, Syamsul Hadi, menyampaikan apresiasi atas kerja keras para siswa. “Anak-anak menunjukkan performa luar biasa. Mereka tidak hanya fasih berbahasa Mandarin, tetapi juga mampu berpikir kritis dan memahami konteks global. Ini adalah buah dari latihan intensif yang mereka jalani selama berbulan-bulan,” ujarnya.

Pihak penyelenggara menilai kompetisi ini tidak sekadar menguji kemampuan bahasa, tetapi juga melatih kepercayaan diri, logika berpikir, serta keterampilan komunikasi lintas budaya. SMA Nurul Jadid pun dinilai sebagai salah satu peserta dengan penampilan paling menonjol.

Kepala SMA Nurul Jadid, Drs. Rahardjo, menyampaikan rasa bangganya atas pencapaian siswa. “Prestasi ini menunjukkan bahwa siswa SMA Nurul Jadid memiliki daya saing yang tinggi dan siap bersaing di tingkat global. Semoga ini menjadi inspirasi bagi seluruh siswa untuk terus berprestasi,” ujarnya.

Salah satu peserta, Muhammad Arif Nanda Aditya, menyebut pengalaman ini sangat berharga. “Kami belajar banyak tentang kerja sama, kesiapan mental, dan kepercayaan diri berbicara di depan umum. Kami ingin membuktikan bahwa santri juga bisa berkiprah di tingkat internasional,” ungkapnya.

Prestasi ini melanjutkan jejak keunggulan SMA Nurul Jadid dalam penguasaan bahasa Mandarin. Sebelumnya, siswi Umiatul Aulia Maharani juga meraih pencapaian gemilang dalam Lomba Pidato Bahasa Mandarin di ajang yang sama, menegaskan konsistensi sekolah dalam membina kemampuan bahasa asing dan komunikasi global siswa.