Gempa M 7,7 Guncang NTT, PENA HIJAU Sampaikan Duka Mendalam, Soroti Pentingnya Tata Ruang Berbasis Risiko

Probolinggo, Berdampak.net — Komunitas Pemuda Nusantara Peduli Lingkungan Hijau (PENA HIJAU) menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas musibah gempa bumi tektonik bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bencana yang terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026 tersebut menyisakan duka bagi masyarakat terdampak.

Koordinator sekaligus Founder PENA HIJAU, Taufiqur Rohim, menyatakan simpati dan keprihatinannya atas musibah yang menimpa warga Flores dan sekitarnya.

“Kami turut prihatin dan berbelasungkawa sedalam-dalamnya atas kejadian gempa bumi yang terjadi di Nusa Tenggara Timur,” ujar Taufiq dalam keterangan tertulisnya.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa bumi M 7,7 tersebut dipicu oleh pergerakan sesar naik (thrust fault) di bagian utara Flores. Menanggapi fenomena tersebut, Taufiq menekankan pentingnya evaluasi penataan ruang serta penguatan mitigasi bencana jangka panjang dari kacamata lingkungan.

“Dari sudut pandang lingkungan dan mitigasi, bencana ini menjadi riminder bagi kita bersama, bahwa pentingnya tata ruang berbasis risiko serta daya dukung lingkungan pesisir, maka dari itu, pemerintah melalui kementerian PU dan instansi terkait harus memperketat audit tata letak fasilitas publik serta infrastruktur jalan yang rentan terhadap retakan tanah dan longsoran akibat guncangan,” jelasnya.

Di akhir peryataannya, Taufiq mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk bersatu dan memberikan dukungan nyata bagi para korban di NTT agar dapat segera bangkit pascabencana.

“Mari kita bersama-sama bahu membahu membantu saudara-saudara kita di NTT, agar mereka bisa kembali survive pasca kejadian gempa bumi yang melanda,” tutupnya.

Aksi Lanjutan, Komunitas PENA HIJAU Gelar Clean Up River Tahap Dua di Sungai Karanganyar Paiton

PROBOLINGGO, Berdampak.net – Komunitas Pemuda Nusantara Peduli Lingkungan Hijau (PENA HIJAU) kembali menunjukkan komitmennya terhadap kelestarian alam melalui aksi clean up river tahap dua di aliran sungai Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo. Kegiatan gotong royong ini berfokus pada pembersihan tumpukan sampah yang mencemari aliran sungai setempat.

Koordinator PENA HIJAU, Taufiqur Rohim, menjelaskan bahwa pembersihan sungai ini perlu dilakukan secara bertahap mengingat volume sampah yang cukup besar serta keterbatasan armada dan tenaga yang mereka miliki.

“Ini merupakan aksi clean up river lanjutan yang kami laksanakan di sungai yang berada di Desa Karanganyar. Karena keterbatasan tenaga hingga peralatan yang kami miliki dan banyaknya sampah yang ada di sungai tersebut, tidak mungkin kita laksanakan selama sekali aksi, maka dari itu kita lanjutkan pada hari ini,” terang Taufiq.

Dalam aksi lingkungan ini, PENA HIJAU juga bersinergi dengan pemerintah daerah. Seluruh sampah yang berhasil dikumpulkan dari area sungai langsung ditangani oleh dinas terkait untuk dibuang ke tempat pemrosesan akhir.

“Pada aksi clean up pertama di sungai ini, hasil sampahnya sudah diangkut oleh truk milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Probolinggo menuju TPS. Begitupun dengan sampah yang berhasil kita angkat dari sungai hari ini, juga akan diangkut oleh truk milik DLH,” lanjutnya.

Aksi yang memicu perhatian warga sekitar ini mendapat respons positif dari pemuda lokal. Kehadiran para pemuda setempat turut mempercepat proses pembersihan, sekaligus menjadi momentum untuk menanamkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan.

“Kendati kita minim tenaga dan peralatan, kita bersyukur banyak pemuda-pemuda setempat yang sadar akan lingkungan dan ikut membantu kami dalam melakukan clean up. Kami juga sedikit menyampaikan edukasi kepada mereka bahwasanya sungai bukan tempat sampah,” tambah Taufiq.

Melalui gerakan ini, PENA HIJAU berharap masyarakat semakin tergerak untuk mengubah kebiasaan membuang sampah sembarangan dan bersama-sama merawat aliran sungai agar tetap bersih dan berfungsi sebagaimana mestinya.

“Semoga dengan aksi kecil yang kami lakukan ini akan menumbuhkan kembali kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan, dengan tidak membuang sampah di sungai. Karena sejatinya sungai bukan tempat sampah,” pungkasnya. (rd)

Kenal Pamit Kapolres Probolinggo, AKBP Muh. Wahyudin Latif Akhiri Masa Tugas, AKBP Asmida Rizki Siregar Siap Lanjutkan Pengabdian

Probolinggo, Berdampak.net – Suasana haru bercampur hangat menyelimuti acara kenal pamit Kapolres Probolinggo yang menandai berakhirnya masa pengabdian AKBP Muh. Wahyudin Latif sekaligus penyambutan AKBP Asmida Rizki Siregar sebagai Kapolres Probolinggo yang baru. Momentum pergantian kepemimpinan tersebut dihadiri Bupati Probolinggo dr. Muhammad Haris, Wakil Bupati Probolinggo Fahmi AHZ, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), unsur TNI, pimpinan instansi vertikal, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta berbagai elemen masyarakat.

Bagi AKBP Muh. Wahyudin Latif, acara tersebut bukan sekadar seremoni pergantian jabatan. Di hadapan para tamu undangan, ia mengenang perjalanan pengabdiannya selama satu tahun enam belas hari memimpin Polres Probolinggo. Dengan rendah hati, ia mengaku merasa belum banyak memberikan yang terbaik bagi Kabupaten Probolinggo. Namun, satu hal yang akan selalu dibawanya adalah hangatnya persaudaraan yang terjalin selama bertugas.

“Selama satu tahun enam belas hari mengabdi di Kabupaten Probolinggo, kami merasa belum banyak yang bisa kami berikan. Namun yang kami rasakan justru begitu banyak kebersamaan, kehangatan, dan persaudaraan yang terjalin. Hal itu akan menjadi kenangan yang tidak akan pernah kami lupakan,” ungkapnya.

AKBP Muh. Wahyudin Latif selanjutnya dipercaya mengemban amanah sebagai Kapolres Kediri. Ia menyampaikan bahwa pengalaman bertugas di Kabupaten Probolinggo akan menjadi bekal berharga dalam menjalankan tugas di wilayah yang baru.

Dalam kesempatan itu, ia juga memohon doa, dukungan, dan masukan dari Bupati Probolinggo dr. Muhammad Haris, Wakil Bupati Probolinggo Fahmi AHZ, Forkopimda, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta seluruh warga Kabupaten Probolinggo agar dapat terus mengemban amanah dengan penuh tanggung jawab.

Mengakhiri sambutannya, AKBP Muh. Wahyudin Latif menyampaikan permohonan maaf apabila selama memimpin Polres Probolinggo masih terdapat kekurangan maupun kebijakan yang belum sepenuhnya memenuhi harapan masyarakat.

“Atas nama pribadi dan keluarga, kami mengucapkan terima kasih atas perhatian, kebersamaan, dan sinergi yang telah terjalin selama ini. Kami juga memohon maaf apabila selama menjalankan amanah masih terdapat kekurangan. Semoga tali silaturahmi dan persaudaraan ini tetap terjaga meski kami bertugas di tempat yang baru,” tuturnya.

Sementara itu, Kapolres Probolinggo yang baru, AKBP Asmida Rizki Siregar, menyatakan kesiapannya untuk melanjutkan berbagai program dan capaian yang telah dibangun sebelumnya. Ia menegaskan pentingnya memperkuat kolaborasi antara Polri, Pemerintah Kabupaten Probolinggo, TNI, Forkopimda, serta seluruh elemen masyarakat guna menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat secara berkelanjutan.

Pada kesempatan yang sama, Bupati Probolinggo dr. Muhammad Haris menyampaikan apresiasi atas dedikasi AKBP Muh. Wahyudin Latif selama memimpin Polres Probolinggo. Menurutnya, sinergi yang terjalin antara Polres Probolinggo dan Pemerintah Kabupaten Probolinggo telah memberikan kontribusi nyata dalam menjaga stabilitas keamanan dan mendukung berbagai program pembangunan daerah.

Ia juga menyambut kehadiran AKBP Asmida Rizki Siregar sebagai Kapolres Probolinggo yang baru. Bupati berharap kolaborasi yang telah terbangun selama ini dapat terus diperkuat demi menghadirkan pelayanan terbaik kepada masyarakat dan menciptakan situasi kamtibmas yang aman, nyaman, dan kondusif.

Acara kenal pamit ditutup dengan pemberian cinderamata, ucapan selamat, serta ramah tamah yang berlangsung dalam suasana penuh keakraban. Pergantian kepemimpinan tersebut menjadi simbol berlanjutnya estafet pengabdian Polri kepada masyarakat, sekaligus mempertegas komitmen bersama antara kepolisian, pemerintah daerah, dan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga Kabupaten Probolinggo tetap aman, damai, dan kondusif.

Peduli Lingkungan, Komunitas PENA HIJAU Gelar Aksi Clean Up River di Kotaanyar Probolinggo

PROBOLINGGO, Berdampak.net — Kelompok pemuda yang tergabung dalam Komunitas Pemuda Nusantara Peduli Lingkungan Hijau (PENA HIJAU) menggelar aksi clean up river (bersih-bersih sungai) di wilayah Kecamatan Kotaanyar, Kabupaten Probolinggo, Senin sore (27/07/2026). Aksi tanggap lingkungan ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian nyata para generasi muda terhadap kondisi sungai yang kian tertutup tumpukan sampah.
Koordinator PENA HIJAU, Taufiqur Rohim, menegaskan bahwa gerakan ini lahir murni dari inisiatif dan keprihatinan para pemuda melihat banyaknya sampah yang mencemari aliran sungai.

“Kegiatan ini murni bentuk kepedulian pemuda terhadap lingkungan, terlebih, banyak sungai yang dipenuhi oleh sampah, maka dari itu kami berinisiatif membersihkan sampah-sampah yang ada di sungai,” ujar Taufiqur Rohim di sela-sela aksi.

Aksi di Kotaanyar ini bukanlah gerakan sekali jalan. Taufiq menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan titik awal dari rangkaian aksi bersih-bersih sungai berkelanjutan yang menyasar beberapa Kecamatan lain di wilayah Kabupaten Probolinggo. Serta pemantauan berkala akan terus dilakukan pada sungai-sungai yang telah dibersihkan agar kondisi kebersihannya tetap terjaga.

“Sungai di Kecamatan Kotaanyar ini adalah sungai pertama yang kami lakukan clean up, dan kedepan InsyaAllah kita akan lakukan hal serupa di sungai-sungai yang ada di Kecamatan Paiton, Kotaanyar dan Pakuniran, rencana kegiatan kita lakukan dalam seminggu sekali, dan InsyaAllah setiap satu minggu, kita akan terus lakukan pemantauan terhadap sungai-sungai yang sudah kita lakukan clean up,” tambah Taufiq.

PENA HIJAU berharap aksi nyata ini tidak hanya membebaskan sungai dari sumbatan sampah, tetapi juga mampu menggugah kesadaran warga sekitar untuk lebih menghargai ekosistem perairan lokal.

“Semoga kegiatan ini memberikan dampak yang positif serta membangun kesadaran masyarakat untuk tidak menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah, dan juga semoga ada kelompok-kelompok masyarakat lain yang juga membersamai kami dalam menjaga sungai dari sampah-sampah,” tutupnya penuh harap. (rd)

Perundungan di Lumajang: Ketika Sekolah Kehilangan Rasa Aman

Kasus dugaan perundungan terhadap seorang siswa di Lumajang kembali membuka mata publik bahwa persoalan kekerasan di lingkungan pendidikan belum benar-benar selesai. Di tengah berbagai program penguatan karakter, pendidikan moral, dan kampanye sekolah ramah anak, kenyataannya masih ada peserta didik yang diduga menjadi korban tindakan yang seharusnya tidak pernah terjadi di lingkungan pendidikan. Peristiwa seperti ini bukan sekadar menjadi berita sesaat, tetapi harus menjadi alarm bagi semua pihak untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh.

Sekolah pada hakikatnya merupakan tempat membentuk generasi yang berilmu, berkarakter, dan berakhlak. Namun, apabila seorang siswa justru merasa takut datang ke sekolah karena ancaman, intimidasi, atau perlakuan tidak manusiawi dari teman sebayanya, maka ada sesuatu yang perlu dibenahi dalam sistem pengawasan maupun budaya yang berkembang di lingkungan sekolah. Pendidikan tidak hanya diukur dari tingginya nilai akademik, tetapi juga dari sejauh mana sekolah mampu menghadirkan rasa aman bagi seluruh peserta didik.

Perundungan bukanlah kenakalan remaja yang layak dimaklumi. Anggapan bahwa tindakan tersebut adalah bagian dari proses pendewasaan justru menjadi penyebab mengapa banyak kasus berulang. Kalimat seperti “namanya juga anak-anak”, “hanya bercanda”, atau “biar kuat mentalnya” sudah seharusnya ditinggalkan. Candaan yang membuat orang lain terluka bukan lagi candaan, melainkan bentuk kekerasan yang dapat berdampak panjang terhadap kesehatan mental korban.

Dampak perundungan sering kali tidak terlihat secara langsung. Luka fisik mungkin dapat sembuh dalam hitungan minggu, tetapi luka batin dapat bertahan bertahun-tahun. Korban dapat mengalami trauma, kehilangan rasa percaya diri, menarik diri dari lingkungan sosial, mengalami penurunan prestasi belajar, bahkan dalam kondisi tertentu kehilangan harapan terhadap masa depannya. Hal-hal seperti ini tidak boleh dipandang sebagai persoalan sepele.

Di sisi lain, penanganan terhadap pelaku juga perlu dilakukan secara bijaksana. Apabila terbukti melakukan perundungan, tentu harus ada konsekuensi sesuai aturan yang berlaku. Namun, pembinaan tetap menjadi bagian penting agar perilaku tersebut tidak terulang. Pendidikan sejatinya bukan hanya menghukum, tetapi juga membentuk karakter agar kesalahan menjadi pelajaran untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Kasus di Lumajang juga menjadi cerminan bahwa pencegahan perundungan tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah. Orang tua memiliki peran besar dalam membentuk karakter anak sejak dini. Mengajarkan empati, menghormati perbedaan, mengendalikan emosi, dan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan harus dimulai dari lingkungan keluarga. Anak yang tumbuh dalam komunikasi yang sehat cenderung lebih mampu menghargai orang lain dibandingkan mereka yang terbiasa menyelesaikan masalah dengan intimidasi atau kekerasan.

Masyarakat pun memiliki tanggung jawab yang sama. Budaya diam ketika melihat perundungan harus diakhiri. Setiap orang yang mengetahui adanya tindakan perundungan seharusnya memiliki keberanian untuk melapor melalui mekanisme yang tersedia. Diam demi menjaga citra atau menghindari konflik justru dapat memperpanjang penderitaan korban. Keberanian untuk peduli adalah langkah awal menciptakan lingkungan yang lebih aman.

Meski demikian, dalam menyikapi kasus yang sedang menjadi perhatian publik, masyarakat juga perlu mengedepankan asas praduga tak bersalah. Seluruh proses penanganan harus menghormati mekanisme hukum dan hasil penyelidikan yang dilakukan oleh pihak berwenang. Opini publik tidak boleh menggantikan proses pembuktian. Semua pihak berhak mendapatkan perlakuan yang adil sesuai ketentuan yang berlaku.

Kasus ini semestinya menjadi momentum untuk memperkuat sistem perlindungan anak di lingkungan pendidikan. Sekolah perlu memiliki mekanisme pelaporan yang mudah diakses, perlindungan bagi korban dan saksi, serta tindak lanjut yang cepat ketika ada dugaan perundungan. Sosialisasi mengenai bahaya perundungan juga harus dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya ketika terjadi kasus yang viral.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kelulusan, prestasi, atau banyaknya piala yang diraih siswa. Keberhasilan pendidikan juga diukur dari kemampuan sekolah melahirkan generasi yang menghargai sesama, menjunjung nilai kemanusiaan, dan menolak segala bentuk kekerasan. Kasus dugaan perundungan di Lumajang hendaknya menjadi pelajaran berharga agar seluruh elemen masyarakat semakin serius membangun lingkungan pendidikan yang aman, berkeadilan, dan benar-benar berpihak pada kepentingan terbaik bagi setiap anak.

Takmir Masjid Al Hikmah Kota Probolinggo Salurkan Santunan bagi Anak Yatim dan Dhuafa dalam Momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriah

Kota Probolinggo, 27 Juni 2026 – Dalam semangat memperingati Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, Takmir Masjid Al Hikmah yang berlokasi di Jalan Ir. Juanda, Kota Probolinggo, kembali menyelenggarakan kegiatan santunan bagi anak yatim dan kaum dhuafa pada Sabtu (27/6/2026). Kegiatan ini merupakan agenda rutin tahunan yang menjadi bagian dari komitmen masjid dalam memperkuat kepedulian sosial dan semangat berbagi kepada masyarakat.

Santunan diberikan kepada dua puluh anak yatim dan sebelas warga dhuafa di lingkungan sekitar masjid. Selain penyerahan bantuan, kegiatan juga diisi dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ustadz Rahmat dan tausiyah oleh Wakil Ketua Umum MUI yang juga Ketua FKUB Kota Probolinggo Dr. KH. Ahmad Hudri, ST., MAP. yang mengajak jamaah untuk menjadikan momentum Tahun Baru Islam sebagai sarana muhasabah, memperkuat keimanan, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama.

Ketua Takmir Masjid Al Hikmah H. Ismail menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi nyata dari ajaran Islam yang menekankan pentingnya kasih sayang, solidaritas, dan kepedulian terhadap kelompok masyarakat yang membutuhkan.

“Tahun Baru Islam bukan sekadar pergantian kalender Hijriah, tetapi menjadi momentum untuk memperbarui semangat hijrah menuju kehidupan yang lebih baik. Salah satu wujudnya adalah meningkatkan kepedulian sosial melalui berbagi kebahagiaan dengan anak yatim dan kaum dhuafa,” ujarnya.

Menurutnya, santunan yang rutin dilaksanakan setiap tahun ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata sekaligus mempererat hubungan antara masjid dan masyarakat. Takmir Masjid Al Hikmah juga mengapresiasi para donatur, jamaah, dan seluruh pihak yang telah berpartisipasi sehingga kegiatan dapat terlaksana dengan baik.

Melalui kegiatan ini, Masjid Al Hikmah terus berupaya meneguhkan fungsinya bukan hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan umat, penguatan ukhuwah Islamiyah, dan pelayanan sosial kemasyarakatan.

Takmir Masjid Al Hikmah berharap semangat berbagi dan kepedulian yang ditunjukkan dalam momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriah dapat menginspirasi semakin banyak pihak untuk bersama-sama membangun masyarakat yang lebih peduli, harmonis, dan penuh keberkahan.

Dalam acara tersebut juga digelar berbagai tarian dan puisi yang bernafaskan Islam yang ditampilkan oleh santriwan dan santriwati TPQ Masjid Al Hikmah. Selain itu TPQ Masjid Al Hikmah juga menyerahkan penghargaan kepada santri berprestasi sebagai apresiasi atas prestasinya.