Banyak Kejutan Dan Atraksi Prajurit Jelang Perayaan HUT Ke-80 Korps Marinir

Jakarta, Berdampak.net – Prajurit-prajurit terbaik dari Korps Marinir menunjukkan performa yang memukau dalam gladi bersih upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Korps Marinir di Lapangan Apel Kesatrian Marinir Hartono Cilandak, Jakarta Selatan, pada Sabtu (15/11/2025).

Berbagai macam atraksi dan kejutan tersebut juga sekaligus menjadi momen gladi pembaretan Panglima TNI Agus Subiyanto sebagai warga kehormatan Korps Marinir.

Gladi bersih ini disaksikan langsung oleh Panglima Korps Marinir (Pangkormar) Endi Supardi. Para prajurit terbaik Korps Marinir memberikan tampilan terbaik mereka. Gerakan dan sikap mereka mencerminkan seorang kesatria baret ungu Korps Marinir sejati.

Panglima Korps Marinir (Pangkormar) menegaskan pentingnya momen ini bagi seluruh prajurit baret Ungu Korps Marinir. Ia meminta agar mereka menunjukkan yang terbaik pada peringatan HUT ke-80 Korps Marinir yang akan dilaksanakan pada 17 November 2025 mendatang. “Ini adalah sebuah kebanggaan sebagai prajurit petarung Korps Marinir yang selalu dicintai oleh masyarakat dan disegani di kancah dunia,” ujarnya.

“Kita sebagai prajurit Korps Marinir, maka pada peringatan HUT ke-80 Korps Marinir ini mari kita tunjukkan yang terbaik kepada rakyat supaya kebanggaan rakyat terhadap Korps Marinir tetap terjaga,” tambahnya.

Peringatan HUT Marinir ini diharapkan menjadi momentum untuk semakin mempererat hubungan antara Korps Marinir dengan masyarakat, serta meningkatkan citra Korps Marinir di mata dunia.

Rofiq Jazirah, Mahasiswa Ma’had Aly Zainul Hasan Genggong, Kembali Berkiprah di Kancah Nasional

Probolinggo- Mahasiswa Ma’had Aly Zainul Hasan Genggong, Rofiq Jazirah kembali menorehkan prestasi membanggakan di kancah nasional. Setelah pada bulan Agustus lalu dinyatakan lulus dalam seleksi Pembibitan Dai Muda Nasional yang diselenggarakan oleh Subdit Dakwah Kementerian Agama RI, kini Rofiq kembali melangkah mengharumkan nama Probolinggo dengan lolos sebagai peserta dalam Pelatihan Dai Transformatif 2025 yang diinisiasi oleh Corps Dai Dompet Dhuafa.

Proses seleksi program ini tidaklah mudah. Tahapan seleksi dimulai dari penilaian berkas, kemudian dilanjutkan dengan wawancara mendalam seputar dunia dakwah, isu zakat, serta kemampuan problem solving dalam menghadapi problematika sosial di akar rumput. Namun, dengan kepercayaan diri, semangat belajar yang tinggi, dan tekad kuat untuk terus berkontribusi, Rofiq berhasil melewati seluruh tahapan seleksi hingga akhirnya terpilih menjadi salah satu peserta terbaik dari seluruh penjuru nusantara.

Program Pelatihan Dai Transformatif 2025 ini dirancang untuk berlangsung selama 14 hari, terdiri dari 9 hari sesi pelatihan intensif dan 5 hari praktik lapangan. Meskipun lokasi kegiatan belum diumumkan secara resmi, rencana pelaksanaannya diperkirakan akan berpusat di wilayah Jabodetabek.

Rofiq mengungkapkan rasa syukur yang mendalam atas kesempatan berharga ini. “Alhamdulillah, ini semua berkat doa dan dukungan dari orang tua, guru, sahabat, serta seluruh civitas akademika Ma’had Aly Zainul Hasan Genggong. Semoga langkah kecil ini bisa menjadi jalan untuk terus belajar, berkhidmat, dan memberikan manfaat seluas-luasnya bagi umat,” ujarnya penuh haru.

Dengan torehan ini, nama Ma’had Aly Zainul Hasan Genggong kembali harum di tingkat nasional. Sosok Rofiq Jazirah menjadi inspirasi baru bagi para mahasiswa dan generasi muda dai untuk terus berproses, berdakwah dengan pendekatan transformatif, dan membawa nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin ke tengah masyarakat.

Santri SMA Nurul Jadid Tampil Gemilang di Ajang Debat Bahasa Mandarin 2025

Surabaya — Siswa SMA Nurul Jadid kembali menunjukkan prestasi membanggakan dalam ajang Disway Mandarin Debate & Speech Competition 2025. Dua tim perwakilan sekolah tampil luar biasa dan berhasil menorehkan pencapaian membanggakan di kompetisi debat Bahasa Mandarin tingkat provinsi yang diikuti puluhan sekolah unggulan.

Kompetisi bergengsi ini digelar oleh Harian Disway bekerja sama dengan lembaga pendidikan dan kebudayaan serta didukung oleh Tunjungan Plaza Surabaya sebagai tuan rumah. Lomba berlangsung selama dua hari, 4–5 Oktober 2025, di Atrium Tunjungan Plaza Surabaya, dan menjadi ajang pembuktian kemampuan berbahasa Mandarin para pelajar.

Tim SMA Nurul Jadid yang terdiri dari Muhammad Arif Nanda Aditya, Nicky Dirga Ibrahim, dan Manggali Attallah Bahy Majid, serta Saintika Hurin Mazidah, Natasya Wahyu Safitri, dan Dwi Ayu Nabila tampil memukau dengan kemampuan argumentasi yang tajam, penguasaan bahasa yang kuat, dan kerja sama tim yang solid.

Para peserta beradu gagasan dalam bahasa Mandarin dengan berbagai topik menantang, salah satunya bertema “Dakwah di Era AI”, yang menuntut peserta menghubungkan perkembangan teknologi modern dengan nilai-nilai sosial dan spiritual.

Guru pembimbing Bahasa Mandarin SMA Nurul Jadid, Syamsul Hadi, menyampaikan apresiasi atas kerja keras para siswa. “Anak-anak menunjukkan performa luar biasa. Mereka tidak hanya fasih berbahasa Mandarin, tetapi juga mampu berpikir kritis dan memahami konteks global. Ini adalah buah dari latihan intensif yang mereka jalani selama berbulan-bulan,” ujarnya.

Pihak penyelenggara menilai kompetisi ini tidak sekadar menguji kemampuan bahasa, tetapi juga melatih kepercayaan diri, logika berpikir, serta keterampilan komunikasi lintas budaya. SMA Nurul Jadid pun dinilai sebagai salah satu peserta dengan penampilan paling menonjol.

Kepala SMA Nurul Jadid, Drs. Rahardjo, menyampaikan rasa bangganya atas pencapaian siswa. “Prestasi ini menunjukkan bahwa siswa SMA Nurul Jadid memiliki daya saing yang tinggi dan siap bersaing di tingkat global. Semoga ini menjadi inspirasi bagi seluruh siswa untuk terus berprestasi,” ujarnya.

Salah satu peserta, Muhammad Arif Nanda Aditya, menyebut pengalaman ini sangat berharga. “Kami belajar banyak tentang kerja sama, kesiapan mental, dan kepercayaan diri berbicara di depan umum. Kami ingin membuktikan bahwa santri juga bisa berkiprah di tingkat internasional,” ungkapnya.

Prestasi ini melanjutkan jejak keunggulan SMA Nurul Jadid dalam penguasaan bahasa Mandarin. Sebelumnya, siswi Umiatul Aulia Maharani juga meraih pencapaian gemilang dalam Lomba Pidato Bahasa Mandarin di ajang yang sama, menegaskan konsistensi sekolah dalam membina kemampuan bahasa asing dan komunikasi global siswa.

Sambut HSN 2025, MWCNU Paiton Hadirkan Layanan Kesehatan Gratis hingga Luncurkan Website

PAITON – Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2025 yang mengusung tema “Menyambung Juang Merengkuh Masa Depan”, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Paiton, Probolinggo, menyiapkan serangkaian kegiatan sosial, spiritual, dan digital. Program ini bertujuan memperkuat khidmah organisasi kepada masyarakat sekaligus menunjukkan bahwa peran santri dalam menjawab tantangan zaman.

Ketua Tanfidziyah MWCNU Paiton, H. Zainul Arifin Adam, menyatakan bahwa rangkaian kegiatan HSN tahun ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga berfokus pada manfaat nyata bagi warga.

“Perjuangan santri hari ini adalah kontribusi nyata bagi umat. Oleh karena itu, kami menggabungkan kegiatan spiritual dengan pelayanan sosial dan seminar keilmuan,” ujarnya saat rapat pengurus harian, Sabtu (4/10/2025).

MWCNU Paiton telah merancang lima agenda utama yang akan berlangsung sejak pekan kedua Oktober hingga akhir bulan. Program tersebut meliputi: launching website resmi MWCNU Paiton sebagai langkah digitalisasi dan transparansi informasi, pengobatan massal gratis bagi ratusan warga kurang mampu, Musabaqoh Tartil Qur’an (MTQ) untuk menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an, seminar keilmuan yang membahas literasi teknologi, fiqh politik, dan fiqh lingkungan, kajian fortak dengan komitmen mempertahankan tradisi dan untuk menjawab gerakan radikalisme, turba ke pengurus rantinng serta rihlah spiritual ke makam ulama NU untuk memperkuat ukhuwah

Ketua Panitia HSN MWCNU Paiton, Nurullah, menegaskan bahwa launching website, pengobatan gratis, dan seminar keilmuan yang digelar pada 22–24 Oktober menjadi prioritas utama. Kegiatan tersebut menargetkan pelayanan kesehatan bagi 200 hingga 300 warga bekerja sama dengan Lembaga Kesehatan NU (LKNU) dan Puskesmas setempat.

“Kami ingin memastikan bahwa semangat Hari Santri dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama dalam bentuk akses kesehatan yang terjangkau dan berkualitas,” ujarnya.

Seluruh rangkaian kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat sinergi antara pengurus MWCNU Paiton, pengurus ranting dengan melibatkan organisasi pemuda NU, santri, mahasiswa, pelajar, dan masyarakat. Selain itu, kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa MWCNU Paiton memiliki peran dalam merengkuh masa depan yang lebih maju dan mengingat perjuangan para ulama dalam mempertahankan kedaulatan bangsa.

Pidato Prabowo di PBB: Diplomasi Cerdas Indonesia di Panggung Geopolitik Dunia

Oleh : Ponirin Mika

Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research, Probolinggo.

PROBOLINGGO – Pidato Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi sorotan luas komunitas internasional. Tidak sekadar seremonial kenegaraan, pidato tersebut menunjukkan bagaimana Indonesia—di bawah kepemimpinannya—siap memainkan peran strategis dalam percaturan geopolitik global. Dengan gaya tegas dan diplomatis, Prabowo menegaskan posisi Indonesia sebagai kekuatan penyeimbang (balancing power) yang mendorong perdamaian, keadilan, dan kerja sama lintas bangsa.

Geopolitik sendiri merupakan strategi politik suatu negara dalam memanfaatkan kondisi geografis, kekuatan ekonomi, potensi militer, dan diplomasi untuk mempengaruhi dinamika global. Dalam konteks modern, geopolitik tidak lagi semata-mata soal kekuasaan wilayah atau kekuatan militer, melainkan juga kemampuan suatu negara membaca peta kekuatan dunia dan menempatkan diri secara strategis dalam sistem internasional yang semakin kompleks.

Pidato Prabowo di forum PBB mencerminkan pemahaman mendalam atas realitas tersebut. Ia menyampaikan pandangan tentang konflik yang melanda berbagai kawasan dunia—mulai dari perang Rusia-Ukraina, ketegangan di Timur Tengah, hingga isu Laut Cina Selatan—dan menekankan pentingnya solusi damai melalui dialog multilateral.

Prabowo juga menyoroti ancaman baru yang muncul di era globalisasi, seperti krisis pangan, perubahan iklim, dan disrupsi teknologi. Menurutnya, tantangan-tantangan tersebut tidak dapat diselesaikan secara unilateral, melainkan membutuhkan kolaborasi kolektif seluruh bangsa. Inilah bentuk pemikiran geopolitik modern: membaca ancaman global dan menawarkan solusi berbasis kerja sama.

Peran Indonesia sebagai negara non-blok dengan prinsip politik luar negeri bebas-aktif membuat posisi tersebut semakin strategis. Indonesia tidak berpihak pada kekuatan mana pun, tetapi justru menjadi jembatan dialog antarblok yang sering berseteru. Pidato Prabowo mempertegas tradisi diplomasi tersebut, yang telah menjadi ciri khas Indonesia sejak era Presiden Soekarno.

“Presiden Prabowo menunjukkan kematangan geopolitik dalam pidatonya. Ia tidak sekadar berbicara tentang kepentingan nasional, tetapi juga mengartikulasikan posisi Indonesia sebagai kekuatan moral global,” ujar Dr. Dino Patti Djalal, mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI. Menurutnya, pidato tersebut menunjukkan bahwa Indonesia siap tampil sebagai penengah (mediator) di tengah polarisasi dunia.

Salah satu poin kuat dalam pidato Prabowo adalah penekanan pada pentingnya perdamaian. Ia mengutip prinsip dasar Pancasila dan Piagam PBB yang menolak kekerasan sebagai jalan penyelesaian konflik. “Tidak ada kemajuan tanpa perdamaian, dan tidak ada perdamaian tanpa keadilan,” tegasnya.

Dalam konteks ini, Indonesia menempatkan diri sebagai peace broker yang siap memfasilitasi negosiasi di wilayah-wilayah konflik. Pendekatan ini bukan hal baru, sebab Indonesia telah berperan aktif dalam misi perdamaian PBB, termasuk di Lebanon, Kongo, dan Sudan. Namun, pidato Prabowo memberi sinyal bahwa Indonesia akan meningkatkan skala dan intensitas peran tersebut.

Selain menekankan perdamaian, Prabowo juga mengangkat pentingnya keadilan ekonomi global. Ia mengkritik ketimpangan ekonomi antarnegara dan menyerukan reformasi lembaga-lembaga internasional agar lebih inklusif. Pandangan ini mencerminkan kesadaran geopolitik bahwa ketidakadilan ekonomi dapat memicu ketegangan dan konflik.

“Prabowo memahami bahwa geopolitik hari ini bukan hanya soal kekuatan militer, tapi juga distribusi sumber daya dan keadilan ekonomi,” kata Prof. Hikmahanto Juwana, pakar hukum internasional. Menurutnya, Indonesia dapat menjadi juru bicara bagi negara-negara berkembang dalam memperjuangkan tatanan ekonomi global yang lebih adil.

Pidato tersebut juga menggarisbawahi pentingnya kerja sama Selatan-Selatan, yakni solidaritas negara-negara berkembang dalam menghadapi dominasi kekuatan besar. Indonesia, dengan pengaruhnya di ASEAN dan G20, berpotensi menjadi motor penggerak kerja sama ini.

Tidak hanya itu, Prabowo juga menyoroti pentingnya digitalisasi dan inovasi teknologi dalam membentuk tatanan dunia baru. Ia mendorong kolaborasi dalam bidang riset dan keamanan siber sebagai langkah menghadapi ancaman geopolitik non-konvensional, seperti perang siber dan manipulasi informasi.

Sikap tersebut menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya bereaksi terhadap perubahan global, tetapi juga berupaya membentuknya. Dalam istilah geopolitik, ini disebut sebagai proactive diplomacy—yakni strategi diplomasi yang tidak menunggu peluang datang, melainkan menciptakan peluang sendiri.

Pidato Prabowo juga memiliki dimensi simbolik yang kuat. Dengan tampil percaya diri di forum global, Indonesia menegaskan dirinya sebagai kekuatan menengah (middle power) yang memiliki peran signifikan dalam menentukan arah dunia.

Hal ini sekaligus menepis anggapan bahwa Indonesia hanya menjadi “penonton” dalam geopolitik internasional. Sebaliknya, Indonesia kini tampil sebagai aktor penting yang berani menawarkan solusi atas persoalan global, mulai dari konflik hingga krisis iklim.

Dalam konteks diplomasi kawasan, pidato itu juga mempertegas peran Indonesia sebagai pemimpin de facto ASEAN. Dengan menempatkan stabilitas regional sebagai prioritas, Indonesia menunjukkan komitmennya dalam menjaga kawasan Indo-Pasifik tetap damai dan terbuka.

Lebih jauh lagi, Prabowo mengajak negara-negara besar untuk menghormati hukum internasional dan mengedepankan dialog. Ia menegaskan bahwa kekuatan militer tidak boleh menjadi satu-satunya alat penyelesaian sengketa. Pesan ini relevan di tengah meningkatnya ketegangan di berbagai kawasan.

Pidato tersebut mendapat sambutan positif dari sejumlah negara dan pengamat internasional. Mereka menilai Indonesia menawarkan perspektif yang seimbang antara idealisme dan pragmatisme, serta solusi yang berpijak pada keadilan global.

Dalam lanskap geopolitik yang penuh ketegangan, kehadiran negara seperti Indonesia sangat penting. Negara yang tidak memiliki ambisi hegemonik justru lebih mudah diterima sebagai mediator dan juru damai. Pidato Prabowo menegaskan komitmen Indonesia untuk terus memainkan peran tersebut.

Pidato Presiden Prabowo di PBB bukan hanya pidato kenegaraan biasa. Ia adalah deklarasi geopolitik: Indonesia siap mengambil peran lebih besar dalam membentuk dunia yang damai, adil, dan berkeadaban. Dengan pemahaman geopolitik yang tajam dan visi yang luas, Indonesia meneguhkan dirinya sebagai kekuatan diplomatik yang diperhitungkan di panggung internasional.

Doa Salah Kaprah Pernikahan

Oleh:
Ustadz MOHAMAD KHOIRUL ADHIM, S.H.I
Ketua Umum MUI Kecamatan Wonoasih – Kota Probolinggo

Hampir di setiap kali momen pernikahan, ada doa yang sangat populer di masyarakat. Doa ini tentu ditujukan kepada kedua mempelai sebagai bekal mereka dalam membina rumah tangga. Saking populernya doa ini juga memiliki akronim.

Biasanya mereka yang mau mendoakan kedua mempelai akan mengatakan “semoga rumah tangganya senantiasa menjadi rumah tangga yang sakiinah, mawaddah, warrahmah”. Ada juga yang menggunakan redaksi lain yang mirip-mirip. Tapi intinya sama. Akronimnya SAMAWA yang merupakan kependekan dari sakinah, mawaddah, warrahmah.

Ternyata, meskipun banyak digunakan di masyarakat doa itu salah. Istilah Jawanya salah kaprah. Tidak diketahui secara pasti sejak kapan redaksi doa itu digunakan dan siapa yang memulainya. Namun yang pasti, secara redaksional dan substansial kekeliruannya cukup fatal!

Seperti kita ketahui, di dalam redaksi doa tadi terdapat tiga permintaan, yakni sakinah, mawaddah, dan rahmah. Banyak orang yang mengira ketiga-tiganya memang merupakan doa untuk pernikahan. Mereka beranggapan tujuan pernikahan adalah terwujudnya suasana kehidupan rumah tangga yang tenang (sakiinah), saling mencintai (mawaddah), dan saling menyayangi (rahmah).

Sepintas doa ini memang tidak ada masalah. Tampak tidak ada yang salah dengan doa ini. Tapi jika dipahami secara mendalam, ditemukan fakta doa ini tidak selaras dan bahkan menyalahi ayat Al-Qur’an yang menjadi sumber referensinya.

Dalam Q.S. Ar-Ruum/30:21, Allah Swt. menyatakan:

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir”.

Dari ayat ini kita bisa memahami bahwa tujuan pernikahan adalah litaskunuu ilaihaa (agar kamu merasa tenteram kepadanya). Dari frasa inilah kemudian muncul kata sakiinah. Jadi, hanya satu itu tujuan pernikahan, bukan tiga.

Lalu apa kedudukan kata mawaddah dan rahmah dan bagaimana pemahaman maknanya? Kembali mengacu kepada ayat di atas, keduanya merupakan modal atau piranti di dalam mewujudkan cita-cita berumah tangga. Jadi, agar tercipta kehidupan rumah tangga yang tenteram dan harmonis, Allah membekali kedua mempelai dengan rasa mawaddah dan rahmah di antara keduanya. Dari sini tampak jelas perbedaan antara tujuan dengan sarana. Tujuannya sakiinah sarananya mawaddah dan rahmah.

Bagaimana bisa muncul simpulan demikian? Begini penjelasannya. Pertama, kita pahami struktur kalimatnya. Kata kerja (fi’il) yang digunakan dalam ayat tersebut ada dua. Ketika menyebutkan tujuan pernikahan Allah menggunakan kata “khalaqa”. Sedangkan untuk menjelaskan piranti dan modal dalam mewujudkan tujuan pernikahan tersebut, Allah menggunakan kata “ja’ala”. (Uraian lebih jauh mengenai perbedaan kedua kata tersebut in syaa Allah akan dibahas dalam tema berbeda)

Nah, penggunaan dua kata kerja yang berbeda ini menegaskan bahwa keduanya memiliki posisi dan kedudukan berbeda. Seandainya tujuan pernikahan itu ada tiga, tentu tidak perlu menggunakan dua kata kerja melainkan cukup satu disertai pemakaian kata sambung (huruf ‘athaf) diantara ketiganya.

Kedua, secara substansi makna. Dalam beberapa kitab tafsir, diantaranya kitab Mafaatih al-Ghaiib karya al-Imam Fakhruddin ar-Raaziiy juga Anwaar at-Tanziil wa-Asraar at-Ta’wiil karangan al-Imam Abd Allah al-Baidlawiy, makna sakiinah sebagai tujuan pernikahan adalah terwujudnya ketenteraman antara suami-istri. Suasana hubungan yang harmonis ini hanya bisa tercipta tatkala keduanya berasal dari jenis yang sama, artinya sama-sama manusia. Di dalam ayat itu diungkapkan dengan kata min anfusikum.

Sedangkan al-Imam Syihabuddin al-Alusiy dalam tafsirnya Ruuh al-Ma’aaniy menguraikan bahwa saat memahami makna mawaddah dan rahmah, para ahli tafsir memiliki pendapat beragam. Menurut beliau, rasa mawaddah (cinta) dan rahmah (sayang) itu sengaja dianugerahkan oleh Allah melalui gerbang pernikahan. Artinya, dengan adanya ikatan pernikahan akan tumbuh rasa cinta dan sayang meskipun sebelumnya kedua mempelai tidak saling mengenal sama sekali.

Ada juga yang berpandangan bahwa mawaddah (cinta) itu rasa yang ada di dalam hati suami-istri saat mereka masih berada di tahun-tahun awal pernikahan. Keduanya masih sama-sama muda dan menarik secara fisik. Kemudian saat usia pernikahan sudah menginjak belasan atau puluhan tahun dan usia mereka sudah mulai menua dan penampilan fisik sudah tak lagi menarik, maka yang dominan adalah rahmah (sayang), bukan lagi mawaddah.

Al-Imam ar-Raaziy menambahkan pandangan yang lebih ekstrim. Pendapat ini diutarakan oleh al-Imam Hasan, Mujahid, dan ‘Ikrimah. Mereka bertiga menyatakan bahwa yang dimaksud mawaddah adalah ‘hubungan’ suami-istri dan rahmah adalah anak sebagai buah dari hubungan tadi.

Nah, ada yang unik dan menggelitik jika kita mengacu pada tafsir terakhir ini. Akan menimbulkan masalah besar jika doa pernikahan ada tiga. Bisa dibayangkan jika kedua mempelai didoakan agar selalu berhubungan badan dan terus-menerus punya anak.

Meminjam istilah DR. KH. Musta’in Syafi’i, ahli tafsir kontemporer sekaligus pengasuh Pesantren Madrasatul Qur’an Tebuireng Jombang. Saat memberikan nasehat pernikahan beliau menyampaikan guyonan.

Kata beliau, “nek mantene mbok dunga’no mawaddah warrahmah, isok-isok sing lanang ‘ndokterno’.” (Jika pengantinnya anda doakan mawaddah warrahmah, bisa-bisa yg laki (suami) masuk rumah sakit {gara-gara keseringan ‘begituan’}).

Belum lagi jika tiap tahun istrinya melahirkan. Betapa rumitnya rumah tangga dengan banyak anak. Pasti mereka sulit mendapatkan perhatian penuh dari orangtuanya. Dengan begitu, rumah tangga yang sakiinah (tenteram dan harmonis) menjadi sulit terealisasi.

Terlepas dari beragam makna mawaddah dan rahmah, yang jelas keduanya bukanlah tujuan pernikahan. Sehingga berdasarkan pertimbangan redaksional dan substansial itulah doa pernikahan yang selama ini biasa digunakan di masyarakat sudah selayaknya diubah. Bisa dengan mengatakan, “Semoga dikaruniai rumah tangga sakiinah yang dilandasi rasa mawaddah dan rahmah.” Bisa juga cukup dengan “Semoga dikaruniai rumah tangga yang sakiinah”.

Wallaahu a’lam bis-shawaab.