Gus Yahya: Ibu Adalah Sumber Doa dan Keikhlasan Tanpa Jeda

JAKARTA, Berdampak.net – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf, menyampaikan pesan menyentuh dalam memperingati Hari Ibu. Melalui unggahan di akun media sosialnya, tokoh yang akrab disapa Gus Yahya ini menekankan bahwa sosok ibu merupakan pilar utama kekuatan spiritual dan mental bagi keluarga.

​Dalam unggahan tersebut, Gus Yahya mengawali pesannya dengan sebuah kutipan sarat makna.

“Jika seorang hamba tidak menambah rasa cintamu, maka sejatinya engkau belum benar-benar mencintai.” Kalimat ini menjadi pembuka refleksi mendalam mengenai hakikat cinta dan pengabdian.
​Secara khusus, Gus Yahya memberikan penghormatan kepada ibunda tercinta serta sosok ibu dari anak-anaknya. Ia menyebut mereka sebagai mata air kekuatan yang konsisten menjaga harmoni keluarga.

​”Selamat Hari Ibu untuk ibuku dan ibunya anak-anak, sumber doa, daya tahan, dan keikhlasan yang tak pernah terjeda,” tulis Gus Yahya melalui akun X (Twitter) miliknya.

​Pesan tersebut menggarisbawahi tiga peran krusial ibu dalam pandangan Gus Yahya.

​Keikhlasan Tanpa Jeda: Wujud pengabdian tulus yang mengalir terus-menerus tanpa mengharap pamrih.
​Unggahan ini pun memantik simpati luas dari warganet, yang memandang pesan tersebut sebagai pengingat bagi setiap anak dan suami untuk senantiasa memuliakan perempuan yang telah menjadi fondasi bagi peradaban kecil di dalam rumah tangga.

Kiai Sepuh sebagai Kompas di Tengah Kasak-Kusuk PBNU

​Oleh: Ponirin Mika
(Redaksi Media Berdampak)

​Sebagai organisasi sosial-keagamaan terbesar di dunia, setiap gerak-gerik Nahdlatul Ulama (NU) selalu menjadi magnet perhatian publik. Belakangan ini, “kasak-kusuk” di internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) seolah menjadi konsumsi harian di ruang digital maupun diskusi warung kopi.

Fenomena ini sebenarnya adalah konsekuensi logis dari sebuah organisasi dengan basis massa jutaan orang; semakin besar kapal yang berlayar, semakin kencang pula angin yang menerpa lambungnya.
​Namun, kita perlu meletakkan dinamika ini dalam kacamata yang jernih. Perbedaan pendapat di tubuh NU bukanlah sebuah aib, melainkan hal yang sangat lumrah. Tradisi intelektual NU yang berakar pada bahtsul masail telah melatih para nahdliyin untuk terbiasa dengan dialektika.

Di sana, perbedaan pikiran tidak dipandang sebagai perpecahan, melainkan sebagai ikhtiar mencari kebenaran yang paling maslahat bagi umat.
​Masalahnya, seringkali riuh rendah di level elite sering disalahpahami oleh akar rumput sebagai retakan yang permanen. Di sinilah letak pentingnya kedewasaan berorganisasi. PBNU bukan sekadar mesin birokrasi, ia adalah representasi dari peradaban Islam Nusantara yang mengedepankan adab di atas segalanya. Dinamika politik dan kebijakan organisasi tidak boleh sampai menggerus nilai-nilai kesantunan yang selama ini menjadi jati diri kaum sarungan.

​Dalam situasi yang penuh dengan silang pendapat, kehadiran kiai sepuh dan pengasuh pesantren menjadi sangat vital. Mereka adalah jangkar moral yang menjaga agar kapal PBNU tidak keluar dari jalurnya. Ketika logika struktural kadang terjebak pada kepentingan taktis dan administratif, para kiai sepuh hadir dengan kearifan spiritual yang melampaui kepentingan-kepentingan sesaat tersebut.
​Kiai sepuh adalah penengah yang paling objektif. Mengapa demikian? Karena mereka telah selesai dengan urusan diri sendiri. Bagi mereka, menjaga keutuhan NU adalah bagian dari menjaga warisan para pendiri (muassis). Nasihat yang keluar dari lisan para pengasuh pesantren bukan didasari oleh ambisi jabatan, melainkan oleh rasa tanggung jawab menjaga gawang moralitas bangsa dan keharmonisan jamaah.

​Objektivitas kiai sepuh inilah yang menjadi obat bagi segala “kasak-kusuk” yang ada. Di pesantren, mereka mengajarkan bahwa kepatuhan kepada guru dan organisasi adalah bentuk pengabdian. Maka, ketika para kiai sepuh sudah turun tangan memberikan dawuh, seyogianya seluruh elemen dalam PBNU menundukkan ego masing-masing demi kemaslahatan yang lebih besar.
​Transformasi PBNU menuju organisasi modern yang profesional memang tidak bisa dihindari. Namun, modernitas tersebut tidak boleh mencabut akar tradisi pesantren. Keseimbangan antara gerak cepat birokrasi dan kedalaman petuah kiai adalah kunci utama. Tanpa restu dan arahan dari kiai sepuh, organisasi ini hanya akan menjadi sekumpulan angka tanpa ruh spiritualitas.

​Kesimpulannya, dinamika yang terjadi saat ini harus dimaknai sebagai proses pendewasaan. PBNU harus tetap menjadi oase di tengah gurun kegaduhan nasional. Dengan menjadikan kiai sepuh sebagai rujukan tertinggi dalam mengambil keputusan strategis, segala perbedaan pendapat akan menemukan titik temu yang indah.
​Mari kita jaga rumah besar ini dengan tetap mendengarkan suara dari langit—suara para kiai yang senantiasa mendoakan keselamatan umat. Keutuhan PBNU adalah jaminan bagi keberlangsungan moderasi beragama di Indonesia. Jika para kiai sepuh sudah bertindak sebagai penengah, maka tugas kita sebagai warga adalah sam’an wa tha’atan, mengawal keputusan tersebut demi kejayaan NU dan bangsa Indonesia.

Siap Tabayun dan Islah, Gus Yahya Beri Waktu 3×24 Jam Tunggu Respons Rais Aam

Surabaya, Berdampak.net – Merespons hasil ijtihad dan kesepakatan yang baru saja ditetapkan, Gus Yahya secara resmi menyampaikan dua poin taklimat sebagai bentuk sikap atas keputusan tersebut. Dalam pernyataannya, ia menegaskan keterbukaan untuk menjalani proses pemeriksaan serta keinginan kuat untuk menempuh jalan damai (islah).

​”Saya senantiasa terbuka untuk diperiksa dan ditabayunkan terhadap apa pun yang dituduhkan kepada saya, melalui cara apa pun, dengan menghadirkan semua bukti dan saksi yang diperlukan,” ujarnya dalam keterangan
tertulis, [Ahad/21/25].

​Ia menekankan bahwa sejak awal dirinya mengedepankan semangat perbaikan yang berlandaskan kebenaran.

“Saya siap bina al-haq, bina al-haq, bina al-haq, bukan bina al-batil,” tegasnya.
​Patuh pada Keputusan Organisasi
​Terkait keputusan yang dihasilkan oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), ia menyatakan sikap hormat dan patuh (taslim). Sikap ini mencakup kepatuhan terhadap hasil kesepakatan serta tafsir yang diberikan oleh para mustasyar (penasihat).

​Sebagai langkah konkret, ia mengaku telah berupaya menjalin komunikasi langsung dengan jajaran pimpinan tertinggi. Begitu kesepakatan PWNU dan PCNU diumumkan, ia segera mengirimkan pesan kepada Rais Aam untuk memohon waktu bertemu secara langsung.
​Menunggu Jawaban
​Meski telah mengajukan permohonan pertemuan, hingga saat ini pihak terkait belum memberikan jawaban. Ia menyatakan akan menunggu perkembangan lebih lanjut dalam waktu dekat.

​”Saya akan menunggu sampai 3 x 24 jam dan saya akan melaporkan hasilnya,” pungkasnya menutup taklimat tersebut.

​Langkah ini dipandang sebagai upaya untuk menjaga kondusivitas organisasi sekaligus memastikan bahwa proses penyelesaian masalah berjalan secara transparan dan sesuai dengan kaidah hukum serta tradisi pesantren.

Gus Yahya Ungkap Tiga Hak Prinsipil yang Harus Dijaga demi Marwah NU

Cirebon, Berdampak.net – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atau yang akrab disapa Gus Yahya, menegaskan pentingnya menjaga tiga hak mendasar dalam menjalankan roda organisasi dan kehidupan beragama. Hal ini disampaikannya saat bersilaturahmi dengan Majlis Kasepuhan Buntet Pesantren dan para kiai se-Jawa Barat di kediaman KH Adib Rofiuddin Izza, Cirebon, Senin (22/12).

​Dalam pertemuan tersebut, Gus Yahya mengungkapkan kegelisahan yang selama ini ia rasakan. Ia menekankan bahwa langkah-langkah yang diambilnya bukan semata-mata untuk pembelaan diri, melainkan untuk menjaga fondasi besar Nahdlatul Ulama.
​”Saya sampaikan ini dengan niat menjaga, bukan untuk membela diri. Karena bagi saya, merawat NU berarti menjaga keadilan, wibawa ulama, dan tertib yang kita sepakati bersama,” ujar Gus Yahya melalui keterangan tertulis di akun resmi media sosialnya.

​Tiga Hak yang Menjadi Pedoman
​Gus Yahya merinci tiga poin utama yang wajib dijaga oleh seluruh elemen di lingkungan jam’iyah:
​Hak Pribadi sebagai Ahlussyahadah: Ia menegaskan setiap individu berhak atas perlakuan yang adil, mendapatkan ruang untuk tabayyun (klarifikasi), serta kesempatan untuk memberikan penjelasan yang utuh.
​Hak Maqam Ulama: Menjaga kehormatan posisi ulama sangat krusial agar tuntunan syariat tetap dapat tersampaikan kepada umat secara berwibawa dan penuh martabat.
​Hak Jam’iyah: Gus Yahya mengingatkan bahwa NU berdiri di atas nidham atau aturan organisasi (AD/ART) yang telah disepakati melalui musyawarah. Tanpa kepatuhan terhadap aturan ini, organisasi akan kehilangan maknanya.

​Pertemuan di Buntet Pesantren ini menjadi momentum penting bagi jajaran pimpinan PBNU untuk menyerap aspirasi sekaligus menguatkan konsolidasi dengan para kasepuhan dan kiai di daerah, khususnya di wilayah Jawa Barat.

Bahasa Madura Diusulkan Jadi Muatan Lokal, JongMa Probolinggo Raya Siap Kawal Gerakan Pelestarian Bahasa Daerah

Probolinggo, Berdampak.net — Organisasi kepemudaan Jong Madura (JongMa) Probolinggo Raya menyatakan komitmennya untuk mengusulkan Bahasa Madura sebagai mata pelajaran muatan lokal di sekolah-sekolah. Usulan ini disampaikan dalam acara launching JongMa yang digelar di Wisma Dosen Universitas Nurul Jadid, Kamis (11/12/2025).

Ketua Umum JongMa, Ponirin Mika, menegaskan bahwa pelestarian bahasa daerah merupakan bagian penting dari menjaga jati diri dan budaya Madura. Menurutnya, banyak anak muda Madura yang mulai kehilangan kemampuan berbahasa Madura yang baik dan benar, khususnya dalam penggunaan bahasa halus.

Ponirin menyampaikan keprihatinannya terhadap fenomena tersebut. Ia menilai, kemampuan bahasa Madura halus adalah bentuk penghormatan kepada orang tua dan tokoh yang lebih tua. Ketika hal itu mulai hilang, maka perlahan-lahan tatanan adab ikut terkikis.

Ia juga menambahkan bahwa Bahasa Madura bukan sekadar media komunikasi, tetapi juga sarana pewarisan nilai, etika, dan filosofi hidup. Karena itu, penguatan bahasa daerah perlu dilakukan secara sistematis melalui pendidikan formal.

Dalam kesempatan itu, JongMa mengajak seluruh organisasi mahasiswa dan komunitas kepemudaan yang hadir untuk turut mengawal usulan tersebut. Ponirin menekankan pentingnya dukungan kolektif agar pemerintah daerah memberikan perhatian serius terhadap gagasan ini.

Menurutnya, jika Bahasa Madura masuk dalam muatan lokal, maka sekolah-sekolah dapat menyusun kurikulum yang lebih sesuai dengan kebutuhan generasi muda Madura saat ini. Mulai dari kosakata dasar, tata bahasa, hingga pengenalan ragam tingkat tutur.

Acara launching ini dihadiri oleh sejumlah pimpinan organisasi mahasiswa, komunitas literasi, serta tokoh pemuda dari berbagai perguruan tinggi di Probolinggo Raya. Mereka menyatakan dukungan terhadap langkah JongMa dalam memperjuangkan bahasa daerah.

Para peserta juga menilai bahwa revitalisasi Bahasa Madura perlu dilakukan secara lebih luas, tidak hanya melalui sekolah tetapi juga melalui kegiatan budaya dan ruang kreatif anak muda. Namun memasukkan bahasa Madura ke muatan lokal dinilai sebagai langkah strategis awal.

Ponirin berharap, setelah deklarasi ini, JongMa bersama para pemuda Madura dapat membentuk tim khusus untuk menyusun konsep naskah akademik sebagai dasar pengajuan resmi kepada pemerintah daerah. Tim tersebut juga akan melakukan kajian mendalam terkait kebutuhan dan metode pembelajaran.

Ia menegaskan bahwa JongMa tidak ingin sekadar menyuarakan wacana, tetapi akan menyiapkan langkah konkret agar usulan ini diterima dan diterapkan di sekolah-sekolah wilayah Probolinggo.

Selain fokus pada isu bahasa, launching JongMa juga mengukuhkan komitmen organisasi dalam bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi. Bahasa Madura menjadi salah satu pintu masuk untuk memperkuat identitas pemuda Madura dalam peradaban global. (pm)

JongMa Dideklarasikan, Tegaskan Komitmen Pemuda Madura Bergerak di Keilmuan, Sosial, dan Ekonomi

Probolinggo, Berdampak.net – Organisasi kepemudaan Jong Madura (JongMa) Probolinggo Raya resmi dilaunching pada Kamis (11/12/25). Acara peluncuran yang berlangsung sederhana namun khidmat ini menandai dimulainya gerakan baru bagi para pemuda Madura di wilayah Probolinggo. Kehadiran JongMa diharapkan dapat menjadi wadah strategis untuk memperkuat solidaritas dan kontribusi kaum muda dalam berbagai sektor.

Ketua JongMa Probolinggo Raya, Ponirin Mika, menyampaikan bahwa pembentukan organisasi ini bertujuan menyatukan para pemuda Madura yang selama ini bergerak di berbagai komunitas kecil. Menurutnya, JongMa hadir sebagai ruang kolaborasi untuk membangun kekuatan bersama dalam memajukan masyarakat. Ia menegaskan bahwa kebersamaan adalah kunci utama keberhasilan perjuangan ke depan.

Dalam keterangannya, Ponirin menegaskan bahwa JongMa tidak hanya fokus pada perkumpulan pemuda, melainkan juga siap bergerak pada berbagai bidang strategis. Bidang keilmuan, pendidikan, sosial, dan ekonomi menjadi empat pilar utama yang akan menjadi fokus gerak organisasi. Empat pilar itu dinilai mampu menjawab tantangan masyarakat modern yang menuntut kolaborasi lintas sektor.

Ponirin juga menyoroti pentingnya kesolidan pengurus dalam tahap awal pembentukan organisasi. Ia menyebut bahwa JongMa merupakan organisasi yang baru berdiri sehingga membutuhkan kohesi internal yang kuat. Dengan soliditas kepengurusan, ia meyakini JongMa dapat tumbuh menjadi organisasi pemuda yang berpengaruh di Probolinggo Raya.

Selain itu, Ponirin berharap para pengurus tidak hanya hadir secara formal, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak dalam setiap program yang dirancang. Ia meminta seluruh elemen JongMa untuk terlibat aktif, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan kegiatan. Menurutnya, komitmen kolektif akan menentukan arah dan masa depan organisasi.

Ponirin juga menegaskan bahwa JongMa merupakan wadah bagi anak-anak muda yang memiliki idealisme besar untuk kemajuan masyarakat. Melalui energi dan kreativitas pemuda, ia percaya JongMa dapat menyumbangkan gagasan dan kerja nyata bagi perubahan sosial. “Kita ingin hadir sebagai pemuda yang memikirkan nasib orang banyak,” ujarnya.

Gerakan JongMa juga disebut Ponirin terinspirasi oleh tradisi keilmuan dan kemandirian yang diwariskan oleh para ulama Madura, khususnya Kiai Kholil Bangkalan. Warisan pemikiran dan perjuangan Kiai Kholil menjadi spirit utama dalam pengembangan gerakan intelektual dan sosial JongMa. Semangat tersebut akan diwujudkan melalui program Ngaji Warisan Kiai Kholil.

Program Ngaji Warisan Kiai Kholil merupakan salah satu agenda unggulan JongMa yang akan dibuka untuk publik. Program ini berfokus pada pengkajian nilai-nilai keislaman, kemandirian, dan kepemimpinan yang menjadi karakter khas masyarakat Madura. Melalui program ini, JongMa ingin menghadirkan ruang belajar yang relevan bagi generasi muda.

Kegiatan ngaji tersebut sekaligus diproyeksikan untuk memperkuat identitas kultural pemuda Madura di tengah perubahan sosial yang cepat. Ponirin menyampaikan bahwa identitas budaya merupakan fondasi penting bagi pemuda agar tidak kehilangan arah dalam perkembangan zaman. JongMa berupaya menjaga nilai tradisi dalam format yang modern dan progresif.

Hadir dalam launching tersebut, Humas Madas Probolinggo, Achmad Afandi, memberikan apresiasi atas terbentuknya JongMa. Ia mengatakan bahwa organisasi ini memiliki potensi besar menjadi wadah penguatan SDM Madura di Probolinggo Raya. Menurutnya, kolaborasi antarkomunitas Madura sangat penting untuk meningkatkan kualitas peran pemuda.

Afandi juga menilai bahwa JongMa dapat menjadi mitra strategis bagi organisasi dan lembaga lain dalam menjalankan program sosial dan pendidikan. Ia berharap JongMa mampu membangun jaringan yang luas dan mampu bekerja secara profesional. Dukungan dari berbagai pihak, katanya, akan menjadi dorongan bagi JongMa untuk terus berkembang.

Dengan diresmikannya JongMa Probolinggo Raya, para pengurus dan simpatisan berharap organisasi ini dapat segera menjalankan program-program jangka pendek dan jangka panjang. JongMa diharapkan menjadi ruang besar bagi generasi muda untuk berkreasi, berdiskusi, dan berkontribusi nyata dalam masyarakat. Peluncuran ini menjadi langkah awal untuk menghadirkan gerakan pemuda Madura yang lebih solid, visioner, dan berdaya saing. (pm)