Media Berdampak dan Pemkot Probolinggo Perkuat Sinergi Lewat Pelatihan Jurnalistik

Probolinggo.Berdampak.net – Media online Berdampak.net bekerja sama dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Probolinggo menggelar pelatihan manajemen konflik jurnalistik dan etika dasar kejurnalistikan. Acara ini berlangsung khidmat di Gedung Ayam Wuruk, Kota Probolinggo, pada Selasa (28/04/26).

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas aparatur pemerintah dalam mengelola informasi publik. Fokus utama pelatihan adalah memberikan pemahaman mendalam mengenai cara menghadapi dinamika pemberitaan dan penerapan kode etik jurnalistik.

Ketua Panitia, Fajar Satrio Wibowo, dalam sambutannya menekankan betapa krusialnya pelatihan ini bagi para pengelola informasi. Menurutnya, setiap instansi pemerintah wajib memiliki kemampuan komunikasi yang mumpuni untuk menjembatani pesan kepada publik.

Fajar menyebutkan bahwa bagian humas di setiap instansi merupakan ujung tombak pemerintah dalam menyampaikan program kerja. Oleh karena itu, kemampuan teknis jurnalistik menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar lagi di era keterbukaan informasi.

“Kegiatan Pemerintah Kota Probolinggo selama ini sudah sangat bagus. Hal tersebut perlu didukung dengan penyampaian informasi yang tepat agar sampai dan dipahami oleh masyarakat luas,” tandas Fajar.

Acara dipandu oleh Poinirin Mika yang bertindak sebagai moderator. Dalam pengantarnya, ia menyoroti fenomena membanjirnya informasi di media sosial yang seringkali membingungkan masyarakat terkait kebenaran isinya.

Poinirin mengingatkan bahwa masyarakat sering sulit membedakan antara fakta dan hoaks yang tersebar masif. Hal ini menjadi tantangan besar bagi praktisi komunikasi pemerintah untuk tetap berdiri di atas kebenaran data.

Ia juga menegaskan bahwa tidak semua informasi yang beredar di jagat maya dapat dikategorikan sebagai berita. Sebuah informasi baru bisa disebut berita jika telah memenuhi unsur-unsur jurnalistik yang ketat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sesi materi pertama diisi oleh Ali Mashudi yang membahas mengenai urgensi memahami algoritma informasi. Ia menjelaskan bahwa di era digital, arus berita sangat sulit untuk dibendung sehingga memerlukan respon yang cepat dari pemangku kebijakan.

Ali menekankan agar para pejabat di setiap instansi memiliki kepekaan dan ketangkasan dalam menanggapi sebuah isu. Ketidaksiapan dalam merespons informasi dapat memicu opini negatif yang berkembang liar di masyarakat.

“Wartawan itu membutuhkan kejujuran. Jika para pemimpin yang memiliki masalah kemudian berlarut-larut dalam memberikan klarifikasi, maka masalah tersebut justru akan semakin panjang dan melebar,” tutur Ali.

Selanjutnya, Rahmad Hidayat dari Sahabat Lensa hadir sebagai penyaji kedua dengan materi etika konten digital. Ia mengajak para peserta untuk lebih bijak dan berhati-hati dalam memproduksi konten di media sosial milik instansi.

Rahmad mengingatkan bahwa pembuatan konten tidak boleh hanya didasarkan pada keinginan pribadi atau tren semata. Aspek empati dan penghormatan terhadap hak orang lain harus tetap menjadi prioritas utama.

“Konten yang bijak adalah konten yang tidak menyalahi norma-norma yang berlaku. Kita harus memperhatikan dampak sosial dari setiap unggahan yang kita buat,” tegas Rahmad di hadapan para peserta.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Probolinggo Rey Suwigtyo menutup rangkaian sambutan dengan memberikan apresiasi tinggi kepada Media Berdampak. Ia menilai inisiatif ini sangat membantu pemerintah dalam meningkatkan kualitas pelayanan informasi publik yang lebih profesional dan bermartabat

Ngaji Budaya Serap Aspirasi Seniman, Arah Kebudayaan Probolinggo Diperkuat

Probolingg.Berdampak.net– Momentum Hari Jadi Kabupaten Probolinggo (Harjakapro) ke-280 dimanfaatkan sebagai ruang refleksi sekaligus konsolidasi kebudayaan. Dewan Kebudayaan bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo menggelar forum “Ngaji Budaya” di Alun-alun Kraksaan, Kamis (23/4/2026) malam.
Forum ini menjadi titik temu para seniman, budayawan, dan pemangku kebijakan untuk membicarakan arah pengembangan kebudayaan daerah. Puluhan pelaku seni dari berbagai wilayah hadir, menyampaikan gagasan hingga keluhan yang selama ini dihadapi di lapangan.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikdaya Kabupaten Probolinggo, Akhmad Arief Hermawan, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan langkah konkret untuk menyerap aspirasi secara langsung.
“Ngaji Budaya kami hadirkan sebagai ruang dialog terbuka. Aspirasi dari para seniman akan menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan kebudayaan yang lebih kontekstual dan tepat sasaran,” ujarnya.
Diskusi berlangsung hangat dan dinamis. Sejumlah isu strategis mengemuka, mulai dari perlunya arah kebijakan yang lebih terstruktur, dukungan berkelanjutan bagi pelaku seni, hingga penguatan kolaborasi antara pemerintah daerah dan Dewan Kebudayaan.
Para peserta juga menyoroti pentingnya skema dukungan ekonomi bagi seniman. Selama ini, keterbatasan akses pendanaan dinilai masih menjadi kendala utama dalam menjaga produktivitas dan keberlanjutan karya.
Selain itu, sinergi kelembagaan menjadi sorotan penting. Arief menekankan bahwa kerja sama yang solid antara Disdikdaya dan Dewan Kebudayaan merupakan kunci dalam membangun ekosistem seni yang sehat dan berdaya.
“Apa yang disampaikan malam ini akan kami jadikan bahan evaluasi serius untuk perbaikan program ke depan,” tambahnya.
Dalam forum tersebut, muncul pula aspirasi mendesak terkait percepatan pelantikan pengurus Dewan Kebudayaan Kabupaten Probolinggo. Para seniman menilai, legalitas formal lembaga tersebut sangat penting agar mampu bergerak lebih efektif dalam mengawal program kebudayaan.
Menanggapi hal itu, Arief memastikan bahwa aspirasi tersebut akan menjadi perhatian pemerintah daerah.
“Pelantikan Dewan Kebudayaan menjadi bagian penting agar lembaga ini memiliki legitimasi kuat dalam menjalankan perannya,” tegasnya.
Melalui forum “Ngaji Budaya”, diharapkan lahir arah baru kebijakan kebudayaan yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berpihak pada pelaku seni lokal. Pemerintah daerah pun dituntut tidak hanya hadir sebagai fasilitator, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam memajukan kebudayaan di Kabupaten Probolinggo.

Pemkab Probolinggo Ajak KAHMI Kolaborasi Wujudkan Visi ‘Probolinggo SAE

Probolinggo.berdampak.net – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo mengajak Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MD KAHMI) untuk memperkuat sinergi dalam pembangunan daerah. Hal ini ditegaskan dalam acara Halal Bihalal Presidium KAHMI yang digelar di Ruang Tengger, Kantor Bupati Probolinggo, Rabu (22/04/2026).

Wakil Bupati Probolinggo, Ra Fahmi AHZ, dalam sambutannya memberikan apresiasi tinggi terhadap soliditas yang ditunjukkan pengurus KAHMI. Ia menekankan bahwa tantangan pembangunan yang semakin kompleks menuntut adanya kolaborasi lintas sektor, terutama dari kalangan intelektual.

Menanggapi ajakan tersebut, Presidium MD KAHMI Kabupaten Probolinggo, Arief Hermawan, menyatakan kesiapannya. Menurut Arief, kekuatan utama KAHMI terletak pada sebaran kadernya yang menduduki posisi strategis di berbagai lini kehidupan.

“Kader kita ada di hampir semua sektor. Tinggal bagaimana kita menghubungkan potensi itu. Kekuatan organisasi bukan sekadar pada struktur, tetapi pada peran nyata individu di dalamnya,” ujar Arief.

Hal senada disampaikan Presidium MW KAHMI Jawa Timur, Agus Mahfudz. Ia mengingatkan bahwa KAHMI memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan masukan strategis secara berkelanjutan kepada pemerintah, bukan hanya saat momentum seremonial saja.

Suasana acara semakin akrab dengan kehadiran Bupati Probolinggo, Muhammad Haris, yang tiba selepas membuka agenda TMMD 128. Dalam arahannya, Gus Haris—sapaan akrabnya—kembali menggarisbawahi pentingnya semangat gotong royong untuk mencapai visi daerah.

Bupati meyakini bahwa visi Probolinggo SAE akan lebih cepat terakselerasi jika seluruh elemen masyarakat, termasuk KAHMI, bergerak beriringan dengan pemerintah.

“Kalau semua potensi ini bisa disinergikan, saya yakin Probolinggo bisa melompat lebih jauh. Kita membangun daerah ini tidak bisa sendiri-sendiri,” pungkas Gus Haris di hadapan para tokoh intelektual tersebut.

Pertemuan ini diharapkan menjadi titik awal komunikasi yang lebih intensif antara akademisi, praktisi di bawah naungan KAHMI, dan pihak eksekutif demi kemajuan Kabupaten Probolinggo ke depan.

Genderang Perang Terbuka: Menguji Ketangguhan “Benteng” Gus Yahya

Oleh: Ponirin Mika
(Pengamat Sosial Keagamaan dan Politik)

Acara halal bihalal Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) baru-baru ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi. Di balik tawa dan jabat tangan, terselip narasi politik yang tajam dan vulgar. Statemen yang dilontarkan oleh tokoh-tokoh sentral seperti Muhaimin Iskandar, Nusron Wahid, dan Nasaruddin Umar memberikan sinyal kuat bahwa ada poros kekuatan baru yang sedang dikonsolidasikan untuk menjadi bagian daripada kegiatan muktamar NU mendatang.


Sinyalemen ini terbaca jelas sebagai upaya sistematis untuk menghalangi KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dalam melanjutkan kepemimpinannya sebagai Ketua Umum PBNU untuk periode kedua. Serangan yang dilancarkan bukan lagi berupa sindiran halus khas pesantren, melainkan sudah memasuki ranah konfrontasi terbuka yang sangat eksplisit. Hal ini menandakan bahwa suhu politik di internal nahdliyin sedang mengalami pemanasan dini.


Keterlibatan Muhaimin Iskandar dalam barisan ini tentu memiliki latar belakang historis dan politis yang panjang. Ketegangan antara PBNU di bawah kendali Gus Yahya dengan PKB telah menjadi rahasia umum. Upaya Gus Yahya untuk “mengembalikan NU ke khittah” dan menjauhkan organisasi dari tarikan politik praktis partai tertentu dirasa sebagai ancaman eksistensial bagi gerbong politik Cak Imin.


Di sisi lain, kehadiran sosok seperti Nusron Wahid dan Nasaruddin Umar dalam gerbong kritik ini menambah bobot seakan makin nampak perlawanan tersebut. Nusron, dengan jaringan politiknya yang luas, serta Nasaruddin Umar yang memiliki pengaruh intelektual dan spiritual, menunjukkan bahwa poros ini tidak hanya mengandalkan massa, tetapi juga pengaruh struktural dan kultural di berbagai lini kekuasaan.


Statemen yang muncul dalam acara tersebut seolah menjadi pengumuman “perang terbuka”. Dalam tradisi NU, perbedaan pendapat adalah hal lumrah, namun ketika narasi yang dibangun sudah menjurus pada upaya pendelegitiman kepemimpinan sebelum masa khidmat berakhir, ini menunjukkan adanya pergeseran pola komunikasi politik yang lebih agresif dan frontal.


NU memang selalu menjadi rumah besar yang memiliki daya magnet luar biasa. Sebagai organisasi massa terbesar, NU bukan hanya sekadar wadah keagamaan, tetapi juga episentrum kekuatan politik yang diperebutkan. Siapapun yang memegang kendali di PBNU secara otomatis memiliki daya tawar yang sangat tinggi di hadapan negara dan para aktor politik nasional.


Gus Yahya, sebagai figur utama yang menjadi sasaran, memiliki tipologi kepemimpinan yang unik. Ia bukanlah tipikal pemimpin yang menyerang secara membabi buta tanpa perhitungan. Sebaliknya, Gus Yahya cenderung menggunakan strategi bertahan yang kokoh, sembari sesekali melancarkan serangan balik yang presisi dan mematikan pada momentum yang tepat.


Ketangguhan Gus Yahya telah teruji dalam berbagai upaya “penggulingan” atau makar organisasi yang sempat berembus sebelumnya. Ia mampu menavigasi konflik dengan ketenangan seorang diplomat, namun memiliki ketegasan seorang eksekutor. Pengalamannya di dunia internasional dan kedekatannya dengan lingkaran kekuasaan menjadikannya lawan tanding yang sulit ditaklukkan begitu saja.


Eskalasi di IKA PMII ini juga menunjukkan bahwa organisasi otonom dan badan otonom di bawah NU—atau yang berafiliasi dengannya—masih menjadi medan tempur yang seksi. IKA PMII, yang diisi oleh para alumni yang kini tersebar di berbagai partai politik dan birokrasi, menjadi instrumen efektif untuk menggoyang kemapanan struktural PBNU saat ini.


Namun, Gus Yahya tidak berdiri sendiri. Di belakangnya terdapat gerbong pendukung yang solid, yang merasa bahwa arah baru NU di bawah kepemimpinannya memberikan harapan akan kemandirian organisasi. Pendukung Gus Yahya melihat serangan dari poros Muhaimin-Nusron sebagai residu politik yang ingin kembali “menyandera” NU demi kepentingan jangka pendek.


Pertarungan ini sebenarnya adalah pertarungan ideologis mengenai wajah NU di masa depan. Apakah NU akan tetap konsisten pada jalur transformasi organisasi yang profesional dan mandiri, ataukah ia akan kembali menjadi alat legitimasi politik bagi segelintir elite yang selama ini merasa nyaman dengan pola-pola lama?


Langkah vulgar para tokoh di halal bihalal tersebut bisa dibilang sebagai perjudian politik yang berisiko. Jika serangan ini gagal melumpuhkan kepercayaan basis massa nahdliyin terhadap Gus Yahya, maka poros ini justru akan terkucilkan dan kehilangan simpati dari para kiai sepuh yang lebih menyukai stabilitas dan marwah organisasi.


Gus Yahya diprediksi akan merespons gerakan ini dengan cara yang elegan. Ia kemungkinan besar tidak akan membalas dengan orasi yang sama vulgarnya, melainkan melalui penguatan struktur di tingkat bawah dan konsolidasi dengan para kiai-kiai kunci di daerah yang selama ini menjadi penentu arah angin Muktamar.


Dinamika ini juga memperlihatkan betapa pragmatisme politik telah merasuk jauh ke dalam sendi-sendi organisasi yang berbasis nilai. Ketika kepentingan untuk menduduki posisi ketua umum atau menghalangi seseorang naik kembali sudah menjadi agenda utama di acara sosial, maka nilai-nilai ukhuwah (persaudaraan) sedang dipertaruhkan.


Publik nahdliyin kini disuguhi tontonan politik yang menarik namun juga mencemaskan. Mencemaskan karena jika konflik ini tidak dikelola dengan baik, ia dapat memicu perpecahan yang tajam di akar rumput. Para pengikut di tingkat bawah seringkali menjadi korban yang paling terdampak ketika para elitenya bersitegang demi kursi kekuasaan.


Kita harus melihat apakah poros kekuatan ini akan semakin solid atau justru pecah di tengah jalan. Menghalangi Gus Yahya untuk dua periode bukanlah perkara mudah, mengingat ia memiliki kontrol yang cukup kuat terhadap mesin organisasi dan legitimasi dari hasil Muktamar Lampung yang masih sangat segar di ingatan.


Dalam politik NU, “serangan balik” seringkali tidak datang dari kata-kata, melainkan dari langkah-langkah organisatoris yang tak terduga. Gus Yahya memiliki kemampuan untuk melakukan manuver yang membuat lawan-lawannya kehilangan pijakan, sebagaimana yang pernah ia tunjukkan dalam beberapa krisis internal sebelumnya.


Halal bihalal IKA PMII tersebut pada akhirnya hanyalah “puncak gunung es” dari ketegangan yang sudah lama terpendam. Ini adalah pembukaan dari babak baru persaingan menuju kepemimpinan NU di masa mendatang, di mana integritas dan visi akan diuji oleh syahwat politik dan ambisi pribadi.


Sebagai pengamat, kita melihat bahwa Gus Yahya adalah sosok yang tahu kapan harus diam dan kapan harus bergerak. Tipologi “bertahan dan sesekali menyerang” ini membuatnya sangat berbahaya bagi lawan yang meremehkan ketenangannya. Ia tidak mudah terpancing emosi, namun sangat taktis dalam mengunci pergerakan lawan.


Kesimpulannya, genderang perang telah ditabuh di acara halal bihalal tersebut. Masa depan PBNU kini berada di persimpangan jalan antara keberlanjutan visi Gus Yahya atau kembalinya pola politik lama yang diusung oleh poros oposisinya. Siapa yang akan memenangkan hati warga nahdliyin akan ditentukan oleh siapa yang paling mampu menjaga marwah organisasi di tengah badai syahwat politik ini.

Jaga Tradisi Pesantren, FAM NURJA Bondowoso Gelar Kajian Rutin Kitab Safinatun Najah

BONDOWOSO – Forum Alumni Muda Pondok Pesantren Nurul Jadid (FAM NURJA) Bondowoso konsisten memperkuat peran intelektual dan spiritual para alumni melalui kegiatan kajian rutin bulanan. Forum ini hadir sebagai wadah strategis untuk menjaga nalar sehat di tengah derasnya arus opini dan algoritma media sosial yang kian masif.

Kegiatan ini diampu langsung oleh para Gawagis (putra kyai) dari Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, yang memiliki kedalaman ilmu mumpuni. Dalam setiap sesinya, para alumni diajak mengkaji Kitab Safinatun Najah, sebuah literatur klasik yang menjadi fondasi keilmuan berbasis tradisi pesantren.

Ketua Umum FAM NURJA Bondowoso, Ustadz Arif Qinanjar, M.Pd, menegaskan bahwa agenda ini merupakan upaya merawat tradisi ngaji agar tetap hidup di tengah kesibukan masyarakat modern.

“Kegiatan rutinan ini merupakan wadah silaturrahim antar sesama alumni dan para masyayikh, sekaligus menjaga keberlangsungan thalabul ilmi bagi alumni yang saat ini sudah terjun di masyarakat dengan berbagai kesibukan sosial-ekonominya,” ujar Ustadz Arif, Jumat (17/4/2026).

Selain pengkajian kitab, forum ini juga membuka ruang dialog interaktif yang membahas berbagai fenomena kekinian. Setiap isu dibedah menggunakan pendekatan fiqh dan tasawuf, serta dianalisis dengan nalar kritis yang tetap menjunjung tinggi adab dan etika keilmuan.

Melalui forum ini, FAM NURJA Bondowoso diharapkan mampu menjadi ruang refleksi dan penyeimbang di tengah maraknya arus informasi digital. Dengan menjaga kesinambungan sanad keilmuan, para alumni diharapkan memiliki kejernihan berpikir yang lahir dari kedalaman ilmu dan ketenangan batin dalam menghadapi perubahan zaman. (SA)

Profil Ketua DPD Partai Gelora Probolinggo Abu Bakar Rohim: Simbol Estafet Kepemimpinan dan Harapan Baru Probolinggo

Probolinggo, Berdampak.net – Kehadiran sosok Abu Bakar Rohim di panggung politik Kabupaten Probolinggo bukan sekadar pergantian struktur organisasi. Di usia yang baru menginjak 31 tahun, Ketua DPD Partai Gelora ini membawa pesan kuat bagi masyarakat: bahwa masa depan bukan lagi milik mereka yang sekadar menunggu, tapi mereka yang berani mengambil peran.

​Berikut adalah tiga pilar utama Abu Bakar Rohim sebagai angin segar bagi Kabupaten Probolinggo:

​1. Representasi “Success at 30”
​Abu Bakar membuktikan bahwa menjadi sukses tidak harus menunggu usia senja. Sebagai seorang pengusaha sekaligus politisi muda, ia adalah manifestasi nyata dari kerja keras dan visi.

Ini memberikan validasi kepada generasi Z dan Milenial di Probolinggo bahwa kesuksesan di usia muda adalah hal yang sangat mungkin dicapai jika memiliki ketekunan yang tepat.
​2. Politik yang Berbasis Solusi (Entrepreneurial Mindset)
​Latar belakangnya sebagai pengusaha membawa nilai tambah yang besar. Dalam dunia usaha, setiap masalah menuntut solusi yang efisien dan berkelanjutan.

Dengan membawa entrepreneurial mindset ke dalam politik, ia berkomitmen untuk:
​Membangun kemandirian ekonomi masyarakat.
​Membuka ruang kolaborasi bagi UMKM lokal.
​Mengelola kebijakan dengan cara-cara yang inovatif dan terukur.
​3. Jembatan Aspirasi Lintas Generasi
​Sebagai politisi muda, Abu Bakar memiliki fleksibilitas untuk berkomunikasi dengan para senior namun tetap relevan dengan gaya hidup anak muda. Ia adalah “jembatan” yang mampu menerjemahkan keresahan pemuda Probolinggo menjadi langkah konkret di ranah kebijakan publik.

​”Komitmen saya bukan sekadar tentang jabatan, tapi tentang membuktikan bahwa anak muda Probolinggo mampu berdikari dan menjadi motor penggerak perubahan di daerahnya sendiri.” Visi Abu Bakar Rohim.

​Abu Bakar Rohim adalah profil pemimpin masa kini: Muda, Berdaya, dan Berbahaya (dalam artian positif). Ia tidak hanya menjual janji, tapi menawarkan bukti melalui rekam jejaknya. Bagi Kabupaten Probolinggo, ia adalah personifikasi dari semangat “Gelora”—semangat untuk bangkit dan bergerak menuju arah baru yang lebih dinamis.
​Ini adalah saatnya bagi para pemuda Probolinggo untuk tidak lagi menjadi penonton, karena di depan mereka, ada sosok rekan sejawat yang siap membuka jalan.